MULAI DARI DIRI
Sebagai pemantik proses refleksi tersebut, mari kita ingat-ingat kembali pengalaman ketika kita bersekolah. Jawaban pertanyaan berikut tidak perlu ditulis namun tetap perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.
- Pengalaman apa yang membuat Anda menjadi rindu bersekolah, atau, pengalaman apa yang membuat Anda kehilangan motivasi untuk bersekolah? (pilih salah satu)
- Peristiwa apa yang membuat Anda merasa berkembang dan belajar sebagai seorang pembelajar?
- Siapa sosok guru yang menginspirasi Anda?
- Apa pengalaman yang berkesan bersama guru tersebut?
- Pernahkah Anda menduplikasi atau mengadaptasi yang dilakukan oleh guru tersebut di kelas yang Anda ampu?
Selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia terkait pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD).
SOAL 1
Buatlah sebuah tulisan reflektif kritis dengan jumlah minimum 300 kata dan maksimum 500 kata dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan panduan yang telah disediakan. Pertanyaan panduan tulisan reflektif kritis Anda terkait konsep pemikiran Pendidikan KHD:
- Apa yang ada Anda ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan pengajaran?
- Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara khusus?
- Apakah Anda merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai guru?
*) Maknai dan hayati pilihan Anda menjadi guru dalam menuliskan tulisan reflektif-kritis. Hindari perihal teknis seperti tidak tersedianya buku ajar bagi murid, masih berstatus guru honorer dsb-nya. Fokus pada pilihan Anda menjadi guru.
Your answer:
Beberapa poin utama dari pemikiran KHD yang bisa Saya tuliskan:
- Pendidikan sebagai Hak Segala Bangsa: KHD memandang bahwa pendidikan adalah hak setiap individu tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau latar belakangnya.
- Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Karakter: Pendidikan tidak hanya sebatas pembelajaran akademis, tetapi juga proses pembentukan karakter dan kepribadian yang baik dengan menekankan Pendidikan moral dan etika.
- Pendidikan Berbasis Kebudayaan Lokal: KHD mempromosikan pendidikan yang menghargai dan memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai bagian integral dari proses pendidikan.
- Pendidikan untuk Kemandirian: KHD menekankan pentingnya pendidikan yang menghasilkan individu yang mandiri secara ekonomi dan berpikir kritis.
- Pengajaran yang Mendorong Kreativitas: KHD mengadvokasi metode pengajaran yang mendorong kreativitas dan inovasi siswa.
- Pendidikan sebagai Alat Perubahan Sosial: KHD melihat pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial yang positif. Melalui pendidikan, masyarakat dapat berubah menjadi lebih maju, adil, dan sejahtera.
Pemikiran-pemikiran KHD ini menjadi landasan bagi pengembangan sistem pendidikan di Indonesia, dan warisan intelektualnya tetap relevan hingga saat ini dalam konteks pembangunan pendidikan nasional:
- Inklusivitas dan Aksesibilitas Pendidikan: Saat ini, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menyediakan akses pendidikan yang adil dan merata, terutama di daerah pedesaan dan bagi kelompok masyarakat yang rentan.
- Pendidikan Karakter dan Moral: Di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai moral dan etika masih menjadi aspek penting dalam membentuk kepribadian siswa sebagai bagian integral dari proses pendidikan.
- Penghargaan terhadap Kebudayaan Lokal: Hal ini relevan dengan upaya memperkuat identitas budaya siswa, membangun rasa kebanggaan, dan mempromosikan keberagaman budaya di sekolah.
- Pendidikan untuk Kemandirian. Di era digital saat ini, kemandirian dalam belajar dan keterampilan untuk beradaptasi dengan perubahan menjadi sangat penting.
- Inovasi dalam Pengajaran: Dalam pendidikan saat ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, dan teknologi yang mendukung.
Di sekolah tempat Saya mengajar, prinsip-prinsip ini dapat diimplementasikan melalui perancangan kurikulum yang holistik, pengembangan program ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter, dan penggunaan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan pembelajaran.
menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam praktik pengajaran adalah tentang penerapan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh KHD serta kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai pendidik:
- Nilai-nilai Pemikiran KHD: Sebagai seorang guru, saya hendaknya memperhatikan pentingnya akses pendidikan yang merata bagi semua murid dengan mengadopsi strategi untuk memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang.
