Modul 1.3. Visi Guru Penggerak

PENDAHULUAN

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.
Pendidik hanya dapat merawat dan menuntuntumbuhnyakodrat itu.”

Ki Hajar Dewantara

Selamat datang Bapak/Ibu calon guru penggerak di Modul 1.3!

Dunia mengalami perubahan yang sangat ekstrim saat ini. Perubahannya begitu cepat dan mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik perilaku individu, struktur sosial maupun praktek berorganisasi. Dalam melihat dunia yang berkembang dengan sangat cepat ini, kita perlu belajar melihat dengan jernih apa yang sungguh-sungguh bermakna buat kita sekarang dan di masa depan.

Derasnya perubahan dan belenggu rutinitas dunia membuat kita lupa akan makna. Kita jarang menilik kembali makna hidup kita dan harapan kita. Padahal, harapan itu bagaikan bahan bakar untuk tetap berputarnya dunia seorang manusia. Manusia yang berpengharapan akan memiliki peluang untuk mencapai lebih banyak ketimbang mereka yang tidak berpengharapan.

Murid yang memiliki pengharapan tinggi dapat mengonseptualisasikan tujuan mereka dengan jelas, sedangkan murid yang memiliki pengharapan rendah lebih ragu-ragu dan tidak jelas akan tujuan mereka. Murid dengan pengharapan tinggi menentukan tujuan mereka berdasarkan kinerja mereka sebelumnya. Mereka memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari apa yang dapat mereka capai, karena mereka dapat menyelaraskan diri dengan tujuan mereka sendiri dan mengendalikan bagaimana mereka akan mencapainya. Murid seperti itu termotivasi secara intrinsik dan berkinerja baik secara akademis (Snyder et.al., 2002, p.824). Murid yang bertumbuh.

Dari kenyataan empirik tersebut, kemudian muncullah pertanyaan mengenai bagaimana kita sebagai guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia.

Modul 1.3 ini, secara tidak langsung juga membantu sekolah untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan, misalnya saja dengan bagaimana profil murid dan lulusan dalam visi mampu memberikan gambaran mengenai Standar Kompetensi Lulusan sekolah mereka. Bapak/Ibu sekalian juga diajak untuk menelusuri visi mendasar dari pendidikan, betapa pentingnya pendidik memiliki visi, dan mengembangkan visi untuk mewujudkan keberpihakan pada murid-murid di daerah Bapak/Ibu sehingga mereka bertumbuh dengan maksimal.

Selamat belajar!

Salam,
Penulis Modul 1.3

Mulai dari diri

  • CGP membuat lukisan “Imajiku tentang murid di masa depan”.
  • CGP membuat sebuah paragraf utuh yang dapat menggambarkan visi tentang sekolah yang Bapak/Ibu impikan dengan melanjutkan kalimat rumpang yang telah diberikan.
  • CGP mengartikulasikan nilai-nilai, filosofi, harapan yang mereka yakini atas murid di sekolah sebagai bagian dari kedigjayaan Indonesia di masa mendatang dalam sebuah VISI.

Eksplorasi konsep mandiri (3 JP)

  1. CGP menyimak tulisan: Berpikir strategis, Inkuiri Apresiatif sebagai paradigma, Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan (BAGJA, video Pusdatin), Proses Inkuiri dalam BAGJA (video Pusdatin, Amati-Tiru-Modifikasi pertanyaan BAGJA)
  2. CGP membuat refleksi mandiri dengan menerapkan tahapan BAGJA pada cita-cita yang telah tercapai.

Eksplorasi konsep bersama (1 JP)

  1. CGP berbagi VISI mengenai seperti apa murid mereka sekarang di masa depan (sebagaimana mereka sudah tuliskan di Tugas individu 1)
  2. CGP berbagi kalimat kesimpulan yang menggambarkan pemahaman mereka yang mendalam atas konsep Inkuiri Apresiatif

Ruang kolaborasi

  1. Berdiskusi secara virtual dan berkolaborasi dalam kelompok untuk menentukan SATU visi.
  2. Berkolaborasi dalam kelompok untuk membuat SATU pernyataan “prakarsa perubahan” berdasarkan visi yang sudah kelompok sepakati.
  3. Berkolaborasi dalam kelompok untuk membuat SATU rencana BAGJA lengkap dari tahap ke tahap menggunakan kanvas BAGJA dengan melengkapi pertanyaan-pertanyaan.
  4. Kelompok mempresentasikan visi, kalimat prakarsa perubahan dan tahapan BAGJA yang sudah disusun pada forum diskusi virtual pertama
  5. CGP memberikan umpan balik bagi visi, kalimat prakarsa perubahan, dan tahapan BAGJA kelompok lain.
  6. CGP mengunggah hasil pengerjaan tugas ruang kolaborasi di LMS.

Demonstrasi kontekstual

  • CGP membuat prakarsa perubahan diri berdasarkan visi yang telah dibuatnya di Tugas Individu 1
  • CGP menyusun BAGJA berdasarkan kalimat prakarsa perubahan diri yang telah dibuat

Elaborasi Pemahaman

  • CGP berdialog dengan Instruktur untuk menguatkan pemahaman akan materi konsep modul 1.3.
  • CGP merefleksikan pemahaman mengenai pentingnya prakarsa perubahan diri yang lekat dengan visi, Profil Pelajar Pancasila, dan aset yang telah dimiliki.

Koneksi Antarmateri

  • CGP mengaitkan apa yang mereka pahami mengenai peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah.
  • CGP merevisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah mereka buat di Tugas Individu 1, ke dalam sebuah VISI yang membuat mereka bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya.

 Aksi nyata

CGP merevisi dan mengeksekusi rancangan BAGJA untuk prakarsa perubahan diri yang sudah dibuat pada tahap Demonstrasi Kontekstual untuk bahan sesi pendampingan individu bersama Pengajar Praktik.


MULAI DARI DIRI

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak!

Dalam Pembelajaran 1 ini kita akan menggali pemahaman kita atas visi. Ingatkah Bapak/Ibu CGP, pada masa kecil, kita pernah ditanya mengenai cita-cita. Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mau jadi apa jika sudah besar?”. Pada masa itu, sebagian besar dari kita dapat menjawab dengan percaya diri. Kita menjawab dengan bersemangat tentang profesi yang ingin kita geluti di masa depan. Padahal, kita belum tahu apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Seperti itulah visi. 

Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi memang belum terjadi saat ini, namun begitu kuat kita inginkan untuk terwujud di masa depan. Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya mewujudkannya.

