Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum ARTEFAK Aksi Nyata Modul 1.2. Nilai dan Peran Guru Penggerak LK1.2.-Tugas-Forum-Diskusi.pdf LK1.2.f.EKSPLORASI-KONSEP_CGP-11_AHMAD-INDRA-SANJAYA.pdf LK1.2.h.DEMONSTRASI-KONTEKSTUAL_CGP-11_AHMAD-INDRA-SANJAYA.pdf Demonstrasi Kontekstual Powered By EmbedPress Koneksi Antar Materi Powered By EmbedPress All Posts Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara – Copy
Aksi Nyata Modul 1.2. Nilai dan Peran Guru Penggerak
Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum ARTEFAK Aksi Nyata Modul 1.2. Nilai dan Peran Guru Penggerak LK1.2.-Tugas-Forum-Diskusi.pdf LK1.2.f.EKSPLORASI-KONSEP_CGP-11_AHMAD-INDRA-SANJAYA.pdf LK1.2.h.DEMONSTRASI-KONTEKSTUAL_CGP-11_AHMAD-INDRA-SANJAYA.pdf Demonstrasi Kontekstual Powered By EmbedPress Koneksi Antar Materi Powered By EmbedPress All Posts Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara – Copy
Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara
Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum Modul Modul 1 Modul 2 Modul 3 Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Jurnal Refleksi Lokakarya Pembelajaran Pendampingan Individu Umum ARTEFAK Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara LK1.1k.-AKSI-NYATA_CGP11_Ahmad-Indra_Sanjaya.pdf LK1.1g.-RUANG-KOLABORASI-_CGP11_AHMAD-INDRA-SANJAYA.pdf Demonstrasi Kontekstual Koneksi Antar Materi All Posts Aksi Nyata Aksi Nyata Modul 3.3 Aksi Nyata Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara
Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid
MULAI DARI DIRI 3.2.e. Mulai dari Diri – Modul 3.2 Selamat datang di sesi pembelajaran 1, Mulai Dari Diri. Sebelum Ibu/Bapak memulai tahapan pembelajaran 1 ini, kami ingin menyampaikan terlebih dahulu bahwa di sepanjang tahapan pembelajaran dalam modul ini, Ibu/Bapak akan selalu diberikan pertanyaan pemantik di awal setiap tahapan pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan pemantik ini tidak perlu dijawab. Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan pemantik tersebut lebih kepada memancing pemikiran dan rasa ingin tahu Ibu/Bapak terhadap materi yang akan dipelajari dan menjadi bagian upaya kami untuk mendorong Ibu/Bapak untuk menggali lebih dalam konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini. Sekarang, mari kita mulai sesi pembelajaran 1 ini. Saat Ibu/Bapak bersekolah dulu, Ibu/Bapak tentu pernah mengikuti berbagai program/kegiatan di sekolah. Program/kegiatan itu dapat berupa program/kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Program/kegiatan intrakurikuler merupakan merupakan program/kegiatan utama sekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program sekolah. Program/Kegiatan ini dilakukan oleh guru dan murid dalam jam pelajaran setiap hari dan ditujukan untuk mencapai tujuan minimal dari setiap mata pelajaran dalam kurikulum. Sementara itu, program/kegiatan kokurikuler merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler. Program/kegiatan ini meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain yang dapat menguatkan karakter murid. Sedangkan program/kegiatan ekstrakurikuler adalah program/kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah, dan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian murid. Nah, sekarang kami ingin Ibu/Bapak mengingat kembali dan melakukan refleksi terhadap pengalaman Ibu/Bapak yang paling berkesan saat terlibat dalam berbagai program/kegiatan sekolah semasa menjadi murid. Refleksi dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Soal 1 Apa kegiatan/programnya? Your answer: Kegiatan yang paling berkesan saat itu adalah program penanaman pohon dan pengelolaan taman sekolah. Program ini melibatkan seluruh murid dalam kegiatan menanam dan merawat pohon di sekitar sekolah serta merancang area hijau untuk tempat belajar luar ruangan. Soal 2 Siapa yang memprakarsai atau menggagas program tersebut Your answer: Program ini diprakarsai oleh guru Biologi dan kepala sekolah. Mereka ingin menciptakan lingkungan yang hijau dan memberikan pengalaman belajar nyata tentang ekosistem dan pelestarian lingkungan kepada murid-murid. Soal 3 Berperan sebagai apa Ibu/Bapak saat itu? Your answer: Saya berperan sebagai ketua kelompok kelas. Tugas saya adalah mengkoordinasikan teman-teman sekelas dalam memilih tanaman yang akan ditanam, menjadwalkan perawatan taman, dan memastikan setiap murid berpartisipasi sesuai jadwal yang sudah disepakati. Peran yang sangat baik dan begitu bermakna Soal 4 Bagaimana perasaan Ibu/Bapak saat itu? Your answer: Saat itu, saya merasa sangat antusias dan bersemangat. Program penanaman pohon dan pengelolaan taman sekolah bukan hanya berbeda dari kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman baru yang menarik. Saya merasa bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan nyata yang bermanfaat untuk lingkungan dan sekolah. Sebagai ketua kelompok, ada rasa tanggung jawab yang besar untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan semua anggota berpartisipasi. Tentu, ada momen di mana saya merasa tertantang karena harus mengoordinasikan teman-teman, terutama saat terjadi perbedaan pendapat. Namun, justru dari situ saya belajar banyak tentang pentingnya kerja sama dan komunikasi. Terimakasih telah memberikan gambaran perasaan di saat mengikuti kegiatan ketika masih bersekolah Soal 5 Mengapa pengalaman tersebut berkesan untuk Ibu/Bapak? Your answer: Pengalaman tersebut berkesan karena mengajarkan pentingnya kerjasama, kepemimpinan, dan rasa kepedulian terhadap orang lain. Interaksi yang lebih mendalam dengan teman-teman dan masyarakat membuat saya merasa program ini benar-benar berarti. Terima kasih atas penyampaian kegiatan yang memiliki kesan sangat bermakna Soal 6 Apa pembelajaran yang Ibu/Bapak ambil dari kegiatan/ program tersebut? Your answer: Pembelajaran utama adalah nilai dari bekerja sama dan belajar saling mendukung untuk mencapai tujuan. Selain itu, saya belajar tentang pentingnya perencanaan yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang efektif. sangat baik atas pembelajaran yang diambil dari kegiatan yang pernah diikuti ketika bersekolah Soal 7 Bagaimana pengalaman tersebut berdampak pada Ibu/Bapak sekarang? Apakah berdampak positif atau negatif? Your answer: Dampaknya sangat positif. Pengalaman ini mendorong saya untuk selalu peduli terhadap sekitar, serta memahami pentingnya bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai tujuan. Nilai-nilai tersebut masih saya bawa hingga sekarang, terutama dalam berperan sebagai pendidik yang bekerja sama dengan kolega. pengalaman yang luar biasa sehingga memberikan dampak yang baik terhadap kehidupan yang saat ini sedang dijalani Harapan Soal 8 Setelah membaca judul modul dan melakukan refleksi di awal pembelajaran, apa yang tergambar di benak Ibu/Bapak?Hal apa yang Ibu/Bapak harapkan dapat dipelajari pada modul ini? Your answer: Yang tergambar di benak saya adalah bagaimana peran saya sebagai pendidik dapat menginspirasi murid untuk belajar nilai-nilai sosial yang berdampak luas. Saya berharap pada modul ini, saya dapat mempelajari lebih lanjut tentang cara mengelola dan memimpin program-program yang bukan hanya mendukung akademik tetapi juga mengembangkan karakter dan kemampuan sosial murid. Harapan yang baik, semoga harapan itu bisa terwujud dalam waktu dekat dan di masa yang akan datang EKSPLORASI KONSEP 3.3.f. Eksplorasi Konsep – Modul 3.3 Pengantar Setelah melakukan refleksi di tahapan pembelajaran yang lalu, selanjutnya mari kita cermati beberapa pertanyaan pemantik di atas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu Ibu/Bapak tulis jawabannya. Jadikan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memprovokasi pemikiran-pemikiran Ibu/Bapak di sepanjang pembelajaran ini. Saat membaca materi yang diberikan di bagian ini, Ibu/Bapak dapat senantiasa kembali lagi ke pertanyaan tersebut. Kepemimpinan murid Dari paket modul 1 dan 2 sebelumnya, Ibu/Bapak telah belajar bahwa murid harus menjadi dasar bagi semua pengambilan keputusan yang kita buat di sekolah. Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut? Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata
Modul 3.2. Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya
MULAI DARI DIRI 3.2.e. Mulai dari Diri – Modul 3.2 Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, selamat datang pada kegiatan pembelajaran 1. Pada sesi ini, Anda akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dan bisa memetakan aset berbasis kekuatannya baik pada diri sendiri maupun sekolah dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Soal 1 Mengingat-ingat ekosistem, bayangkan sekolah atau salah satu sekolah tempat Bapak dan Ibu bertugas.Apa bagian-bagian yang ada dari sekolah tersebut sebagai sebuah ekosistem? Your answer: Sebagai sebuah ekosistem, sekolah terdiri dari beberapa bagian: Terima kasih telah menjelaskan tentang ekosistem yang ada di sekolah dengan baik Soal 2 Apa saja yang bisa Anda sebut sebagai sumber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan oleh sekolah?Perhatikan untuk tidak terpaku pada hal-hal yang kelihatan. Your answer: umber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan oleh sekolah meliputi: Sumber daya ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga potensi manusia dan interaksi sosial di lingkungan sekolah. sangat bagus dalam mengidentifikasi sumber daya yang ada di sekolah Soal 3 Refleksikan sosok pemimpin atau kepala sekolah yang memimpin sekolah tersebut.Apa hal-hal yang paling diingat dari sosok pemimpin tersebut, terkait dengan perannya di ekosistem sekolah serta pelibatan/pemanfaatan sumber daya yang ada? Your answer: Sosok pemimpin atau kepala sekolah yang paling diingat adalah mereka yang mampu memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal, baik dari segi manusia, fisik, maupun sosial. Pemimpin tersebut mendorong kolaborasi di antara guru, staf, dan komunitas, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif, serta memaksimalkan penggunaan teknologi dan fasilitas yang ada. Selain itu, mereka memberikan ruang bagi inovasi dalam pembelajaran dan selalu mengutamakan kepentingan siswa sebagai pusat dari ekosistem sekolah. sangat bagus dalam merefleksikan sosok Kepala Sekolah yang memiliki perana penting dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah Soal 4 Jadi, seperti apa peran pemimpin yang ideal itu, khususnya dalam hal memanfaatkan semua bagian dari ekosistem dan mengelola sumberdaya yang ada di dalam dan sekitar sekolah? Your answer: Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang visioner, mampu memanfaatkan setiap bagian ekosistem sekolah secara efektif. Mereka mengelola sumber daya manusia dengan memberdayakan guru, staf, dan siswa, serta mengoptimalkan sumber daya fisik dan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Selain itu, mereka membangun kolaborasi dengan komunitas dan orang tua, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Pemimpin ini inovatif, memanfaatkan potensi internal dan eksternal sekolah, serta selalu fokus pada kepentingan murid sebagai prioritas utama. sangat baik dalam mendeskripsikan pimpinan yang ideal dalam sebuah ekosistem khususnya di sekolah Soal 5 Silakan refleksikan, posisi diri Bapak dan Ibu dalam ekosistem sekolah.Sejauh mana Bapak Ibu sebagai guru atau peran lainnya telah memanfaatkan sumber daya sekolah? Your answer: Sebagai guru atau dalam peran lainnya, posisi saya dalam ekosistem sekolah adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan penggerak kolaborasi. Saya telah memanfaatkan sumber daya sekolah dengan: bagus, dalam memberikan contoh bagaimana guru menciptakan hubungan harmonis dengan kepala sekolah Soal 6 Apa saja harapan pada diri Bapak dan Ibu sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan pada murid setelah mempelajari modul ini? Your answer: Diri sendiri: Saya berharap dapat menjadi pendidik dan pemimpin yang lebih visioner, kolaboratif, dan mampu memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik. Murid: Saya berharap murid-murid dapat berkembang secara holistik, memiliki kesempatan untuk belajar secara aktif, dan mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan akademis serta sosial-emosional. Sekolah: Saya berharap sekolah dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang inklusif, inovatif, dan berdaya guna, di mana semua sumber daya dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan dan keberhasilan semua anggota komunitas sekolah. terima kasih sudah menuliskan harapan yang selalun berpihak pada kepentingan murid dan peningkatan kualitas satuan pendidikan good luck Soal 7 Apa saja kegiatan, materi, manfaat, yang Bapak dan Ibu harapkan ada dalam modul ini? Your answer: Kegiatan, materi, dan manfaat yang saya harapkan dalam modul ini adalah: Kegiatan: Materi: Manfaat: harapan yang sangat baik, semoga apa yang diharapkan bisa diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari EKSPLORASI KONSEP 3.2.f. Eksplorasi Konsep – Modul 3.2 Sebelum melakukan telaah materi, silakan Anda mempelajari terlebih dahulu pertanyaan pemantik berikut ini: . Jawaban: Faktor Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem Sekolah Peran Kepala Sekolah Seorang kepala sekolah berperan dalam menciptakan visi, mengelola sumber daya dengan bijak, serta membangun kolaborasi antara semua anggota ekosistem sekolah untuk mendukung pembelajaran. Kemampuan yang Harus Dimiliki Kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam kepemimpinan, komunikasi, pengelolaan sumber daya, dan pengambilan keputusan yang etis dan efektif. Mengelola Sumber Daya Secara Efektif Kepala sekolah harus mengidentifikasi sumber daya, memprioritaskan kebutuhan, dan mengembangkan strategi untuk memanfaatkan sumber daya dengan cara yang efisien, seperti pengalokasian anggaran yang tepat dan memfasilitasi pelatihan bagi guru. Dampak Sumber Daya terhadap Pembelajaran Sumber daya (fasilitas) yang dimiliki sekolah sangat besar dampaknya, karena mendukung lingkungan belajar, memberikan aksesibilitas terhadap materi ajar, dan memungkinkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif. Penggunaan Sumber Daya Sumber daya sekolah yang ada sudah dimanfaatkan, tetapi masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal penggunaan teknologi dan kolaborasi dengan komunitas untuk mendukung kualitas pembelajaran. Cara Alternatif untuk Memaksimalkan Sumber Daya Alternatif yang bisa dilakukan termasuk berkolaborasi dengan lembaga luar, memanfaatkan sumber daya alam di sekitar, dan mengembangkan program berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam pemanfaatan sumber daya secara langsung. Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah harus memanfaatkan lingkungan sekitar dengan melakukan kerja sama dengan komunitas, mengadakan kegiatan outdoor learning, serta menggunakan sumber daya alam yang ada untuk pembelajaran kontekstual. _______________________________________________ Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan menggambarkan seorang pendidik sebagai seorang yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Menurut Bpk/Ibu, bagaimana kualifikasi akademik dan kompetensi yang dimiliki oleh Bpk/Ibu dapat dikelola sebagai aset yang didayagunakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional? Pendekatan dapat dikatakan sebagai cara pandang atau cara berpikir kita melihat sesuatu. Dalam konteks modul ini, pendekatan berbasis aset atau berbasis defisit berarti bagaimana kita memandang sumber daya sekolah, apakah dianggap sebagai aset/kekuatan atau kekurangan/masalah. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Kita mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus kita adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar. Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah
Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
MULAI DARI DIRI 3.1.e. Mulai dari Diri – Modul 3.1 Dalam sebuah wawancara, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Bapak Nadiem Makarim menyatakan bahwa: Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020) Menurut Bapak dan Ibu, Kira-kira apa maksud dari kutipan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi tersebut? Kutipan tersebut mencerminkan pemahaman mendalam tentang tanggung jawab dan tantangan dalam kepemimpinan di bidang pendidikan. Berikut adalah beberapa poin yang dapat Saya ambil dari kutipan tersebut: Secara keseluruhan, kutipan ini menekankan bahwa kepemimpinan dalam pendidikan memerlukan kebijaksanaan, keberanian, dan fokus pada hasil yang nyata bagi murid. Keputusan yang diambil harus selalu bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar dan hasil pendidikan siswa. TUGAS ANDA! Anda adalah Kepala Sekolah yang baru diangkat di SMP X. Wakil Kepala Sekolah Kurikulum mengatakan bahwa sekolah memerlukan buku-buku pelajaran baru yang perlu didistribusikan dengan segera kepada murid-murid. Hari itu, Anda diberitahu bahwa penerbit Y akan hadir untuk presentasi buku-buku pelajaran untuk tahun ajaran baru. Wakasek Kurikulum Anda mengatakan bahwa ini adalah kegiatan rutin sekolah untuk menyeleksi buku-buku pelajaran murid kelas 1-6 menjelang tahun ajaran baru dimulai, dan para orang tua pun sudah menunggu daftar buku-buku yang harus dibeli. Anda pun bertemu dengan penerbit Y. Di akhir rapat, penerbit Y memberitahu Anda bahwa jika Anda memutuskan memesan dari penerbitan mereka, maka seperti kepala sekolah sebelumnya, Anda akan mendapatkan ‘komisi’. Penerbit memberitahu Anda bahwa kegiatan seperti ini sudah dilakukan setiap tahun oleh pimpinan sekolah Anda terdahulu. Penerbit Y juga mengatakan bahwa kerja sama ini sudah lama terbina, dan mereka senantiasa tepat waktu memberikan buku-buku pelajaran yang dibutuhkan sekolah. Apa yang akan Anda lakukan sebagai Kepala Sekolah? Suatu saat, pihak Yayasan/Manajemen Sekolah memanggil Anda untuk mengetahui prosedur dan praktik pemesanan buku-buku tahun ajaran baru di sekolah selama ini. Apa yang Anda katakan? Pertanyaan 1 Bagaimana situasi di lingkungan Anda sendiri, adakah nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi di tempat Anda bekerja, atau tinggal? Ceritakan pengalaman Anda Anda bagaimana nilai-nilai kebajikan tersebut telah membentuk diri Anda terutama dalam mengambil suatu keputusan? Jawaban Di lingkungan sekolah saya, terdapat beberapa nilai kebajikan yang dijunjung tinggi, seperti integritas, saling menghormati, kerjasama, dan empati. Nilai-nilai ini tidak hanya ditanamkan dalam pembelajaran, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari antara guru, siswa, dan staf. Salah satu pengalaman yang menonjol adalah ketika kami mengadakan program pengabdian masyarakat. Proyek ini melibatkan siswa dan guru untuk bekerja sama membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam proses ini, nilai kerjasama dan empati sangat terasa. Siswa belajar untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan orang lain, sementara guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Pengalaman ini membentuk cara saya mengambil keputusan, terutama dalam konteks kolaborasi. Misalnya, ketika merencanakan kegiatan pembelajaran, saya selalu berusaha melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan. Saya menanyakan pendapat mereka dan mempertimbangkan masukan mereka, yang tidak hanya meningkatkan rasa memiliki, tetapi juga