MULAI DARI DIRI
3.2.e. Mulai dari Diri – Modul 3.2
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, selamat datang pada kegiatan pembelajaran 1.
Pada sesi ini, Anda akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dan bisa memetakan aset berbasis kekuatannya baik pada diri sendiri maupun sekolah dalam pengelolaan sumber daya sekolah.
Soal 1
Mengingat-ingat ekosistem, bayangkan sekolah atau salah satu sekolah tempat Bapak dan Ibu bertugas.
Apa bagian-bagian yang ada dari sekolah tersebut sebagai sebuah ekosistem?
Your answer:
Sebagai sebuah ekosistem, sekolah terdiri dari beberapa bagian:
- Biotik (hidup): murid, guru, staf sekolah, kepala sekolah, orang tua, dan komunitas sekitar.
- Abiotik (tak hidup): bangunan sekolah, ruang kelas, perpustakaan, alat peraga, teknologi, lingkungan fisik (taman, halaman), dan fasilitas lainnya.
Keduanya saling berinteraksi untuk mendukung proses pembelajaran dan perkembangan sekolah secara keseluruhan.
Terima kasih telah menjelaskan tentang ekosistem yang ada di sekolah dengan baik
Apa saja yang bisa Anda sebut sebagai sumber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan oleh sekolah?
Perhatikan untuk tidak terpaku pada hal-hal yang kelihatan.
Your answer:
umber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan oleh sekolah meliputi:
- Sumber daya manusia: guru, staf, kepala sekolah, siswa, orang tua, dan komunitas sekitar.
- Sumber daya fisik: gedung, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, taman, dan peralatan belajar.
- Sumber daya teknologi: komputer, internet, perangkat lunak pendidikan, dan platform e-learning.
- Sumber daya informasi: pengetahuan dan pengalaman guru, kurikulum, materi ajar, data siswa, dan praktik-praktik terbaik.
- Sumber daya sosial: hubungan kolaboratif antar guru, dukungan dari orang tua, jaringan dengan sekolah lain, dan mitra komunitas.
- Sumber daya alam: lingkungan sekitar sekolah, seperti tanaman dan area terbuka untuk pembelajaran kontekstual.
- Sumber daya emosional: semangat, motivasi, dan kepedulian guru serta dukungan sosial-emosional bagi siswa.
Sumber daya ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga potensi manusia dan interaksi sosial di lingkungan sekolah.
sangat bagus dalam mengidentifikasi sumber daya yang ada di sekolah
Refleksikan sosok pemimpin atau kepala sekolah yang memimpin sekolah tersebut.
Apa hal-hal yang paling diingat dari sosok pemimpin tersebut, terkait dengan perannya di ekosistem sekolah serta pelibatan/pemanfaatan sumber daya yang ada?
Your answer:
Sosok pemimpin atau kepala sekolah yang paling diingat adalah mereka yang mampu memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal, baik dari segi manusia, fisik, maupun sosial. Pemimpin tersebut mendorong kolaborasi di antara guru, staf, dan komunitas, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif, serta memaksimalkan penggunaan teknologi dan fasilitas yang ada. Selain itu, mereka memberikan ruang bagi inovasi dalam pembelajaran dan selalu mengutamakan kepentingan siswa sebagai pusat dari ekosistem sekolah.
sangat bagus dalam merefleksikan sosok Kepala Sekolah yang memiliki perana penting dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah
Jadi, seperti apa peran pemimpin yang ideal itu, khususnya dalam hal memanfaatkan semua bagian dari ekosistem dan mengelola sumberdaya yang ada di dalam dan sekitar sekolah?
Your answer:
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang visioner, mampu memanfaatkan setiap bagian ekosistem sekolah secara efektif. Mereka mengelola sumber daya manusia dengan memberdayakan guru, staf, dan siswa, serta mengoptimalkan sumber daya fisik dan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Selain itu, mereka membangun kolaborasi dengan komunitas dan orang tua, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Pemimpin ini inovatif, memanfaatkan potensi internal dan eksternal sekolah, serta selalu fokus pada kepentingan murid sebagai prioritas utama.
sangat baik dalam mendeskripsikan pimpinan yang ideal dalam sebuah ekosistem khususnya di sekolah
Silakan refleksikan, posisi diri Bapak dan Ibu dalam ekosistem sekolah.
Sejauh mana Bapak Ibu sebagai guru atau peran lainnya telah memanfaatkan sumber daya sekolah?
Your answer:
Sebagai guru atau dalam peran lainnya, posisi saya dalam ekosistem sekolah adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan penggerak kolaborasi. Saya telah memanfaatkan sumber daya sekolah dengan:
- Memaksimalkan teknologi untuk pembelajaran kreatif,
- Memanfaatkan ruang fisik seperti kelas dan laboratorium secara efektif,
- Berkoordinasi dengan rekan guru dan staf untuk mendukung program sekolah,
- Melibatkan orang tua dan komunitas dalam kegiatan sekolah. Namun, selalu ada ruang untuk lebih mengoptimalkan kolaborasi dan inovasi agar sumber daya sekolah semakin memberdayakan seluruh ekosistem sekolah.
bagus, dalam memberikan contoh bagaimana guru menciptakan hubungan harmonis dengan kepala sekolah
Apa saja harapan pada diri Bapak dan Ibu sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan pada murid setelah mempelajari modul ini?
- Diri sendiri
- Murid
- Sekolah
Your answer:
Diri sendiri: Saya berharap dapat menjadi pendidik dan pemimpin yang lebih visioner, kolaboratif, dan mampu memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
Murid: Saya berharap murid-murid dapat berkembang secara holistik, memiliki kesempatan untuk belajar secara aktif, dan mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan akademis serta sosial-emosional.
Sekolah: Saya berharap sekolah dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang inklusif, inovatif, dan berdaya guna, di mana semua sumber daya dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan dan keberhasilan semua anggota komunitas sekolah.
terima kasih sudah menuliskan harapan yang selalun berpihak pada kepentingan murid dan peningkatan kualitas satuan pendidikan good luck
Apa saja kegiatan, materi, manfaat, yang Bapak dan Ibu harapkan ada dalam modul ini?
Your answer:
Kegiatan, materi, dan manfaat yang saya harapkan dalam modul ini adalah:
Kegiatan:
- Diskusi kelompok untuk menganalisis kasus nyata terkait pengelolaan sumber daya.
- Simulasi pemanfaatan sumber daya dalam situasi pembelajaran.
- Refleksi individu dan kelompok tentang penggunaan sumber daya di sekolah masing-masing.
Materi:
- Studi kasus tentang pengelolaan ekosistem sekolah.
- Prinsip-prinsip kepemimpinan yang efektif dalam mengelola sumber daya.
- Strategi kolaboratif untuk memaksimalkan potensi sekolah.
Manfaat:
- Meningkatkan pemahaman tentang ekosistem sekolah dan sumber daya.
- Membangun kemampuan untuk mengelola sumber daya secara efektif.
