
MULAI DARI DIRI
3.2.e. Mulai dari Diri – Modul 3.2
Selamat datang di sesi pembelajaran 1, Mulai Dari Diri. Sebelum Ibu/Bapak memulai tahapan pembelajaran 1 ini, kami ingin menyampaikan terlebih dahulu bahwa di sepanjang tahapan pembelajaran dalam modul ini, Ibu/Bapak akan selalu diberikan pertanyaan pemantik di awal setiap tahapan pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan pemantik ini tidak perlu dijawab. Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan pemantik tersebut lebih kepada memancing pemikiran dan rasa ingin tahu Ibu/Bapak terhadap materi yang akan dipelajari dan menjadi bagian upaya kami untuk mendorong Ibu/Bapak untuk menggali lebih dalam konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini.
Sekarang, mari kita mulai sesi pembelajaran 1 ini.
Saat Ibu/Bapak bersekolah dulu, Ibu/Bapak tentu pernah mengikuti berbagai program/kegiatan di sekolah. Program/kegiatan itu dapat berupa program/kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Program/kegiatan intrakurikuler merupakan merupakan program/kegiatan utama sekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program sekolah. Program/Kegiatan ini dilakukan oleh guru dan murid dalam jam pelajaran setiap hari dan ditujukan untuk mencapai tujuan minimal dari setiap mata pelajaran dalam kurikulum. Sementara itu, program/kegiatan kokurikuler merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler. Program/kegiatan ini meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain yang dapat menguatkan karakter murid. Sedangkan program/kegiatan ekstrakurikuler adalah program/kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah, dan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian murid.
Nah, sekarang kami ingin Ibu/Bapak mengingat kembali dan melakukan refleksi terhadap pengalaman Ibu/Bapak yang paling berkesan saat terlibat dalam berbagai program/kegiatan sekolah semasa menjadi murid. Refleksi dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Soal 1
Apa kegiatan/programnya?
Your answer:
Kegiatan yang paling berkesan saat itu adalah program penanaman pohon dan pengelolaan taman sekolah. Program ini melibatkan seluruh murid dalam kegiatan menanam dan merawat pohon di sekitar sekolah serta merancang area hijau untuk tempat belajar luar ruangan.
Siapa yang memprakarsai atau menggagas program tersebut
Your answer:
Program ini diprakarsai oleh guru Biologi dan kepala sekolah. Mereka ingin menciptakan lingkungan yang hijau dan memberikan pengalaman belajar nyata tentang ekosistem dan pelestarian lingkungan kepada murid-murid.
Soal 3
Berperan sebagai apa Ibu/Bapak saat itu?
Your answer:
Saya berperan sebagai ketua kelompok kelas. Tugas saya adalah mengkoordinasikan teman-teman sekelas dalam memilih tanaman yang akan ditanam, menjadwalkan perawatan taman, dan memastikan setiap murid berpartisipasi sesuai jadwal yang sudah disepakati.
Peran yang sangat baik dan begitu bermakna
Bagaimana perasaan Ibu/Bapak saat itu?
Your answer:
Saat itu, saya merasa sangat antusias dan bersemangat. Program penanaman pohon dan pengelolaan taman sekolah bukan hanya berbeda dari kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman baru yang menarik. Saya merasa bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan nyata yang bermanfaat untuk lingkungan dan sekolah.
Sebagai ketua kelompok, ada rasa tanggung jawab yang besar untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan semua anggota berpartisipasi. Tentu, ada momen di mana saya merasa tertantang karena harus mengoordinasikan teman-teman, terutama saat terjadi perbedaan pendapat. Namun, justru dari situ saya belajar banyak tentang pentingnya kerja sama dan komunikasi.
Terimakasih telah memberikan gambaran perasaan di saat mengikuti kegiatan ketika masih bersekolah
Mengapa pengalaman tersebut berkesan untuk Ibu/Bapak?
Your answer:
Pengalaman tersebut berkesan karena mengajarkan pentingnya kerjasama, kepemimpinan, dan rasa kepedulian terhadap orang lain. Interaksi yang lebih mendalam dengan teman-teman dan masyarakat membuat saya merasa program ini benar-benar berarti.
Terima kasih atas penyampaian kegiatan yang memiliki kesan sangat bermakna
Apa pembelajaran yang Ibu/Bapak ambil dari kegiatan/ program tersebut?
Your answer:
Pembelajaran utama adalah nilai dari bekerja sama dan belajar saling mendukung untuk mencapai tujuan. Selain itu, saya belajar tentang pentingnya perencanaan yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang efektif.
sangat baik atas pembelajaran yang diambil dari kegiatan yang pernah diikuti ketika bersekolah
Bagaimana pengalaman tersebut berdampak pada Ibu/Bapak sekarang? Apakah berdampak positif atau negatif?
Your answer:
Dampaknya sangat positif. Pengalaman ini mendorong saya untuk selalu peduli terhadap sekitar, serta memahami pentingnya bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai tujuan. Nilai-nilai tersebut masih saya bawa hingga sekarang, terutama dalam berperan sebagai pendidik yang bekerja sama dengan kolega.
pengalaman yang luar biasa sehingga memberikan dampak yang baik terhadap kehidupan yang saat ini sedang dijalani
Harapan
Setelah membaca judul modul dan melakukan refleksi di awal pembelajaran, apa yang tergambar di benak Ibu/Bapak?
Hal apa yang Ibu/Bapak harapkan dapat dipelajari pada modul ini?
Your answer:
Yang tergambar di benak saya adalah bagaimana peran saya sebagai pendidik dapat menginspirasi murid untuk belajar nilai-nilai sosial yang berdampak luas. Saya berharap pada modul ini, saya dapat mempelajari lebih lanjut tentang cara mengelola dan memimpin program-program yang bukan hanya mendukung akademik tetapi juga mengembangkan karakter dan kemampuan sosial murid.
Harapan yang baik, semoga harapan itu bisa terwujud dalam waktu dekat dan di masa yang akan datang
EKSPLORASI KONSEP
3.3.f. Eksplorasi Konsep – Modul 3.3
Pengantar
- Menurut Ibu/Bapak, siapakah yang seharusnya memegang kendali terhadap proses pembelajaran murid?
- Menurut Ibu/Bapak, dalam hal apa saja dan sebagai apa murid dapat mengambil kendali dalam berbagai program/kegiatan pembelajaran sekolah?
- Bagaimana peran dan keterlibatan murid dalam berbagai program/kegiatan pembelajaran sekolah dapat berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat?
- Bagaimana kita dapat melibatkan komunitas dalam mendorong tumbuhnya kepemimpinan murid?
Setelah melakukan refleksi di tahapan pembelajaran yang lalu, selanjutnya mari kita cermati beberapa pertanyaan pemantik di atas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu Ibu/Bapak tulis jawabannya. Jadikan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memprovokasi pemikiran-pemikiran Ibu/Bapak di sepanjang pembelajaran ini. Saat membaca materi yang diberikan di bagian ini, Ibu/Bapak dapat senantiasa kembali lagi ke pertanyaan tersebut.
Kepemimpinan murid
Dari paket modul 1 dan 2 sebelumnya, Ibu/Bapak telah belajar bahwa murid harus menjadi dasar bagi semua pengambilan keputusan yang kita buat di sekolah. Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut?
Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri.