Pada tugas ini, artikulasikanlah nilai-nilai, filosofi, harapan atas murid di sekolah yang Bapak/Ibu yakini dalam sebuah VISI. Pastikan kalimat-kalimat yang digunakan memiliki makna tersendiri bagi Bapak/Ibu secara pribadi sehingga ketika dibaca, kalimat itu akan menyemangati Bapak/Ibu sendiri, sekaligus menggerakkan hati tiap orang yang turut membacanya. Lewat kalimat itu, Bapak/Ibu harus menggambarkan seberapa berharga visi tersebut hingga patut diperjuangkan pencapaiannya.

Soal 1

Kita semua mengenal “Sumpah Palapa” dari Gajah Mada. Lewat sejarah kita belajar bagaimana kemudian visi yang Gajah Mada artikulasikan sebagai sumpah tersebut menggerakkan Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan besar di Nusantara. Visi pribadi beliau begitu kuat, dipercaya, hingga didukung oleh warga dan kerajaannya. Visi itu menguatkan hatinya, menggerakkan hati semua orang, dan mempersatukan gerak bersama dalam pencapaiannya. Gajah Mada adalah Mahapatih bukan Raja dari Kerajaan Majapahit saat itu. Kisah Gajah Mada itu dapat kita tarik ke dalam konteks guru dan sekolahnya. Guru memang bukan Kepala Sekolah, namun jika visi seorang guru memiliki makna yang kuat maka visi tersebut berpeluang menghubungkan hati lebih banyak pihak hingga kemudian mengundang upaya kolaboratif demi mewujudkannya. Visi seorang guru harus dapat di-amini semua pihak karena sangat jelas keberpihakannya pada murid.

Nah, ketika kita sebagai seorang guru membayangkan suatu visi, apakah kita telah menyertakan gambaran murid ke dalamnya? Sebagai seorang guru, mendidik bukanlah pekerjaan administratif. Target pekerjaan kita bukan sebuah dokumen, selembar kertas, atau daftar angka. Mendidik tidak hanya berbicara tentang dimensi waktu “sekarang”. Sasaran pekerjaan kita adalah manusia. Target pekerjaan kita adalah pertumbuhan manusia demi manusia. Hasil pekerjaan kita baru akan terlihat saat manusia ini berkarya di masa depan nanti. Oleh karena itu, memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru. Visi yang diharapkan terwujud pada murid Bapak/Ibu di masa depan. Visi mengenai murid inilah yang nantinya menjadi bintang penunjuk arah bagi guru dalam menentukan program dan strategi pembelajaran.

Pada kesempatan ini kita juga akan membayangkan tanggung jawab kita sebagai seorang guru dengan peran sebagai Guru Penggerak. Kita memiliki peran untuk mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Peran ini memunculkan harapan bahwa ada hal besar yang kita harapkan dapat kita capai di masa depan.  Sebagai Guru Penggerak kelak, peran kita akan melampaui dinding dan pintu kelas di mana kita mengajar. Oleh karena itu, Guru Penggerak perlu mengartikulasikan harapan besar mengenai dirinya, murid, rekan kerja, sekolah, dan kedigjayaan Indonesia dalam kalimat-kalimat yang sifatnya pribadi, sehingga paling tidak dapat menggerakkan hatinya, menyemangati dirinya, di tengah jatuh-bangun perjuangannya kelak.

Untuk membantu Bapak/Ibu dalam memaknai bagaimana pentingnya visi tentang murid, mari kita membuat “gambar” yang bertemakan “Imajiku tentang murid di masa depan”Buatlah satu gambar mengenai murid yang Bapak/Ibu dambakan 5-10 tahun mendatang. Sertakan juga dalam gambar itu, lingkungan pembelajaran yang sesuai untuk murid sebagaimana Bapak/Ibu cita-citakan. Gambarkan situasi murid, peran guru, juga suasana sekolah sesuai dengan cita-cita Bapak/Ibu. Konsentrasikan diri pada substansi pesan pribadi Bapak/Ibu bukan pada keindahan gambarnya.

Soal 2

Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah membuat “gambar”? Semoga gambar mengenai mimpi tentang murid dan lingkungan pembelajaran di masa depan ini mendatangkan perasaan bahagia dalam diri sebagai guru. Gambar yang Bapak/Ibu buat sesungguhnya adalah visi mengenai layanan dan lingkungan pembelajaran di masa depan yang akan kita berikan pada murid kita. Ketika kita menggambar visi, maka yang muncul adalah keyakinan dalam diri untuk mewujudkannya. Akhirnya, kita pun terpacu untuk melakukan peningkatan kualitas diri serta menguatkan kolaborasi di sekolah agar terjadi upaya perbaikan dan perubahan berkesinambungan yang diperlukan agar visi menjadi kenyataan. 

Pada kesempatan ini, marilah merangkai mimpi dalam gambar tersebut ke dalam kata-kata yang lebih jelas sebagai sebuah visi Bapak/Ibu. Kalimat rumpang dalam paragraf berikut ini menyediakan panduan untuk menuliskan visi yang telah Bapak/Ibu gambar. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu Bapak/Ibu menyingkap apa yang sebetulnya telah dan perlu terus diyakini demi kebaikan murid-murid.

Silahkan lengkapi kalimat rumpang ini dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dan pikiran, sehingga tersusun sebuah paragraf utuh yang dapat menggambarkan visi tentang murid dan sekolah yang Bapak/Ibu idam-idamkan. Sebuah sekolah yang berpihak pada murid, dan menuntun murid mengejawantahkan Profil Pelajar Pancasila.


Saya memimpikan murid-murid yang …………………………………………………………………
Saya percaya bahwa murid adalah …………………………………………………………………….
Di sekolah, saya mengutamakan ……………………………………………………………………….
Murid di sekolah saya sadar betul bahwa ………………………………………………………….
Saya dan guru lain di sekolah saya yakin untuk ………………………………………………….
Saya dan guru lain di sekolah saya paham bahwa ……………………………………………….