mendorong mereka untuk bertanggung jawab atas hasil kegiatan. Nilai integritas juga sangat penting dalam keputusan yang saya ambil. Dalam situasi yang sulit, saya berusaha untuk tetap konsisten dengan prinsip dan nilai yang dijunjung tinggi di sekolah. Hal ini membimbing saya untuk membuat keputusan yang adil dan transparan, sehingga siswa dan rekan kerja merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik. Secara keseluruhan, nilai-nilai kebajikan di sekolah tidak hanya membentuk lingkungan yang positif, tetapi juga membimbing saya dalam setiap langkah yang diambil, baik dalam keputusan sehari-hari maupun dalam perencanaan jangka panjang. Pertanyaan 2 Apakah Anda pernah mengalami atau melihat suatu pengambilan keputusan serupa studi kasus yang ditanyakan di atas, di mana ada dua kepentingan saling berbenturan? Ceritakan bagaimana pengalaman Anda sendiri di sekolah asal Anda. Apa yang Anda lakukan pada waktu itu, mengapa? Jawaban Saya pernah menyaksikan situasi di mana dua kepentingan saling berbenturan di sekolah asal saya, terutama terkait dengan penjadwalan kegiatan ekstrakurikuler dan akademik. Pada saat itu, ada keputusan untuk mengadakan ujian tengah semester yang bersamaan dengan festival seni yang telah direncanakan sebelumnya dan melibatkan banyak siswa. Di satu sisi, ada kepentingan untuk memastikan siswa dapat berpartisipasi dalam festival seni yang merupakan acara penting bagi pengembangan kreativitas dan bakat mereka. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk menjaga integritas akademik dan memastikan ujian dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam situasi ini, saya berusaha untuk mengambil pendekatan yang kolaboratif. Saya selaku staff kurikulum mengundang perwakilan dari kedua pihak, yaitu guru akademik dan koordinator kegiatan ekstrakurikuler, untuk berdiskusi. Kami mengevaluasi opsi yang ada, seperti menggeser jadwal ujian atau mengatur waktu festival sedemikian rupa agar tidak bentrok. Saya menyadari bahwa mendengarkan pandangan kedua belah pihak sangat penting. Setelah diskusi, kami sepakat untuk memajukan jadwal ujian sehingga siswa memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan keduanya. Keputusan ini tidak hanya membantu siswa dalam manajemen waktu mereka, tetapi juga menunjukkan bahwa kami menghargai kedua aspek pendidikan—akademik dan non-akademik. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi dan kolaborasi dalam pengambilan keputusan. Saya belajar bahwa sering kali, solusi terbaik muncul dari dialog terbuka dan pertimbangan semua pihak yang terlibat. Hal ini juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai di sekolah, yang pada akhirnya mendukung perkembangan holistik siswa. Pertanyaan 3 Pernahkah Anda setelah mengambil suatu keputusan, bertanya pada diri sendiri, “Apakah keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat?” “Apakah seharusnya saya mengambil keputusan yang lain?” Kira-kira apa yang membuat Anda mempunyai pemikiran seperti itu? Jawaban Ya, saya pernah mengalami momen di mana setelah mengambil keputusan, saya bertanya pada diri sendiri apakah keputusan itu tepat dan jika seharusnya ada pilihan lain yang diambil. Rasa ragu ini sering muncul setelah situasi yang kompleks, terutama ketika melibatkan banyak pihak dan dampak yang luas. Salah satu penyebab utama pemikiran ini adalah refleksi terhadap hasil dari keputusan yang diambil. Misalnya, setelah melaksanakan sebuah program pembelajaran yang saya rencanakan, saya memperhatikan bahwa beberapa siswa tidak merespons dengan baik atau mengalami kesulitan yang tidak terduga. Saat melihat dampaknya, saya mulai mempertanyakan apakah saya telah mempertimbangkan semua aspek dengan cukup matang. Selain itu, feedback dari siswa dan
Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik
MULAI DARI DIRI 2.3.e. Mulai dari Diri – Modul 2.3 Soal 1 Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi? Your answer: Ketika pembelajaran saya diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah, perasaan yang muncul biasanya campuran antara antusiasme dan sedikit rasa gugup. Di satu sisi, saya merasa antusias karena ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik yang konstruktif, yang dapat membantu saya mengembangkan keterampilan mengajar dan memperbaiki pendekatan saya di kelas. Saya percaya bahwa observasi adalah momen untuk belajar, bukan sekadar evaluasi. Namun, di sisi lain, muncul juga rasa gugup. Saya ingin memastikan bahwa saya memberikan yang terbaik dalam setiap sesi pembelajaran yang diobservasi. Kadang-kadang, ada tekanan tersendiri karena saya merasa harus tampil sempurna di depan kepala sekolah, padahal kondisi kelas sehari-hari sering kali lebih dinamis dan tidak selalu ideal. Setelah observasi selesai dan kepala sekolah memberikan umpan balik, saya merasa lega dan termotivasi untuk meningkatkan aspek-aspek yang bisa diperbaiki. Secara keseluruhan, pengalaman ini biasanya membuat saya merasa lebih profesional dan membuka wawasan baru tentang cara saya mengajar. Soal 2 Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut. Your answer: Pengalaman saya saat observasi pembelajaran oleh kepala sekolah diawali dengan persiapan yang matang. Saya memastikan bahwa rencana pelajaran telah disusun dengan baik dan materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa. Saat observasi berlangsung, saya berusaha tetap tenang dan fokus pada interaksi dengan siswa, meskipun sadar bahwa kepala sekolah mengamati setiap langkah saya. Selama proses mengajar, saya merasa campuran antara antusiasme dan sedikit gugup, terutama karena ingin menunjukkan kemampuan terbaik. Namun, saya juga sadar bahwa yang terpenting adalah kesejahteraan siswa dan bagaimana mereka berinteraksi serta memahami materi. Setelah observasi selesai, kepala sekolah memberikan umpan balik yang sangat bermanfaat. Mereka memberikan apresiasi terhadap aspek-aspek positif seperti keterlibatan aktif siswa dalam diskusi dan penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi. Di sisi lain, saya juga menerima saran untuk meningkatkan manajemen waktu dalam pelajaran agar setiap bagian dari rencana pembelajaran bisa terlaksana dengan lebih baik. Pasca observasi, saya merasa termotivasi untuk terus memperbaiki diri dan lebih percaya diri dalam mengajar. Umpan balik tersebut menjadi panduan yang berharga dalam pengembangan profesional saya, serta memberi kesempatan untuk merefleksikan dan memperbaiki pendekatan mengajar