PENDAHULUAN “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.Pendidik hanya dapat merawat dan menuntuntumbuhnyakodrat itu.” Ki Hajar Dewantara Selamat datang Bapak/Ibu calon guru penggerak di Modul 1.3! Dunia mengalami perubahan yang sangat ekstrim saat ini. Perubahannya begitu cepat dan mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik perilaku individu, struktur sosial maupun praktek berorganisasi. Dalam melihat dunia yang berkembang dengan sangat cepat ini, kita perlu belajar melihat dengan jernih apa yang sungguh-sungguh bermakna buat kita sekarang dan di masa depan. Derasnya perubahan dan belenggu rutinitas dunia membuat kita lupa akan makna. Kita jarang menilik kembali makna hidup kita dan harapan kita. Padahal, harapan itu bagaikan bahan bakar untuk tetap berputarnya dunia seorang manusia. Manusia yang berpengharapan akan memiliki peluang untuk mencapai lebih banyak ketimbang mereka yang tidak berpengharapan. Murid yang memiliki pengharapan tinggi dapat mengonseptualisasikan tujuan mereka dengan jelas, sedangkan murid yang memiliki pengharapan rendah lebih ragu-ragu dan tidak jelas akan tujuan mereka. Murid dengan pengharapan tinggi menentukan tujuan mereka berdasarkan kinerja mereka sebelumnya. Mereka memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari apa yang dapat mereka capai, karena mereka dapat menyelaraskan diri dengan tujuan mereka sendiri dan mengendalikan bagaimana mereka akan mencapainya. Murid seperti itu termotivasi secara intrinsik dan berkinerja baik secara akademis (Snyder et.al., 2002, p.824). Murid yang bertumbuh. Dari kenyataan empirik tersebut, kemudian muncullah pertanyaan mengenai bagaimana kita sebagai guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia. Modul 1.3 ini, secara tidak langsung juga membantu sekolah untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan, misalnya saja dengan bagaimana profil murid dan lulusan dalam visi mampu memberikan gambaran mengenai Standar Kompetensi Lulusan sekolah mereka. Bapak/Ibu sekalian juga diajak untuk menelusuri visi mendasar dari pendidikan, betapa pentingnya pendidik memiliki visi, dan mengembangkan visi untuk mewujudkan keberpihakan pada murid-murid di daerah Bapak/Ibu sehingga mereka bertumbuh dengan maksimal. Selamat belajar! Salam,Penulis Modul 1.3 Mulai dari diri Eksplorasi konsep mandiri (3 JP) Eksplorasi konsep bersama (1 JP) Ruang kolaborasi Demonstrasi kontekstual Elaborasi Pemahaman Koneksi Antarmateri Aksi nyata CGP merevisi dan mengeksekusi rancangan BAGJA untuk prakarsa perubahan diri yang sudah dibuat pada tahap Demonstrasi Kontekstual untuk bahan sesi pendampingan individu bersama Pengajar Praktik. MULAI DARI DIRI Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak! Dalam Pembelajaran 1 ini kita akan menggali pemahaman kita atas visi. Ingatkah Bapak/Ibu CGP, pada masa kecil, kita pernah ditanya mengenai cita-cita. Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mau jadi apa jika sudah besar?”. Pada masa itu, sebagian besar dari kita dapat menjawab dengan percaya diri. Kita menjawab dengan bersemangat tentang profesi yang ingin kita geluti di masa depan. Padahal, kita belum tahu apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Seperti itulah visi. Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi memang belum terjadi saat ini, namun begitu kuat kita inginkan untuk terwujud di masa depan. Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya mewujudkannya. Pada tugas ini, artikulasikanlah nilai-nilai, filosofi, harapan atas murid di sekolah yang Bapak/Ibu yakini dalam sebuah VISI. Pastikan kalimat-kalimat yang digunakan memiliki makna tersendiri bagi Bapak/Ibu secara pribadi sehingga ketika dibaca, kalimat itu akan menyemangati Bapak/Ibu sendiri, sekaligus menggerakkan hati tiap orang yang turut membacanya. Lewat kalimat itu, Bapak/Ibu harus menggambarkan seberapa berharga visi tersebut hingga patut diperjuangkan pencapaiannya. Soal 1 Kita semua mengenal “Sumpah Palapa” dari Gajah Mada. Lewat sejarah kita belajar bagaimana kemudian visi yang Gajah Mada artikulasikan sebagai sumpah tersebut menggerakkan Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan besar di Nusantara. Visi pribadi beliau begitu kuat, dipercaya, hingga didukung oleh warga dan kerajaannya. Visi itu menguatkan hatinya, menggerakkan hati semua orang, dan mempersatukan gerak bersama dalam pencapaiannya. Gajah Mada adalah Mahapatih bukan Raja dari Kerajaan Majapahit saat itu. Kisah Gajah Mada itu dapat kita tarik ke dalam konteks guru dan sekolahnya. Guru memang bukan Kepala Sekolah, namun jika visi seorang guru memiliki makna yang kuat maka visi tersebut berpeluang menghubungkan hati lebih