Your answer:

Untuk menyusun visi yang kuat, Saya memimpikan murid-murid yang:

  1. Bersemangat Belajar: Saya memimpikan murid-murid yang bersemangat untuk belajar, penuh rasa ingin tahu, dan selalu mencari tahu lebih banyak tentang dunia di sekitar mereka.
  2. Kreatif dan Inovatif: Saya memimpikan murid-murid yang kreatif dalam berpikir, mampu menghasilkan ide-ide baru, dan berani mengambil risiko untuk mencoba hal-hal baru.
  3. Berpikir Kritis: Saya memimpikan murid-murid yang mampu berpikir kritis, menganalisis informasi dengan baik, dan membuat keputusan yang berdasarkan penilaian yang matang.
  4. Berempati dan Peduli: Saya memimpikan murid-murid yang memiliki empati, peduli terhadap sesama, dan terlibat aktif dalam membantu orang lain serta berkontribusi pada komunitas mereka.
  5. Berkarakter Kuat: Saya memimpikan murid-murid yang memiliki integritas, jujur, dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral yang baik.
  6. Kolaboratif: Saya memimpikan murid-murid yang mampu bekerja sama dengan baik dalam tim, mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, serta berkontribusi secara positif dalam setiap kerja sama.

“Saya percaya bahwa murid adalah…” 

  1. Agen Perubahan: Murid adalah agen perubahan yang memiliki potensi untuk membawa dampak positif bagi masyarakat dan dunia.
  2. Pembelajar Seumur Hidup: Murid adalah individu yang terus belajar sepanjang hidup mereka, selalu mencari pengetahuan dan keterampilan baru.
  3. Unik dan Berbakat: Murid adalah individu yang unik dengan bakat dan potensi masing-masing yang perlu didukung dan dikembangkan.
  4. Pusat Pembelajaran: Murid adalah pusat dari proses pembelajaran, yang memerlukan perhatian, bimbingan, dan dukungan yang personal.
  5. Inovator Masa Depan: Murid adalah inovator masa depan yang akan menciptakan solusi kreatif untuk tantangan yang dihadapi dunia.
  6. Individu yang Bernilai: Murid adalah individu yang berharga dan layak mendapatkan penghargaan, perhatian, dan kesempatan untuk berkembang.
  7. Pembelajar Aktif: Murid adalah pembelajar aktif yang terlibat secara penuh dalam proses pendidikan mereka, bukan sekadar penerima pasif informasi.

“Di sekolah, Saya mengutamakan…”

Sebagai guru penggerak, Di sekolah Saya mengutamakan berbagai hal seperti:

  1. Berpihak pada murid: Membantu siswa mengembangkan nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan kerjasama.
  2. Pembelajaran Aktif: Mendorong siswa untuk belajar secara aktif melalui diskusi, proyek kolaboratif, dan eksperimen.
  3. Pengembangan Keterampilan: Fokus pada pengembangan keterampilan kritis seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan komunikasi efektif.
  4. Kemandirian Belajar: Mengajarkan siswa untuk belajar secara mandiri dan mengambil inisiatif dalam proses pembelajaran mereka.
  5. Penghargaan Terhadap Keanekaragaman: Menciptakan lingkungan inklusif yang menghargai dan merayakan perbedaan budaya, kepercayaan, dan latar belakang siswa.
  6. Inovasi dan Kreativitas: Mendorong siswa untuk berpikir kreatif, menciptakan solusi baru, dan mengembangkan ide-ide inovatif.

Murid di sekolah saya sadar betul bahwa …”

  1. Pendidikan Adalah Kunci Masa Depan: Mereka memahami pentingnya pendidikan dalam mencapai cita-cita dan membuka peluang di masa depan.
  2. Setiap Orang Unik: Mereka menghargai keragaman dan perbedaan di antara teman-teman mereka, serta pentingnya saling menghormati.
  3. Kerja Keras dan Dedikasi: Mereka menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan usaha, ketekunan, dan dedikasi.
  4. Kolaborasi dan Kerjasama: Mereka tahu pentingnya bekerja sama dan bagaimana kerjasama tim dapat menghasilkan hasil yang lebih baik.
  5. Belajar dari Kesalahan: Mereka tidak takut untuk mencoba hal-hal baru dan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Saya dan guru lain di sekolah saya yakin untuk …”

  1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif: Memberikan ruang bagi setiap siswa untuk merasa diterima dan dihargai, terlepas dari latar belakang atau kemampuan mereka.
  2. Mengembangkan Potensi Siswa Secara Maksimal: Menyediakan berbagai kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka melalui kegiatan akademik dan ekstrakurikuler.
  3. Menggunakan Metode Pembelajaran Inovatif: Menerapkan pendekatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan minat dan partisipasi siswa dalam belajar.
  4. Mendorong Pembelajaran Seumur Hidup: Menanamkan kesadaran bahwa belajar tidak berhenti setelah tamat sekolah, tetapi terus berlangsung sepanjang hidup.
  5. Membangun Karakter dan Nilai-nilai Positif: Fokus pada pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kerjasama.
  6. Memanfaatkan Teknologi dalam Pembelajaran: Mengintegrasikan teknologi untuk memperkaya pengalaman belajar dan mengakses berbagai sumber informasi yang bermanfaat.
  7. Menjalin Komunikasi yang Efektif dengan Orang Tua: Bekerjasama dengan orang tua untuk mendukung perkembangan akademik dan emosional siswa.
  8. Memberikan Dukungan Emosional dan Psikologis: Menyediakan dukungan yang diperlukan untuk kesejahteraan emosional dan psikologis siswa, termasuk bimbingan dan konseling.
  9. Mendorong Kreativitas dan Inovasi Siswa: Memberikan ruang dan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan menciptakan inovasi baru.
  10. Menjadi Teladan yang Baik: Menjadi contoh yang baik dalam sikap dan perilaku sehari-hari, sehingga siswa dapat meneladani nilai-nilai positif.

Saya dan guru lain di sekolah saya paham bahwa ……”

  1. Setiap Siswa Memiliki Potensi Unik: Setiap siswa memiliki kekuatan dan bakat masing-masing yang perlu dikembangkan secara individual.
  2. Pendidikan Lebih dari Sekadar Akademis: Pendidikan mencakup pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan kesejahteraan emosional.
  3. Pentingnya Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman: Lingkungan yang aman dan mendukung adalah kunci untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif.
  4. Kolaborasi dan Komunikasi Efektif dengan Orang Tua: Kerjasama dengan orang tua adalah penting untuk mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
  5. Penggunaan Teknologi Secara Bijaksana: Teknologi dapat menjadi alat yang kuat dalam pembelajaran jika digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab.
  6. Pembelajaran yang Relevan dan Kontekstual: Materi pembelajaran harus relevan dengan kehidupan siswa dan kontekstual agar mereka dapat melihat hubungan antara apa yang dipelajari dan dunia nyata.
  7. Evaluasi dan Umpan Balik yang Konstruktif: Umpan balik yang membangun dan evaluasi yang adil adalah penting untuk mendukung perkembangan siswa.
  8. Peran Guru Sebagai Fasilitator: Guru lebih dari sekadar pengajar; mereka adalah fasilitator yang mendukung dan membimbing siswa dalam proses belajar.
  9. Kesejahteraan Guru dan Siswa: Kesejahteraan guru dan siswa adalah prioritas yang harus dijaga untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif.
  10. Pembelajaran Berbasis Proyek dan Praktik: Pembelajaran yang melibatkan proyek dan pengalaman praktis dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa.