- Memperkuat peran sebagai pemimpin yang inovatif dan berdaya guna dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
harapan yang sangat baik, semoga apa yang diharapkan bisa diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari
EKSPLORASI KONSEP
3.2.f. Eksplorasi Konsep – Modul 3.2
Sebelum melakukan telaah materi, silakan Anda mempelajari terlebih dahulu pertanyaan pemantik berikut ini:
- Apabila kita menganggap sebuah sekolah adalah sebuah ekosistem dengan faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya, maka faktor-faktor apa saja yang termasuk dalam kelompok biotik dan abiotik?
- Bagaimanakah seharusnya seorang kepala sekolah berperan dalam mengelola ekosistem sekolahnya?
- Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah sebagai pemimpin ekosistem sekolah?
- Apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efisien?
- Seberapa besar dampak sumber daya (fasilitas) yang sekolah miliki untuk memfasilitasi proses pembelajaran murid saat ini? Jelaskan!
- Sejauh mana sumber daya sekolah yang kita miliki sudah kita gunakan secara efektif untuk mendukung kualitas pembelajaran di sekolah? Jelaskan!
- Adakah cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan sumber daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran murid?
- Sudahkah sekolah memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar? Bagaimana pemanfaatannya?
.
Jawaban:
Faktor Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem Sekolah
- Faktor Biotik: murid, guru, staf sekolah, kepala sekolah, orang tua, dan komunitas.
- Faktor Abiotik: bangunan, ruang kelas, fasilitas (perpustakaan, laboratorium), alat pembelajaran, dan lingkungan fisik (taman, halaman).
Peran Kepala Sekolah
Seorang kepala sekolah berperan dalam menciptakan visi, mengelola sumber daya dengan bijak, serta membangun kolaborasi antara semua anggota ekosistem sekolah untuk mendukung pembelajaran.
Kemampuan yang Harus Dimiliki
Kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam kepemimpinan, komunikasi, pengelolaan sumber daya, dan pengambilan keputusan yang etis dan efektif.
Mengelola Sumber Daya Secara Efektif
Kepala sekolah harus mengidentifikasi sumber daya, memprioritaskan kebutuhan, dan mengembangkan strategi untuk memanfaatkan sumber daya dengan cara yang efisien, seperti pengalokasian anggaran yang tepat dan memfasilitasi pelatihan bagi guru.
Dampak Sumber Daya terhadap Pembelajaran
Sumber daya (fasilitas) yang dimiliki sekolah sangat besar dampaknya, karena mendukung lingkungan belajar, memberikan aksesibilitas terhadap materi ajar, dan memungkinkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif.
Penggunaan Sumber Daya
Sumber daya sekolah yang ada sudah dimanfaatkan, tetapi masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal penggunaan teknologi dan kolaborasi dengan komunitas untuk mendukung kualitas pembelajaran.
Cara Alternatif untuk Memaksimalkan Sumber Daya
Alternatif yang bisa dilakukan termasuk berkolaborasi dengan lembaga luar, memanfaatkan sumber daya alam di sekitar, dan mengembangkan program berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam pemanfaatan sumber daya secara langsung.
Pemanfaatan Lingkungan Sekitar
Sekolah harus memanfaatkan lingkungan sekitar dengan melakukan kerja sama dengan komunitas, mengadakan kegiatan outdoor learning, serta menggunakan sumber daya alam yang ada untuk pembelajaran kontekstual.
_______________________________________________
Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach)
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan menggambarkan seorang pendidik sebagai seorang yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Menurut Bpk/Ibu, bagaimana kualifikasi akademik dan kompetensi yang dimiliki oleh Bpk/Ibu dapat dikelola sebagai aset yang didayagunakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional?
Pendekatan dapat dikatakan sebagai cara pandang atau cara berpikir kita melihat sesuatu. Dalam konteks modul ini, pendekatan berbasis aset atau berbasis defisit berarti bagaimana kita memandang sumber daya sekolah, apakah dianggap sebagai aset/kekuatan atau kekurangan/masalah.
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Kita mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus kita adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.
Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Pendekatan berbasis aset ini juga digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) yang sudah dibahas sebelumnya pada modul 1.3, dimana paradigma IA ini percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.
Menurut Cooperrider & Whitney (2005), Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Merekapun mengatakan bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang baik dan benar. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan apresiasi atas hal yang sudah berjalan baik. Bila sebuah organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan
Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development)
Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. apa yang dapat dikelola dari sekolah Bpk/Ibu melalui pendekatan komunitas berbasis aset agar efisien dan efektif?
Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.
Pendekatan PKBA menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.
Pendekatan PKBA menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’, Cunningham (2012) menuliskan bahwa Community-driven Development adalah proses dimana sekelompok orang (dalam suatu kegiatan, organisasi, atau lingkungan) yang dimotivasi oleh peluang yang ada akan melakukan suatu usaha hanya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (minimal pada awalnya). Seorang pemimpin akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya.
Karakteristik komunitas yang sehat dan resilien
Sekolah bisa kita pandang sebagai sebuah komunitas. Karena itu, sekolah dapat belajar tentang bagaimana menjadi komunitas yang sehat dan tangguh. Bank of I.D.E.A.S (2014) menyebut bahwa karakteristik komunitas yang sehat dan resilien adalah sebagai berikut:
- Mempraktikkan dialog berkelanjutan dan partisipasi anggota masyarakat, yaitu perilaku yang menghargai keragaman dan mendorong dialog penduduk yang aktif, partisipasi dan kepemilikan masyarakat atas masa depan. Apabila kita aplikasikan ke sekolah bagaimana dialog berkelanjutan terjadi yang sekaligus mendorong perilaku yang menghargai keragaman antar warga sekolah demi masa depan murid-murid.
- Menumbuhkan komitmen terhadap tempat, yaitu perilaku akan memperkuat koneksi warga baik komunitas, lingkungan, dan ekonomi lokal mereka. Apabila diaplikasikan ke sekolah, bagaimana memperkuat komitmen warga sekolah untuk saling bergotong royong demi kemajuan murid-murid.
- Membangun koneksi dan kolaborasi, yaitu perilaku yang mendorong perencanaan dan tindakan kolaboratif, jaringan dan hubungan yang kuat antara penduduk, organisasi, bisnis, dan komunitas. Jika diaplikasikan ke sekolah, maka sekolah harus mendorong perencanaan dan tindakan dilakukan secara kolaboratif. Hubungan dan jejaring antara warga sekolah, masyarakat sekitar, organisasi yang ada, dan aset lainnya juga harus terjalin. Membangun dan membina hubungan antara warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.
- Mengenal dirinya sendiri dan membangun aset yang ada, yaitu perilaku yang menemukan, memetakan, menghubungkan, dan memanfaatkan sumber daya seluruh komunitas yang ada. Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan. Kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.
- Membentuk masa depannya, yaitu perilaku yang memungkinkan visi komunitas bersama tentang masa depan, sebagaimana tercermin dalam tujuan praktis komunitas, rencana aksi, dan peringkat prioritas, ditambah dengan keinginan untuk tidak membahayakan kesejahteraan generasi mendatang. Sekolah menciptakan visi sebagai perwakilan dari cita-cita yang ingin diwujudkan pada murid-muridnya.