- Kemerdekaan dalam Pengajaran: Saya hendaknya menggunakan pendekatan berbeda-beda yang sesuai dengan gaya belajar individu mereka dan mengembangkan metode pembelajaran inovatif yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa Saya.
- Pengembangan Karakter dan Kreativitas: Saya hendaknya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan pribadi dan profesional siswa, bukan hanya fokus pada aspek akademis semata.
- Inklusi dan Penghargaan terhadap Budaya Lokal: Saya seharusnya lebih memperhatikan dan memanfaatkan kekayaan budaya lokal dalam pengajaran sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.
Dengan demikian, ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya.
SOAL 2
Ungkapkan Harapan dan Ekspektasi Anda terkait dengan pembelajaran pada modul ini.
- Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?
- Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?
- Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
Your answer:
ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya meliputi:
1. Sebagai seorang guru, saya hendaknya memperhatikan pentingnya akses pendidikan yang merata bagi semua murid dengan mengadopsi strategi untuk memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang.
2. Saya hendaknya menggunakan pendekatan berbeda-beda yang sesuai dengan gaya belajar individu mereka dan mengembangkan metode pembelajaran inovatif yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa Saya.
3. Saya hendaknya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan pribadi dan profesional siswa, bukan hanya fokus pada aspek akademis semata.
4. Saya seharusnya lebih memperhatikan dan memanfaatkan kekayaan budaya lokal dalam pengajaran sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.
Dengan demikian, ketika Saya merasa telah menerapkan nilai-nilai pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas pengajaran, hal ini menunjukkan bahwa Saya tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum formal, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, etika, dan kebudayaan dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berkelanjutan bagi siswa Saya:
1. Dengan kesetaraan akses pendidikan yang adil dan merata, memberi kesempatan yang setara bagi siswa Saya untuk mengejar mimpi dan potensi mereka tanpa terkendala oleh faktor-faktor seperti latar belakang ekonomi atau sosial.
2. Siswa Saya tidak hanya mengembangkan keterampilan akademis, tetapi juga memahami nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati. Ini membentuk dasar bagi pembentukan kepribadian yang kuat dan bertanggung jawab.
3. Siswa Saya mampu berpikir kreatif dan inovatif, serta memiliki kepercayaan diri untuk mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan solusi untuk masalah, dan menghadapi tantangan dengan cara yang unik.
4. Siswa Saya dapat mengembangkan rasa bangga akan identitas budaya mereka sendiri. Ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar mereka, tetapi juga mengajarkan mereka untuk menghormati dan menghargai keberagaman budaya di sekitar mereka.
5. Dengan kemandirian dalam mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka sendiri, siswa Saya diharapkan belajar bagaimana mengelola waktu, menetapkan tujuan, dan mencapai pencapaian pribadi mereka.
6. Siswa Saya memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, dan menghargai kontribusi dari berbagai perspektif.
Saya mengharapkan Siswa Saya menjadi individu yang lebih baik dengan memberikan mereka fondasi pendidikan yang kokoh, mempersiapkan mereka untuk tantangan global, dan mendorong mereka untuk berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Saya berharap memperoleh pembelajaran sebagai berikut:
- Studi Kasus Tokoh Perubahan: Saya dapat mempelajari tokoh-tokoh inspiratif seperti Ki Hajar Dewantara dan menyelidiki bagaimana pemikiran mereka memberi dampak positif bagi pendidikan di Indonesia.
- Mempelajari konsep kemandirian dari pemikiran KHD yang dapat diadopsi siswa Saya seperti merancang dan mengembangkan proyek kewirausahaan, merencanakan bisnis kecil, menghitung keuangan, dan mempresentasikan ide bisnis mereka kepada teman-teman sekelas.
- Diskusi Etika dan Moral: Saya dapat memfasilitasi diskusi kelompok tentang dilema moral yang relevan dengan usia mereka, seperti kejujuran, penghargaan terhadap hak asasi manusia, atau tanggung jawab sosial. Siswa dapat diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka dan belajar dari sudut pandang yang berbeda.
- Karya Seni Budaya Lokal: Saya dapat belajar tentang seni dan budaya lokal melalui proyek seni atau kreatif, seperti membuat karya seni berdasarkan motif tradisional atau menulis cerita berdasarkan cerita rakyat lokal. Ini tidak hanya mempromosikan apresiasi terhadap warisan budaya mereka, tetapi juga keterampilan artistik mereka.