agar lebih efektif dan berdampak positif bagi siswa. Soal 3 Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik? Your answer: Proses supervisi akademik yang ideal untuk membantu saya berkembang sebagai seorang pendidik sebaiknya mencakup beberapa elemen berikut: 1. Supervisi Kolaboratif 2. Umpan Balik yang Konstruktif dan Terarah 3. Pendekatan yang Personal dan Spesifik 4. Penerapan Siklus Reflektif 5. Berorientasi pada Pengembangan Profesional Berkelanjutan Dengan supervisi akademik yang menggabungkan elemen-elemen ini, saya yakin dapat berkembang secara profesional, meningkatkan kualitas pengajaran, dan memberikan dampak yang lebih baik bagi siswa Soal 4 Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10. Your answer: Jika saya saat ini berada dalam posisi sebagai kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dan mengacu pada gambaran ideal yang telah saya jelaskan, saya akan menempatkan diri saya di skala 7. Saya memilih skala 7 karena meskipun saya yakin dapat menerapkan beberapa aspek dari supervisi yang ideal, seperti pendekatan kolaboratif, pemberian umpan balik yang konstruktif, dan pemahaman akan kebutuhan individu guru, saya menyadari bahwa ada beberapa area yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut, seperti: Soal 5 Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu? Your answer: Untuk mencapai situasi ideal dalam supervisi akademik sebagai seorang kepala sekolah, ada beberapa aspek yang perlu saya tingkatkan dan kembangkan. Berikut adalah beberapa aspek yang saya butuhkan: 1. Pengembangan Keterampilan Supervisi dan Coaching 2. Membangun Sistem Supervisi yang Konsisten dan Berkelanjutan Soal 6 Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini : Your answer: Setelah merenungkan pertanyaan-pertanyaan reflektif ini, harapan saya ke depan adalah: 1. Meningkatkan Kualitas Supervisi untuk Pengembangan Guru Saya berharap dapat menciptakan proses supervisi yang lebih efektif, kolaboratif, dan berkelanjutan, di mana setiap guru merasa didukung dan dipandu dalam perjalanan pengembangan profesionalnya. Saya ingin supervisi tidak hanya dilihat sebagai evaluasi semata, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, baik bagi guru maupun saya sebagai kepala sekolah. 2. Memaksimalkan Potensi Guru Melalui Dukungan yang Terstruktur Saya berharap dapat memberikan dukungan yang lebih terarah dan terstruktur kepada guru, baik melalui umpan balik yang konstruktif, siklus reflektif yang mendalam, serta rencana tindak lanjut yang nyata. Harapan saya adalah setiap guru dapat melihat perkembangan nyata dalam keterampilan mengajar mereka dan merasakan peningkatan kepercayaan diri dalam menjalankan tugasnya. 3. Membangun Komunitas Pembelajaran yang Kuat Saya ingin membangun budaya kolaborasi yang lebih kuat di antara guru, di mana mereka bisa saling belajar, berbagi praktik baik, dan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi siswa. Harapan saya, dengan adanya komunitas belajar yang solid, kualitas pengajaran di sekolah akan meningkat secara kolektif. EKSPLORASI KONSEP 2.3.f. Eksplorasi Konsep Modul 2.3 Bapak/Ibu CGP, Eksplorasi konsep materi coaching ini terdiri dari beberapa bagian yaitu. 2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan Moda: MandiriTujuan Pembelajaran Khusus: 2.2. Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching Moda: MandiriTujuan Pembelajaran Khusus: 2.3. Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching Moda: MandiriTujuan Pembelajaran Khusus: 2.4 Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching Moda: MandiriTujuan Pembelajaran Khusus: 2.3.f.1. Eksplorasi Konsep Modul 2.3 – 2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan Supervisi Akademik Bapak/Ibu calon guru penggerak, Selain menyiapkan diri kita sebagai pemimpin pembelajaran, program Pendidikan Guru Penggerak juga menyiapkan kita untuk menjadi seorang kepala sekolah. Sebagai kepala sekolah, tentunya tidak akan terlepas dengan tugas supervisi akademik. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu: Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita memastikan bahwa supervisi akademik yang kita jalankan benar-benar berfokus pada proses pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam standar proses tersebut. Selain bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid,
Modul 2.2. Pembelajaran Sosial dan Emosional
MULAI DARI DIRI 2.2.e. Mulai dari Diri – Modul 2.2 Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Soal 1 Your answer: Kejadian:Satu tahun lalu, sekitar tahun 2023, saya mengalami sebuah peristiwa yang sangat membekas dalam perjalanan karier saya sebagai seorang guru. Waktu itu saya mengajar mata pelajaran Fisika di kelas XII MIPA. Lokasi dan Waktu:Peristiwa ini terjadi di ruang kelas, pada bulan Januari, saat semester genap baru saja dimulai. Pihak yang Terlibat:Selain saya sebagai guru, peristiwa ini melibatkan salah satu murid saya, sebut saja namanya Andi, serta beberapa rekan guru dan orang tua murid. Deskripsi Peristiwa:Andi adalah seorang anak yang cukup pendiam dan cenderung tertinggal dalam pelajaran Fisika. Sebagai guru, saya selalu berusaha keras untuk membantu semua murid, tetapi pada saat itu, saya merasa frustrasi karena meskipun sudah berulang kali saya jelaskan materi, Andi tampaknya tidak menunjukkan perkembangan. Saya sering merasa kesal dan kecewa, bahkan beberapa kali saya kehilangan kesabaran dan memberikan teguran keras di depan kelas. Akibatnya, Andi menjadi semakin tertutup dan jarang berinteraksi, baik dengan saya maupun dengan teman-temannya. Keadaan semakin memburuk ketika saya mendapat laporan dari rekan guru lain bahwa Andi mulai sering absen dan ketika hadir, ia terlihat tidak fokus dan cenderung menarik diri. Orang tuanya juga pernah datang ke sekolah, mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa Andi menjadi lebih pendiam di rumah dan kehilangan minat untuk belajar. Refleksi dan Alasan Memilih Merefleksikan Peristiwa Tersebut:Pada suatu hari, setelah Andi kembali absen dari kelas, saya memutuskan untuk berbicara dengan kepala sekolah dan rekan-rekan guru lainnya. Dalam diskusi tersebut, saya mulai menyadari bahwa pendekatan saya yang terlalu berfokus pada hasil akademik, tanpa mempertimbangkan kebutuhan emosional Andi, telah menjadi salah satu penyebab utama masalah ini. Saya juga merenungkan bahwa mungkin cara saya menyampaikan teguran di depan kelas telah mempermalukan Andi, membuatnya merasa