- Bertindak dengan obsesi ide dan peluang, yaitu perilaku yang mendorong pencarian tanpa akhir untuk ide-ide baru dan tepat, kemungkinan pengembangan dan sumber daya internal dan eksternal. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “Ada masalah apa?” dan “Bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “Apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “Bagaimana mengupayakannya sehingga lebih baik lagi?”
- Merangkul perubahan dan bertanggung jawab, yaitu perilaku yang memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengatasi perubahan dan pulih dari krisis, pola pikir yang berfokus pada optimisme, harapan, dan yakin bahwa ‘kita bisa melakukannya’. Titik awal perubahan pada sekolah selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.
- Menghasilkan kepemimpinan, yaitu perilaku yang terus-menerus memperluas dan memperbaharui kapasitas kepemimpinan masyarakat. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan di sekolah adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus.
Aset –aset dalam sebuah komunitas
Standar sarana dan prasarana merupakan kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh sekolah berkaitan dengan tempat belajar, tempat berolahraga, tempat ibadah, laboratorium, perpustakaan, bengkel kerja, tempat bermain, dan lainnya. Apabila sekolah Bpk/Ibu hanya memiliki kriteria minimal dari standar sarana dan prasarana, apa yang dapat dilakukan oleh Ibu/Bapak untuk tetap menghasilkan kualitas pendidikan yang optimal?
Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset.
Kita dapat meminjam kerangka dari Green dan Haines (2016), yang memetakan 7 aset utama, atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama. Tujuh modal utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah. Dalam pemanfaatannya, ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain. Misalnya modal budaya dapat beririsan dengan modal agama. Selengkapnya kita bisa pelajari berikut ini.
- Modal Manusia
- Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.
- Pemetaan modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala.
- Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi. Kecakapan yang berhubungan dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain musik.
- Modal Sosial
- Modal sosial dimaknasi sebagai norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan (networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.
- Ini juga dapat dimaknai sebagai investasi yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas hidup berdampingan, contohnya adanya kepemimpinan, kerjasama, saling percaya, dan rasa memiliki masa depan yang sama.
- Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, atau kesamaan hobi. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.
- Modal Politik
- Modal politik tidak hanya dimaknai sebagai sebuah aktivitas demokratis dalam tataran politik praktis tapi merupakan kemampuan kelompok untuk memengaruhi distribusi sumber daya di dalam unit sosial.
- Sebagai kendaraan dalam mencapai tujuan, modal politik berkaitan dengan kekuasaan dan kebijakan. Modal politik juga menjadi sebuah instrumen melalui sumber daya manusia yang dapat memengaruhi kebijakan untuk mencapai kepentingan. Selain itu, modal politik dapat bersifat struktural apabila merujuk pada atribut-atribut dalam sistem politik yang menajamkan partisipasi dalam pengambilan keputusan.
- Modal politik sebagai sebagai salah satu aset sekolah dapat digunakan untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. Misalkan seorang kepala sekolah dengan kewenangan yang dimilikinya, menggunakan kewenangannya untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mengakomodir kepentingan warga sekolah dan peningkatan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.
- Modal agama dan budaya
- Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.
- Kebudayaan merujuk pada hasil cipta dan karya manusia yang unik yang lahir dari serangkaian ide, gagasan, norma, perilaku, serta benda. Modal budaya dijelaskan dari tiga hal, yaitu keadaan yang melekat dan mewujud, seperti nilai dan tradisi yang dianut dan berkembang dalam masyarakat; keadaan konkret hasil cipta dan karya, seperti lukisan, buku, mesin, kerajinan tangan, dan semua benda yang dihasilkan oleh manusia sebagai bentuk kreativitas; dan sebuah bentuk yang dapat dipelajari melalui kualifikasi akademik, yaitu sekolah.
- Identifikasi dan pemetaan modal budaya dan agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.
- Sangat penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan perencanaan dan kegiatan bersama.
- Modal Fisik
Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:- Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.
- Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.
- Modal lingkungan/alam
- Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
- Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali.
- Modal finansial
- Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.
- Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.
- Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.
Studi Kasus (1) – video yang menggali sumber daya beserta implementasinya
Untuk memperoleh gambaran lebih jelas cara berpikir dengan menggunakan pendekatan berbasis aset dan berbasis defisit, mari kita menonton video dengan judul Suasana Rapat Guru. Video berikut menunjukkan suasana rapat antara kepala sekolah dan guru yang sedang memutuskan suatu hal.
Setelah menonton video, silakan menuliskan pengalaman Bapak dan Ibu CGP melalui pertanyan berikut ini:
Apakah suasana dari video yang baru saja kita saksikan?
1. Pendekatan Berbasis Defisit
Dalam pendekatan ini, rapat fokus pada masalah yang dihadapi dan kekurangan yang ada:
- Situasi: Para guru berkumpul untuk membahas perpisahan. Rapat diawali dengan suasana negatif, di mana para guru mulai membahas kesulitan mereka.
- Pembahasan:
- Kesulitan dalam mencari tempat untuk acara yang sesuai dan terjangkau.
- Tidak adanya sponsor yang bersedia membantu mendanai acara.
- Kekurangan ide untuk kegiatan yang dapat menarik minat siswa.
- Kesimpulan: Rapat berakhir dengan banyaknya pertanyaan tanpa jawaban dan fokus pada masalah yang dihadapi, serta kekhawatiran tentang masa depan.
2. Pendekatan Berbasis Aset
Dalam pendekatan ini, rapat berfokus pada kekuatan dan potensi yang ada untuk mengatasi situasi tersebut:
- Situasi: Rapat dimulai dengan semangat positif, mengenali kekuatan dan aset yang ada seperti Keterlibatan aktif siswa yang sudah terjalin selama ini, dukungan dari orang tua yang antusias dalam menyelenggarakan acara, pengalaman guru dalam mengorganisir acara serupa di masa lalu.
- Pembahasan:
- Diskusi Aset: Para guru mengidentifikasi dan mengeksplorasi sumber daya yang bisa dimanfaatkan:
- Kreativitas siswa dalam mengusulkan tema dan kegiatan.
- Relasi dengan alumni yang dapat memberikan dukungan finansial atau ide.
- Fasilitas sekolah yang bisa digunakan secara gratis untuk acara.
- Diskusi Aset: Para guru mengidentifikasi dan mengeksplorasi sumber daya yang bisa dimanfaatkan:
- Kesimpulan: Rapat berakhir dengan rencana untuk merayakan perpisahan dengan acara khusus, serta semangat untuk saling mendukung dan menggunakan kekuatan yang ada di antara mereka untuk mengatasi tantangan.
- Tindakan: Rapat berfokus pada bagaimana memanfaatkan semua potensi ini:
- Membentuk tim kecil yang melibatkan siswa untuk merancang acara.
- Menggali lebih dalam potensi sponsor dari komunitas lokal yang mungkin tertarik mendukung acara perpisahan.
- Menyusun agenda acara yang melibatkan semua elemen sekolah, termasuk alumni.
Perbandingan
- Pendekatan Berbasis Defisit: Menyoroti masalah dan kekurangan, menciptakan suasana pesimis yang lebih banyak berfokus pada ketidakpastian dan kesedihan.
- Pendekatan Berbasis Aset: Mengedepankan kekuatan, potensi, dan kolaborasi, menciptakan suasana positif dan berorientasi pada solusi.