banyak pihak hingga kemudian mengundang upaya kolaboratif demi mewujudkannya. Visi seorang guru harus dapat di-amini semua pihak karena sangat jelas keberpihakannya pada murid. Nah, ketika kita sebagai seorang guru membayangkan suatu visi, apakah kita telah menyertakan gambaran murid ke dalamnya? Sebagai seorang guru, mendidik bukanlah pekerjaan administratif. Target pekerjaan kita bukan sebuah dokumen, selembar kertas, atau daftar angka. Mendidik tidak hanya berbicara tentang dimensi waktu “sekarang”. Sasaran pekerjaan kita adalah manusia. Target pekerjaan kita adalah pertumbuhan manusia demi manusia. Hasil pekerjaan kita baru akan terlihat saat manusia ini berkarya di masa depan nanti. Oleh karena itu, memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru. Visi yang diharapkan terwujud pada murid Bapak/Ibu di masa depan. Visi mengenai murid inilah yang nantinya menjadi bintang penunjuk arah bagi guru dalam menentukan program dan strategi pembelajaran. Pada kesempatan ini kita juga akan membayangkan tanggung jawab kita sebagai seorang guru dengan peran sebagai Guru Penggerak. Kita memiliki peran untuk mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Peran ini memunculkan harapan bahwa ada hal besar yang kita harapkan dapat kita capai di masa depan. Sebagai Guru Penggerak kelak, peran kita akan melampaui dinding dan pintu kelas di mana kita mengajar. Oleh karena itu, Guru Penggerak perlu mengartikulasikan harapan besar mengenai dirinya, murid, rekan kerja, sekolah, dan kedigjayaan Indonesia dalam kalimat-kalimat yang sifatnya pribadi, sehingga paling tidak dapat menggerakkan hatinya, menyemangati dirinya, di tengah jatuh-bangun perjuangannya kelak. Untuk membantu Bapak/Ibu dalam memaknai bagaimana pentingnya visi tentang murid, mari kita membuat “gambar” yang bertemakan “Imajiku tentang murid di masa depan”. Buatlah satu gambar mengenai murid yang Bapak/Ibu dambakan 5-10 tahun mendatang. Sertakan juga
Modul 1.2. Nilai & Peran Guru Penggerak
PENDAHULUAN Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya.Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang. ~ Ki Hajar Dewantara Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak! Selamat datang dalam Modul “Nilai-nilai dan peran guru penggerak”. Modul ini akan mengeksplorasi mengapa dan bagaimana nilai-nilai dan peran seorang Guru Penggerak mampu menumbuhkan sekolah dan ekosistem pendidikan agar berpihak pada murid. Mengapa demikian? Dunia kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak. Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi dan tanpa filter. Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain yang lebih agresif melakukan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita dituntut untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan pendidikan kita. Dalam kaitannya dengan Standar Nasional Pendidikan, modul ini berusaha menempatkan Profil Pelajar Pancasila sebagai acuan utama standar kompetensi lulusan, karenanya harus dijadikan pedoman dan dihidupi oleh para pendidik, khususnya Guru Penggerak di Indonesia. Kita semua mengalami fenomena pandemi COVID-19 sejak permulaan tahun 2020. Secara fisik sekolah dan kelas diadakan dari jauh, namun sebetulnya jika dipikirkan ternyata kelas-kelas ini justru mendekat dan masuk ke rumah-rumah murid kita di masa pandemi ini. Pandemi membukakan mata kita bahwa guru punya peran yang besar dalam proses belajar murid-muridnya, sekaligus mengungkapkan bahwa orangtua pun punya peran yang tak terelakkan dalam pendidikan anak-anaknya di rumah. Hal itu membuat kita kembali percaya bahwa gotong-royong dalam pendidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Dari pengalaman tersebut, kita disadarkan kembali bahwa pendidikan adalah suatu hal yang sifatnya individual sekaligus komunal yang tak terpisahkan. Murid di kelas-kelas kita adalah bagian dari sebuah komunitas di rumah, di masyarakat, dan di lingkungan. Mempertimbangkan kesalingterhubungan dan kerumitan tersebut, maka sebagai pendidik mau tidak mau kita harus menilik kembali apakah nilai-nilai diri kita telah selaras dengan tuntutan zaman dan alam yang seperti itu. Dengan maksud itulah maka dalam modul ini Bapak/Ibu diajak masuk ke dalam dan menelusuri diri sendiri sebagai manusia sekaligus pendidik, kemudian mengakui bahwa Anda sekalian adalah pribadi-pribadi istimewa yang unik. Modul ini mengajak Bapak/Ibu menyadari bahwa nilai-nilai yang perlu diyakini seorang pendidik itu dipengaruhi oleh interaksi antara cara kerja pikiran serta emosi sebagai aspek intrinsik dengan aspek ekstrinsik dalam suatu lingkungan pembelajaran. Bapak/Ibu pun akan mengeksplorasi dan berkolaborasi untuk merencanakan perubahan nyata pada lingkungan masing-masing. Diharapkan, setelah mengalami dan berproses sepanjang materi ini, Bapak/Ibu sekalian dapat menemukan jati dirinya sebagai Guru Penggerak. Selamat belajar! Aditya Dharma, S.Si, M.B.A. Eksplorasi Konsep – 6JP Ruang Kolaborasi – 6JP Demonstrasi Kontekstual – 3JP CGP membuat gambaran diri sebagai Guru Penggerak di masa depan dalam bentuk tulisan naratif/poster/peta pikiran/powerpoint/video/audio sederhana. Elaborasi Pemahaman – 2JP Koneksi Antar Materi – 2JP CGP membuat kaitan antara materi Modul 1.2. Nilai & Peran Guru Penggerak serta Modul 1.1. Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara menggunakan model refleksi 4P dalam bentuk tulisan-naratif/poster/peta-pikiran/powerpoint/video/audio sederhana. Aksi Nyata – 0 JP CGP menjalankan pengembangan DIRI yang sederhana, konkret dan rutin serta dapat dilakukan sendiri dari sekarang (berangkat dari “Penerapan ke depan” pada Refleksi 4P yang telah dibuat di tahap Koneksi Antarmateri). MULAI DARI DIRI Selamat datang Bapak/Ibu CGP di Pembelajaran pertama dalam Modul 1.2 ini! Pada kesempatan ini, pembelajaran akan dimulai dengan membuat diagram trapesium usia dan menjawab beberapa pertanyaan mengenai diri Bapak/Ibu. Agar mendapatkan manfaat yang maksimal dari kegiatan ini, hal yang perlu diperhatikan ketika menjawab pertanyaan nanti adalah kejujuran Bapak/Ibu dalam memberikan jawaban. Tidak ada jawaban benar ataupun salah. Apa yang menjadi pertanyaan hanyalah upaya untuk membantu menggali pengalaman serta nilai diri Bapak/Ibu sendiri. Silakan jawab semua jangan sampai terlewat. Ambil waktu khusus agar dapat mengerjakannya dengan tenang. Selamat Mengerjakan! Trapesium usia Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi Ifa Hanifah Misbach, M.A., Psikolog (Ketua Tim Pengembang Jabar Masagi) dan Alm. Prof. Dr. H. Sutardjo A. Wiramihardja, Psikolog (Guru Besar Emeritus Fakultas Psikologi Unpad) beberapa tahun yang lalu. [sumber: Modul pendidikan karakter Jabar Masagi] Di sini Bapak/Ibu akan membuat Diagram Trapesium Usia-nya sendiri dengan mengikuti instruksi berikut: Tugas 1. Refleksi Jika Bapak/Ibu sudah membuat diagram trapesium usia ini, jawablah pertanyaan berikut: Tugas 2. Nilai dan peran guru penggerak menurut saya Silakan tuangkan hasil kegiatan mulai dari diri Anda dengan klik tombol ‘Reply’ di bawah. 1. Peristiwa Positif dan Peristiwa negatif. Pengalaman di masa sekolah membentuk fondasi bagi banyak aspek kehidupan Saya, dan pengaruhnya dapat terus Saya rasakan sepanjang hidup. 5. Berikut beberapa pelajaran hidup yang dapat diambil dari kegiatan tersebut: Trapesium Usia Roda Emosi Dengan memahami dan menerapkan pelajaran dari trapesium usia dan roda emosi, sebagai guru Saya dapat lebih baik dalam mengelola kelas, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan emosional yang penting untuk kehidupan mereka. Jawaban Tugas 2: 1. Nilai-nilai dalam diri Saya yang membantu menggerakkan murid, rekan Guru, dan komunitas sekolah meliputi: Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam praktek sehari-hari, Saya dapat menjadi kekuatan penggerak yang positif bagi murid, rekan Guru, dan seluruh komunitas sekolah. 2. Saya memainkan berbagai peran penting dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah. Berikut beberapa peran Saya tersebut: Dengan memainkan peran-peran ini, Saya tidak hanya menggerakkan murid, tetapi juga mendorong rekan kerja dan komunitas sekolah untuk bekerja sama mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik. EKSPLORASI KONSEP A. BAGAIMANA MANUSIA TERGERAK Pertanyaan pemandu: Apa saja hal yang bekerja secara alami pada diri seorang manusia dan mempengaruhi bagaimana manusia dalam berperilaku? A.1. Cara kerja otak: Sistem berpikir cepat dan lambat Pada bagian ini, Bapak/Ibu akan belajar bagaimana otak mempengaruhi bagaimana manusia tergerak melalui sebuah video pendek berjudul “Eskalator dan Kerja Otak”. Video ini berupaya menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam dua sistem berpikir yang berbeda, yaitu berpikir cepat dan berpikir lambat melalui perumpamaan eskalator yang berjalan turun. Video ini juga membahas bagaimana otak “3-in-1 (Triune)” manusia bekerja. Perumpamaan Otak 3-in-1 (Triune) Manusia Menggunakan Tangan Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian mempengaruhi dirinya untuk bergerak. Emosi adalah bagian utama dari lingkungan yang sifatnya psikis dan intrinsik yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru. Dalam rangkaian modul Pendidikan Guru
Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara
MULAI DARI DIRI Sebagai pemantik proses refleksi tersebut, mari kita ingat-ingat kembali pengalaman ketika kita bersekolah. Jawaban pertanyaan berikut tidak perlu ditulis namun tetap perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia terkait pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD). SOAL 1 Buatlah sebuah tulisan reflektif kritis dengan jumlah minimum 300 kata dan maksimum 500 kata dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan panduan yang telah disediakan. Pertanyaan panduan tulisan reflektif kritis Anda terkait konsep pemikiran Pendidikan KHD: *) Maknai dan hayati pilihan Anda menjadi guru dalam menuliskan tulisan reflektif-kritis. Hindari perihal teknis seperti tidak tersedianya buku ajar bagi murid, masih berstatus guru honorer dsb-nya. Fokus pada pilihan Anda menjadi guru. Your answer: Beberapa poin utama dari pemikiran KHD yang bisa Saya tuliskan: Pemikiran-pemikiran KHD ini menjadi landasan bagi pengembangan sistem pendidikan di Indonesia, dan warisan intelektualnya tetap relevan hingga saat ini dalam konteks pembangunan pendidikan nasional: Di sekolah tempat Saya mengajar, prinsip-prinsip ini dapat diimplementasikan melalui perancangan kurikulum yang holistik, pengembangan program ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter, dan penggunaan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan pembelajaran. menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam praktik pengajaran adalah tentang penerapan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh KHD serta kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai pendidik: Dengan demikian, ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya. SOAL 2 Ungkapkan Harapan dan Ekspektasi Anda terkait dengan pembelajaran pada modul ini. Your answer: ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya meliputi: 1. Sebagai seorang guru, saya hendaknya memperhatikan pentingnya akses pendidikan yang merata bagi semua murid dengan mengadopsi strategi untuk memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang. 2. Saya hendaknya menggunakan pendekatan berbeda-beda yang sesuai dengan gaya belajar individu mereka dan mengembangkan metode pembelajaran inovatif yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa Saya. 3. Saya hendaknya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan pribadi dan profesional siswa, bukan hanya fokus pada aspek akademis semata. 4. Saya seharusnya lebih memperhatikan dan memanfaatkan kekayaan budaya lokal dalam pengajaran sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Dengan demikian, ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya: 1. Dengan kesetaraan akses pendidikan yang adil dan merata, memberi kesempatan yang setara bagi siswa Saya untuk mengejar mimpi dan potensi mereka tanpa terkendala oleh faktor-faktor seperti latar belakang ekonomi atau sosial. 2. Siswa Saya tidak hanya mengembangkan keterampilan akademis, tetapi juga memahami nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati. Ini membentuk dasar bagi pembentukan kepribadian yang kuat dan bertanggung jawab. 3. Siswa Saya mampu berpikir kreatif dan inovatif, serta memiliki kepercayaan diri untuk mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan solusi untuk masalah, dan menghadapi tantangan dengan cara yang unik. 4. Siswa Saya dapat mengembangkan rasa bangga akan identitas budaya mereka sendiri. Ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar mereka, tetapi juga mengajarkan mereka untuk menghormati dan menghargai keberagaman budaya di sekitar mereka. 5. Dengan kemandirian dalam mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka sendiri, siswa Saya diharapkan belajar bagaimana mengelola waktu, menetapkan tujuan, dan mencapai pencapaian pribadi mereka. 6. Siswa Saya memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, dan menghargai kontribusi dari berbagai perspektif. Saya mengharapkan Siswa Saya menjadi individu yang lebih baik dengan memberikan mereka fondasi pendidikan yang kokoh, mempersiapkan mereka untuk tantangan global, dan mendorong mereka untuk berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, Saya berharap memperoleh pembelajaran sebagai berikut: Dengan mengintegrasikan materi kegiatan ini, Saya dapat membantu siswa untuk tidak hanya memahami konsep-konsep dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan nyata mereka dan dalam masyarakat lebih luas. EKSPLORASI KONSEP Potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga kini Bapak/Ibu CGP, mengawali refleksi filosifis Pendidikan Indonesia, Anda diminta untuk menyimak video “Pendidikan Zaman Kolonial” di bawah ini. Bapak/Ibu CGP dapat melihat perjalanan Pendidikan Indonesia sebelum kemerdekaan dan peran sekolah Taman Siswa sejak pendiriannya di tahun 1922. Soal 1 