Soal 3

Pada kesempatan ini, mari kita formulasikan VISI Bapak/Ibu sebagai pendidik. Jadikan kesempatan ini bermakna pribadi, bukan untuk sekedar memenuhi tagihan centang di LMS Bapak/Ibu. Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk kemudian dirumuskan dalam sebuah VISI:

  • Apa makna pernyataan visi bagi Bapak/Ibu?
  • Apa harapan, cita-cita Bapak/Ibu untuk murid, rekan pendidik, komunitas sekolah, kehidupan masyarakat di daerah Bapak/Ibu, dan bangsa-negara Indonesia?
  • Apa yang selama ini jadi keyakinan bersama dan menyatukan sekolah kita?
  • Apa yang diharapkan menjadi pembeda antara murid di sekolah Bapak/Ibu dengan murid di sekolah lain?
  • Apa kontribusi orang dewasa dan para pemangku kepentingan di sekolah kita dalam mewujudkan murid dengan Profil Pelajar Pancasila?

Susunlah rumusan VISI Bapak/Ibu dalam kalimat-kalimat yang menggunakan kata bermakna kuat, spesifik, berorientasi masa depan, menekankan potensi yang ada sehingga khas menggambarkan murid dan sekolah dalam konteks yang sesuai dengan kenyataan Bapak/Ibu masing-masing. 

Sebagai guru dan Guru Penggerak, Bapak/Ibu kelak akan terlibat dalam proses menyusun atau menelaah kembali visi sekolah. Diharapkan, proses belajar dalam modul ini dapat menguatkan Bapak/Ibu sehingga membantu sekolah melihat pentingnya melibatkan murid dan komunitas sekolah dalam merumuskan visi sekolah.

Your answer:

Apa makna pernyataan visi bagi Bapak/Ibu?

Dengan menjadikan harapan Saya sebagai visi, Saya tidak hanya memberi makna pada pekerjaan Saya, tetapi juga memberikan arah dan inspirasi bagi orang-orang di sekitar Saya untuk bergerak bersama menuju masa depan yang lebih baik dalam pendidikan. Bagi Saya Visi:

  1. Menentukan Arah dan Tujuan: Harapan saya menjadi visi memberikan arah yang jelas untuk aktivitas dan kebijakan yang Saya jalankan. Ini membantu memastikan semua tindakan dan keputusan Saya selaras dengan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.
  2. Meningkatkan Motivasi dan Komitmen: Dengan visi yang jelas, Saya dan orang-orang di sekitar Saya (murid, rekan guru, dan masyarakat) akan lebih termotivasi dan berkomitmen untuk mencapainya. Visi yang inspiratif dapat menumbuhkan semangat dan rasa tanggung jawab.
  3. Memfasilitasi Perubahan dan Inovasi: Sebagai guru penggerak, Saya diharapkan untuk membawa perubahan positif dan inovasi dalam pendidikan. Visi yang kuat memberikan landasan bagi upaya inovatif dan membantu mengatasi hambatan dalam proses perubahan.
  4. Memberikan Fokus pada Prioritas: Visi membantu Saya tetap fokus pada hal-hal yang paling penting dan strategis, sehingga Saya dapat mengalokasikan sumber daya dan energi dengan lebih efektif.
  5. Menciptakan Keselarasan dan Koherensi: Dengan visi yang diartikulasikan dengan baik, semua pemangku kepentingan (siswa, orang tua, rekan kerja, dan komunitas) dapat bekerja bersama secara harmonis menuju tujuan bersama.
  6. Membangun Kredibilitas dan Kepercayaan: Visi yang jelas dan diikuti dengan tindakan nyata meningkatkan kredibilitas Saya sebagai pemimpin dalam pendidikan. Ini juga membangun kepercayaan dari berbagai pihak bahwa Saya benar-benar berkomitmen untuk membuat perubahan yang signifikan.

Apa harapan, cita-cita Bapak/Ibu untuk murid, rekan pendidik, komunitas sekolah, kehidupan masyarakat di daerah Bapak/Ibu, dan bangsa-negara Indonesia?

Sebagai seorang guru penggerak, harapan Saya mencakup berbagai aspek yang melibatkan murid, rekan pendidik, komunitas sekolah, kehidupan masyarakat di Jawa Barat, dan bangsa-negara Indonesia. Berikut adalah beberapa harapan yang Saya miliki:

Untuk Murid

  1. Pengembangan Karakter dan Moral:
    • Murid-murid memiliki karakter yang kuat, seperti integritas, tanggung jawab, dan empati.
  2. Kemandirian dan Kreativitas:
    • Murid-murid mampu berpikir mandiri, kreatif, dan inovatif dalam memecahkan masalah.
  3. Prestasi Akademik dan Non-Akademik:
    • Murid-murid mencapai prestasi tinggi baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.
  4. Keterampilan Abad 21:
    • Murid-murid memiliki keterampilan seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan literasi digital.

Untuk Rekan Pendidik

  1. Kolaborasi dan Dukungan:
    • Guru-guru bekerja sama dalam tim, saling mendukung, dan berbagi praktik terbaik.
  2. Pengembangan Profesional:
    • Guru-guru terus belajar dan berkembang melalui pelatihan, workshop, dan pendidikan berkelanjutan.
  3. Inovasi dalam Pengajaran:
    • Guru-guru menggunakan metode pengajaran yang inovatif dan efektif untuk meningkatkan pembelajaran murid.

Untuk Komunitas Sekolah

  1. Kerjasama yang Solid:
    • Seluruh warga sekolah (guru, murid, staf, orang tua) bekerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan.
  2. Lingkungan Belajar yang Positif:
    • Sekolah menjadi tempat yang aman, inklusif, dan mendukung bagi semua anggotanya.
  3. Keterlibatan Orang Tua:
    • Orang tua terlibat aktif dalam pendidikan dan perkembangan anak-anak mereka.

Untuk Kehidupan Masyarakat di Jawa Barat

  1. Peningkatan Kualitas Pendidikan:
    • Masyarakat Jawa Barat memiliki akses ke pendidikan berkualitas yang merata.
  2. Pengembangan Komunitas Berbasis Pendidikan:
    • Terwujudnya komunitas yang sadar dan peduli terhadap pentingnya pendidikan.
  3. Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi:
    • Pendidikan yang baik berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.