Dengan memahami kedua pendekatan ini, guru dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam situasi perpisahan, baik dengan merencanakan dukungan untuk siswa maupun merayakan kontribusi yang telah diberikan.
Studi kasus (2) – Video yang Menggali Sumber Daya Beserta Implementasinya
Simak kembali video berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya
Suasana rapat yang bagaimana yang termasuk dalam contoh pendekatan berbasis kekurangan dan yang termasuk dalam pendekatan berbasis aset/kekuatan?
Suasana Rapat dengan Pendekatan Berbasis Kekurangan (Defisit)
Dalam rapat yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan, suasana cenderung lebih tegang dan fokus pada masalah yang dihadapi. Beberapa karakteristiknya adalah:
- Pembahasan masalah: Diskusi berpusat pada apa yang tidak berjalan baik, seperti kurangnya sumber daya, keterbatasan anggaran, atau masalah disiplin murid.
- Nada negatif: Guru atau kepala sekolah sering kali menggunakan kata-kata yang mencerminkan frustasi atau pesimisme.
- Penekanan pada kelemahan: Fokus pada kekurangan dalam pelaksanaan program, kurangnya partisipasi murid, atau hasil ujian yang buruk.
- Solusi bersifat reaktif: Solusi yang dicari seringkali bersifat sementara dan lebih fokus pada memperbaiki kekurangan, tanpa mempertimbangkan aset yang ada.
Suasana Rapat dengan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan
Dalam rapat yang menggunakan pendekatan berbasis aset, suasana cenderung lebih positif dan kolaboratif. Beberapa karakteristiknya adalah:
- Fokus pada kekuatan: Diskusi lebih menyoroti apa yang sudah berjalan baik, misalnya, keterlibatan siswa yang aktif, dukungan komunitas, atau sumber daya yang sudah tersedia.
- Nada optimis: Guru dan kepala sekolah mengajak untuk melihat peluang dan potensi pengembangan dari aspek yang sudah ada.
- Pemikiran kreatif: Alih-alih fokus pada masalah, tim berusaha memanfaatkan kekuatan yang ada untuk mengatasi tantangan dengan cara inovatif.
- Solusi proaktif: Solusi yang dicari bersifat membangun dan preventif, dengan menggunakan sumber daya secara efisien untuk mendukung perkembangan lebih lanjut.
Perbandingan:
- Pendekatan Berbasis Kekurangan: Lebih berfokus pada apa yang salah dan mencari cara untuk memperbaikinya, sering kali dengan suasana yang lebih tegang.
- Pendekatan Berbasis Aset: Lebih berfokus pada apa yang sudah baik dan mencari cara untuk mengembangkannya, dengan suasana yang lebih positif dan membangun.
Pendekatan berbasis aset menciptakan suasana rapat yang lebih optimis dan kreatif, yang pada akhirnya dapat mendorong tim untuk bekerja lebih sinergis dan percaya diri.
Tuliskan pengalaman rapat yang pernah terjadi!
Selama kita berada di sekolah, pada saat rapat antar guru atau dengan kepala sekolah, biasanya apa yang dibahas? Apakah membahas apa yang menjadi kekurangan sekolah selama ini? Atau membahas soal kekuatan yang dimiliki oleh sekolah?
Dalam pengalaman saya saat rapat di sekolah, biasanya agenda rapat berkisar pada evaluasi program dan persiapan kegiatan sekolah. Misalnya, dalam rapat untuk mempersiapkan ujian akhir atau acara tahunan, sering kali terjadi diskusi yang mengarah pada kedua pendekatan: membahas kekurangan dan kekuatan.
- Pendekatan Berbasis Defisit: Beberapa rapat cenderung fokus pada masalah yang dihadapi, seperti kurangnya sarana, keterbatasan anggaran, atau kurangnya partisipasi siswa. Diskusi berkisar pada apa yang belum tercapai dan bagaimana mengatasi hambatan ini, misalnya dengan mengurangi biaya atau mencari alternatif lain yang lebih terjangkau.
- Pendekatan Berbasis Aset: Di sisi lain, ada juga rapat yang fokus pada kekuatan sekolah. Guru dan kepala sekolah sering membahas kreativitas siswa, dukungan orang tua, atau fasilitas yang sudah ada yang bisa dimanfaatkan untuk menyukseskan program. Rapat ini lebih positif, dengan tujuan untuk memanfaatkan apa yang sudah dimiliki, seperti menggunakan tenaga sukarela atau melibatkan alumni dalam kegiatan sekolah.
Secara umum, rapat-rapat tersebut biasanya berisi kombinasi antara mengidentifikasi kekurangan dan merencanakan pemanfaatan kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Namun, pendekatan berbasis aset sering kali memberikan suasana yang lebih positif dan memotivasi semua peserta rapat untuk lebih optimis dalam menyusun rencana ke depan.
Pertanyaan: Mendiskusikan murid
Tuliskan pengalaman mendiskusikan murid yang pernah terjadi!
Apabila kita mendiskusikan seorang murid bersama sesama rekan guru, biasanya apakah yang kita bahas? Kekurangan atau kenakalan dari murid kita atau kebaikan atau kekuatan yang dimiliki murid kita?
Dalam pengalaman saya, saat mendiskusikan murid bersama rekan guru, biasanya yang dibahas mencakup kedua sisi: kekurangan dan kekuatan murid. Namun, sering kali fokus awalnya adalah pada tantangan atau masalah yang dihadapi murid, seperti kesulitan belajar, kurangnya motivasi, atau perilaku yang mengganggu.
Misalnya, kami mungkin membahas seorang murid yang tidak menyelesaikan tugas tepat waktu atau sering terlambat datang ke kelas. Diskusi akan berfokus pada penyebab masalah tersebut dan solusi yang bisa diterapkan, seperti memberikan bimbingan tambahan atau pendekatan lebih personal.
Di sisi lain, ketika kami mengadopsi pendekatan berbasis aset, kami juga mengidentifikasi kekuatan murid, seperti kreativitas, kemampuan bekerja dalam tim, atau antusiasme dalam pelajaran tertentu. Ini membantu kami untuk memotivasi murid dengan lebih baik, mendorong mereka memanfaatkan kekuatan tersebut untuk berkembang.
Dengan mendiskusikan baik kekurangan maupun kekuatan murid, kami bisa memberikan dukungan yang lebih seimbang, membantu murid mengatasi tantangan sekaligus memaksimalkan potensinya.
3.2.f.1. Eksplorasi Konsep – Pertanyaan Pemantik
Soal 1
Apakah kita bisa menggunakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset untuk mengelola sumber daya sekolah kita? Bisakah kita mengganti kata komunitas menjadi sekolah, Pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset? Mengapa?
Your answer:
Ya, kita bisa menggunakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset untuk mengelola sumber daya sekolah, dan kata “komunitas” dapat diganti dengan “sekolah” menjadi Pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset. Ini karena prinsip dasarnya sama: fokus pada kekuatan, potensi, dan aset yang dimiliki sekolah (guru, murid, fasilitas, komunitas sekitar) untuk mencapai tujuan. Pendekatan ini mendorong kita untuk melihat peluang, bukan hanya masalah, sehingga dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih produktif dan positif.