Apa bagian yang paling menarik bagi saya? Mengapa? Your answer: Ki Hajar Dewantara Mendirikan Taman Siswa (1922): Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai sebagai gerbang emas pendidikan pribumi masa itu menjadi gerakan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang merata dan berbasis budaya Indonesia kepada anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat. Pendirian Taman Siswa menjadi landasan bagi pendidikan nasional yang inklusif dan bertujuan untuk membentuk karakter bangsa. Soal 2 Apa tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari video ini pada zaman Kolonial? Your answer: Secara keseluruhan, pendidikan pada masa kolonial di Indonesia lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kolonial dan pengendalian sosial daripada pada pengembangan potensi dan kemandirian masyarakat pribumi. Ini menghasilkan kesenjangan pendidikan yang signifikan dan berkontribusi pada berbagai masalah sosial dan ekonomi yang berkepanjangan di era pasca-kolonial. Soal 3 Apa persamaan dan perbedaan antara proses pembelajaran pada zaman Kolonial dengan proses pembelajaran saat ini? Your answer: Persamaan Perbedaan Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa persamaan dalam struktur dasar dan tujuan umum pendidikan, perbedaan mendasar terletak pada aksesibilitas, kurikulum, orientasi pendidikan, metode pengajaran, dan pengelolaan yang mencerminkan perubahan dari era kolonial ke era kemerdekaan dan pembangunan nasional. 2. Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009),
Aksi Nyata Modul 3.3
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-8
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Dalam refleksi dwi mingguan kali ini saya menggunakan “Model Driscoll”. Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih. Berikut ini refleksi saya: What (Apa yang terjadi?)Mengawali kegiatan pembelajaran modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin pada tanggal 09 Oktober 2024 dengan melakukan pre test kemudian dilanjutkan pada tahap mempelajari Mulai dari Diri. Pada tahap ini saya banyak membaca dan menjawab pertanyaan pemantik di LMS mengenai pengalaman dan saling memberi umpan balik sesama CGP. Selama mempelajari modul 3.1 mulai dari diri hingga eksplorasi konsep, saya merenungkan bagaimana saya membuat keputusan sehari-hari ketika diberikan beberapa kasus dilema yang harus diselesaikan. Selanjutnya memasuki tahap ruang kolaborasi dimana setiap CGP berdiskusi dan mempresentasikan hasilnya, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman bersama instruktur, koneksi materi yang mana mengaitkan materi-materi yang telah dipelajari, dan mengimplementasikannya dalam aksi nyata. Saya mendapatkan pengetahuan lebih dalam tentang bujukan moral, dilema etika, prinsip resolusi, bahkan konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Saya mempelajari bagaimana kebijaksanaan, integritas, dan empati merupakan inti dari pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan. Konsep ini mulai mengubah cara pandang saya terhadap kepemimpinan. Saya belajar bahwa pendekatan berbasis Kebajikan menuntut keseimbangan antara kepedulian terhadap individu dan keadilan untuk keseluruhan pihak yang terlibat. So What? (Apa artinya?)Pendekatan saya terhadap keputusan selama ini lebih didorong oleh hasil langsung, sehingga keputusan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap pihak-pihak yang terlibat. Saya mulai menyadari bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, saya memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memastikan aturan ditegakkan tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional dan akademik semua murid. Saya merasa antusias untuk lebih mendalami bagaimana nilai-nilai kebajikan seperti kepedulian dan keadilan agar lebih konsisten membentuk keputusan saya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih berempati dan berfokus pada nilai-nilai kebajikan bisa menghasilkan keputusan yang lebih seimbang dan manusiawi. Keputusan yang baik bukan hanya soal efisiensi, tetapi tentang dampak positif pada kesejahteraan murid maupun pihak lain yang juga terlibat. Hal ini memberikan pemahaman baru bahwa terkadang fleksibilitas yang manusiawi memang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Now What? (Apa yang akan dilakukan selanjutnya?)Kedepannya saya ingin lebih konsisten dalam menggunakan pendekatan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan ketika menghadapi dilema etika dan merefleksikan bagaimana nilai-nilai kebajikan dapat diterapkan dengan lebih baik. Saya juga akan mendiskusikan tantangan yang dihadapi dengan rekan guru untuk memperkaya pemahaman saya dan bersama-sama mencari solusi yang sesuai. Di samping itu, saya akan lebih banyak mempertimbangkan kesejahteraan pihak yang terlibat dalam setiap keputusan yang saya ambil dan melihat apakah keputusan saya yang lebih empatik dapat memberikan dampak positif terhadap semangat serta kesejahteraan murid maupun pihak lain yang terlibat.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-7