Untuk Bangsa-Negara Indonesia

  1. Generasi Penerus yang Berkualitas:
    • Melahirkan generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
  2. Pendidikan yang Merata dan Inklusif:
    • Terwujudnya pendidikan yang merata dan inklusif bagi seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi.
  3. Kontribusi Terhadap Pembangunan Nasional:
    • Pendidikan yang berkualitas berkontribusi pada pembangunan nasional dan peningkatan daya saing Indonesia di kancah internasional.
  4. Persatuan dan Kesatuan Bangsa:
    • Pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan harapan-harapan ini, Saya sebagai guru penggerak dapat berperan penting dalam menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan di berbagai tingkat, mulai dari individu murid hingga masyarakat luas dan bangsa secara keseluruhan.

Apa yang selama ini jadi keyakinan bersama dan menyatukan sekolah kita?

VISI RANCAGE

“Relijius, Mandiri, Cerdas, dan Gemilang.” Visi sekolah Kami yang menyatukan langkah dan arah tujuan Kami di SMA Negeri 1 Pangkalan. Hal ini terjadi sebab hal berikut:

  1. Pengembangan Visi yang Inklusif:
    • Melibatkan seluruh pemangku kepentingan (guru, siswa, orang tua, dan staf) dalam proses pengembangan visi.
    • Mengadakan diskusi, workshop, dan survei untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak sehingga visi tersebut mencerminkan aspirasi bersama.
  2. Komunikasi yang Konsisten dan Jelas:
    • Komunikasikan visi sekolah secara konsisten melalui berbagai media seperti rapat, newsletter, papan pengumuman, dan media sosial sekolah.
    • Pastikan semua warga sekolah memahami arti dan tujuan dari visi tersebut.
  3. Integrasi Visi dalam Kegiatan Sekolah:
    • Mengintegrasikan visi sekolah ke dalam kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan program-program sekolah.
    • Menjadikan visi sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan strategis.
  4. Teladan dari Pemimpin Sekolah:
    • Kepala sekolah dan pemimpin lainnya menjadi teladan dalam mewujudkan visi tersebut.
    • Pemimpin menunjukkan komitmen dan tindakan nyata yang selaras dengan visi sekolah.
  5. Evaluasi dan Penyesuaian:
    • Secara berkala mengevaluasi sejauh mana visi tersebut telah tercapai dan relevan.
    • Melakukan penyesuaian jika diperlukan untuk memastikan visi tetap sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan sekolah.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, visi sekolah dapat menjadi keyakinan bersama yang menyatukan seluruh warga sekolah menuju tujuan bersama.

Apa yang diharapkan menjadi pembeda antara murid di sekolah Bapak/Ibu dengan murid di sekolah lain?

Sebagai seorang guru penggerak, Saya berharap ada beberapa aspek yang membedakan murid di sekolah Saya dengan murid di sekolah lain, yang dapat mencerminkan visi dan nilai-nilai unik dari sekolah Saya. Berikut beberapa aspek yang bisa menjadi pembeda:

  1. Karakter dan Nilai-Nilai:
    • Murid-murid di sekolah Saya diharapkan memiliki karakter yang kuat, seperti integritas, tanggung jawab, empati, dan semangat gotong royong.
    • Pendidikan karakter yang konsisten dan terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran dapat menjadikan murid-murid lebih beretika dan bermoral.
  2. Kemandirian dan Kreativitas:
    • Murid-murid didorong untuk mandiri dalam belajar dan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
    • Program dan kegiatan yang menstimulasi inovasi dan kreativitas, seperti proyek mandiri, lomba kreatif, dan klub-klub inovatif.
  3. Kemampuan Berpikir Kritis dan Analitis:
    • Murid-murid diharapkan mampu berpikir kritis dan analitis, mampu mengevaluasi informasi, dan membuat keputusan yang baik.
    • Pembelajaran berbasis proyek dan diskusi kelas yang menantang murid untuk berpikir lebih dalam dan mempertanyakan asumsi.
  4. Keterampilan Komunikasi dan Kolaborasi:
    • Murid-murid memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan mampu bekerja sama dalam tim.
    • Pengalaman belajar yang menekankan kerja kelompok, presentasi, dan debat.
  5. Keberagaman dan Inklusivitas:
    • Murid-murid yang menghargai keberagaman dan inklusivitas, mampu bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang berbeda.
    • Program yang mempromosikan toleransi, penghargaan terhadap budaya lain, dan kegiatan inklusif.
  6. Penguasaan Teknologi dan Literasi Digital:
    • Murid-murid yang mahir dalam menggunakan teknologi dan memiliki literasi digital yang baik.
    • Integrasi teknologi dalam pembelajaran dan program literasi digital yang komprehensif.
  7. Kepedulian Sosial dan Lingkungan:
    • Murid-murid yang peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan serta terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
    • Program pengabdian masyarakat dan proyek-proyek lingkungan yang melibatkan murid secara langsung.

Dengan menekankan aspek-aspek ini dalam pendidikan dan budaya sekolah, Saya dapat membantu membentuk murid yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki karakter dan keterampilan yang membedakan mereka dari murid di sekolah lain.

Apa kontribusi orang dewasa dan para pemangku kepentingan di sekolah kita dalam mewujudkan murid dengan Profil Pelajar Pancasila?

Mewujudkan murid dengan Profil Pelajar Pancasila membutuhkan kontribusi aktif dari orang dewasa dan para pemangku kepentingan di sekolah. Berikut adalah peran dan kontribusi mereka:

Kepala Sekolah dan Pemimpin Sekolah

  1. Visi dan Kepemimpinan:
    • Memimpin dengan memberikan visi yang jelas dan contoh nyata dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila.
  2. Kebijakan dan Program Sekolah:
    • Menciptakan dan mengimplementasikan kebijakan serta program yang mendukung pengembangan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.
  3. Pengembangan Profesional:
    • Mendorong dan memfasilitasi pengembangan profesional guru untuk memahami dan mengimplementasikan pendidikan berbasis nilai Pancasila.