Namun, pernahkah Ibu/Bapak melakukan refleksi dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewasa sering memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan, atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka. Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita secara sengaja menjadi tidak berdaya, dengan secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.
Peran kita adalah:
Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.
Mengurangi kontrol kita terhadap mereka
Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Agency dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) menuliskan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.
IVAR
Lebih lanjut, dalam artikel yang sama Bandura juga menuliskan bahwa ada empat sifat inti dari human agency, yang dalam modul ini kita singkat dengan akronim IVAR untuk memudahkan mengingat, yaitu:
- I – Intensi = Kesengajaan (intentionality). Seseorang yang memiliki agency bukan hanya memiliki sekedar niat, tetapi di dalam niat mereka sudah termasuk rencana tindakan dan strategi untuk mewujudkannya. Orang yang memiliki agency akan memahami bahwa dalam mewujudkan niatnya, ia juga harus mempertimbangkan keinginan pihak lain, sehingga berupaya untuk menemukan niatan bersama dan mengelola kesaling-tergantungan rencana.
- V – Visi = Pemikiran ke depan (forethought). Pemikiran ke depan di sini bukan hanya sekedar rencana yang mengarahkan masa depan. Mereka yang berpikiran ke depan menjadikan visi (representasi kognitif dari visualisasi masa depan) sebagai pemandu dan memotivasi tindakan-tindakan mereka saat ini. Hal ini membuat mereka menjadi individu yang bersemangat dan bertujuan.
- A – Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness). Seseorang yang memiliki agency, bukan hanya seorang perencana dan pemikir ke depan. Mereka juga seorang pengendali diri (self-regulator). Setelah memiliki niat dan rencana, ia tidak akan duduk diam dan menunggu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi aksi atau tindakan yang tepat dan untuk memotivasi serta mengatur eksekusinya.
- R – Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness). Seseorang yang memiliki agency akan memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dirinya. Mereka akan melakukan refleksi terhadap efikasi dirinya, kecemerlangan dan ketepatan pikiran dan tindakannya, dan kebermaknaan dari upaya yang mereka lakukan dalam pencapaian tujuan, serta akan melakukan perbaikan jika diperlukan. Kemampuan metakognitif untuk melakukan refleksi diri sendiri dan kecukupan pemikiran dan tindakan seseorang adalah sifat yang paling jelas dari orang yang memiliki agency.
Istilah Student Agency
Mengingat bahwa kata agency ini belum ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, maka untuk kepentingan pembahasan di dalam modul ini, maka istilah student agency ini selanjutnya akan diterjemahkan sebagai “kepemimpinan murid”.
Murid mendemonstrasikan “student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.
Student Agency OECD
Jika kita mengacu pada OECD (2019:5), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.
Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri. Lewat proses yang seperti ini, murid-murid akan secara alamiah mempelajari keterampilan belajar (belajar bagaimana belajar). Keterampilan belajar ini adalah sebuah keterampilan yang sangat penting, yang dapat dan akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka dan bukan hanya untuk saat ini.
Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat kemitraan ini, saat murid belajar mereka akan:
- berusaha untuk memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapainya
- menunjukkan keterlibatan dalam proses pembelajaran
- menunjukkan tanggung jawab dalam proses pembelajaran
- menunjukkan rasa ingin tahu
- menunjukkan inisiatif
- membuat pilihan-pilihan tindakan
- memberikan umpan balik kepada satu sama lain.
Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar akan:
- berusaha secara aktif mendengarkan, menghormati, dan menanggapi ide-ide, pendapat, pertanyaan, aspirasi dan perspektif murid-murid mereka
- memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan minat murid-murid mereka untuk memastikan proses pembelajaran sesuai untuk mereka
- mendorong murid untuk mengeksplorasi minat mereka dengan memberi mereka tugas-tugas terbuka
- menawarkan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan kreativitas dan mengambil risiko
- mempertimbangkan sejauh mana tingkat bantuan yang harus diberikan kepada murid berdasarkan informasi yang mereka miliki
- menunjukkan minat dan keingintahuan untuk mendengarkan dan menanggapi setiap aktivitas murid untuk memperluas pemikiran mereka.
Untuk lebih memahami konsep kepemimpinan murid, Ibu/Bapak dapat membaca tabel berikut ini


video berikut ini memberikan gambaran tentang kepemimpinan murid (student agency), simak dan perhatikan penjelasannya untuk lebih memahami materi ini.
Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.
Lalu, Apa sebenarnya yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid? Mari kita bahas satu persatu ketiga aspek tersebut:
Klik Tanda Navigasi untuk melihat materi lebih detail
1. Suara (Voice)
Ketika kita berbicara tentang “suara” murid, maka kita sebenarnya bukan hanya berbicara tentang memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat.
Voice (suara) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya. (www.education.vic.gov.au)
Mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.
Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mempromosikan “suara murid”:
- Membangun budaya saling mendengarkan.
- Membangun kepercayaan diri murid agar mereka percaya bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.
- Melibatkan murid dalam memberikan umpan balik terhadap proses belajar yang telah dilakukan.
- Melibatkan murid dalam memberikan umpan balik terhadap berbagai program dan kebijakan-kebijakan sekolah.
- Melibatkan murid dalam perencanaan pembelajaran.
- Melibatkan murid dalam menyusun kriteria penilaian.
- Memberikan kesempatan murid untuk bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi dalam berbagai kesempatan dan proses pembelajaran.
- Mengajak murid untuk mendiskusikan keyakinan kelas dan membuat kesepakatan kelas.
- Membentuk dewan murid atau komite-komite yang anggotanya adalah murid-murid untuk memberikan masukan kepada sekolah terhadap berbagai elemen sekolah lainnya (misalnya lingkungan, fasilitas, kegiatan, kantin, seragam).
- Melibatkan murid untuk memberikan saran tentang alat permainan apa yang mereka inginkan ada di halaman sekolah.
- Memberikan kesempatan murid untuk memberi saran terkait menu yang di jual kantin.
- Membuat kotak saran untuk murid memberikan saran dan masukan tentang sekolah.
- Melakukan kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Mengidentifikasi masalah atau persoalan yang terjadi dalam dunia nyata yang menarik bagi murid dan kemudian memberi kesempatan mereka untuk bekerja sama dan bertukar pikiran tentang strategi dan solusi untuk permasalahan tersebut.
- Membuat blog murid dan majalah dinding untuk menyuarakan aspirasi dan kreativitas murid.
Guru dapat mendorong dan menyediakan “pilihan” bagi murid-murid melalui kegiatan atau aktivitas yang lainnya. Silahkan Ibu/Bapak dapat memikirkan atau mencari referensi contoh lainnya!
2. Pilihan (Choice)
Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran. (marzanoacademies.org). Dalam ranah sosial, murid dapat diberikan kesempatan untuk berada dalam kelompok yang sesuai dengan tujuan atau minatnya; dalam ranah lingkungan, murid dapat diberikan kesempatan untuk memilih atau mengatur tempat belajar yang sesuai untuk mereka. Dalam ranah lingkungan, murid diberikan kesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang paling mendukung untuk mereka belajar secara maksimal. Sementara dalam ranah pembelajaran, murid diberikan pilihan-pilihan untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan penguasaan pengetahuan atau keterampilan dalam kurikulum.