1. Peristiwa Pada sesi pembelajaran kali ini, saya menerapkan pendekatan coaching untuk membantu siswa memahami konsep [sebutkan konsep atau materi. Kegiatan dimulai dengan pemaparan tujuan pembelajaran, dilanjutkan dengan diskusi kelompok kecil di mana siswa saling berbagi ide dan solusi. 2. Perasaan Selama proses coaching, saya merasakan beberapa hal: 3. Tantangan yang Dihadapi Meskipun banyak hal positif, saya juga menghadapi beberapa tantangan: 4. Pembelajaran yang Diperoleh Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa: 5. Rencana Penerapan Berdasarkan refleksi ini, saya merencanakan beberapa langkah ke depan: 6. Penutup Refleksi ini menjadi penting dalam proses pengembangan diri sebagai guru penggerak. Saya berkomitmen untuk terus belajar dan beradaptasi agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi siswa.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-6
Refleksi Pribadi: Dalam mempelajari modul keterampilan sosial emosional (KSE), saya menyadari bahwa aspek ini memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya dalam perkembangan murid, tetapi juga dalam kesejahteraan pendidik dan iklim sekolah secara keseluruhan. Sebelumnya, saya berpikir bahwa pembelajaran terutama berfokus pada pencapaian akademis. Namun, melalui modul ini, saya semakin paham bahwa keterampilan sosial emosional merupakan fondasi yang mendukung pembelajaran kognitif. Kesadaran akan pentingnya kesadaran diri dan manajemen diri mendorong saya untuk lebih reflektif dalam mengelola emosi saya saat menghadapi situasi yang menantang di kelas. Keterampilan ini juga membantu saya dalam memberikan contoh positif kepada murid, terutama dalam situasi yang membutuhkan pengendalian diri dan ketenangan. Saya memahami bahwa jika saya dapat mengelola emosi saya dengan baik, maka saya bisa lebih efektif dalam membimbing murid untuk melakukan hal yang sama. Sementara itu, kesadaran sosial dan keterampilan hubungan menjadi hal yang penting dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif dan saling mendukung. Saya mulai lebih fokus untuk memahami perasaan dan perspektif murid-murid saya, terutama yang mungkin mengalami kesulitan emosional atau sosial. Hal ini membuat saya lebih sabar dan empati dalam berinteraksi dengan mereka, serta lebih aktif mencari cara untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Pembelajaran tentang pengambilan keputusan yang bertanggung jawab juga memberikan wawasan baru dalam mengelola kelas. Saya menjadi lebih sadar tentang bagaimana keputusan saya, baik yang besar maupun kecil, memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan murid. Saya berupaya melibatkan murid dalam proses pengambilan keputusan, baik dalam memilih metode pembelajaran atau dalam menyelesaikan konflik di kelas. Hal ini memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan mereka. Pembelajaran Utama: Dari modul ini, saya belajar bahwa KSE tidak hanya penting untuk murid, tetapi juga bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Menguasai keterampilan sosial emosional dapat meningkatkan kualitas interaksi di dalam kelas, memperkuat hubungan dengan murid, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. KSE juga memberikan kerangka bagi guru untuk menjadi role model dalam hal pengelolaan emosi dan hubungan interpersonal. Rencana Tindak Lanjut: Ke depan, saya berencana untuk lebih mengintegrasikan keterampilan sosial emosional dalam setiap pembelajaran di kelas. Saya akan memberikan lebih banyak ruang bagi murid untuk merefleksikan emosi mereka, bekerja sama dalam proyek kelompok, dan melatih kemampuan mereka dalam pengambilan keputusan. Saya juga akan terus mengevaluasi dan merefleksikan diri agar bisa lebih efektif dalam mengelola emosi dan menciptakan hubungan yang positif dengan murid-murid serta rekan kerja di sekolah. Refleksi ini juga mendorong saya untuk lebih aktif mengajak rekan pendidik lainnya dalam memperkuat KSE di lingkungan sekolah, agar manfaatnya dapat dirasakan secara menyeluruh.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ke-5
Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Ahmad Indra Sanjaya, Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Asal instansi SMAN 1 Pangkalan Kabupaten Karawang. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ke 5. Jurnal ini sebagai kegiatan rutin dalam merefleksikan diri selama mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan. Pada modul 1.4, saya mulai mempelajari materi mengenai Budaya Positif diawali dengan pembelajaran secara mandiri diawali dengan ‘Mulai Dari Diri’. Pada bagian ini saya diminta untuk menjawab pertanyaan yang ada di LMS diantaranya: Dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan refleksi diri, harapan untuk diri sendiri, harapan kepada siswa, dan ekspektasi. Setelah mempelajari bagian ‘mulai dari diri’, berlanjut ke bagian ‘Eksplorasi Konsep’ dimana ada 6 materi yang esensial pada modul 1.4 ini. Materi tersebut adalah: Selesai eksplorasi konsep, saya berkolaborasi dengan kelompok lain yang dilakukan secara tatap maya dalam sesi Ruang Kolaborasi. Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok dan yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Kami banyak berdiskusi dalam sesi ini, khususnya dalam sesi menanggapi presentasi dari setiap kelompok. Setelah berkolaborasi, kami fokus mengerjakan tugas mandiri lagi di bagian ‘Demonstrasi Kontekstual’. Di bagian ini saya mendapatkan tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi. Setelah skenario dibuat, saya membuat video penerapan segitiga restitusi bersama siswa. Kegiatan selanjutnya dalam modul ini adalah ‘Elaborasi Pemahaman’ bersama instruktur. Di bagian ini, saya banyak berdiskusi bersama instruktur yang bertujuan untuk memahami lebih dalam maksud dari materi pada modul 1.4 ini. Setelah mengikuti serangkaian kegiatan, saya lanjutkan dengan membuat tugas ‘Koneksi Antar Materi’. Bagian ini adalah pengaitan antar materi yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1, 1.2, 1.3. dan 1.4. Tugas di bagian ini adalah menjelaskan pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Saya juga diminta untuk menjelaskan hal yang menarik dan di luar dugaan saya. Saya juga membuat rancangan aksi nyata sebagai persiapan pelaksanaan aksi nyata modul 1.4. Dan terakhir pembuatan ‘Aksi Nyata’, dalam aksi nyata ini saya melaksanakan beberapa kegiatan. Yang pertama saya lakukan adalah berkoordinasi dengan kepala sekolah dan meminta izin untuk mengadakan diseminasi mengenai Budaya Positif kepada seluruh warga sekolah, khususnya rekan wali kelas. Dalam kegiatan diseminasi ini saya menjelaskan apa yang sudah saya dapatkan mengenai materi budaya positif, dan saya meminta kepada semua rekan wali kelas agar dapat membuat ‘Keyakinan Kelas’ di kelas masing-masing yang nantinya menjadi keyakinan kelas sampai menjadi keyakinan sekolah. Aksi nyata ini dibuat dalam 2 bentuk yaitu video dan artikel dan keduanya diunggah melalui LMS serta platform merdeka belajar. Yang saya rasakan setelah mempelajari modul 1.4 ini adalah perasaan semangat, bangga, dan senang. Saya semangat karena di modul 1.4. ini saya bisa mempelajari materi tentang budaya positif yang memberikan pencerahan saya tentang penerapan budaya positif di sekolah. Saya bisa lebih paham tentang nilai-nilai kebajikan, posisi kontrol guru, teori motivasi, keyakinan kelas, segitiga restitusi, dan lain-lain. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk membuat presentasi tentang analisis kasus berdasarkan konsep budaya positif. Di Modul 1.4. saya mendapatkan materi tentang konsep-konsep budaya positif, diantaranya 1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal; 2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi; 3) Keyakinan Kelas; 4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas; 5) Lima Posisi Kontrol ; 6) Segitiga Restitusi. Saya juga bisa membuat contoh penerapan segitiga restitusi bersama siswa yang bisa digunakan untuk contoh bagi guru lain yang belum mengetahui tentang segitiga restitusi untuk membangun budaya positif di sekolah. Pembelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan pada modul 1.4 ini adalah saya mengetahui bahwa untuk menciptakan budaya positif di sekolah sangat dituntut kerja sama dan kekompakan serta keselarasan dari semua pihak di sekolah yakni Kepala sekolah, rekan sejawat, petugas sekolah, siswa, dan orang tua. Budaya Positif tidak bisa diciptakan oleh satu orang saja. Harus ada Kerjasama dari semua pihak di sekolah termasuk orang tua siswa dan masyarakat. Kerja sama yang baik dari semua unsur akan memudahkan terciptanya budaya positif dan juga terbentuknya Profil Pelajar Pancasila di kalangan murid. Penerapan posisi kontrol juga menjadi perhatian bagi saya, sedangkan dulu saya memposisikan diri pada posisi kontrol sebagai pemantau dan penghukum sekarang belajar berada di posisi control manager dan teman dalam penyelesaian permasalahan murid dengan menerapkan segitiga restitusi, yakni dengan melakukan 3 langkah: saya akan menerapkan ilmu budaya positif ini di sekolah. dan supaya lebih tercapainya keinginan saya ini, materi ini harus saya imbaskan kepada teman sejawat di sekolah karena untuk mewujudkan budaya positif ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. Pengimbasan ini sangat penting agar tercipta Kerjasama yang baik dengan seluruh warga sekolah yang tentunya lebih memudahkan saya sebagai calon guru penggerak dalam menerapkan budaya positif ini di sekolah. Semoga dalam penerapannya selalu diberi kemudahan oleh Allah SWT. Perubahan yang saya rasakan adalah saya merasa harus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekitar saya untuk segera mengetahui materi yang saya dapatkan ini. Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan posisi kontrol sebagai manager dalam menangani kasus siswa, menerapkan segitiga restitusi dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dengan berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, meskipun hal tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melakukan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan tidaklah mudah namun kita harus bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Salam dan bahagia Bapak Ibu Guru Penggerak.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-4
Penerapan Budaya Positif, Posisi Kontrol, dan Segitiga Restitusi 1. Penerapan Budaya Positif Refleksi Pengalaman: 2. Posisi Kontrol Refleksi Pengalaman: 3. Segitiga Restitusi Refleksi Pengalaman: Kesimpulan dan Rencana Tindak Lanjut Refleksi Akhir: Dengan menyusun jurnal refleksi ini, Saya dapat memahami lebih dalam tentang penerapan budaya positif, posisi kontrol, dan segitiga restitusi, serta merencanakan langkah-langkah untuk terus meningkatkan lingkungan pembelajaran di kelas Saya.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-3
Visi Guru Penggerak Tanggal: 27 Juli 2024 1. Deskripsi Materi Materi belajar visi guru penggerak berfokus pada pengembangan kemampuan guru untuk menjadi agen perubahan di sekolah dan komunitasnya. Visi ini mencakup pemahaman mendalam tentang peran guru sebagai pemimpin pembelajaran, inovator, dan pemberdaya siswa serta rekan kerja. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kreatif, dan kolaboratif yang mendukung pertumbuhan akademik dan karakter siswa. 2. Pemahaman dan Insight Pribadi Materi ini membuka wawasan saya tentang pentingnya memiliki visi yang jelas dan kuat sebagai guru. Saya memahami bahwa menjadi seorang guru penggerak bukan hanya tentang mengajar di dalam kelas, tetapi juga tentang memimpin perubahan positif di seluruh lingkungan sekolah. Ini memerlukan komitmen untuk terus belajar dan berinovasi, serta kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain. 3. Pengalaman dan Contoh Praktis Selama mengikuti materi ini, saya teringat akan pengalaman saat saya berusaha mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang lebih kolaboratif di kelas saya. Dengan melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan dan memberikan mereka lebih banyak tanggung jawab, saya melihat peningkatan dalam keterlibatan dan kemandirian mereka. Hal ini sejalan dengan visi guru penggerak yang menekankan pada pemberdayaan siswa. 4. Tantangan dan Solusi Salah satu tantangan terbesar dalam mengimplementasikan visi ini adalah resistensi terhadap perubahan, baik dari siswa, rekan kerja, maupun sistem yang ada. Untuk mengatasi ini, saya menyadari pentingnya komunikasi yang efektif dan konsisten, serta memberikan contoh konkret tentang manfaat dari pendekatan baru Inkuiri Apresiatif yang diusulkan. Mengajak rekan kerja untuk berkolaborasi dalam proyek kecil dan berbagi hasil positif juga dapat membantu mengurangi resistensi. 5. Rencana Tindakan Selanjutnya – Mengembangkan program mentoring untuk siswa yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan kemandirian mereka. – Mengadakan diskusi rutin dengan rekan kerja untuk berbagi praktik terbaik dan ide-ide inovatif dalam pembelajaran. – Terus mencari peluang pelatihan dan pengembangan diri untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan saya sebagai guru penggerak. 6. Refleksi Akhir Mempelajari visi guru penggerak memberikan saya semangat baru untuk terus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan inklusif. Saya merasa lebih termotivasi untuk menjadi agen perubahan yang dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi seluruh komunitas sekolah. Dengan visi yang jelas dan tindakan yang terarah, saya yakin kita dapat bersama-sama mewujudkan pendidikan yang lebih baik. — Ahmad Indra Sanjaya Refleksi ini merupakan bagian dari komitmen saya untuk terus berkembang dan berkontribusi sebagai guru penggerak.