tidak dihargai. Setelah refleksi ini, saya menyadari bahwa kesalahan besar yang saya buat adalah mengabaikan pentingnya pembelajaran sosial dan emosional (PSE) dalam pengajaran. Saya menyadari bahwa saya perlu lebih peka terhadap perasaan murid-murid saya dan menciptakan lingkungan kelas yang mendukung secara emosional. Peristiwa ini memaksa saya untuk belajar lebih banyak tentang bagaimana mendekati anak-anak yang mengalami kesulitan belajar dengan lebih penuh pengertian dan empati. Bagaimana Kejadiannya Membantu Saya Bertumbuh:Setelah peristiwa ini, saya mulai mengubah pendekatan saya dalam mengajar. Saya belajar untuk lebih sabar, lebih mendengarkan, dan lebih memahami kebutuhan emosional murid-murid saya. Saya mulai menerapkan teknik-teknik PSE dalam kelas, seperti memberikan waktu kepada murid-murid untuk berbicara tentang perasaan mereka dan membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial. Saya juga menjalin komunikasi yang lebih erat dengan orang tua murid, terutama mereka yang anak-anaknya mengalami kesulitan dalam belajar. Akhirnya, saya melihat perubahan positif, tidak hanya pada Andi tetapi juga pada seluruh dinamika kelas. Andi perlahan-lahan mulai kembali menunjukkan minat dalam belajar dan hubungan kami juga menjadi lebih baik. Saya juga merasa menjadi seorang guru yang lebih baik dan lebih peka terhadap kebutuhan murid-murid saya. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi guru tidak hanya tentang mengajar mata pelajaran, tetapi juga tentang mendidik manusia seutuhnya, dengan segala aspek sosial dan emosional mereka. Soal 2 Your answer: 1. Coping: Menghadapi Krisis Ketika saya menyadari bahwa pendekatan saya terhadap Andi dan murid-murid lain kurang efektif dan bahkan mungkin merugikan mereka, saya mengalami perasaan bersalah dan frustrasi. Namun, saya tahu bahwa tetap berada dalam situasi ini tidak akan membantu siapa pun. Oleh karena itu, saya mengambil beberapa langkah untuk menghadapi krisis tersebut: 2. Recovery: Bangkit Kembali Setelah menghadapi krisis dan menyadari kesalahan yang saya buat, saya mulai membangun kembali pendekatan saya sebagai seorang guru: 3. Growth: Bertumbuh dari Krisis Dari krisis ini, saya tumbuh menjadi pendidik yang lebih baik dalam beberapa aspek: Pengalaman ini tidak hanya memperkuat saya sebagai seorang guru, tetapi juga memperkaya pemahaman saya tentang pentingnya kesejahteraan emosional dalam pendidikan. Saya tumbuh menjadi guru yang lebih holistik, yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademis tetapi juga pada perkembangan karakter dan kesejahteraan emosional murid. setiap permasalahan pasti ada solusinya salah satunya dengan cara yang kreatif dalam mendukung kemampuan dan memberi motivasi belajar murid sehingga semua dapat belajar sesuai tujuan. tanpa terganggu dengan permasalahan yang lainBenar sekali, bapak sudah mempelajarai cara pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Soal 3 Your answer: Hal terpenting yang saya pelajari dari krisis ini adalah pentingnya empati dan pemahaman emosional dalam peran saya sebagai pendidik. Saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang mendukung dan memahami kebutuhan emosional serta sosial murid-murid saya. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa murid bukan hanya sekadar penerima informasi, tetapi juga individu dengan perasaan, tantangan, dan kebutuhan yang unik. Saya juga belajar bahwa fleksibilitas dan kerendahan hati sangat penting dalam pengajaran. Ketika pendekatan saya tidak berhasil, saya harus siap untuk merefleksikan tindakan saya, menerima kesalahan, dan mencari cara baru untuk mendukung murid-murid saya. Hal ini membutuhkan keberanian untuk mengakui kelemahan, tetapi pada akhirnya, itulah yang memungkinkan saya untuk tumbuh dan menjadi pendidik yang lebih baik. Dampak Pengelolaan Krisis terhadap Peran Sebagai Pendidik: Pengelolaan krisis ini telah berdampak besar pada cara saya menjalankan peran sebagai pendidik. Beberapa dampak tersebut antara lain: Secara keseluruhan, krisis ini memperkuat komitmen saya untuk terus belajar dan berkembang sebagai pendidik, dengan fokus yang lebih besar pada aspek emosional dan sosial dalam pendidikan. EKSPLORASI KONSEP 2.2.f.1.a. Eksplorasi Konsep – Kasus 1 Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca. Saat itu jam pelajaran terakhir. Sebelum rapat panitia besar ulang tahun sekolah untuk memfinalisasi acara, Bapak Eling masuk ke kelas 9 untuk mengajar mata pelajaran PPKN. Sejak pagi, Bapak Eling sudah mengajar 3 kelas yang berbeda secara berurutan. Pada pelajaran ini, anak-anak diizinkan menggunakan gawai mereka untuk mengerjakan proyek kelompok. Setelah beberapa saat Bapak Eling melakukan pengecekan apakah setiap murid bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab mereka. Saat mendekati meja salah satu murid, Diana, Pak Eling mendapati muridnya itu sedang menggunakan gawainya untuk mengerjakan tugas pelajaran lain. Bapak Eling spontan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. “Jadi ini yang dari tadi kamu lakukan?” Seisi ruang kelas terkejut. Wajah Diana memerah. Ia
Modul 2.1. Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
PENDAHULUAN 2.1.d. Forum Komunikasi Modul 2.1 Tantangan dan Solusi Pembelajaran Berdiferensiasi Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru dapat lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan setiap siswa, mengurangi kesenjangan belajar, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. MULAI DARI DIRI 2.1.e. Mulai dari Diri – Modul 2.1 “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” (Ki Hajar Dewantara) Pertanyaan Pemantik untuk Pembelajaran ini adalah Bagaimana seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya yang berbeda-beda? Silakan pikirkan dan renungkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak di Sesi Pembelajaran yang Pertama! Untuk mengawali pembelajaran di Modul 2.1 ini, Anda akan melakukan refleksi individu. Soal 1 Apa yang telah Anda lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda? Apa yang Anda lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah untuk murid Anda? Apakah ada perlakuan yang berbeda yang Anda lakukan? Jika ada, perlakuan seperti apa? Jika tidak ada, apa dampaknya terhadap murid Anda? Your answer: Untuk melayani kemampuan murid yang berbeda, langkah-langkah diferensiasi dalam pembelajaran menjadi sangat penting. Berikut adalah beberapa pendekatan yang biasa Saya gunakan: 