Guru

  1. Pembelajaran Berbasis Nilai:
    • Mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran di setiap mata pelajaran.
  2. Teladan Sikap dan Perilaku:
    • Menjadi teladan dalam sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
  3. Pengembangan Karakter:
    • Merancang dan melaksanakan kegiatan yang dapat mengembangkan karakter murid sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Orang Tua

  1. Dukungan di Rumah:
    • Mendukung dan memperkuat pendidikan nilai-nilai Pancasila yang diterima anak di sekolah dengan contoh dan bimbingan di rumah.
  2. Kerjasama dengan Sekolah:
    • Aktif terlibat dalam kegiatan sekolah dan bekerjasama dengan guru untuk mendukung perkembangan karakter anak.
  3. Pengawasan dan Bimbingan:
    • Mengawasi dan membimbing anak dalam penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Staf Sekolah

  1. Lingkungan Sekolah yang Positif:
    • Membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung pembentukan karakter sesuai nilai Pancasila.
  2. Dukungan Operasional:
    • Memberikan dukungan operasional yang memastikan kelancaran program dan kegiatan pengembangan karakter.

Komunitas Sekolah (Komite Sekolah, Alumni, dan Mitra Sekolah)

  1. Keterlibatan dan Dukungan:
    • Terlibat aktif dalam kegiatan sekolah dan memberikan dukungan baik berupa waktu, dana, maupun sumber daya lainnya.
  2. Kolaborasi Program:
    • Bekerjasama dengan sekolah dalam menyelenggarakan program-program yang mendukung pengembangan Profil Pelajar Pancasila, seperti kegiatan ekstrakurikuler, seminar, dan workshop.

Dengan kontribusi bersama dari seluruh pemangku kepentingan, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membentuk murid yang memiliki Profil Pelajar Pancasila, yaitu murid yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

EKSPLORASI KONSEP

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, selamat datang di pembelajaran kedua! Kali ini, kita akan mengeksplorasi mengapa lingkungan belajar yang bermakna dan berpihak pada murid itu harus ditumbuhkan. Bapak/Ibu CGP telah membuat lukisan mimpi dan narasi visi mengenai murid dan lingkungan belajar di masa depan yang sesuai murid yang Bapak/Ibu impikan. Nah, kali ini kita akan membahas lanjutan mengenai visi, bagaimana mewujudkannya dengan sebuah pendekatan Inkuiri Apresiatif. Inkuiri Apresiatif (IA) adalah suatu filosofi, suatu landasan berpikir yang berfokus pada upaya kolaboratif untuk menemukan hal positif dalam diri seseorang, dalam suatu organisasi dan dunia di sekitarnya baik di masa lalu, masa kini maupun masa depan (Cooperrider & Whitney, 2005). Untuk mengetahui lebih lanjut tentang IA dan bagaimana melakukannya di satuan pendidikan kita, mari kita menyimak bacaan-bacaan pada halaman berikutnya.

Aku Melihat Indonesia

Karya: Ir. Soekarno


Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep   Aku mendengar Lautan Hindia bergelora membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia
 
Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung
Kelebet, dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia
 
Jikalau aku mendengarkan Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia
 
Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
 
Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

A. Memimpin Perubahan Positif

A.1. Berpikir Strategis

Bagaimana perasaan Bapak/Ibu usai membaca puisi di atas? Apa yang bergelora dalam darah Bapak/Ibu? Ya, puisi di atas menunjukkan visi Presiden Pertama kita akan wujud kesatuan dari ragam kekayaan yang ada di Indonesia. Beliau begitu kuat menggambarkan pesan beliau tersebut lewat sepotong puisi. Kita belajar, bahwa visi dapat disajikan dalam bentuk yang beraneka ragam dan apapun bentuknya, visi itu harus menyemangati, menggerakkan hati dan kolaborasi tiap anggota dalam suatu komunitas.

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian dari Bapak/Ibu juga menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Visi membantu kita untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Ini bagaikan seorang pelari yang perlu mengetahui garis “start” dan garis “finish” bahkan sebelum ia benar-benar berlari melintasi jalur lari tersebut.

Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia untuk terus berinovasi dan terbuka terhadap perubahan zaman. Untuk mewujudkan hal ini seorang pemimpin membutuhkan partisipasi dari semua warga sekolah.

Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, Bapak/Ibu CGP hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam lingkaran pengaruh Bapak/Ibu untuk menjalani proses perubahan ini bersama-sama. Bapak/Ibu bukanlah penyedia semua jawaban dan jalan keluar bagi sekolah, Bapak/Ibu adalah penyelaras konteks dan pembangun koherensi perubahan. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah impian. Bapak/Ibu perlu mendalami peran strategis rekan guru dan segenap komunitas orang dewasa di sekitar murid demi meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid. Bapak/Ibu tidak mungkin dapat menjangkau semua murid sendiri.

Jalan yang ditempuh untuk mewujudkan visi tersebut bukanlah jalan untuk mencari kemenangan semata. Jalan yang harus kita pilih adalah jalan kesinambungan atau keberlanjutan. Dengan demikian, yang dibangun bukanlah hubungan transaksional, yang dibangun adalah hubungan antar-manusia dan gotong-royong sehingga sekolah menjadi wahana utama untuk mengedepankan kepentingan murid, memberdayakan murid, mengajak murid duduk di kursi kendali pembelajaran mereka sendiri. Tut wuri handayani terejawantahkan.

A. Memimpin Perubahan Positif

A.2. Inkuiri Apresiatif sebagai Paradigma

Untuk dapat mewujudkan visi sekolah impian dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “ finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam pembelajaran kali ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish”kita yaitu visi yang kita impikan.

Dalam sebuah video di Youtube (sumber: “youtu.be/3JDfr6KGV-k”), Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. 

Menurut Cooperrider & Whitney (2005), Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, suatu landasan berpikir yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, dalam suatu organisasi dan dunia di sekitarnya baik di masa lalu, masa kini maupun masa depan. Ia berpendapat juga bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan apresiasi atas hal yang sudah berjalan baik. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Dalam video di Youtube tersebut, Cooperrider juga menceritakan bahwa pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu, seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi tidak menjadi penghalang, karena semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan.

B. Mengelola Perubahan Positif


“Perubahan di sekolah dapat diinisiasi oleh pihak luar, tetapi perubahan yang paling penting dan berkesinambungan akan datang dari dalam.” ~ Roland Barth, “Improving schools from within” (1990)


B.1. Inkuiri Apresiatif sebagai Pendekatan Manajemen Perubahan (BAGJA)

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan lagi. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah impian dan visi setiap warga sekolah.