- Pembelajaran Kolaboratif: Saya dapat menerapkan pendekatan kolaboratif dari pemikiran KHD, menyusun proyek kolaboratif di mana siswa bekerja dalam tim untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan produk akhir, melakukan penelitian kelompok tentang masalah lingkungan lokal dan menghasilkan rencana tindakan untuk perbaikan.
- Saya dapat mengembangan Keterampilan Kreatif: Siswa dapat diberi kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas mereka melalui berbagai aktivitas, seperti menulis puisi, membuat film pendek, atau merancang solusi inovatif untuk masalah sosial yang mereka identifikasi dalam komunitas mereka.
- Saya menggunakan Teknologi untuk Pembelajaran: Memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan pembelajaran, seperti menggunakan platform e-learning untuk mendukung pembelajaran mandiri siswa atau memfasilitasi diskusi daring antar siswa dari berbagai daerah.
- Kegiatan Pengabdian Masyarakat: Saya dapat mengorganisir kegiatan pengabdian masyarakat di mana siswa dapat berkontribusi positif kepada masyarakat sekitar mereka, seperti mengadakan kampanye kebersihan lingkungan atau membantu anak-anak di daerah terpencil dengan belajar atau bermain.
Dengan mengintegrasikan materi kegiatan ini, Saya dapat membantu siswa untuk tidak hanya memahami konsep-konsep dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan nyata mereka dan dalam masyarakat lebih luas.
EKSPLORASI KONSEP
Potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga kini
Bapak/Ibu CGP, mengawali refleksi filosifis Pendidikan Indonesia, Anda diminta untuk menyimak video “Pendidikan Zaman Kolonial” di bawah ini. Bapak/Ibu CGP dapat melihat perjalanan Pendidikan Indonesia sebelum kemerdekaan dan peran sekolah Taman Siswa sejak pendiriannya di tahun 1922.
Soal 1
Apa bagian yang paling menarik bagi saya? Mengapa?
Your answer:
Ki Hajar Dewantara Mendirikan Taman Siswa (1922): Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai sebagai gerbang emas pendidikan pribumi masa itu menjadi gerakan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang merata dan berbasis budaya Indonesia kepada anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat. Pendirian Taman Siswa menjadi landasan bagi pendidikan nasional yang inklusif dan bertujuan untuk membentuk karakter bangsa.
Soal 2
Apa tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari video ini pada zaman Kolonial?
Your answer:
Secara keseluruhan, pendidikan pada masa kolonial di Indonesia lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kolonial dan pengendalian sosial daripada pada pengembangan potensi dan kemandirian masyarakat pribumi. Ini menghasilkan kesenjangan pendidikan yang signifikan dan berkontribusi pada berbagai masalah sosial dan ekonomi yang berkepanjangan di era pasca-kolonial.
Soal 3
Apa persamaan dan perbedaan antara proses pembelajaran pada zaman Kolonial dengan proses pembelajaran saat ini?
Your answer:
Persamaan
- Tujuan Pendidikan:
- Baik pada masa kolonial maupun masa kini, pendidikan bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan. Pada masa kolonial, ini lebih diarahkan untuk kepentingan penjajah, sementara saat ini lebih diarahkan untuk pembangunan nasional.
- Struktur Hierarkis:
- Sistem pendidikan pada kedua masa tersebut memiliki struktur hierarkis dengan tingkatan pendidikan mulai dari dasar, menengah, hingga tinggi.
- Penggunaan Bahasa Asing:
- Pada masa kolonial, bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah elit. Saat ini, bahasa Inggris sering digunakan dalam pendidikan, terutama di sekolah internasional dan untuk mata pelajaran tertentu.
Perbedaan
- Akses dan Kesempatan:
- Masa Kolonial: Akses pendidikan sangat terbatas dan diskriminatif, hanya sebagian kecil elit pribumi dan keturunan Eropa yang dapat menikmati pendidikan berkualitas.
- Masa Kini: Akses pendidikan lebih luas dan merata, dengan berbagai program pemerintah untuk menjamin pendidikan dasar bagi semua anak.
- Kurikulum:
- Masa Kolonial: Kurikulum lebih berfokus pada kepentingan kolonial, dengan penekanan pada budaya dan bahasa penjajah serta keterampilan yang mendukung administrasi kolonial.