1. Penyesuaian Materi dan Tugas: 2. Pendekatan Pembelajaran berdiferensiasi: 3. Dukungan Individual: 4. Lingkungan Belajar yang Inklusif: Dampak dari Pendekatan Ini: Dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan siswa, saya berharap untuk menciptakan pengalaman belajar yang inklusif dan mendukung bagi semua siswa, sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Soal 2 Sebutkan tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid-murid Anda tersebut? Tindakan-tindakan apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut? Your answer: Tantangan-Tantangan dalam Proses Pembelajaran: Soal 3 Menurut Anda, untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi? Your answer: Untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid, pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi dengan pendekatan yang responsif, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan siswa: 1. Perancangan Pembelajaran 2. Pelaksanaan Pembelajaran 3. Evaluasi Pembelajaran Kesimpulan: Pembelajaran yang efektif dalam menghadapi keragaman siswa menurut pandangan Saya memerlukan perancangan yang fleksibel, pelaksanaan yang beragam, dan evaluasi yang mendukung perkembangan individual siswa. Dengan diferensiasi, pendekatan inklusif, dan penilaian yang berfokus pada kemajuan, pembelajaran dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu setiap siswa mencapai potensi terbaiknya, terlepas dari latar belakang atau kemampuan mereka. EKSPLORASI KONSEP 2.1.f. Eksplorasi Konsep – Modul 2.1 Pengantar “Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.” (Ki Hajar Dewantara) Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak di Sesi Pembelajaran yang kedua. Sesi pembelajaran yang kedua ini terdiri dari 2 bagian yaitu eksplorasi konsep secara mandiri dan eksplorasi konsep melalui forum diskusi. Sebelum Anda memulai pembelajaran di sesi kedua ini, silakan lihat pertanyaan-pertanyaan pemantik berikut ini dan cobalah untuk menjawab beberapa dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Anda tidak perlu menuliskan jawaban Anda. Pertanyaan Pemantik untuk Pembelajaran ini: Tetaplah merujuk kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas ketika Anda kemudian membaca dan mempelajari materi pembelajaran selanjutnya. 2.1.f.1. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep – Modul 2.1 Selamat datang Ibu/Bapak Calon Guru Penggerak di sesi Pembelajaran ini! Untuk mengawali pembelajaran di tahapan ini, silahkan membaca pertanyaan pemantik berikut ini. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab langsung, namun hanya digunakan untuk memprovokasi pemikiran Ibu/Bapak. Simaklah 2 video berikut ini. Saat menyimak, Anda dapat membuat catatan tentang hal-hal penting yang disampaikan video tersebut. Pertanyaan untuk diskusi daring: Informasi atau fakta apa yang disampaikan dalam video dan artikel tersebut? Melalui tayangan video tersebut, secara umum Saya memperoleh informasi tentang strategi pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi diferensiasi proses, konten, dan Produk yang berdasarkan 3 pemetaan murid seperti kesiapan, minat, dan profil belajar mereka. Diferensiasi Konten Konten merujuk pada apa yang diajarkan kepada siswa atau materi yang harus dipelajari siswa. a. Berdasarkan Kesiapan: Kesiapan mengacu pada tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa saat ini terkait dengan materi yang akan dipelajari. b. Berdasarkan Minat: Minat mengacu pada ketertarikan siswa terhadap topik atau subjek tertentu. Strategi: Pilihan Topik: Memberikan opsi kepada siswa untuk memilih topik atau subtopik yang menarik bagi mereka dalam kerangka kurikulum yang sama. Integrasi Minat Pribadi: Menghubungkan materi pelajaran dengan hobi atau minat siswa untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar. Proyek Berbasis Minat: Membiarkan siswa mengeksplorasi konsep melalui proyek yang sesuai dengan minat mereka. c. Berdasarkan Profil Belajar Profil Belajar mencakup preferensi belajar siswa, termasuk gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), kekuatan, dan kebutuhan khusus. Strategi: Variasi Media Pembelajaran: Menyediakan materi dalam berbagai format seperti video, audio, teks, dan interaktif untuk memenuhi berbagai gaya belajar. Pengelompokan Fleksibel: Mengelompokkan siswa berdasarkan profil belajar mereka untuk kegiatan tertentu agar mereka dapat belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka. Akomodasi Kebutuhan Khusus: Menyesuaikan materi untuk siswa dengan kebutuhan khusus, seperti menyediakan teks dengan font yang lebih besar atau menggunakan alat bantu pendengaran. Diferensiasi Proses Proses merujuk pada bagaimana siswa memahami atau memproses informasi selama pembelajaran. a. Berdasarkan Kesiapan Strategi: Pendekatan Bertingkat: Menyediakan aktivitas dengan tingkat dukungan dan kompleksitas yang berbeda sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Tutor Sebaya: Menggunakan siswa yang lebih memahami materi untuk membantu teman sekelas yang membutuhkan dukungan lebih. Pemberian Waktu yang Fleksibel: Memberikan lebih banyak waktu kepada siswa yang membutuhkan untuk memahami konsep tanpa tekanan. b. Berdasarkan Minat Strategi: Aktivitas Berbasis Pilihan: Memberikan berbagai aktivitas pembelajaran dan membiarkan siswa memilih metode yang paling menarik bagi mereka. Koneksi Dunia Nyata: Mengaitkan proses pembelajaran dengan situasi nyata yang relevan dengan minat siswa. Eksplorasi Mandiri: Mendorong siswa untuk melakukan penelitian atau eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang mereka minati selama proses pembelajaran. c. Berdasarkan Profil Belajar Strategi: Metode Pengajaran yang Beragam: Menggunakan berbagai metode seperti diskusi kelompok, praktik langsung, presentasi visual, dan lainnya untuk memenuhi berbagai preferensi belajar. Lingkungan Belajar yang Adaptif: Menyesuaikan lingkungan fisik kelas untuk mendukung berbagai profil belajar, seperti menyediakan area tenang untuk refleksi individu atau ruang terbuka untuk aktivitas kinestetik. Teknologi Pendukung: Menggunakan alat teknologi seperti software interaktif atau aplikasi edukasi yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Diferensiasi Produk Produk merujuk pada hasil akhir atau demonstrasi pembelajaran siswa. a. Berdasarkan Kesiapan Strategi: Kriteria Penilaian yang Berbeda: Menyesuaikan ekspektasi dan kriteria penilaian berdasarkan kemampuan dan tingkat pemahaman masing-masing siswa.