Soal 2
Apa contoh pengelolaan sumber daya sekolah kita dengan pendekatan PKBA?
Your answer:
Contoh pengelolaan sumber daya sekolah dengan Pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset (PKBA):
- Memanfaatkan keahlian guru dalam teknologi untuk mengembangkan pembelajaran digital.
- Melibatkan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat mereka untuk meningkatkan keterampilan praktis.
- Menggunakan fasilitas yang ada seperti ruang terbuka sekolah untuk pembelajaran luar ruangan.
- Berdaya bersama komunitas: mengajak orang tua atau alumni untuk berkontribusi dalam bentuk waktu, tenaga, atau dukungan finansial.
Fokusnya adalah memaksimalkan aset yang sudah ada untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Soal 3
Bagaimanakah selama ini kita mengelola sumber daya? Apakah sudah menggunakan pendekatan PKBA?
Your answer:
Selama ini, pengelolaan sumber daya di sekolah mungkin masih lebih sering menggunakan pendekatan berbasis masalah atau kekurangan, seperti berfokus pada apa yang kurang (anggaran, fasilitas) dan bagaimana mengatasinya. Jika pendekatan PKBA belum sepenuhnya diterapkan, maka fokus pada kekuatan seperti potensi guru, siswa, dan dukungan dari komunitas mungkin belum dimaksimalkan.
Dengan pendekatan PKBA, kita seharusnya lebih menggali potensi yang sudah ada dan mengoptimalkan kekuatan untuk mencapai tujuan sekolah. Jika sekolah belum melakukan ini, maka ada peluang besar untuk mulai menggunakan aset yang ada dengan lebih efektif.
Soal 4
Jika belum, bagaimana caranya kita mengelola dengan pendekatan pengembangan sekolah berbasis aset?
Your answer:
- Identifikasi Aset Sekolah: Petakan potensi yang sudah ada di sekolah, seperti keahlian guru, bakat siswa, fasilitas, serta dukungan orang tua dan komunitas sekitar.
- Libatkan Semua Pihak: Libatkan guru, siswa, orang tua, dan komunitas dalam diskusi untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan aset bersama. Setiap orang punya peran dalam mengoptimalkan potensi yang ada.
- Fokus pada Kekuatan: Alihkan fokus dari masalah ke peluang. Misalnya, jika anggaran terbatas, lihat apa yang bisa dimanfaatkan dari tenaga sukarela, kerja sama dengan komunitas, atau penggunaan ruang yang ada.
- Kembangkan Program Berbasis Aset: Rancang program yang memanfaatkan aset sekolah, seperti kegiatan berbasis minat siswa, pemanfaatan teknologi guru, atau kolaborasi dengan alumni untuk dukungan sumber daya.
- Monitor dan Evaluasi: Pantau perkembangan dari penerapan PKBA dan evaluasi bagaimana pendekatan ini membantu mengatasi tantangan dengan cara yang lebih kreatif dan efektif.
Dengan demikian, kita bisa membangun ekosistem sekolah yang lebih produktif dan memberdayakan semua pihak.
3.2.f.2. Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi
Studi Kasus 1
Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua. Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong.
Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan. Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen. Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan. Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan. Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp.
Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK. Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit.
Pertanyaan
Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini?
Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.
Studi Kasus 2
Pak Pupur, guru yang dicintai para muridnya. Cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri. Suatu ketika, Dinas Pendidikan daerah membuka lowongan pengawas sekolah. Kepala Sekolah merekomendasi Pak Pupur untuk mendaftar seleksi calon pengawas sekolah. Kepala sekolah memilih Pak Pupur untuk mengikuti seleksi karena selain berkualitas, dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.
Secara portofolio, penghargaan kejuaraan perlombaan guru, karya alat peraga berbahan limbah yang Pak Pupur ikuti selalu bisa sampai mendapatkan penghargaan lomba tingkat nasional. Kecerdasannya pun juga luar biasa di mana nilai Uji Kompetensi Gurunya (UKG) bisa mencapai nilai 90, Namun, Pak Pupur justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.
Pertanyaan
Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pupur?
Apabila Anda sebagai Kepala Sekolah, apa yang bisa Anda lakukan?
Silakan membaca kedua studi kasus tersebut, lalu jawab tiap pertanyaan dari studi kasus tersebut. Cara menjawab tiap studi kasus, diawali dengan ‘Jawaban Studi kasus (no):’.
Contoh Jawaban:
Jawaban Studi Kasus 1: Saya melihat kasus Ibu Lilin…
Jawaban Studi Kasus 2: Menurut Saya, Pak Pupur seharusnya dapat…
Jawaban Studi Kasus 1:
Sebagai kepala sekolah, mengatasi masalah ini membutuhkan strategi berbasis Pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset (PKBA) dan kepemimpinan dalam Pengelolaan Sumber Daya:
- Pendekatan Berbasis Aset: Fokus pada kekuatan yang dimiliki murid, guru, dan lingkungan sekolah. Alih-alih melihat keberagaman kemampuan murid sebagai kelemahan, pandanglah sebagai peluang untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan inklusif. Berdayakan Ibu Lilin untuk melihat aspek positif dari heterogenitas ini, misalnya dengan mendorong penggunaan diferensiasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid.
- Pengembangan Kapasitas Guru: Adakan pelatihan untuk Ibu Lilin dan guru lain dalam mengelola kelas heterogen, manajemen emosi, serta disiplin positif. Ini termasuk membantu Ibu Lilin mengembangkan keterampilan dalam pembelajaran berbasis kekuatan murid, sehingga dia bisa beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan karakteristik kelas.
- Restorasi Hubungan Guru dan Siswa: Gunakan Pendekatan Restoratif untuk menyelesaikan konflik. Boikot dan penghukuman bukan solusi jangka panjang. Libatkan Ibu Lilin dan murid dalam sesi mediasi untuk saling memahami perasaan, tantangan, dan perspektif masing-masing. Hal ini bisa mengubah dinamika negatif menjadi kesempatan membangun hubungan yang lebih positif.
- Kolaborasi dengan Guru Lain: Fasilitasi diskusi atau lokakarya dengan guru dari berbagai latar belakang, termasuk Bu Siti dari sekolah non-favorit, untuk berbagi pengalaman dan strategi menghadapi tantangan serupa. Ini akan memperkaya wawasan guru di sekolah favorit tentang cara mengelola kelas yang beragam.
- Revitalisasi Budaya Sekolah: Mulailah kampanye internal untuk memperbarui visi dan misi sekolah dengan fokus pada inklusi dan keberagaman. Libatkan semua pemangku kepentingan (guru, siswa, orang tua) dalam membentuk kembali budaya yang menghargai setiap individu di sekolah, bukan hanya dari aspek akademis, tetapi juga karakter dan sosial-emosional mereka.
Dengan strategi ini, sekolah tidak hanya bisa mengatasi masalah Ibu Lilin, tetapi juga membangun lingkungan yang lebih inklusif dan positif.
Jawaban Studi Kasus 2:
Sebagai kepala sekolah, langkah yang akan Saya ambil adalah:
- Mengajak Dialog Terbuka: Berbicara dengan Pak Pupur untuk memahami perasaannya lebih dalam, mengapa dia merasa sedih, dan apa yang sebenarnya diinginkan dari karirnya.