Aiken et al (2016) dalam Thibodeaux et al. (2019), menyimpulkan bahwa memberi pilihan akan memberdayakan murid, mendorong keterlibatan, dan mempromosikan minat dalam pengalaman belajar. Selain itu, memberi peserta didik pilihan dan kepemilikan mensyaratkan bahwa kontrol dalam proses pembelajaran harus diberikan juga kepada murid-murid (Thibodeaux 2017; 2019).
Bandura (1997) juga menegaskan bahwa memberikan murid pilihan juga akan meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (dalam Thibodeaux et al, 2019).
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana guru dapat memberikan murid-murid ‘pilihan’ dalam proses belajar mereka? Ada banyak cara yang dapat dilakukan. Berikut ini adalah beberapa contoh bagaimana guru dapat mendorong dan menyediakan “pilihan” bagi murid-muridnya.
- Membuka cakrawala murid bahwa ada berbagai pilihan atau alternatif yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum menentukan sebuah keputusan.
- Memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program.
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
- Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan.
- Menggunakan musyawarah untuk mengambil keputusan, atau jika memang diperlukan melalui voting, untuk memprioritaskan langkah tindakan atau aktivitas berikutnya. Misalnya saat ingin belajar tentang topik tertentu, guru dapat mendiskusikan dan membuat daftar kegiatan apa saja yang dapat mereka lakukan, kemudian meminta murid untuk memilih mana yang ingin mereka lakukan lebih dulu.
- Mengajak OSIS membuat daftar kegiatan (event), dan memberikan kesempatan untuk memilih mana kegiatan yang ingin mereka lakukan di dalam satu tahun ajaran.
- Memberi kesempatan pada murid untuk menentukan sendiri bentuk penugasan yang mereka inginkan.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mengevaluasi pembelajarannya.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menentukan rencana, jadwal atau agenda dalam melaksanakan pembelajarannya.
Ada banyak lagi contoh lainnya. Dapatkah Ibu/Bapak memberikan contoh lainnya?
3. Kepemilikan (ownership)
Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, ketiga aspek tersebut tentunya perlu didorong oleh guru. Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’ proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan.
Perlu diperhatikan bahwa ketiga aspek ini tidak dapat berada di lingkungan yang tidak terstruktur. Ketiga aspek ini harus disematkan dengan hati-hati dalam lingkungan belajar yang menumbuhkembangkan elemen-elemen tersebut secara otentik. Lingkungan belajar yang seperti ini akan mensyaratkan seluruh anggota komunitas untuk ikut terlibat dalam prosesnya.
Kepemimpinan Murid Profil Pelajar Pancasila

Di dalam modul 1.2, Ibu/Bapak sudah belajar bahwa Profil Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang, sehingga seharusnya menjadi landasan bagi visi sekolah. Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar Pancasila dalam dirinya.
Jika kita telaah lebih lanjut, dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid maka secara bersamaan kita sebenarnya juga sedang membangun karakter murid yang:
Klik Tanda Navigasi untuk melihat materi lebih detail
1. Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia.
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid untuk mengamalkan nilai-nilai agama dan kepercayaannya dalam bentuk sikap-sikap dan tindakan atau perilaku positif. Murid-murid yang memiliki kepemimpinan yang kuat, akan menunjukkan akhlak yang baik terhadap dirinya pribadi, terhadap sesama, negara dan alam ciptaanNya. Mengapa? Ini karena mereka akan tumbuh menjadi murid yang merdeka, yang bukan hanya tidak terperintah saja, namun juga dapat menegakkan diri, serta mengatur kehidupan dirinya sendiri, hubungannya dengan orang lain. dan lingkungan dengan baik. Mereka akan mampu menjunjung nilai-nilai kebajikan universal, seperti cinta kasih sesama manusia, kejujuran, dan sebagainya.
2. Berkebinekaan Global
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan melatih murid-murid kita untuk memiliki pemikiran dan wawasan yang luas dan terbuka. Mereka akan terbiasa untuk melihat perbedaan, menghargai beragam perspektif sehingga diharapkan dapat hidup ditengah-tengah masyarakat yang majemuk. Mereka akan mampu beradaptasi dengan situasi dan perubahan yang dihadapinya, dan mampu menjadi pemecah masalah yang percaya diri dimanapun ia berada
3. Bergotong Royong
Mendorong kepemimpinan murid akan melatih murid untuk terlibat dan berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama dan berkontribusi dalam masyarakat yang lebih luas. Lewat interaksi ini, mereka akan memiliki keinginan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, dan mampu berkolaborasi untuk melakukan tindakan demi kebermanfaatan dan kebahagiaan bersama.
4. Mandiri.
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mendorong murid untuk mengambil kontrol dan bertanggung jawab pada proses pembelajarannya sendiri. Saat kita mendorong kepemimpinan murid, maka kita juga melatih kemampuan mereka untuk meregulasi diri sendiri. Mereka akan dapat menetapkan tujuan dan rencana strategis bagi pengembangan dirinya sendiri sekaligus mampu menunjukkan resiliensi dan kemampuan beradaptasi yang baik dalam berbagai situasi, serta percaya diri bahwa ia mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
5. Bernalar Kritis
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid untuk memiliki kemampuan bernalar kritis karena mereka akan belajar untuk membuat pilihan-pilihan dan membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab. Mereka juga akan berlatih untuk mengembangkan keterampilan refleksi terhadap proses pembelajaran dan belajar dari berbagai situasi yang terjadi lewat interaksi mereka dengan komunitas yang lebih luas.
6. Kreatif
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memungkinkan murid untuk terekspos pada pengalaman belajar otentik yang menuntut mereka untuk mampu melihat permasalahan dan secara kreatif berusaha mencari solusi atas permasalahan tersebut. Mendorong murid untuk bersuara berarti juga membuka ruang bagi sikap berani mengambil risiko, sehingga murid tidak takut untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran kreatif mereka.
Contoh Program atau Kegiatan Sekolah
Untuk lebih memperdalam pemahaman Ibu/Bapak terkait dengan elemen suara, pilihan, dan kepemilikan, serta kaitan antara kepemimpinan murid dengan Profil Pelajar Pancasila, silahkan Ibu/Bapak lihat beberapa contoh program atau kegiatan sekolah yang disajikan dalam narasi situasi dan video berikut ini. Setelah membaca dan menonton, setelah mencermati narasi pada 6 situasi dan 3 video, silakan Ibu/Bapak melakukan refleksi sesuai arahan pertanyaan pada halaman selanjutnya.
Perhatikan video contoh program berikut
Refleksi
Setelah membaca beberapa situasi yang dideskripsikan di atas, lakukan refleksi dengan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Jenis Kegiatan atau program apakah yang dideskripsikan tersebut (Apakah intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler)?
- Dalam setiap situasi, identifikasilah dibagian mana dan bagaimana guru mencoba mempertimbangkan ‘suara’; ‘pilihan’; dan ‘kepemilikan’ murid untuk mendorong tumbuhnya kepemimpinan murid. Jelaskan jawaban Ibu/Bapak.
- Dalam setiap situasi yang digambarkan di atas, apa dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan? Jelaskan jawaban Anda!
Analisis Situasi 1
1. Program tersebut fokus pada penguatan karakter murid terkati pembelajaran jadi menurut saya termasuk ko-kurikuler.
2. Guru mempertimbangkan suara siswa ketika guru mengajukan pertanyaan mengenai usul pemanfaatan lahan.
Pilihan ditunjukkan pada keputusan apa saja yang akan siswa tanam,
dan kepemilikan dapat dilihat dari banyaknya keinginan siswa dalam merawat tanaman yang mereka tanam.
3. menurut saya Gotong Royong adalah dimensi P3 yang dikembangkan.
Analisis Situasi 2
1. Kegiatan yang dideskripsikan pada kasus 2 adalah kegiatan ko-kurikuler, terlihat pada penguatan karakter anak dalam meningkatkan motivasi belajar melalui kelas impian mereka.
2. Guru mempertimbangkan suara anak pada berbagai layout kelas dan mengapresiasi semua yang dipresentasikan.
Pilihan ditunjukkan dengan guru memberikan kesempatan dan peluang untuk semua layout dijadikan opsi atas pilihan bersama.
Kepemilikan ditunjukkan dengan guru mewujudkan pilihan siswa sebagai cerminan kepemilikan mereka yang dilanjutkan dengan kegiatan refleksi sehingga siswa belajar secara bermakna.
3. Dimensi P3 yang dikembangkan menurut saya bergotong royong.
Analisis Situasi 3
1. Program study tour pada situasi 3 merupakan kegiatan ko-kurikuler karena dimanfaatkan untuk pendalaman materi anak-anak.
2. aspek pertimbangan suara tampak saat proses diskusi komite ad-hoc, program studi yang pada beberapa tahun terakhir tidak sesuai dengan pendalaman materi, akhirnya ditemukan berbagai pilihan solusi.
Pertimbangna pilihan tampak pada adanya tiga pilihan tujuan study tour dengan kriteria tertentu.
Kepemilikan tampak pada adanya diskusi mengenai berbagai aspek keamanan, resiko, tantangan, dan kolaborasi yang dilanjutkan dengan kegiatan refleksi sebagai penggambaran aspek kepemilikan.
Analisis Situasi 4
1. Termasuk Program kegiatan ekstrakurikuler yang dijelaskan sesuai deskripsi kegiatan yang bertujuan untuk mengasah keterampilan siswa melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
2. Pada aspek suara tampak Guru menampung berbagai saran dari para siswa yang menjadi pengurus OSIS.
Pilihan tampak Guru memfasilitasi siswa melakukan kegiatan diskusi atas berbagai pertimbangan saran dari siswa.
Kepemilikan tampak pada kegiatan diskusi guru memberikan kesempatan para siswa memutuskan kesepakatan jadwal, kepanitiaan, sumber daya, dan pengorganisasian kegiatan.
3. Dimensi P3 dalam situasi 4 ini menurut saya adalah Mandiri pada elemen “Pemahaman Diri dan Situasi yang dihadapi”, mereka melakukan refleksi terhadap kondisi diri dan situasi, mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan diri serta menggali dan menyadari kebutuhan pengembangan diri yang sesuai.
Analisis Situasi 5
1. Program ini termasuk pada ko-kurikuler karena terintegrasi pada berbagai mata pelajaran yang saling berhubungan.
2. Aspek suara tampak pada guru mempertimbangkan saran siswa dalam menggunakan cacing sutra sebagai pakan ternak hasil kreativitas siswa.
Pilihan tampak guru memberikan para siswa keputusan menyetujui diliput media dan memasoknya sebagai franchise internasional.
Kepemilikan tampak pada guru mempersilakan siswa menggunakan pakan buatan mereka sendiri dan berkolaborasi masyarakat sekitar peternak broiler.
3. Dimensi P3 pada situasi 5 ini menurut saya adalah dimensi Kreatif.
Analisis Situasi 6
1. Program ini merupakan ekstrakurikuler yang bertujuan mengembangkan potensi dan minat siswa dalam bidang komputer jaringan bersama guru sebagai pembimbing.
2. Guru mempertimbangkan Suara murid untuk membentuk suatu ekstrakurikuler berdasarkan minat mereka dengan mempersilakan murid mempresentasikan ide-ide mereka.
Pilihan tampak pada Guru memberikan kesempatan murid mempertimbangkan program berdasarkan anggaran dan peralatan yang tersedia.
Kepemilikan tampak pada Guru memfasilitasi para murid membuka jasa servis komputer dan memperoleh anggaran kegiatan ekstrakurikuler mereka sendiri.
3. Dimensi P3 pada situasi 6 menurut saya adalah bernalar kritis, gotong royong dan mandiri.
Analisis Situasi Video 1
1. Kegiatan dalam video 1 dapat memperkuat karakter anak terhadap pemahaman ekonomi riil sehingga menurut saya termasuk program ko-kurikuler.
2. Aspek Suara tampak saat Guru memberi kesempatan siswa berdiskusi dengan orang tua dan guru sebelum memutuskan mengikuti kegiatan.
Pilihan tampak pada Guru memberi ruang kebebasan murid dalam memilih dan mengambil peran sesuai dengan minat mereka.
Kepemilikan tampak saat para murid sangat antusias dengan peran-peran yang mereka ambil dan bertanggung jawab dengan peran tersebut.
3. Dimensi P3 yang terlihat adalah bernalar kritis, gotong royong dan mandiri.
Analisis Situasi Video 2
1. Situasi video 2 menurut saya termasuk, intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.
2. Pada aspek suara, Sekolah tampak memberi kesempatan para murid mengungkapkan jati diri, minat, hingga tujuan yang ingin dicapai.
Pilihan tampak pada sekolah yang memberi ruang para murid menentukan target semester yang ingin dicapainya, pilihan riset dan penelitian, hingga menentukan narasumber.
Kepemilikan tampak pada murid yang bertanggung jawab atas target dan tujuan yang ditentukannya sendiri.
3. Dimensi P3 yang pada sekolah Alam menurut saya termasuk dimensi gotong royong, kreatif, mandiri berkebhinekaan global dan bernalar kritis.
Analisis Video 3
1. Pada video 3 tampak dua garis besar rancangan kegiatan;
1) mengelola program pembelajaran yang berdampak positif,
2) membangun kemitraan dengan berbagai lintas komunitas.
Menurut saya, kedua kegiatan tersebut telah mencakup intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
2. Aspek suara tampak pada saat Guru memberikan murid kebebasan mengutarakan ide-ide mereka.
Pilihan tampak pada Guru memberikan ruang pada murid dalam memilih pemecahan masalah yang memberikan manfaat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.
Kepemilikan tampak Guru memberikan murid peran sebagai agent of change yang berdampak bagi dirinya, masyarakat dan lingkungan sekitar.
3. Tampak dimensi P3 yang dikembangkan diantaranya Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis.
Lingkungan yang Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Selamat, Anda telah menyelesaikan pembelajaran untuk tahapan ini.
Sekarang, untuk persiapan tahapan pembelajaran selanjutnya, kami ingin Ibu/Bapak meluangkan waktu untuk membaca materi tentang ‘Lingkungan yang Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid’ dan ‘Peran Keterlibatan Komunitas dalam Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid’ di bawah ini. Materi ini akan menjadi dasar bagi bagi Ibu/Bapak saat berdiskusi di Forum Diskusi saat pembelajaran 3 nanti.
Peran Keterlibatan Komunitas dalam Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Dalam modul 3.2, Bapak dan Ibu sudah mempelajari bahwa salah satu dari tujuh aset/modal yang dapat menjadi kekuatan sekolah yaitu aset sosial. Komunitas adalah bentuk dari aset sosial yang dimiliki sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah. Yang dimaksud dengan komunitas di sini dapat terdiri dari murid, guru, orang tua, orang dewasa lain yang ada di sekitar murid, dan masyarakat atau lingkungan sekitar, yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses belajar murid. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sendiri, telah mengamanatkan tentang pentingnya kemitraan antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Kemitraan ini disebut dengan “Tri Sentra Pendidikan”. Kemitraan tri sentra pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi peserta didik. Melalui pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra pendidikan ini, maka keterlibatan yang bermakna dari orangtua dan anggota masyarakat dalam proses pembelajaran menjadi fokus yang perlu terus diupayakan oleh sekolah.
Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
- komunitas keluarga (anggotanya dapat terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh, dsb)
- komunitas kelas dan antar kelas (anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
- komunitas sekolah (anggotanya dapat terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
- komunitas sekitar sekolah (anggotanya dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama setempat, dsb)
- komunitas yang lebih luas. (anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)
Semua komunitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses pembelajaran murid. Komunitas-komunitas tersebut merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah, termasuk dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu dengan bersama-sama ikut mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, kepemilikan’ murid dalam berbagai peran yang mereka mainkan dan interaksi mereka dengan murid.
Bagaimana kita dapat melibatkan masing-masing komunitas tersebut untuk membantu kita mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, kepemilikan’ murid? Mari kita coba bahas satu persatu.
Komunitas yang pertama dan utama bagi murid adalah keluarga mereka. Murid mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga mereka di rumah dibandingkan di sekolah. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita harus berusaha mencari cara bagaimana keluarga dapat ikut mengambil peran untuk ikut mendorong munculnya suara, pilihan, dan kepemimpinan murid. Ini tentunya sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara di bawah ini:
“Sesungguhnya alam-keluarga itu bukannya pusat pendidikan individual saja, akan tetapi juga suatu pusat untuk melakukan pendidikan sosial. Orangtua harus melakukan pendidikan bersama dengan pusat-pusat pendidikan, dan terhubung dengan kaum guru dan pengajar [Ki Hadjar Dewantara dalam Wasita, Tahun ke-1 No.3, Mei 1993]”
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Ibu/Bapak ketika berpikir akan mendorong keterlibatan mereka.
- Sejauh mana orang tua telah memahami visi dan misi sekolah kita terkait dengan upaya kita menumbuhkan kepemimpinan murid? Apakah mereka memahami apa yang kita maksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid (voice, choice, dan ownership)? Apa yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
- Sejauh mana orang tua telah memahami bahwa keluarga merupakan salah satu sentra dari “tri sentra pendidikan”? Bagaimana memastikan visi keluarga dapat menumbuhkan kepemimpinan murid? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa visi keluarga telah sinkron dengan visi sekolah?
- Apakah keterlibatan orangtua dalam program/kegiatan pembelajaran di kelas atau sekolah kita selama ini telah mendorong dan menguatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid, atau justru sebaliknya melemahkannya? (misalnya apakah orang tua justru mengambil peran yang seharusnya dapat dilakukan oleh murid dengan dalih ‘ingin membantu’?)
- Kesempatan-kesempatan apa sajakah yang telah kita berikan kepada orang tua untuk terlibat dalam program/kegiatan pembelajaran (baik intra kurikuler, ko kurikuler, dan ekstra kurikuler) yang kita lakukan di kelas atau sekolah? Sejauh mana kesempatan tersebut ditujukan untuk mendorong suara, pilihan, dan kepemilikan murid dan membantu terwujudnya kepemimpinan murid?
- Apa yang sudah kita lakukan untuk membuat orangtua memahami apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka dalam program/kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas atau sekolah? ( sehingga mereka dapat terlibat dalam percakapan atau komunikasi yang otentik dan relevan dengan anak-anak mereka terkait dengan apa yang sedang dipelajari oleh mereka di sekolah)
Kami berharap, lewat beberapa pertanyaan di atas, Ibu/Bapak dapat lebih ‘mindful’ saat ingin melibatkan orang tua dalam proses/kegiatan pembelajaran di sekolah, agar tujuan kita dalam mewujudkan kepemimpinan murid dapat tercapai.
Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang dapat kita lakukan untuk melibatkan keluarga dalam program/kegiatan pembelajaran murid untuk menumbuhkan kepemimpinan murid

Komunitas kelas dapat terdiri dari murid, guru, atau wali kelas, baik yang ada di kelas murid sendiri maupun di kelas lainnya. Bagaimana guru menavigasi interaksi mereka dengan murid dan interaksi antara murid dengan murid akan sangat mempengaruhi bagaimana suara, pilihan dan kepemilikan murid dapat diwujudkan. Oleh karenanya, peran Ibu/Bapak sangatlah besar disini.
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Ibu/Bapak untuk memikirkan tindakan apa yang dapat dilakukan oleh Ibu/Bapak untuk mendorong dan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid di dalam kelas.
- Apa yang telah saya lakukan untuk mendorong inkuiri/rasa ingin tahu dan kreativitas murid?
- Apakah saya telah memastikan murid memahami apa yang menjadi target dari program/kegiatan pembelajaran mereka? (sehingga murid dapat mengatur dirinya sendiri dan memantau upaya mereka dalam mencapai target tersebut)
- Apa yang telah saya lakukan untuk membantu murid membangun pemahaman mereka sendiri? Apakah saya selalu memberikan jawaban pada murid? Seberapa sering saya mengatakan “Ibu/Bapak juga belum mengetahui jawabannya. Mari kita cari bersama-sama!”
- Apakah saya memberikan ‘wait time’ atau waktu tunggu saat bertanya kepada murid untuk memberikan mereka kesempatan berpikir?
- Sejauh mana saya telah mengkoneksikan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari murid?
- Seberapa sering saya mengajak murid-murid melakukan refleksi?
- Sudahkah saya bertanya tentang apa yang mereka ingin pelajari dan apa yang mereka minati?
- Sejauh mana saya memberi kesempatan murid untuk memilih cara, dengan siapa dan bagaimana mereka belajar?
- Apa yang telah saya lakukan untuk membawa murid keluar kelas/sekolah dan mengkoneksikan mereka dengan masyarakat dan dunia yang lebih luas?
Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang mungkin dapat Ibu/Bapak lakukan untuk untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam lingkup kelas.

Komunitas sekolah di sini adalah pihak-pihak yang aktif berkegiatan di sekolah (mungkin tidak berada di kelas setiap hari ), namun ada dalam hidup keseharian sekolah serta murid-murid di sekolah. Kepala sekolah, konselor, staf administrasi, tukang parkir, pustakawan, Ibu/Bapak kantin, penjaga sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, anggota yayasan serta lainnya adalah contoh anggota komunitas sekolah. Walaupun mereka tidak secara langsung mengajar murid di kelas atau terlibat dalam program/kegiatan pembelajaran secara langsung setiap harinya, namun peran dan apa yang mereka lakukan mempengaruhi proses belajar murid. Mempertimbangkan peran mereka dalam mendorong suara, pilihan dan kepemilikan murid akan membantu kesuksesan upaya kita dalam menumbuhkan kepemimpinan murid.
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Ibu/Bapak untuk memikirkan bagaimana Ibu/Bapak dapat melibatkan mereka dalam mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid di dalam berbagai program/kegiatan pembelajaran di kelas dan sekolah.
- Sejauh mana anggota komunitas sekolah (misalnya tukang parkir, satpam, penjaga kantin, pustakawan, tenaga kebersihan) telah memahami visi dan misi sekolah kita terkait dengan upaya kita menumbuhkan kepemimpinan murid? Apakah mereka memahami apa yang kita maksud dengan suara, pilihan dan kepemilikan murid? mengapa pemahaman mereka menjadi penting? Apa yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
- Apakah saya mengetahui apa saja yang dapat pustakawan sekolah saya kontribusikan untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid? Seberapa sering saya mengajak pustakawan terlibat dalam proses perencanaan program/kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah saya?
- Bagaimana tenaga kependidikan, dari mulai tukang parkir, satpam, sampai penjaga kantin dapat saya dorong untuk membantu membangun lingkungan belajar yang positif dan menghargai suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
- Bagaimana saya dapat melibatkan mereka untuk membantu mengoneksikan murid-murid saya dengan dunia di luar kelas mereka sehingga murid-murid dapat memperluas pembelajaran mereka dan mewujudkan suara serta pilihan mereka?
Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang mungkin dapat Ibu/Bapak lakukan untuk untuk melibatkan komunitas sekolah untuk membantu menumbuhkan kepemimpinan murid. Dapatkah Ibu/Bapak memberikan contoh lainnya?

Komunitas sekitar sekolah adalah komunitas yang berada di luar sekolah namun masih dalam lingkup sekitar sekolah, atau yang dapat kita sebut sebagai masyarakat. Dalam komunitas ini termasuk apa dan siapa pun yang berada dalam radius yang dekat dengan sekolah, misalkan: tempat ibadah, rumah sakit, warung, usaha di dekat sekolah, bisnis yang terkait dengan operasional sekolah (provider ATK, dan lainnya), perusahaan di mana orang tua bekerja, hingga keluarga besar dari tiap murid atau orang tua. Mereka mungkin tampak tidak ada kaitannya dengan program/kegiatan pembelajaran murid di kelas atau sekolah kita, namun memiliki potensi untuk mendorong suara, pilihan, dan kepemilikan murid karena peranan yang dapat mereka mainkan.
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Ibu/Bapak untuk memikirkan bagaimana melibatkan komunitas sekitar sekolah untuk membantu mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid.
- Apakah saya mengetahui isu-isu yang sedang terjadi di dalam masyarakat yang ada di sekitar sekolah? Bagaimana saya dapat mengetahuinya?
- Bagaimana saya dapat membawa isu-isu tersebut ke dalam kelas dan mentrasnformasikannya menjadi wahana untuk mewujudkan suara, pilihan dan kepemilikan murid?
- Bagaimana saya dapat membuka ruang dialog dengan masyarakat sekitar sehingga saya dapat mengomunikasikan harapan saya tentang kepemimpinan murid yang ingin saya wujudkan di diri murid-murid saya?
Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang mungkin dapat Ibu/Bapak lakukan untuk untuk melibatkan komunitas sekitar sekolah untuk membantu menumbuhkan kepemimpinan murid. Dapatkah Ibu/Bapak memberikan contoh lainnya?

Komunitas yang terakhir adalah komunitas yang jauh dari sekolah namun berpeluang dan mampu mempengaruhi sekolah. Media massa (lokal, nasional, regional, dunia), media sosial, universitas, pemerintah (daerah, pusat), ormas, parpol, dunia usaha, dunia industri, dan lainnya merupakan contoh dari komunitas yang lebih luas.
Walaupun komunitas ini mungkin tidak langsung berinteraksi dengan murid-murid kita, namun keberadaan mereka mungkin dirasakan anak-anak atau mempengaruhi anak-anak. Contoh, meskipun mereka tidak berinteraksi langsung dengan para youtuber, namun apa yang dilakukan oleh youtuber dan pendapat-pendapat mereka mungkin mempengaruhi anak-anak. Oleh karena itu, peran mereka dalam membantu mewujudkan kepemimpinan murid yang mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid bisa menjadi signifikan.
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Ibu/Bapak untuk secara kritis memikirkan bagaimana dapat melibatkan komunitas yang lebih luas untuk membantu mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid voice, choice, dan ownership.
- Siapa sajakah yang termasuk dalam komunitas yang lebih luas ini? Bagaimana mereka dapat secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh dalam program/kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah?
- Apakah memungkinkan bagi saya untuk melibatkan mereka secara langsung dalam program/kegiatan pembelajaran yang saya lakukan di kelas/sekolah saya?
- Jika tidak memungkinkan mengundang dan melibatkan komunitas yang lebih luas ini secara langsung dalam pembelajaran di kelas, bagaimana saya dapat memanfaatkan konten atau produk, dari komunitas ini (misalnya berita terkini, artikel, jurnal penelitian, peraturan, kebijakan) dan membawanya ke kelas/sekolah untuk memunculkan inkuiri murid-murid saya?
- Komunikasi seperti apa yang harus saya lakukan untuk mendorong keterlibatan?

Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya murid-murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan. Mereka akan berusaha menciptakan kesempatan-kesempatan yang mendorong tumbuhnya dan berkembangnya berbagai sikap dan keterampilan-keterampilan penting dalam diri murid, misalnya sikap percaya diri, mandiri, kreatif, gigih, keterampilan berpikir kritis, dalam berbagai interaksi yang mereka lakukan dengan murid, sehingga murid akan senantiasa merasa didukung, berdaya, dan memiliki efikasi diri yang tinggi.
Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid karena:
- membantu menyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.
- membantu murid untuk belajar melihat dan merasakan dampak dari pilihan dan suara yang dibuatnya.
- membantu membentuk identitas diri dan efikasi diri murid yang lebih kuat.
- membantu murid untuk dapat tumbuh menjadi agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap diri sendiri, orang lain, masyarakat serta lingkungan di sekitarnya.
Kita dapat melibatkan lintas komunitas tersebut dalam proses pembelajaran murid. Namun, yang perlu diingat, jika kita ingin keterlibatan mereka dapat membantu mewujudkan kepemimpinan murid, maka keterlibatan mereka harus dapat mendorong aspek suara, pilihan dan kepemilikan murid. Jangan sampai keterlibatan komunitas justru membuat ketiga aspek tersebut menjadi berkurang.
Untuk dapat mempromosikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid dengan komunitas:
- Membangun suasana yang menghargai murid. Hal ini agar dalam interaksinya dengan komunitas, murid akan senantiasa merasa disambut. dipercaya, dan aman secara fisik dan emosional.
- Mendengarkan murid. Agar dapat tercipta sikap saling memahami dan saling percaya, maka perlu ada upaya untuk mendengarkan murid dengan tulus dan penuh perhatian. Terkadang mungkin tidak mudah melakukan hal ini karena tidak semua anak-anak mampu mengekspresikan apa yang ada dipikirannya dengan jelas. Perlu adanya kesabaran dan empati dari komunitas.
- Dialog atau komunikasi dengan murid. Saat membangun pemahaman, murid akan mengkonstruksi pemahamannya melalui proses refleksi dari pengalaman interaksinya dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Oleh karenanya, berkomunikasi dengan murid secara demokratis dan setara menjadi penting. Komunikasi ini harus bersifat dua arah dan bersifat dialog dengan murid, dan bukan bersifat orang dewasa yang ‘memberi perintah’ kepada murid. Dengan meluangkan waktu untuk berdialog dan menanggapi gagasan murid tentang tindakan mereka, akan membantu murid untuk sampai pada pemahaman.
- Menempatkan murid dalam kursi pengemudi. Dalam proses pembuatan keputusan, komunitas dapat memberikan saran atau mendorong ide-ide murid, namun pada akhirnya perlu memastikan bahwa murid lah yang akan mengambil keputusan.
Setelah membaca materi di atas, kami berharap Ibu/Bapak mulai dapat memahami agar program sekolah dapat berdampak positif pada murid, maka kita harus dapat meningkatkan kesempatan untuk mendorong kepemimpinan murid di dalam setiap tahapan pengelolaan program atau kegiatan (baik saat tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program atau kegiatannya). Dan untuk dapat melakukan ini dengan efektif, sekolah perlu mendorong keterlibatan komunitas
Mendorong kepemimpinan murid akan memperbesar peluang kita untuk memberikan kesempatan bagi murid-murid kita untuk belajar tentang berbagai keterampilan-keterampilan penting, yang dapat digunakan lintas disiplin, dan akan berguna bagi kehidupannya kelak. Keterampilan-keterampilan yang akan membantu mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mendorong kepemimpinan murid juga akan menumbuhkan efikasi diri yang kuat, sehingga diharapkan mereka akan percaya diri dan mampu membuat perubahan positif bagi dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya. Mereka akan dapat tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

3.3.f.1. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep – Modul 3.3
Pertanyaan Pemantik
- Apa hal yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam menyusun program/kegiatan yang berdampak pada murid?
- Seperti apakah gambaran program/kegiatan yang dapat mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
- Lingkungan seperti apa yang menurut Bapak/Ibu dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid?
- Apa yang dapat kita lakukan untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid? Siapa saja yang perlu dilibatkan?
- Bagaimana keterlibatan komunitas dapat membantu menumbuhkembangkan kepemimpinan murid?
Selamat datang di tahapan pembelajaran 3 dari rangkaian pembelajaran di modul 3.3 ini. Dalam tahapan ini, Bapak/Ibu akan lebih memperdalam pemahaman tentang konsep kepemimpinan murid lewat forum diskusi dengan CGP lain.
Di tahapan ini, kami ingin Ibu/Bapak mengingat kembali contoh-contoh situasi pembelajaran yang telah diberikan di tahapan pembelajaran sebelumnya, kemudian cobalah untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan di bawah ini:
- Menurut Ibu/Bapak, karakteristik lingkungan belajar mana (jika mengacu kepada 7 karakteristik lingkungan yang telah dipelajari sebelumnya), yang dibangun oleh guru dalam setiap situasi pembelajaran tersebut?
- Apa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dikembangkan di dalam lingkungan belajar seperti itu?
- Kaitkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang dikembangkan tersebut dengan profil pelajar Pancasila di dalam diri siswa.
Catatan: Bapak/Ibu tidak perlu mengunggah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, Ini lebih kepada refleksi pribadi Ibu/Bapak setelah membaca materi tersebut.
Sekarang, saatnya Ibu/Bapak masuk dalam forum diskusi. Melalui forum diskusi ini, kami ingin Ibu/Bapak mulai mencoba menghubungkan praktik-praktik yang sudah Ibu/Bapak lakukan saat ini dengan materi-materi yang telah dipelajari sejauh ini.
Di dalam forum diskusi ini, Ibu/Bapak akan mendiskusikan sebuah program atau kegiatan sekolah. Namun, agar lebih jelas prosesnya, mohon perhatikan tahapan-tahapan berikut ini:
- Fasilitator akan mengelompokkan Ibu/Bapak menjadi beberapa kelompok yang akan membentuk sebuah forum diskusi secara asinkron.
- Setiap kelompok hanya akan mendiskusikan sebuah program atau kegiatan sekolah.
- program atau kegiatan sekolah yang akan didiskusikan dapat berupa program atau kegiatan sekolah yang sudah/sedang dijalankan oleh salah satu anggota kelompok di sekolahnya.
- Silahkan menentukan siapa anggota kelompok yang bersedia program atau kegiatan sekolahnya didiskusikan.
- Anggota kelompok yang bersedia tersebut kemudian harus memposting di LMS nama program/kegiatan yang akan didiskusikan. Postingan inilah yang harus dikomentari dan didiskusikan oleh anggota kelompok lainnya dalam bentuk thread atau rangkaian percakapan di LMS.
- Saat thread (alur percakapan) diskusi kelompok dimulai, anggota kelompok yang program atau kegiatan sekolahnya didiskusikan tersebut harus menanggapi pertanyaan-pertanyaan awal yang diajukan oleh rekan-rekan sekelompoknya (karena dialah yang mengetahui kegiatan/program tersebut). Namun demikian, setelah diskusi mulai berjalan dan ide-ide baru mulai terbentuk, anggota kelompok yang lain dapat ikut menanggapi, menjawab pertanyaan yang diajukan selanjutnya.
- Poin-poin yang harus didiskusikan diantaranya adalah sebagai berikut:
- Jenis program atau kegiatannya. Apakah program atau kegiatan tersebut termasuk dalam intrakurikuler, kokurikuler, atau ekstrakurikuler.
- Karakteristik lingkungan yang dikembangkan oleh guru/sekolah di dalam program atau kegiatan tersebut (dengan mengacu kepada 7 karakteristik lingkungan yang telah dipelajari sebelumnya).
- Sejauh mana aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid dipromosikan atau didorong dalam kegiatan atau program tersebut.
- Karena diskusi ini bertujuan untuk mengembangkan ide dan pemahaman bersama, maka setiap orang diharapkan dapat fokus pada percakapan yang terjadi dalam thread (alur percakapan) diskusi daring ini. Jangan hanya sekali memberikan komentar lalu sudah. Setiap orang perlu berasumsi bahwa mereka akan mempelajari sesuatu dalam setiap percakapan tertulis yang ada di LMS tersebut. Oleh karena itu, setiap orang:
- perlu memberikan pertanyaan. Saat bertanya, hindari pertanyaan yang bisa dijawab dengan ya atau tidak tanpa perlu menjelaskan jawaban secara rinci.
- perlu memperhatikan komentar/pertanyaan yang ditulis oleh anggota kelompok mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanggapi komentar, memberikan pertanyaan lanjutan, menyampaikan gagasan, dsb.
- Setelah selesai melakukan diskusi kelompok, lakukanlah refleksi pribadi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Refleksi ini dapat menjadi pemenuhan tagihan jurnal refleksi mingguan Anda:
- Apa yang telah Ibu/Bapak pahami tentang konsep kepemimpinan murid (student agency)
- Bagaimana Ibu/Bapak dapat mendorong dan mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di kelas Ibu/Bapak?
- Hal konkret apa yang akan Ibu/Bapak lakukan, sesuai dengan konteks keadaan nyata yang dihadapi (pikirkan aset-kekuatan yang dimiliki), untuk mewujudkan 7 karakteristik lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah Ibu/Bapak?
Jawaban
- Hal paling penting dalam menyusun program atau kegiatan yang berdampak pada murid adalah memastikan bahwa program tersebut relevan dengan kebutuhan dan minat murid serta mendukung perkembangan mereka secara holistik, baik dari segi akademik, sosial, emosional, maupun keterampilan hidup. Program harus dirancang untuk menginspirasi dan memotivasi murid, dengan metode pembelajaran yang aktif, inklusif, dan mendorong partisipasi. Selain itu, penting untuk memperhitungkan keberlanjutan dampak program dengan menyediakan dukungan jangka panjang, evaluasi berkala, dan pelibatan orang tua serta komunitas sebagai bagian dari proses pembelajaran.
- Program atau kegiatan yang mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid biasanya berfokus pada memberi murid kesempatan untuk berperan aktif dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Misalnya, kegiatan proyek berbasis minat atau project-based learning (PBL) yang memungkinkan murid memilih topik atau masalah yang ingin mereka eksplorasi dan solusi yang ingin mereka kembangkan. Dalam proses ini, murid dapat menyampaikan ide, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Program juga bisa mencakup elemen refleksi di mana murid secara rutin mengevaluasi progres mereka, memberikan masukan pada kegiatan yang mereka ikuti, dan menentukan tujuan belajar pribadi. Dengan cara ini, murid merasa memiliki tanggung jawab atas pembelajaran mereka dan termotivasi untuk lebih terlibat serta berkontribusi aktif, sehingga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap proses dan hasil belajar.
- Lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan yang aman, inklusif, dan suportif, di mana murid merasa dihargai serta didorong untuk berani berekspresi dan mengambil inisiatif. Lingkungan ini memberikan ruang bagi murid untuk berlatih kepemimpinan melalui peran-peran yang nyata, seperti ketua proyek, anggota tim, atau fasilitator dalam kegiatan belajar dan ekstrakurikuler. Penting juga adanya budaya kolaborasi, di mana setiap murid diberi kesempatan untuk mendengarkan dan didengarkan, saling belajar, dan menghargai perbedaan. Dengan dukungan dari guru sebagai mentor, lingkungan ini mendorong murid untuk berani mengambil tanggung jawab, berani menghadapi tantangan, dan belajar dari kegagalan serta keberhasilan, sehingga keterampilan kepemimpinan mereka berkembang secara alami.
- Untuk menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, kita perlu membangun budaya yang mendukung inisiatif, kolaborasi, dan tanggung jawab. Pertama, guru dapat merancang kegiatan yang memungkinkan murid berperan sebagai pemimpin, baik melalui proyek kelompok, diskusi kelas, maupun program mentoring di mana murid lebih senior membimbing yang lebih muda. Pemberian kesempatan untuk berbicara, berdebat, dan menyampaikan ide di depan kelas juga dapat memperkuat rasa percaya diri mereka. Selain itu, sekolah dapat mengembangkan program ekstrakurikuler atau klub di mana murid dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan kegiatan.
Penting juga untuk melibatkan orang tua agar mereka mendukung dan menghargai peran serta kepemimpinan anak di rumah dan di sekolah. Pihak sekolah, seperti kepala sekolah dan staf, perlu menciptakan kebijakan dan lingkungan fisik yang mendorong kreativitas dan kebebasan berekspresi. Dukungan komunitas sekitar, termasuk organisasi lokal, juga dapat memperkaya pengalaman kepemimpinan murid dengan memberikan mereka peran dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan di luar sekolah. Melalui sinergi ini, murid akan merasa didukung untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka di berbagai situasi.
- Keterlibatan komunitas dapat memberikan pengalaman langsung yang sangat berharga bagi murid dalam mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Ketika komunitas, seperti organisasi sosial, lembaga budaya, atau usaha lokal, membuka kesempatan bagi murid untuk terlibat dalam kegiatan nyata—misalnya, proyek lingkungan, acara sosial, atau program pengembangan keterampilan—murid dapat mempraktikkan kepemimpinan dalam konteks yang lebih luas di luar sekolah. Partisipasi ini mengajarkan mereka bagaimana berinteraksi dan bekerja sama dengan berbagai kalangan, mengambil keputusan yang berdampak sosial, serta menghadapi tantangan dunia nyata. Selain itu, komunitas dapat menjadi mentor atau memberi inspirasi melalui tokoh-tokoh yang memiliki kepemimpinan kuat. Dengan dukungan komunitas, murid belajar memikul tanggung jawab, melihat hasil dari tindakan mereka, dan memahami nilai kontribusi bagi masyarakat, yang memperkaya serta memperkuat jiwa kepemimpinan mereka.
Contoh Program Sekolah
Nama Program: tentang sekolah hijau (tengsau)
Deskripsi Proyek:
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan murid dan komunitas sekolah dengan menciptakan area hijau serta program daur ulang di lingkungan sekolah. Proyek ini dirancang, dikelola, dan dieksekusi oleh murid, dengan fokus pada kebersihan, pengurangan sampah plastik, dan penghijauan di sekolah.
Tahap Pelaksanaan Proyek:
- Penentuan Tujuan (Kebebasan Memilih dan Suara Murid)
- Murid memilih untuk fokus pada isu lingkungan setelah mengidentifikasi bahwa banyak area sekolah yang masih kurang hijau dan terdapat banyak sampah plastik yang tidak terkelola.
- Mereka memutuskan untuk membuat kebun mini di sekolah, memperkenalkan sistem daur ulang sampah, dan menyusun program edukasi lingkungan.
- Perencanaan Proyek (Rasa Kepemilikan dan Tanggung Jawab)
- Murid membagi diri dalam beberapa tim dengan tugas berbeda, seperti tim penghijauan, tim daur ulang, dan tim edukasi.
- Mereka merancang layout kebun mini, menentukan jenis tanaman yang akan ditanam, dan membuat jadwal penyiraman serta perawatan.
- Tim daur ulang bertanggung jawab untuk membuat titik pengumpulan sampah yang dipisahkan (plastik, kertas, organik), dan memastikan sampah tersebut dapat didaur ulang.
- Tim edukasi menyusun materi kampanye yang akan disampaikan kepada seluruh siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan.
- Implementasi Proyek (Kepemimpinan dan Tanggung Jawab)
- Setiap tim melaksanakan tugas mereka: tim penghijauan memulai penanaman, tim daur ulang mengatur lokasi titik pengumpulan sampah, dan tim edukasi membuat poster dan mengadakan presentasi singkat di setiap kelas.
- Murid juga berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mendapat izin dan mendatangkan dukungan dari guru dan orang tua, termasuk bantuan bibit tanaman dari dinas lingkungan setempat.
- Refleksi dan Evaluasi (Suara Murid dan Tanggung Jawab)
- Setelah proyek berjalan selama beberapa bulan, setiap tim mengevaluasi kemajuan dan tantangan yang dihadapi.
- Mereka mengadakan sesi refleksi untuk membahas dampak proyek, baik dari segi kebersihan sekolah maupun respons siswa lain terhadap kebijakan daur ulang dan penghijauan.
- Mereka juga memberikan saran untuk kelanjutan proyek di masa mendatang, seperti menambah area hijau atau membuat lebih banyak titik daur ulang.
- Presentasi dan Apresiasi (Rasa Kepemilikan)
- Murid mempresentasikan hasil kerja mereka di acara sekolah, memperlihatkan foto-foto perkembangan kebun mini dan dampak pengurangan sampah plastik.
- Pihak sekolah memberikan apresiasi atas kerja keras mereka, dan murid merasa bangga dengan proyek yang telah mereka ciptakan dan jalankan.
Dampak yang Diharapkan:
Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan murid, memperkuat rasa tanggung jawab terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta menanamkan nilai kepemimpinan dan kerja sama. Selain itu, proyek ini menciptakan lingkungan sekolah yang lebih hijau dan bersih, mencerminkan kepedulian murid terhadap komunitasnya.