- Masa Kini: Kurikulum lebih beragam dan inklusif, mencakup ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya lokal. Ada juga penekanan pada pendidikan karakter dan kewarganegaraan.
- Tujuan dan Orientasi Pendidikan:
- Masa Kolonial: Pendidikan lebih diarahkan untuk mendukung sistem kolonial dan mempertahankan kekuasaan penjajah.
- Masa Kini: Pendidikan diarahkan untuk pembangunan nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kemajuan teknologi serta ekonomi.
- Pendekatan Pengajaran:
- Masa Kolonial: Pendekatan pengajaran cenderung otoriter dengan metode hafalan dan sedikit ruang untuk kreativitas.
- Masa Kini: Pendekatan lebih interaktif dan partisipatif, dengan metode yang mendorong pemikiran kritis, kreativitas, dan inovasi.
- Infrastruktur dan Fasilitas:
- Masa Kolonial: Infrastruktur pendidikan terbatas dan sering kali hanya tersedia di daerah perkotaan.
- Masa Kini: Infrastruktur pendidikan lebih berkembang, dengan upaya untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai hingga ke daerah terpencil.
- Pengawasan dan Pengelolaan:
- Masa Kolonial: Pendidikan dikelola oleh pemerintah kolonial dengan kontrol ketat untuk memastikan kurikulum sesuai dengan kepentingan kolonial.
- Masa Kini: Pendidikan dikelola oleh pemerintah Indonesia dengan adanya otonomi daerah yang memungkinkan variasi dalam pengelolaan pendidikan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa persamaan dalam struktur dasar dan tujuan umum pendidikan, perbedaan mendasar terletak pada aksesibilitas, kurikulum, orientasi pendidikan, metode pengajaran, dan pengelolaan yang mencerminkan perubahan dari era kolonial ke era kemerdekaan dan pembangunan nasional.
2. Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.
3. Dasar Dasar Pendidikan yang Menuntun
KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Oleh sebab itu, tuntutan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat)
KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.
4. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”
KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut
“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)
KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur.
Mengenai Pendidikan dengan perspektif global, KHD mengingatkan bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik (menuntun kekuatan kodrat anak).
KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan akhir abad ke-20. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun para murid.
5. Budi Pekerti
Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).
Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya.
Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.
Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman kesadaran diri yang baik tentang kekuatan dirinya kemudian dilatih mengelola diri agar mampu memiliki kesadaran sosial bahwa ia tidak hidup sendiri dalam relasi sosialnya sehingga ketika membuat sebuah keputusan yang bertanggungjawab dalam kemerdekaan dirinya dan kemerdekaan orang lain. Budi Pekerti melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya (kemerdekaan diri) dan kemerdekaan orang lain.
6. Interpretasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Kumpulan tulisan Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan telah disajikan secara lengkap dalam buku terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Buku yang diterbitkan pada tahun 1961 tersebut bertajuk “Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan”. Dalam video berikut, Bapak Iwan Syahril menyampaikan intisari dan interpretasi beliau atas filosofi pendidikan nasional gagasan KHD. Cermati bagaimana beliau menghubungkan pemikiran KHD dengan konteks pendidikan saat ini. Juga beberapa video tentang pemikiran KHD memberikan pemahaman yang utuh dalam memahami Dasar Dasar Pendidikan KHD.
selanjutnya buatlah sebuah rekaman audio atau video berdurasi 1 hingga 2 menit yang memberikan ilustrasi diri Anda sebagai “pembelajar” sekaligus “pemelajar” yang dapat menginternalisasi gagasan KHD. Unggah audio atau video yang dibuat ke Google drive Anda. Jangan lupa untuk membuka akses file hasil rekaman Anda di google drive dengan cara klik Dapatkan link/Get link.
Berikut ini panduan pertanyaan yang dapat digunakan dalam menjalankan tugas di atas.
- Apa intisari pemikiran KHD tentang pendidikan?
- Bagaimana Anda memandang diri Anda sebagai pembelajar (guru) dan pemelajar (murid) jika dikaitkan dengan pemikiran KHD?
Selanjutnya, untuk lebih memperdalam pemahaman Anda terkait materi, Anda akan berlatih membangun kerangka berpikir dan menyampaikan ide serta gagasan berdasarkan pemahaman dan internalisasi konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam ruang diskusi virtual.