- Memberikan Pilihan: Jangan memaksakan, tetapi beri kesempatan bagi Pak Pupur untuk memilih apakah dia ingin tetap menjadi guru atau mencoba tantangan baru sebagai pengawas. Hargai preferensinya.
- Fasilitasi Pengembangan Karir: Jelaskan bahwa posisi pengawas dapat menjadi peluang baru untuk berdampak lebih luas, namun jika Pak Pupur lebih bahagia di kelas, mungkin lebih baik dia tetap di sana. Prioritaskan kesejahteraan emosionalnya.
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak pada sesi ini,
- Setiap kelompok akan mempresentasikan hasil identifikasi aset/modal.
- Setiap kelompok memberikan umpan balik terhadap presentasi kelompok lain.
- Umpan balik yang diberikan berdasarkan beberapa pertanyaan ini: hal paling menarik yang ditemukan, hal yang paling ingin diketahui lebih lanjut lagi, dan hal yang mungkin sangat tidak berhubungan dengan aset sumber yang sedang kita diskusikan.
- Forum diskusi dilakukan menggunakan platform yang memungkinkan seluruh peserta bertatap muka
- TAGIHAN:
Hasil pemetaan/identifikasi semua aset yang dimiliki daerahnya. Hasil pemetaan/identifikasi bisa dalam bentuk poster, tabel, mind map, dan lain-lain. - Media:
a) Alokasi penyerahan tagihan digital melalui google drive.
b) Ruang digital di mana CGP bisa memberikan umpan balik dari video masing-masing kelompok.
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL
Setelah kita bersama-sama berproses, berlatih melihat, dan mengidentifikasi aset serta kekuatan yang dimiliki daerah bersama rekan lainnya, saatnya kita menganalisis tayangan video praktik baik yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan kualitas pembelajaran murid. Dalam menganalisis video ini, Bapak dan Ibu CGP kembali mengaitkan pengetahuan mengenai visi, prakarsa perubahan, dan BAGJA yang sudah didiskusikan pada modul 1.3 sebelumnya.
Berikut adalah tabel penjelasan BAGJA sebagai pengingat secara singkat, untuk lebih rincinya silahkan Bapak dan Ibu CGP membaca ulang dari modul 1.3 pada LMS.

Gunakan pertanyaan – pertanyaan di bawah ini untuk membantu menganalisis video.
- Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut mengabdi?
- Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?
- Apakah Pertanyaan Utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
- Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan:
- B
- A
- G
- J
- A
- Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?
- Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalan tayangan video? lalu bagaimana pemanfataannya?
1. Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut mengabdi?
Jawaban: Mewujudkan Lingkungan Sekolah yang Aman, Menyenangkan dengan Menanamkan Nilai-Nilai Kreatif, Mandiri dan Kolaboratif.
2. Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?
Jawaban: Berdasarkan tayangan video, Prakarsa Perubahan yang dilakukan oleh guru tersebut adalah mewujudkan kelas yang nyamandan menyenangkan serta menumbuhkan semangat belajar..
3. Apakah Pertanyaan Utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
Jawaban: Pertanyaan utama yang dilakukan oleh guru tersebut adalah bagaimana cara atau menciptakan kelas yang nyaman dan menyenangkan serta menumbuhkan semangat belajar.
4. Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan:
B (Buat pertanyaan): Bagaimana cara menciptakan kelas yang nyaman dan menyenangkan serta menumbuhkan semangat belajar? –Pada tahap ini dari tayangan video, guru terlihat berdialog dengan rekan sejawat sebelum memasuki ruang kelas terkait pembelajaran yang akan dilakukan serta strateginya berdasarkan hasil diskusi dan kolaborasi yang menghasilkan prakarsa perubahan sebagai landasan dari pertanyaan utama yang akan ditentukan untuk menjalankan alur BAGJA:
- Guru menuliskan kalimat “penyemangat belajar” di papan tulis yang mengundang rasa ingin tahu murid.
- Guru mengajukan pertanyaan terkait kata yang dituliskan di papan tulis yaitu “Apa yang muncul dalam pikiran kalian saat membaca tulisan di papan tulis?”
- Guru menggali informasi pendapat dan pengalaman murid terkait kelas yang menyenangkan untuk belajar.
- Guru menanyakan pada murid apa yang disukai dari kelas kita.
A (Ambil pelajaran):
- Guru meminta seluruh murid berkunjung ke kelas 2 dan kelas 6 saat jam istirahat untuk menambah inspirasi kelas impian yang akan dibuat oleh mereka untuk menambah semangat belajarnya.
- Guru membimbing murid mengidentifikasi ruang kelas lain dan mencatat tentang hal-hal yang disukai pada kelas tersebut sebagai penyemangat belajarnya.
- Guru membimbing Murid bertanya kepada para siswa yang ada di kelas 2 dan kelas 6 tentang hal-hal yang mereka sukai untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar.
- Guru membimbing murid berdiskusi tentang apa yang mereka sukai sebagai penyemangat belajar secara berkelompok.
G (Gali mimpi)
- Guru membimbing murid menutup mata mereka dan membayangkan kelas yang menyenangkan dan menjadi penyemangat belajar.
- Guru membimbing Murid dalam kelompoknya menggambarkan kelas yang nyaman sesuai dengan yang mereka bayangkan.
J (Jabarkan rencana)
- Guru memfasilitasi murid melakukan presentasi hasil kerja kelompoknya tentang kelas impiannya di depan kelas.
- Guru membimbing murid berkontribusi menentukan kebutuhan dalam mewujudkan kelas impian.
- Guru menuliskan daftar kebutuhan kelas impian yang disebutkan para murid.
A (Atur eksekusi)
- Guru membagi peran setiap murid dalam mewujudkan kelas impian yang bisa menjadi penyemangat belajar mereka.
- Guru membimbing murid berdiskusi dalam penentuan jadwal pelaksanaan menata kelas impian.
- Guru membimbing murid menyiapkan alat dan bahan sesuai peran dan tugas yang sudah ditentukan.
- Guru membimbing murid menata kelas secara bergotong royong.
5. Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?
- Pemimpin pembelajaran yang berfokus pada pendekatan berbasis aset yang dimiliki.
- Pemimpin yang dapat mengembangkan diri dan orang lain (murid)
- pemimpin dengan kompetensi manajerial yang baik dalam mengelola sumber daya
6. Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam tayangan video? lalu bagaimana pemanfataannya?
- Modal Manusia: Rekan sejawat dalam merumuskan prakarsa perubahan, Murid dengan pembagian peran, tugas dan kontribusi masing-masing, murid kelas 2 dan kelas 6 sebagai sumber belajar dan inspirasi.
- Modal Fisik: Bangunan kelas yang ditata sebagai kelas impian penyemangat belajar murid, Hiasan dinding yang digunakan menutupi bagian dinding rusak, alat-alat dan bahan yang tersedia dalam mewujudkan kelas impian, Meja dan kursi yang ditata sesuai keinginan murid dalam menunjang kegiatan belajar yang menyenangkan, dan Buku-buku sebagai sumber belajar yang disiapkan di pojok membaca.