Modul 1.4. Budaya Positif
PENDAHULUAN Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak Sekarang Anda berada pada modul ‘Budaya Positif’. Kami yakin Bapak/Ibu yang telah bertahun-tahun mengajar, mendampingi murid-murid tumbuh dan berkembang, menyadari bahwa budaya positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar Pancasila. Kita telah belajar bersama tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak. Dalam modul ini Bapak dan Ibu akan memahami pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid untuk membantu Bapak dan Ibu mencapai visi guru penggerak. Bapak dan Ibu akan mempelajari bagaimana peran seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid. Dalam membangun budaya positif tersebut, kita akan meninjau lebih dalam tentang strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Anda akan diajak melakukan refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan Anda. Bagaimanakah strategi Anda dalam praktik disiplin tersebut? Apakah selama ini Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman? Di mana kita menarik garis pembatas? Modul ini juga akan mengajak Anda untuk memikirkan kembali kebutuhan-kebutuhan dasar yang sedang dibutuhkan seorang murid pada saat mereka berperilaku tidak pantas, serta strategi apa yang perlu diterapkan yang berpihak pada murid. Selanjutnya Anda akan mengeksplorasi suatu posisi dalam penerapan disiplin, yang dinamakan ‘Manajer’ serta bagaimana seorang ‘Manajer’ menjalankan pendekatan disiplin yang dinamakan Restitusi. Di sini Anda akan mendalami bagaimana pendekatan Restitusi fokus untuk mengembangkan motivasi intrinsik pada murid yang selanjutnya dapat menumbuhkan murid-murid yang bertanggung jawab, mandiri, dan merdeka. Modul 1.4 ini pun selaras serta memiliki keterkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan khususnya di Standar Kompetensi Kelulusan, Standar Pengelolaan Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Proses. Dalam rangka menciptakan budaya positif, penerapan disiplin positif dipraktikkan untuk menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin sekolah hendaknya berjiwa kepemimpinan serta dapat mengembangkan sekolah dengan baik yaitu dengan menciptakan lingkungan yang positif sehingga terwujud suatu budaya positif. Demikian juga dengan warga sekolahnya; setiap guru dan tenaga kependidikan memiliki kompetensi standar minimal di mana mereka memiliki kesamaan visi serta nilai-nilai kebajikan yang dituju, serta berupaya mewujudkannya dalam pembelajaran yang aplikatif yang mengupayakan pemberdayaan murid agar dapat menjadi pemelajar sepanjang hayat. Pada akhirnya modul ini diharapkan dapat menjadi suatu pembelajaran, tempat berproses, wadah untuk berdiskusi, dan menumbuhkan semangat untuk menggali dan mengembangkan potensi anak-anak Indonesia yang berkarakter kuat, mandiri, dan merdeka. Teruslah menjadi penggerak bagi guru, murid, serta segenap tatanan komponen sekolah untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Selamat belajar! Tim Instruktur Modul 1.4. 2.1 Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol. CGP juga diharapkan dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif. 2.2 Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi CGP dapat menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Selain itu, CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri. 2.3 Keyakinan Kelas CGP dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. CGP juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas. Forum Komunikasi Fasilitator Menanamkan budaya positif di sekolah memiliki berbagai tujuan penting yang dapat berdampak signifikan pada perkembangan akademik, emosional, dan sosial siswa serta kesejahteraan keseluruhan komunitas sekolah. Berikut adalah beberapa tujuan utama: Dengan menanamkan budaya positif di sekolah, tujuan-tujuan ini dapat dicapai, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan holistik siswa dan komunitas sekolah yang harmonis dan produktif. MULAI DARI DIRI Pengantar Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, dan 1.3, tentunya saat ini Anda sudah memahami bahwa sebagai seorang guru, Anda diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur. Anda akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa, “…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937) Dari uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif. Cobalah amati lingkungan sekolah Anda sendiri saat ini, bagaimana suasananya? Bagaimana murid-murid saling berinteraksi, bagaimana guru saling bertegur sapa, bagaimana guru menyapa murid, bagaimana guru menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik antar murid? Suasana atau budaya yang berkembang di sekolah Anda saat ini, secara tidak langsung menjadi cermin dari tujuan mulia atau nilai-nilai yang sekolah atau institusi Anda anut dan yakini selama ini. Untuk itulah menciptakan lingkungan positif agar terbentuk suatu budaya positif adalah suatu proses perjalanan pendidikan yang harus kita jalani, karena ini merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pemimpin pembelajaran.