Perubahan yang positif di sekolah tidak akan terjadi jika pertanyaan yang diajukan mengenai kondisi sekolah saat ini diawali dengan permasalahan yang terjadi atau mencari aktor sekolah yang melakukan kesalahan. Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mengapa capaian hasil belajar siswa rendah?”, “Apa yang membuat rencana kegiatan sekolah tidak berjalan lancar?”, dan sebagainya. Motivasi untuk melakukan perubahan tentu akan berangsur menurun jika diskusi diarahkan pada permasalahan. Suasana psikologis yang terbangun tentu akan berbeda jika pertanyaan diawali dengan pertanyaan positif seperti ini:

  • Hal-hal baik apa yang pernah dicapai murid di kelas?
  • Apa pelajaran menarik yang dapat dipetik dari setiap guru di kelas?
  • Bagaimana mengembangkan praktik baik setiap guru untuk dipertahankan sebagai budaya sekolah?

Dalam modul 1.3 ini, kita mempelajari IA lebih dalam sebagai salah satu model manajemen perubahan di lingkungan pembelajaran, baik itu di kelas maupun sekolah. Kita akan mencoba menerapkannya melalui tahapan dalam IA yang di dalam bahasa Indonesia disebut dengan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi). Silakan simak dan pelajari videonya terlebih dahulu.

B. Mengelola Perubahan Positif

Tahapan BAGJA

BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan oleh Cooperrider ke dalam langkah 4D Discover-Dream-Design-Deliver (Cooperrider & Whitney, 2005) yang kemudian dalam praktik-praktik selanjutnya tahapan Discover dipecah menjadi Define dan Discover (Cooperrider et.al, 2008). Inilah kemudian yang menjadi langkah-langkah yang perlu Bapak/Ibu ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang Bapak/Ibu telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, Bapak/Ibu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design)Di tahapan ini, Bapak/Ibu dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, Bapak/Ibu memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Tabel berikut ini berupaya memperlihatkan rangkuman (ciri) tiap tahapan B-A-G-J-A.

B. Mengelola Perubahan Positif

B.2. Proses Inkuiri dalam BAGJA

Mungkin banyak yang akan berpendapat bahwa BAGJA hanyalah satu dari sekian banyak manajemen perubahan yang ada di luar sana. Hal itu benar adanya. Dalam Program Guru Penggerak ini, BAGJA dipilih karena dapat berfungsi sebagai wahana yang menguatkan hubungan antar manusia di sekolah. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat dalam tahap demi tahap memungkinkan Guru Penggerak sebagai pemrakarsa (pemimpin dan pengelola) perubahan untuk menguatkan hubungan antar manusia dan gotong-royong.

Hal itu selaras dengan apa yang dinyatakan oleh Lewis (2016), dimana maksud dari Inkuiri Apresiatif adalah untuk memungkinkan anggota komunitas sekolah melakukan ko-kreasi langkah maju bersama yang berangkat dari kedalaman pemahaman akan makna/inti kesuksesan dan sumber-daya mereka sendiri; sehingga ko-kreasi kesuksesan masa depan mereka kontekstual.  BAGJA pun menuntut Guru Penggerak beranjak dari cara berpikir defisit ke cara berpikir aset, menjadi tangguh-pantang menyerah, dan terus meningkatkan efikasi diri dalam memimpin dan mengelola perubahan.

Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. Pertanyaan itu akan membawa komunitas sekolah untuk berefleksi, menggali lebih dalam hal-hal yang bermakna, untuk kemudian diinternalisasi dan dijadikan sebagai bahan perbaikan-peningkatan dalam menjalankan perubahan demi perubahan.


Gambar: Proses Inkuiri Apresiatif – BAGJA

Gambar tersebut berupaya menggambarkan proses BAGJA, yang harus dimulai dengan filosofi dan visi yang berpusat pada kepentingan murid. Dari sana kemudian diturunkan menjadi tujuan-tujuan rinci berupa prakarsa perubahan. Boleh jadi, karena telah memiliki visi yang kuat maka prakarsa perubahan muncul dari keresahan. Dari sana kemudian pertanyaan-pertanyaan dan rencana-tindakan yang perlu-dilakukan disusun. Tahap demi tahapnya kemudian direalisasikan, rencana-tindakan yang perlu-dilakukan dijalankan, pertanyaan-pertanyaan yang ada digali bersama tim dan anggota komunitas sekolah hingga membuahkan temuan (data, cerita, fakta). Temuan itulah yang kemudian menjadi dasar untuk menelaah kembali rancangan pertanyaan dan tindakan yang telah dibuat. Barulah kemudian, rencana (sebagai dokumen resmi) dapat dibuat hingga akhirnya di-eksekusi, di-monitoring, serta di-evaluasi keselarasannya dengan visi.

B. Mengelola Perubahan Positif

Amati – Tiru – Modifikasi

Lewis (2016) menguatkan bahwa pertanyaan-pertanyaan Inkuiri Apresiatif harus mampu: mengarahkan perhatian pada hal positif, mengidentifikasi nilai-nilai positif, mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, berfokus pada apa yang diinginkan terjadi atau ada lebih banyak, berfokus pada aspek kehidupan sehari-hari di sekolah, mengungkap narasi ‘baru’, mengungkap makna yang spesifik (akrab dan kontekstual). Dengan demikian, lewat pertanyaan-pertanyaan dalam tahapan BAGJA, Guru Penggerak diharapkan dapat mengejawantahkan pola pikir yang tepat, visi yang kuat, serta spirit yang membara.

Untuk memulai belajar membuat pertanyaan bermakna yang tepat, relevan, dan apresiatif pada tiap tahapan BAGJA, Bapak/Ibu diharapkan dapat memodifikasi pertanyaan-pertanyaan yang telah dicontohkan dalam contoh BAGJA (Links to an external site.) dari beberapa prakarsa perubahan. Bapak/Ibu juga dapat menyimaknya dalam video berikut.

Semoga semua yang telah Bapak/Ibu pelajari memperkaya “persenjataan” Bapak/Ibu dalam meniti langkah-langkah kecil hingga terwujudnya visi Bapak/Ibu mengenai murid yang telah Bapak/Ibu jabarkan sebelumnya. Pada awal penerapannya, mungkin Bapak/Ibu akan merasakan kejanggalan atau meragukan keberhasilannya. Namun, kami mengajak Bapak/Ibu untuk mencobanya dan menikmati kurva belajarnya. Kurva belajar yang Bapak/Ibu akan alami mirip seperti seekor anak burung yang belajar terbang (Gambar dibawah).  Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak burung tidak akan langsung ke atas, tapi akan ke bawah dahulu kemudian meliuk ke atas sebagaimana terlihat pada gambar berikut.

Dengan merujuk pada kurva belajar ini, maka marilah terus percaya bahwa pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah kebiasaan baru.