- Modal Sosial: Berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk merumuskan prakarsa perubahan, berkerjasama dengan guru kelas 2 dan guru kelas 6 untuk kegiatan observasi kelas, Komunikasi yang baik dengan para murid mengenai peran dan tugas mereka dalam mewujudkan kelas impian.
- Modal Lingkungan: Lingkungan sekolah dan pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan yang tersedia di lingkungan untuk digunakan dalam menghias kelas.
- Modal Politik: Jejaring dengan Guru lain khususnya Guru kelas 2 dan Guru kelas 6 sehingga mendapat ijin untuk kegiatna observasi kelas mereka, Guru memiliki strategi pengelolaan dan pengambilan keputusan yang baik sehingga mampu mengelola peran dan tugas setiap murid.
- Modal Agama dan Budaya: Karakter murid yang santun dan hormat pada Guru yang tampak selama kegiatan pembelajaran sehingga Guru mampu mengelola dan membimbing muridnya dalam mewujudkan kelas impian tersebut, sikap gotong royong murid dalam mewujudkan kelas impian secara bersama-sama.
- Modal Finansial: Dana BOS yang dimanfaatkan untuk kepentingan belajar murid, Uang Kas Kelas yang dimanfaatkan mengadakan alat dan bahan yang diperlukan dalam mewujudkan kelas impian.
.
KONEKSI ANTAR MATERI
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Pada sesi pembelajaran kali ini, Bapak/Ibu CGP membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
- Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
- Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
- Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
- Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
- Komunikasikan hasil kesimpulan Anda dengan cara apapun yang bisa Anda pilih sendiri. Unggahlah hasil pemikiran Anda melalui LMS/moda yang telah disepakati bersama.
- Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
- Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Jawaban:
Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya adalah sosok pemimpin yang mampu mengoptimalkan sumber daya di sekitarnya untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas. Pemimpin ini tidak hanya berfokus pada peningkatan akademik murid tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, inklusif, dan memberdayakan. Peran pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya meliputi tiga area utama: kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Seorang pemimpin pembelajaran yang efektif dalam pengelolaan sumber daya senantiasa menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan dalam mengidentifikasi asset. Mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk diidentifikasi dan dikembangkan potensinya yang mendukung proses pembelajaran.
Cara mengiplementasikan:
Implementasi di Kelas
- Mengidentifikasi kebutuhan dan potensi murid secara individual untuk menentukan sumber daya yang sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan mereka.
- Menggunakan berbagai sumber daya seperti teknologi, buku, atau metode pembelajaran interaktif untuk memperkaya pengalaman belajar.
- Menerapkan pendekatan berbasis aset yang fokus pada kelebihan murid, sehingga setiap murid merasa dihargai dan diberdayakan.
- Menggunakan sarana prasarana yang tersedia secara efektif dan efisien.
- Mengoptimalkan kolaborasi guru dan murid dalam melaksanakan suatu kegiatan.
- Mendorong murid untuk menggali kreatifitasnya.
- Berkolaborasi dengan rekan guru dan murid dalam melaksanakan kegiatan.
- Mengoptimalkan keuangan kelas untuk kebutuhan kelas
Implementasi di Sekolah
Di tingkat sekolah, pemimpin pembelajaran:
- Mengelola dan mengalokasikan sumber daya sekolah secara adil untuk mendukung program pembelajaran yang inovatif dan bermanfaat.
- Mengembangkan kerjasama antarguru dan mendorong mereka untuk berbagi praktik baik dan inovasi dalam mengajar.
- Mengadopsi pendekatan berbasis aset dalam pengambilan keputusan dan kegiatan sekolah, misalnya dengan melihat kekuatan di setiap divisi atau komunitas guru untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif dan suportif.
- Memaksimalkan komunitas sekolah dengan visi bersama untuk kemajuan sekolah
- Menggunakan sumber daya finansial untuk menunjang setiap kegiatan.
Implementasi di Masyarakat Sekitar Sekolah
Dalam lingkungan masyarakat sekitar, pemimpin pembelajaran:
- Membangun kolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mendapatkan dukungan dalam berbagai program pembelajaran.
- Memanfaatkan sumber daya lokal seperti budaya atau keahlian masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran, sehingga murid bisa lebih terhubung dengan lingkungan sekitarnya.
- Mengundang peran aktif masyarakat untuk mendukung proses pembelajaran, misalnya melalui kunjungan ke tempat-tempat usaha atau memperkenalkan profesi tertentu yang relevan dengan pembelajaran.
- Berkolaborasi dengan dengan berbagai instansi masyarakat, lembaga masyarakat, instansi pemerintah.
- Membangun hubungan dengan komunitas sekitar sekolah
- Berpartisipasi dalam pengembangan budaya lokal.
Dengan peran yang aktif di ketiga level ini, pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adaptif, responsif, dan kolaboratif. Hal ini akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih kaya, berdaya guna, dan relevan bagi murid serta masyarakat.
- Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Jawaban:
Pengelolaan sumber daya yang tepat akan memberikan dukungan langsung pada kualitas pembelajaran murid dengan memastikan kebutuhan belajar mereka terpenuhi dan potensi mereka teroptimalkan. Dengan pengelolaan yang baik, sumber daya dapat digunakan secara efisien untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran, meningkatkan motivasi, dan memperkaya pengalaman belajar murid.
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana pengelolaan sumber daya yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran murid:
1. Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Interaktif
- Contoh: Di sebuah sekolah yang memiliki akses terbatas pada laboratorium sains, guru memanfaatkan platform simulasi virtual seperti PHeT untuk memberikan pengalaman eksperimen kepada murid. Dengan teknologi ini, murid dapat melakukan eksperimen yang aman dan praktis, meskipun tidak memiliki laboratorium fisik.
- Dampak: Murid mendapatkan pemahaman konsep sains yang lebih mendalam karena mereka bisa “melihat” proses eksperimen secara virtual, yang mendukung mereka dalam memahami teori dan aplikasinya.
2. Optimalisasi Peran Komunitas Sebagai Sumber Pembelajaran
- Contoh: Sekolah mengelola kerjasama dengan masyarakat lokal, misalnya dengan mengundang pelaku usaha kecil di sekitar sekolah untuk berbagi pengalaman tentang wirausaha. Pengelolaan waktu dan partisipasi masyarakat ini direncanakan untuk memberikan pengalaman nyata yang relevan dengan materi ekonomi atau kewirausahaan.
- Dampak: Murid belajar langsung dari pengalaman praktis, yang menguatkan pemahaman teoretis dan menambah wawasan mereka tentang peran dan tantangan dalam dunia kerja. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan aplikatif.
3. Pemanfaatan Lingkungan Sekitar sebagai Sumber Belajar Kontekstual
- Contoh: Guru di sekolah dengan area taman atau kebun mengelola sumber daya tersebut untuk kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan alam. Misalnya, murid diajak untuk belajar tentang ekosistem dengan mengamati flora dan fauna yang ada di lingkungan sekolah.
- Dampak: Murid memiliki kesempatan untuk belajar secara langsung di lapangan, yang membantu mereka memahami konsep abstrak menjadi lebih konkret. Pembelajaran semacam ini juga dapat meningkatkan ketertarikan murid terhadap sains.
4. Pengembangan Bahan Ajar yang Inklusif dan Diferensiatif
- Contoh: Guru merancang bahan ajar dengan pendekatan pembelajaran diferensiasi yang sesuai dengan gaya belajar murid. Misalnya, untuk murid dengan gaya belajar visual, guru menyediakan video dan gambar, sementara untuk murid dengan gaya belajar kinestetik, disediakan bahan-bahan manipulatif seperti alat bantu atau permainan edukatif.
- Dampak: Dengan manajemen sumber daya pengajaran yang baik, setiap murid dapat belajar sesuai dengan cara yang paling efektif bagi mereka, yang meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar.
5. Program Pendampingan dan Bimbingan Belajar oleh Guru dan Siswa Senior
- Contoh: Di sekolah, program bimbingan belajar diatur dengan memanfaatkan siswa-siswa senior untuk membimbing adik kelas mereka dalam mata pelajaran tertentu. Guru mengelola jadwal dan materi yang dibimbing, sehingga berjalan sesuai kebutuhan akademik.
- Dampak: Adanya dukungan dari siswa senior membantu murid lebih percaya diri dan terbantu dalam memahami pelajaran yang sulit. Murid senior juga belajar tanggung jawab dan keterampilan komunikasi, yang memperkaya pengalaman belajar mereka secara menyeluruh.
Ada 7 modal aset yang bisa digunakan untuk mendukung proses pembelajaran menjadi berkualitas, yakni modal manusia, fisik, lingkungan/alam, sosial, agama dan budaya, finansial, dan politik.
Contoh pengelolaan sumber daya akan meningkatkan kualitas pembelajaran
Modal Manusia
Kepala sekolah dan guru yang melaksanakan peran pemimpin dengan baik serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mendidik dan mengajar akan meningkatkan kualitas pembelajaran, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada prestasi belajar murid.
Modal Fisik
Jika sarana prasarana sekolah serta semua ruangan dikelola dengan baik, maka hal ini akan mendukung pelaksanaan kegiatan belajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pembelajaran.
Modal Sosial
Modal sosial yang terdefinisi dengan jelas seperti tata tertib sekolah atau nilai-nilai yang dianut oleh sekolah, dibentuk untuk meningkatkan kesadaran diri siswa akan pentingnya perilaku disiplin yang positif. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, aman dan nyaman.
Modal Lingkungan
Lingkungan disekitar sekolah memiliki potensi sebagai sumber belajar yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran yang kreatif.
Modal Politik
Penyelenggaraan program pembinaan guru oleh kepala sekolah adalah Langkah penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
Kerjasama antar pihak sekolah dan pihak dinas pendidikan dalam mengadakan pelatihan dan workshop memiliki dampak pada peningkatan kualitas pengajaran.
Modal Finansial
Penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan iuran Komite atau yang kami kenal denga sebutan SPP/DPP, dana kantin sekolah, dana koperasi sekolah untuk keperluan operasional sekolah memiliki potensi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Modal Agama dan Budaya
Aktivitas pembiasaan di sekolah seperti berdoa pagi dan membaca asmaul husna pada sebelum kegiatan belajar mengajar, Gotong royong dan lainnya, memiliki potensi untuk mengubah perilaku murid menjadi lebih berakhlak, yang kemudian dapat memudahkan dalam penyampaian materi pembelajaran.
Dengan pengelolaan sumber daya yang baik, sekolah tidak hanya menggunakan sumber daya secara efisien tetapi juga memastikan bahwa pembelajaran murid menjadi relevan, terarah, dan bermakna. Pengelolaan ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang adaptif terhadap kebutuhan, meningkatkan keterlibatan murid, dan mendukung pencapaian hasil belajar yang optimal.
3. Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Jawaban:
1). Keterkaitan Modul 3.2. dengan Modul 1
a. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 1.1.
Pendekatan berbasis aset/kekuatan yang dipelajari di modul 3.2. akan mendukung terciptanya pembelajaran yang berpihak kepada siswa sehingga potensi siswa akan tergali secara maksimal.
b. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 1.2.
Modul 3.2. tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya akan mendukung peran guru, khusunya peran guru sebagai pemimpin pembelajaran yang akan mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada siswa.
c. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 1.3.
Modul 3.2. tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya akan membekali seorang guru untuk memanfaatkan aset yang ada di sekitarnya untuk mencapai visi yang impikan.
d. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 1.4.
Modul 3.2. tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya akan mendukung terciptanya budaya positif di lingkungan sekolah.
2). Keterkaitan Modul 3.2. dengan Modul 2
a. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 2.1.
Pendekatan berbasis aset yang dipelajari di Modul 3.2. akan membekali guru dalam mengidentifikasi aset-aset di sekitarnya dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi (modul 2.1.)
b. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 2.2.
Guru sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya harus berada dalam kesadaran penuh dan menggunakan kompetensi sosial emosionalnya dalam memanfaatkan semua aset yang ada di sekitarnya.
c. Keterkaitan Modul 3.2 dengan modul 2.3.
Dalam identifikasi aset, guru bisa menerapkan praktik coaching bersama dengan warga sekolah yang lain.
3). Keterkaitan Modul 3.2. dengan Modul 3
a. Keterkaitan Modul 3.2. dengan Modul 3.1.
Modul 3.2. tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya akan mendukung peran seorang guru/kepala sekolah untuk membuat suatu keputusan (Modul 3.1). Apalagi, jika keputusan-keputusan itu berhubungan dengan beberapa aset yang dimiliki sekolah, baik aset biotik maupun abiotik.
4. Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
Jawaban:
a. Pemahaman sebelum Mempelajari Modul 3.2.
Sebelum mempelajari modul 3.2. saya belum paham tentang pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk merencanakan suatu kegiatan. Saya juga belum paham tentang pembagian aset yang terdiri atas 7 modal utama. Saya juga hanya berpikir bahwa asset adalah segala sesuatu yang berupa benda fisik saja yang ada di lingkungan sekolah.
b. Pemahaman setelah Mempelajari Modul 3.2.
Setelah mempelajari modul 3.2. saya menjadi paham tentang pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk merencanakan suatu kegiatan, yakni pendekatan berbasis aset dan pendekatan berbasis kekurangan. Saya juga menjadi paham tentang pembagian aset yang terdiri atas 7 modal utama, yakni modal manusia, fisik, lingkungan/alam, sosial, agama&budaya, finansial, dan politik.
c. Pemikiran yang Berubah
- Seorang pemimpin lebih baik menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengambil suatu keputusan atau merencanakan kegiatan/program
- Guru sebagai aset utama harus memiliki kemapuan dan kreatifitas dalam mengelolah sumberdaya yang tersedia untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas.
- Seorang pemimpin lebih baik menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengambil suatu keputusan atau merencanakan kegiatan/program.
- Seorang pemimpin harus bisa menjadi manajer dalam mengoptimalkan potensi yang ada, baik potensi dari aset biotik maupun abiotik.
- Ternyata, ada banyak aset/modal di sekitar kita yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran atau program sekolah.
Salam guru penggerak: tergerak, bergerak, menggerakkan.