Refleksi Mandiri

Berdasarkan penjelasan mengenai Inkuiri Apresiatif dan video-video BAGJA sebelumnya, Bapak/Ibu CGP diajak untuk mengaplikasikan BAGJA ke dalam konteks pengalaman pribadi. Bayangkan impian, cita-cita, tujuan yang telah Bapak/Ibu raih, yang telah tercapai. Ingat kembali proses yang telah Bapak/Ibu lalui sejak mulai menetapkan hati untuk memiliki impian, cita-cita, tujuan tersebut, berproses untuk mencapai dan mewujudkannya, hingga akhirnya impian, cita-cita, tujuan tersebut tercapai. Pengalaman pribadi tersebut mungkin terjadi bertahun-tahun yang lalu. Pengalaman tersebut bisa saja terjadi di masa bersekolah dahulu. Sesederhana bermimpi mendapatkan prestasi yang bagus pada mata pelajaran yang disukai saat bersekolah dulu.

Tugas Bapak/Ibu adalah menceritakannya tahap demi tahap menggunakan kanvas B-A-G-J-A

Dalam sesi forum diskusi ini, silahkan berbagi mengenai VISI Murid Impian dengan pertanyaan pemandu berikut.

Pemapar: Apa dan mengapa harapan saya penting untuk dijadikan visi?

Penyimak: Apa (sudut pandang, kalimat yang digunakan, harapan) yang dapat saya apresiasi dari visi rekan saya?

Harapan Saya sebagai guru penggerak penting untuk dijadikan visi:

1. Menentukan Arah dan Tujuan: Harapan Saya menjadi visi memberikan arah yang jelas untuk aktivitas dan kebijakan yang Saya jalankan. Ini membantu memastikan semua tindakan dan keputusan Saya selaras dengan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.

 2. Meningkatkan Motivasi dan Komitmen: Dengan visi yang jelas, saya dan orang-orang di sekitar saya (murid, rekan guru, atasan dan masyarakat) akan lebih termotivasi dan berkomitmen untuk mencapainya. Visi yang inspiratif dapat menumbuhkan semangat dan rasa tanggung jawab.

 3. Memfasilitasi Perubahan dan Inovasi: Sebagai guru penggerak, Saya diharapkan untuk membawa perubahan positif dan inovasi dalam pendidikan. Visi yang kuat memberikan landasan bagi upaya inovatif dan membantu mengatasi hambatan dalam proses perubahan.

 4. Memberikan Fokus pada Prioritas: Visi membantu saya tetap fokus pada hal-hal yang paling penting dan strategis, sehingga saya dapat mengalokasikan sumber daya dan energi dengan lebih efektif.

 5. Menciptakan Keselarasan dan Koherensi: Dengan visi yang diartikulasikan dengan baik, semua pemangku kepentingan (siswa, orang tua, rekan kerja, dan komunitas) dapat bekerja bersama secara harmonis menuju tujuan bersama.

 6. Membangun Kredibilitas dan Kepercayaan: Visi yang jelas dan diikuti dengan tindakan nyata meningkatkan kredibilitas saya sebagai pemimpin dalam pendidikan. Ini juga membangun kepercayaan dari berbagai pihak bahwa saya benar-benar berkomitmen untuk membuat perubahan yang signifikan.

Dengan menjadikan harapan saya sebagai visi, Saya tidak hanya memberi makna pada pekerjaan Saya, tetapi juga memberikan arah dan inspirasi bagi orang-orang di sekitar Saya untuk bergerak bersama menuju masa depan yang lebih baik dalam pendidikan.

Dalam sesi forum diskusi ini, silakan Bapak/Ibu menyampaikan kesimpulan tentang Inkuiri Apresiatif dengan pertanyaan pemandu berikut.

  • Apa hal yang mencerahkan saya sebagai pendidik di sepanjang proses menyusun visi pribadi saya itu?
  • Bagaimana saya membayangkan penerapan inkuiri apresiatif dalam konteks saya sehari-hari sebagai pendidik?

Menyusun visi pribadi sebagai pendidik adalah proses reflektif yang penuh dengan momen pencerahan. Beberapa hal yang mencerahkan Anda sepanjang proses tersebut adalah:

 1. Pemahaman Diri yang Lebih Dalam: Menyusun visi pribadi mengharuskan saya untuk merenungkan nilai-nilai, keyakinan, dan tujuan saya sebagai pendidik. Proses ini membantu saya memahami diri sendiri dengan lebih baik dan memperjelas apa yang benar-benar penting bagi saya dalam profesi ini.

 2. Pengalaman dan Pembelajaran dari Praktik Mengajar: Mengingat kembali pengalaman mengajar, tantangan, dan pencapaian saya telah memberikan wawasan berharga. Refleksi ini bisa mengungkapkan pola, kekuatan, dan area yang perlu diperbaiki, sehingga membantu saya menyusun visi yang realistis dan inspiratif.

 3. Interaksi dengan Siswa dan Kolega: Mendengarkan dan memahami kebutuhan, aspirasi, dan perspektif siswa serta rekan kerja bisa memberikan ide-ide segar dan inspirasi. Interaksi ini dapat membuka pandangan baru dan memperkaya visi Saya.

 4. Literatur dan Penelitian Pendidikan: Membaca buku, artikel, dan studi tentang pendidikan bisa memberikan wawasan mendalam dan pemikiran baru tentang praktik dan teori pendidikan. Ini dapat membantu saya melihat peluang dan tantangan dari sudut pandang yang berbeda.

 5. Pelatihan dan Pengembangan Profesional: Mengikuti pelatihan, seminar, dan lokakarya memberikan kesempatan untuk belajar dari ahli dan sesama pendidik. Ini juga dapat memberikan ide-ide inovatif dan pendekatan baru yang bisa saya integrasikan ke dalam visi saya.

 6. Refleksi terhadap Dampak nyata: Menyadari dampak positif yang telah saya berikan kepada siswa dan komunitas dapat memberikan rasa kepuasan dan motivasi. Pengalaman ini mengingatkan saya tentang kekuatan dan potensi saya sebagai agen perubahan dalam pendidikan.

 7. Visi dari Tokoh Inspiratif: Mempelajari visi dan pendekatan dari pendidik, pemimpin, atau tokoh inspiratif seperti KHD bisa memberikan inspirasi dan model yang bisa saya adaptasi dan sesuaikan dengan konteks saya sendiri.

 Proses ini tidak hanya membantu Saya menyusun visi pribadi yang kuat, tetapi juga memperkaya pemahaman Saya tentang peran dan tanggung jawab sebagai pendidik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *