Modul 1.4. Budaya Positif

PENDAHULUAN

Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak

Sekarang Anda berada pada modul ‘Budaya Positif’. Kami yakin Bapak/Ibu yang telah bertahun-tahun mengajar, mendampingi murid-murid tumbuh dan berkembang, menyadari bahwa budaya positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar Pancasila. 

Kita telah belajar bersama tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak. Dalam modul ini Bapak dan Ibu akan memahami pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid untuk membantu Bapak dan Ibu mencapai visi guru penggerak.  Bapak dan Ibu akan mempelajari bagaimana peran seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid.

Dalam membangun budaya positif tersebut, kita akan meninjau lebih dalam tentang strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Anda akan diajak melakukan refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan Anda. Bagaimanakah strategi Anda  dalam praktik disiplin tersebut? Apakah selama ini Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman? Di mana kita menarik garis pembatas? 

Modul ini juga akan mengajak Anda untuk memikirkan kembali kebutuhan-kebutuhan dasar yang sedang dibutuhkan seorang murid pada saat mereka berperilaku tidak pantas, serta strategi apa yang perlu diterapkan yang berpihak pada murid. Selanjutnya Anda akan mengeksplorasi suatu posisi dalam penerapan disiplin, yang dinamakan ‘Manajer’ serta bagaimana seorang ‘Manajer’ menjalankan pendekatan disiplin yang dinamakan Restitusi. Di sini Anda akan mendalami bagaimana pendekatan Restitusi fokus untuk mengembangkan motivasi intrinsik pada murid yang selanjutnya dapat menumbuhkan murid-murid yang bertanggung jawab, mandiri, dan merdeka. 

Modul 1.4 ini pun selaras serta memiliki keterkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan khususnya di Standar Kompetensi Kelulusan, Standar Pengelolaan Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Proses. Dalam rangka menciptakan budaya positif, penerapan disiplin positif dipraktikkan untuk menghasilkan murid-murid  yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin sekolah hendaknya berjiwa kepemimpinan serta dapat mengembangkan sekolah dengan baik yaitu dengan menciptakan lingkungan yang positif sehingga terwujud suatu budaya positif. Demikian juga dengan warga sekolahnya; setiap guru dan tenaga kependidikan memiliki kompetensi standar minimal di mana mereka memiliki kesamaan visi serta nilai-nilai kebajikan yang dituju, serta berupaya mewujudkannya dalam pembelajaran yang aplikatif yang mengupayakan pemberdayaan murid agar dapat menjadi pemelajar sepanjang hayat. 

Pada akhirnya modul ini diharapkan dapat menjadi suatu pembelajaran, tempat berproses, wadah untuk berdiskusi, dan menumbuhkan semangat untuk menggali dan mengembangkan potensi anak-anak Indonesia yang berkarakter kuat, mandiri, dan merdeka. Teruslah menjadi penggerak bagi guru, murid, serta segenap tatanan komponen sekolah untuk memajukan pendidikan di Indonesia.  

Selamat belajar! 

Tim Instruktur Modul 1.4.

2.1 Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal

CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol. CGP juga diharapkan dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.

2.2 Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

CGP dapat menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Selain itu, CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri.

2.3 Keyakinan Kelas

CGP dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. CGP juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.

Forum Komunikasi Fasilitator

Menanamkan budaya positif di sekolah memiliki berbagai tujuan penting yang dapat berdampak signifikan pada perkembangan akademik, emosional, dan sosial siswa serta kesejahteraan keseluruhan komunitas sekolah. Berikut adalah beberapa tujuan utama:

  1. Meningkatkan Prestasi Akademik:
    • Budaya positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, memperbaiki konsentrasi, dan meningkatkan hasil akademik.
    • Lingkungan yang mendukung dapat mengurangi stres dan kecemasan yang sering menghambat prestasi belajar.
  2. Membangun Karakter dan Nilai Moral:
    • Mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat membantu siswa mengembangkan karakter yang baik.
    • Membantu siswa menjadi individu yang etis dan berintegritas, siap menghadapi tantangan hidup dengan sikap positif.
  3. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman:
    • Lingkungan yang positif mempromosikan rasa aman dan nyaman bagi semua siswa, mengurangi kejadian bullying dan kekerasan.
    • Siswa merasa lebih diterima dan dihargai, yang mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah.
  4. Meningkatkan Kesejahteraan Emosional dan Sosial:
    • Budaya positif mendukung kesejahteraan emosional siswa dengan menyediakan dukungan sosial dan emosional yang mereka butuhkan.
    • Membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial, seperti kerjasama, komunikasi, dan empati.
  5. Memperkuat Hubungan Antara Siswa, Guru, dan Orang Tua:
    • Budaya sekolah yang positif memperkuat hubungan yang saling menghormati dan mendukung antara siswa, guru, dan orang tua.
    • Mendorong partisipasi orang tua dalam proses pendidikan dan memperkuat komunitas sekolah.
  6. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Sosial:
    • Budaya positif dapat mendorong siswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan, mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
    • Membantu siswa memahami pentingnya kontribusi mereka terhadap kebaikan bersama.
  7. Meningkatkan Kedisiplinan dan Kepatuhan:
    • Dengan adanya budaya yang positif, siswa cenderung lebih disiplin dan patuh terhadap aturan sekolah karena mereka merasa bagian dari komunitas yang peduli.
    • Kedisiplinan yang muncul dari rasa tanggung jawab dan bukan dari rasa takut terhadap hukuman lebih berkelanjutan.
  8. Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi:
    • Lingkungan yang positif dan mendukung memungkinkan siswa untuk mengekspresikan diri mereka secara kreatif dan mengembangkan ide-ide inovatif tanpa takut dihakimi.
    • Mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Dengan menanamkan budaya positif di sekolah, tujuan-tujuan ini dapat dicapai, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan holistik siswa dan komunitas sekolah yang harmonis dan produktif.

MULAI DARI DIRI

Pengantar

Bapak dan Ibu calon guru penggerak,

Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, dan 1.3, tentunya saat ini Anda sudah memahami bahwa sebagai seorang guru, Anda diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur.  Anda akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa,

“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937)

Dari uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian,  karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif.

Cobalah amati lingkungan sekolah Anda sendiri saat ini, bagaimana suasananya? Bagaimana murid-murid saling berinteraksi, bagaimana guru saling bertegur sapa, bagaimana guru menyapa murid, bagaimana guru menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik antar murid? Suasana atau budaya yang berkembang di sekolah Anda saat ini, secara tidak langsung menjadi cermin dari tujuan mulia atau nilai-nilai yang sekolah atau institusi Anda anut dan yakini selama ini. Untuk itulah menciptakan lingkungan positif agar terbentuk suatu budaya positif adalah suatu proses perjalanan pendidikan yang harus kita jalani, karena ini merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Suatu lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran. Perlu diingat, selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Dan salah satu tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah menghilangkan atau ‘mencabut’ gangguan-gangguan yang menghalangi proses pengembangan potensi murid.

Pertanyaan 1

Bapak dan Ibu calon guru penggerak,

Untuk memulai pembelajaran di modul budaya positif ini, marilah melakukan pengamatan, dan berefleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan  berikut:

Apa pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan Anda?

Menciptakan suasana positif di lingkungan Sekolah Saya, terutama dalam konteks pendidikan sebagai seorang guru penggerak, dalam pandangan Saya memiliki banyak manfaat yang signifikan. Berikut beberapa alasan mengapa hal ini penting:

  1. Meningkatkan Keterlibatan dan Motivasi: Suasana positif dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa cenderung lebih antusias dan termotivasi untuk belajar ketika mereka merasa didukung dan dihargai. Ketika siswa merasa nyaman dan aman, mereka lebih mampu berkonsentrasi dan mengembangkan kemampuan mereka secara optimal.
  2. Mendorong Kreativitas dan Inovasi: Suasana yang positif dan mendukung dapat mendorong kreativitas dan inovasi. Siswa merasa bebas untuk mengekspresikan ide-ide mereka tanpa takut akan kritik atau penolakan.
  3. Membangun Rasa Percaya Diri: Ketika siswa merasa didukung dan diterima, mereka lebih percaya diri dalam kemampuan mereka. Ini dapat membantu mereka menghadapi tantangan dengan lebih baik dan mengembangkan sikap positif terhadap pembelajaran seumur hidup.
  4. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kolaboratif: Suasana positif mendorong kolaborasi dan kerja sama antar siswa. Ini dapat meningkatkan pembelajaran kolaboratif dan keterampilan sosial, yang penting dalam kehidupan sehari-hari dan karier mereka di masa depan.
  5. Meningkatkan Prestasi Akademik: Penelitian menunjukkan bahwa suasana yang positif di sekolah dapat berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik. Siswa yang merasa dihargai dan didukung cenderung mencapai hasil yang lebih baik dalam ujian dan tugas-tugas akademik.

Sebagai seorang guru penggerak, menciptakan suasana positif di lingkungan Sekolah adalah langkah penting untuk memastikan bahwa siswa dapat belajar dan berkembang dengan cara yang paling efektif dan menyenangkan.

Pertanyaan 2

Sebagai seorang pendidik dan/atau pimpinan sekolah, bagaimana Anda dapat menciptakan suasana positif di lingkungan Anda selama ini?

Sebagai seorang pendidik, menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah adalah proses yang melibatkan berbagai strategi dan pendekatan. Berikut beberapa langkah yang telah Saya jalankan untuk mencapai hal ini:

  1. Membangun Hubungan yang Baik dengan Siswa:
    • Mengenal siswa secara pribadi, memahami kebutuhan, minat, dan tantangan mereka.
    • Menunjukkan empati dan peduli terhadap kesejahteraan mereka.
  2. Mendorong Komunikasi Terbuka:
    • Membuka saluran komunikasi yang terbuka dan jujur antara guru dan siswa.
    • Mendorong siswa untuk berbicara dan berbagi pendapat mereka tanpa takut akan penilaian.
  3. Memberikan Penguatan Positif:
    • Memberikan pujian dan penghargaan atas prestasi dan usaha siswa, sekecil apapun itu.
    • Menyoroti kekuatan dan kelebihan siswa daripada hanya fokus pada kelemahan mereka.
  4. Menciptakan Lingkungan yang Inklusif:
    • Memastikan semua siswa merasa diterima dan dihargai, tanpa memandang latar belakang mereka.
    • Memfasilitasi kegiatan yang mendorong kolaborasi dan kebersamaan di antara siswa.
  5. Menggunakan Metode Pembelajaran yang Menarik:
    • Menggunakan berbagai metode pengajaran yang interaktif dan menyenangkan untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
    • Mengintegrasikan teknologi dan media lain yang relevan untuk membuat pelajaran lebih menarik.
  6. Memberikan Dukungan Emosional:
    • Menyediakan dukungan dan bimbingan bagi siswa yang mengalami masalah pribadi atau akademik.
    • Menjadi pendengar yang baik dan memberikan saran yang konstruktif.
  7. Mengatur Kelas yang Nyaman dan Menyenangkan:
    • Menata ruang kelas agar nyaman dan kondusif untuk belajar.
    • Menggunakan dekorasi yang inspiratif dan positif.
  8. Mengajarkan Nilai-nilai Positif:
    • Mengintegrasikan nilai-nilai seperti kerjasama, toleransi, dan rasa hormat dalam kurikulum dan interaksi sehari-hari.
    • Menjadi teladan dalam perilaku positif dan etika kerja.
  9. Menyelenggarakan Kegiatan Ekstrakurikuler:
    • Mengorganisir kegiatan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka di luar kelas.
    • Mendorong partisipasi dalam kegiatan yang membangun kebersamaan dan semangat tim.
  10. Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif:
    • Memberikan umpan balik yang membangun dan spesifik untuk membantu siswa memperbaiki diri.
    • Menyampaikan kritik dengan cara yang mendukung dan tidak menjatuhkan.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, Saya dapat menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah, yang pada akhirnya akan membantu siswa merasa lebih termotivasi, bahagia, dan sukses dalam perjalanan belajar mereka.

Pertanyaan 3

Apakah hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid?

Menciptakan suasana yang positif di lingkungan pendidikan memiliki hubungan erat dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Berikut beberapa poin yang menjelaskan hubungan tersebut:

  1. Peningkatan Motivasi dan Keterlibatan:
    • Suasana yang positif membuat siswa merasa dihargai dan didukung, sehingga mereka lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
    • Pembelajaran yang berpihak pada murid menempatkan siswa di pusat proses belajar, sehingga mendorong mereka untuk lebih aktif dan berpartisipasi.
  2. Pengembangan Keterampilan Sosial dan Emosional:
    • Lingkungan yang positif mendukung pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa, seperti empati, kerjasama, dan pengelolaan emosi.
    • Pembelajaran yang berpihak pada murid juga fokus pada perkembangan holistik, termasuk aspek sosial dan emosional, yang esensial untuk kesuksesan jangka panjang.
  3. Peningkatan Kemandirian dan Tanggung Jawab:
    • Suasana yang mendukung membantu siswa merasa aman untuk mengambil risiko dan belajar dari kesalahan mereka.
    • Pendekatan yang berpihak pada murid memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses belajar, mendorong mereka untuk menjadi pembelajar mandiri.
  4. Penghargaan terhadap Perbedaan Individu:
    • Lingkungan yang positif menghargai dan merayakan keberagaman, memastikan bahwa setiap siswa merasa diterima dan dihargai.
    • Pembelajaran yang berpihak pada murid memperhatikan kebutuhan, minat, dan gaya belajar individu, menyesuaikan metode pengajaran untuk mendukung setiap siswa secara optimal.
  5. Pembentukan Hubungan yang Kuat dan Positif:
    • Hubungan yang baik antara guru dan siswa dibangun melalui suasana yang positif, menciptakan rasa saling percaya dan menghormati.
    • Pendekatan yang berpihak pada murid menekankan pentingnya hubungan yang kuat antara guru dan siswa, dimana guru berperan sebagai fasilitator dan mentor.
  6. Penguatan Rasa Percaya Diri dan Kepemimpinan:
    • Suasana yang mendukung membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri dan keterampilan kepemimpinan.
    • Proses pembelajaran yang berpihak pada murid memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil peran aktif dan memimpin dalam berbagai kegiatan.
  7. Fokus pada Pembelajaran yang Menyenangkan dan Relevan:
    • Lingkungan yang positif membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mengurangi tekanan yang tidak perlu.
    • Pembelajaran yang berpihak pada murid mengaitkan materi dengan kehidupan nyata dan minat siswa, membuatnya lebih relevan dan menarik.

Secara keseluruhan, suasana yang positif menciptakan landasan yang kokoh bagi proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Keduanya saling mendukung untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk sukses dalam kehidupan.

Pertanyaan 4

Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah Anda, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang menurut Anda masih perlu diperbaiki dan dikembangkan?

Penerapan disiplin di sekolah adalah aspek penting yang mempengaruhi suasana belajar dan perkembangan siswa. Berikut adalah beberapa area yang mungkin memerlukan perbaikan dan pengembangan dalam penerapan disiplin di sekolah:

  1. Pendekatan yang Lebih Proaktif:
    • Kondisi Saat Ini: Disiplin sering diterapkan secara reaktif, hanya ketika masalah muncul.
    • Perbaikan: Mengembangkan program pencegahan yang proaktif, seperti pembelajaran sosial-emosional, yang mengajarkan keterampilan pengelolaan diri dan resolusi konflik.
  2. Konsistensi dalam Penerapan:
    • Kondisi Saat Ini: Ketidakonsistenan dalam penegakan aturan dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakadilan di antara siswa.
    • Perbaikan: Menerapkan kebijakan disiplin yang konsisten dan jelas, serta memastikan semua staf sekolah memahami dan menegakkan aturan yang sama.
  3. Pendekatan Restoratif:
    • Kondisi Saat Ini: Pendekatan disiplin mungkin terlalu bersifat hukuman dan kurang fokus pada perbaikan dan pemulihan.
    • Perbaikan: Mengadopsi pendekatan restoratif yang fokus pada memperbaiki hubungan dan mengatasi akar masalah perilaku, bukan hanya memberikan hukuman.
  4. Penggunaan Teknologi untuk Pemantauan:
    • Kondisi Saat Ini: Pemantauan perilaku siswa mungkin masih manual dan kurang efisien.
    • Perbaikan: Menggunakan teknologi untuk memantau perilaku dan keterlibatan siswa, serta untuk mengidentifikasi pola-pola masalah lebih awal.
  5. Pemberdayaan Guru dan Staf:
    • Kondisi Saat Ini: Guru mungkin merasa kurang didukung dalam menangani masalah disiplin.
    • Perbaikan: Memberikan pelatihan dan dukungan yang memadai bagi guru dan staf untuk menangani masalah disiplin secara efektif dan positif.
  6. Kolaborasi dengan Orang Tua:
    • Kondisi Saat Ini: Komunikasi dengan orang tua mengenai masalah disiplin mungkin kurang optimal.
    • Perbaikan: Meningkatkan keterlibatan dan komunikasi dengan orang tua, memastikan mereka menjadi bagian dari solusi dan mendukung upaya disiplin di rumah.
  7. Fokus pada Pembelajaran Sosial-Emosional:
    • Kondisi Saat Ini: Pendekatan disiplin mungkin kurang memperhatikan aspek sosial-emosional.
    • Perbaikan: Mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional ke dalam kurikulum untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan pengelolaan emosi dan perilaku positif.
  8. Mendengarkan Suara Siswa:
    • Kondisi Saat Ini: Siswa mungkin merasa suara mereka tidak didengar dalam proses disiplin.
    • Perbaikan: Melibatkan siswa dalam pengembangan kebijakan disiplin dan memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan saran.

Dengan memperbaiki dan mengembangkan area-area ini, penerapan disiplin di sekolah Kami dapat menjadi lebih efektif, adil, dan mendukung lingkungan belajar yang positif bagi semua siswa.

Refleksi

Bapak dan Ibu calon guru penggerak, 

Selanjutnya Anda dapat melakukan pengamatan dan refleksi terhadap bagaimana kita dapat menciptakan sebuah budaya positif, dengan melakukan serangkaian kegiatan di bawah ini:

  1. Sediakan waktu khusus, pejamkan mata, dibantu musik instrumental yang sesuai, kemudian bayangkan sekolah impian Anda. Ingat kembali gambaran sekolah impian yang Anda tulis saat mempelajari modul 1.3. Bagaimana suasana sekolahnya? Bagaimana sikap gurunya? Bagaimana tutur kata guru? Bagaimana guru bersikap kepada murid-muridnya? Bagaimana sikap murid-muridnya, bagaimana mereka saling berinteraksi, terhadap Anda, sebagai pimpinan sekolah dan terhadap guru-guru yang lain? 
  2. Untuk mewujudkan sekolah impian tersebut, bila Anda adalah seorang pemimpin di sekolah Anda,  bagaimana Anda akan menciptakan sebuah lingkungan yang positif di sekolah Anda?  Apa strategi yang akan Anda pilih? Bagaimana Anda akan menerapkan disiplin positif, apa yang perlu kita lakukan terlebih dahulu? Tentunya, salah satu hal yang paling penting adalah kita perlu menghilangkan rasa takut dalam diri murid-murid sehingga mereka merasa aman dan nyaman berada di sekolah, dan bahwa membuat kesalahan adalah suatu proses pembelajaran itu sendiri. Hanya dengan demikian, semua murid dapat belajar dengan rasa tenang, tanpa tekanan dan nyaman.

Standar Nasional Pendidikan: Lingkungan yang positif sangat diperlukan agar pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu:  1) Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang:
a. interaktif;
b. inspiratif;
c. menyenangkan;
d. menantang;
e. memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan
f. memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.

Sebagai seorang pemimpin di sekolah, menciptakan lingkungan yang positif memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan. Berikut adalah beberapa strategi yang akan Saya pilih dan langkah-langkah yang dapat Saya ambil untuk menerapkan disiplin positif:

Strategi Menciptakan Lingkungan Positif:

  1. Menetapkan Visi dan Nilai Sekolah yang Jelas:
    • Menentukan visi dan nilai-nilai inti yang akan menjadi landasan budaya sekolah.
    • Mengkomunikasikan visi dan nilai ini secara konsisten kepada seluruh komunitas sekolah (siswa, guru, staf, dan orang tua).
  2. Memperkuat Komunikasi dan Kolaborasi:
    • Menorong komunikasi terbuka antara semua anggota komunitas sekolah.
    • mengadakan pertemuan rutin dengan guru, staf, dan orang tua untuk mendiskusikan isu-isu dan mencari solusi bersama.
  3. Mengembangkan Program Penghargaan dan Pengakuan:
    • mengimplementasikan program penghargaan untuk mengakui dan merayakan pencapaian siswa dan guru.
    • Memberikan penghargaan tidak hanya untuk prestasi akademik, tetapi juga untuk perilaku positif, kepemimpinan, dan kontribusi sosial.
  4. Menyediakan Pelatihan dan Pengembangan Profesional:
    • Menyelenggarakan pelatihan bagi guru dan staf tentang metode pengajaran yang mendukung budaya positif dan disiplin positif.
    • mendorong pengembangan profesional berkelanjutan untuk memastikan praktik terbaik selalu diterapkan.
  5. Menciptakan Lingkungan Fisik yang Mendukung:
    • Memastikan lingkungan sekolah bersih, aman, dan ramah.
    • menggunakan dekorasi yang menginspirasi dan mencerminkan nilai-nilai positif sekolah.

Langkah-langkah Menerapkan Disiplin Positif:

  1. Melibatkan Semua Pihak dalam Merancang Aturan Sekolah:
    • mengajak siswa, guru, dan orang tua untuk berpartisipasi dalam merancang aturan dan prosedur sekolah.
    • Memastikan aturan tersebut adil, jelas, dan konsisten.
  2. Mengajar Keterampilan Sosial dan Emosional:
    • Mengintegrasikan pembelajaran keterampilan sosial dan emosional dalam kurikulum.
    • Mengajarkan keterampilan seperti pengelolaan emosi, resolusi konflik, dan empati.
  3. Menggunakan Pendekatan Restoratif:
    • Mengimplementasikan pendekatan restoratif untuk menyelesaikan konflik dan pelanggaran aturan.
    • Fokus pada memperbaiki hubungan dan memperbaiki kerusakan daripada hanya menghukum.
  4. Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif:
    • memberikan umpan balik yang jelas dan konstruktif kepada siswa tentang perilaku mereka.
    • Menggunakan pendekatan yang mendorong siswa untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan bagaimana mereka dapat memperbaikinya.
  5. Menyediakan Dukungan Emosional dan Konseling:
    • Memastikan ada dukungan emosional dan layanan konseling tersedia bagi siswa yang membutuhkannya.
    • Membuat program mentoring atau pendampingan untuk siswa.

Langkah Pertama yang Perlu Dilakukan:

  1. Asesmen Awal dan Perencanaan:
    • Melakukan asesmen awal untuk memahami kondisi saat ini di sekolah, termasuk kekuatan dan area yang perlu diperbaiki.
    • membuat rencana aksi yang mencakup langkah-langkah spesifik untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
  2. Pembentukan Tim Kepemimpinan:
    • membentuk tim kepemimpinan yang terdiri dari guru, staf, siswa, dan orang tua yang akan bertanggung jawab untuk mengimplementasikan dan memantau strategi-strategi ini.
  3. Komunikasi dan Pelibatan Komunitas:
    • Mengkomunikasikan rencana ini kepada seluruh komunitas sekolah dan ajak mereka untuk berpartisipasi aktif.
    • Mengadakan pertemuan, workshop, atau sesi tanya jawab untuk memastikan semua pihak memahami dan mendukung visi dan strategi yang akan diterapkan.

Dengan strategi-strategi ini dan langkah-langkah awal yang tepat, Saya dapat menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan mendukung perkembangan holistik siswa serta kesejahteraan seluruh komunitas sekolah.

Harapan untuk Diri Sendiri

Setelah Anda melaksanakan refleksi terkait peran Anda dalam menciptakan budaya positif, isilah kolom harapan berikut ini:

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada diri Anda, sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki pengaruh pada warga sekolah, terutama murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, harapan-harapan yang ingin Saya lihat berkembang dalam diri Saya setelah mempelajari modul ini mencakup berbagai aspek yang akan mempengaruhi warga sekolah, terutama murid-murid Saya. Berikut adalah beberapa harapan utama:

  1. Pemahaman yang Mendalam tentang Budaya Positif:
    • Saya berharap memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya budaya positif di sekolah dan bagaimana cara membangun serta mempertahankannya.
    • Saya mampu mengidentifikasi elemen-elemen kunci dari budaya sekolah yang positif dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap kesejahteraan dan keberhasilan siswa.
  2. Keterampilan Kepemimpinan yang Kuat:
    • Mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang efektif dalam menginspirasi, memotivasi, dan mempengaruhi guru, staf, siswa, dan orang tua.
    • Menunjukkan kemampuan untuk memimpin dengan empati, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai positif.
  3. Strategi untuk Menerapkan Disiplin Positif:
    • Menguasai berbagai strategi untuk menerapkan disiplin positif di sekolah.
    • Mampu mengelola perilaku siswa dengan pendekatan yang restoratif dan mendukung perkembangan karakter.
  4. Keterampilan Komunikasi yang Efektif:
    • Meningkatkan keterampilan komunikasi untuk berinteraksi dengan seluruh warga sekolah secara jelas, terbuka, dan konstruktif.
    • Mampu membangun hubungan yang kuat dan saling percaya dengan siswa, guru, dan orang tua.
  5. Kemampuan untuk Menciptakan Lingkungan yang Inklusif:
    • Mampu menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
    • Menunjukkan komitmen terhadap kesetaraan dan keberagaman dalam setiap aspek sekolah.
  6. Peningkatan Kemampuan Pengambilan Keputusan:
    • Mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan berbasis data, yang mendukung tujuan jangka panjang dan kesejahteraan seluruh komunitas sekolah.
    • Mampu menilai berbagai situasi dengan perspektif yang luas dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan tersebut.
  7. Komitmen terhadap Pembelajaran Berkelanjutan:
    • Menunjukkan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan pengembangan profesional.
    • Terus mencari cara untuk meningkatkan praktik pengajaran dan kepemimpinan Anda berdasarkan penelitian terbaru dan umpan balik dari komunitas sekolah.
  8. Kemampuan untuk Memberdayakan Orang Lain:
    • Mampu memberdayakan guru dan staf untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung.
    • Menunjukkan kemampuan untuk melatih dan membimbing orang lain agar mereka dapat mengembangkan potensi penuh mereka.
  9. Peningkatan Motivasi dan Semangat Belajar Siswa:
    • Melihat peningkatan motivasi, keterlibatan, dan semangat belajar siswa sebagai hasil dari penerapan budaya dan disiplin positif di sekolah.
    • Mampu menciptakan lingkungan di mana siswa merasa termotivasi untuk belajar dan mencapai potensi maksimal mereka.
  10. Peningkatan Kesejahteraan dan Kepuasan Komunitas Sekolah:
    • Mencapai peningkatan kesejahteraan dan kepuasan di kalangan siswa, guru, staf, dan orang tua.
    • Mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental, emosional, dan fisik semua anggota komunitas sekolah.

Dengan mencapai harapan-harapan ini, Saya dapat memainkan peran yang signifikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang positif, mendukung perkembangan holistik siswa, dan memajukan kualitas pendidikan di sekolah Saya.

Harapan pada Murid

Setelah Anda melaksanakan refleksi terkait peran Anda dalam menciptakan budaya positif, isilah kolom harapan berikut ini:

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, harapan-harapan yang ingin Saya lihat berkembang pada murid-murid mencakup berbagai aspek yang berhubungan dengan akademik, sosial, dan emosional mereka. Berikut adalah beberapa harapan utama:

  1. Peningkatan Prestasi Akademik:
    • Siswa menunjukkan peningkatan dalam hasil akademik mereka melalui penerapan strategi belajar yang efektif dan disiplin positif.
    • Siswa lebih termotivasi dan bersemangat dalam belajar, dengan minat yang tinggi terhadap berbagai mata pelajaran.
  2. Pengembangan Karakter dan Nilai Moral:
    • Siswa mengembangkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat dalam kehidupan sehari-hari mereka.
    • Siswa menunjukkan sikap etis dan berintegritas dalam berbagai situasi.
  3. Keterampilan Sosial dan Emosional yang Lebih Baik:
    • Siswa memiliki keterampilan sosial yang baik, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif.
    • Siswa dapat mengelola emosi mereka dengan baik, menunjukkan empati, dan mendukung teman-teman mereka.
  4. Kemandirian dan Tanggung Jawab:
    • Siswa menunjukkan kemandirian dalam mengelola tugas dan tanggung jawab mereka.
    • Siswa mampu mengambil keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
  5. Rasa Aman dan Nyaman di Sekolah:
    • Siswa merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah, tanpa takut terhadap bullying atau kekerasan.
    • Siswa merasa diterima dan dihargai, dengan rasa memiliki terhadap komunitas sekolah.
  6. Keterlibatan Aktif dalam Kegiatan Sekolah:
    • Siswa aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan proyek sekolah.
    • Siswa menunjukkan antusiasme dalam berkontribusi terhadap kegiatan sosial dan lingkungan.
  7. Peningkatan Motivasi dan Semangat Belajar:
    • Siswa lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai potensi maksimal mereka.
    • Siswa menunjukkan semangat dan keinginan untuk terus belajar dan berkembang.
  8. Penghargaan Terhadap Keberagaman:
    • Siswa menghargai keberagaman dan menunjukkan sikap inklusif terhadap teman-teman yang berbeda latar belakang, budaya, atau kemampuan.
    • Siswa menunjukkan rasa hormat dan toleransi terhadap perbedaan.
  9. Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif:
    • Siswa mampu berpikir kritis dalam menganalisis informasi dan memecahkan masalah.
    • Siswa menunjukkan kreativitas dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan.
  10. Kesejahteraan Emosional dan Mental:
    • Siswa menunjukkan kesejahteraan emosional dan mental yang baik, dengan tingkat stres dan kecemasan yang rendah.
    • Siswa merasa didukung secara emosional oleh guru dan teman-teman mereka.

Dengan harapan-harapan ini, Saya ingin melihat perkembangan holistik pada siswa, mencakup aspek akademik, sosial, dan emosional mereka. Lingkungan sekolah yang positif akan mendukung siswa dalam mencapai potensi penuh mereka dan menjadi individu yang berkarakter baik serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Ekspektasi

Selanjutnya, tuliskan ! 

Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

Dalam modul budaya positif ini, kegiatan, materi, dan manfaat yang Saya harapkan dapat memperkuat pemahaman Saya tentang pentingnya budaya positif dan membekali Saya dengan keterampilan praktis untuk menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung. Berikut adalah beberapa elemen yang Saya harapkan ada dalam modul tersebut:

Kegiatan:

  1. Pelatihan Interaktif:
    • Diskusi kelompok dan presentasi tentang pentingnya budaya positif.
    • Sesi role-play untuk mensimulasikan situasi nyata di kelas dan cara menanganinya dengan pendekatan positif.
  2. Kegiatan Refleksi:
    • Sesi refleksi pribadi dan kelompok tentang nilai-nilai inti yang diinginkan di sekolah.
    • Jurnal reflektif untuk mencatat pengalaman dan pembelajaran selama pelatihan.
  3. Studi Kasus:
    • Analisis studi kasus tentang sekolah-sekolah yang telah berhasil menerapkan budaya positif.
    • Diskusi tentang tantangan dan solusi yang dihadapi dalam menciptakan lingkungan positif.
  4. Proyek Kolaboratif:
    • Proyek kelompok untuk merancang rencana aksi budaya positif yang dapat diimplementasikan di sekolah masing-masing.
    • Presentasi hasil proyek di depan peserta lain untuk mendapatkan umpan balik.
  5. Observasi dan Praktik:
    • Observasi praktik terbaik di sekolah-sekolah yang sudah menerapkan budaya positif.
    • Praktik langsung di kelas dengan bimbingan mentor.

Materi:

  1. Teori dan Konsep Dasar:
    • Penjelasan tentang konsep budaya positif dan dampaknya terhadap perkembangan siswa.
    • Teori tentang psikologi positif, pembelajaran sosial-emosional, dan pendekatan restoratif.
  2. Panduan Praktis:
    • Materi tentang strategi dan teknik konkret untuk membangun budaya positif di kelas dan sekolah.
    • Panduan untuk mengimplementasikan disiplin positif dan mengelola perilaku siswa.
  3. Studi Kasus dan Contoh Nyata:
    • Dokumentasi studi kasus dari berbagai sekolah yang berhasil membangun budaya positif.
    • Video atau wawancara dengan guru dan pemimpin sekolah yang berhasil.
  4. Alat dan Sumber Daya:
    • Template untuk merancang rencana aksi budaya positif.
    • Alat untuk menilai dan memantau perkembangan budaya positif di sekolah.
  5. Literatur dan Bacaan Tambahan:
    • Rekomendasi buku, artikel, dan penelitian terbaru tentang budaya positif dalam pendidikan.
    • Akses ke platform online untuk diskusi dan berbagi sumber daya dengan sesama peserta.

Manfaat:

  1. Peningkatan Kompetensi Guru:
    • Guru lebih memahami pentingnya budaya positif dan cara mengimplementasikannya.
    • Peningkatan keterampilan dalam mengelola kelas dan menangani perilaku siswa secara positif.
  2. Lingkungan Sekolah yang Lebih Baik:
    • Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran.
    • Mengurangi kejadian bullying dan konflik di sekolah.
  3. Pengembangan Karakter dan Nilai:
    • Siswa mengembangkan nilai-nilai positif dan keterampilan sosial-emosional yang baik.
    • Mendorong siswa untuk menjadi individu yang bertanggung jawab dan berintegritas.
  4. Kesejahteraan Emosional dan Mental:
    • Peningkatan kesejahteraan emosional dan mental bagi siswa dan guru.
    • Mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kepuasan dalam belajar dan mengajar.
  5. Kolaborasi dan Dukungan Komunitas:
    • Meningkatkan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan komunitas sekolah.
    • Membentuk komunitas sekolah yang saling mendukung dan peduli.
  6. Kesiapan Menghadapi Tantangan Masa Depan:
    • Siswa lebih siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap positif dan keterampilan yang memadai.
    • Guru lebih siap untuk beradaptasi dan mengatasi berbagai tantangan dalam proses pembelajaran.

Dengan mempelajari modul ini, Saya berharap dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan mendukung perkembangan holistik siswa.

EKSPLORASI KONSEP

Bapak/Ibu CGP, Eksplorasi konsep untuk Budaya positif terdiri dari beberapa bagian yaitu.

2.1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal

Tujuan pembelajaran:

  • CGP dapat menjelaskan  makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol.
  • CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia.
  • CGP menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif. 

2.2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi 

Tujuan Pembelajaran:

  • CGP dapat menjelaskan dan menganalisis Teori Motivasi dan Motivasi Intrinsik yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
  • CGP dapat menjelaskan konsep hukuman dan penghargaan, dan  konsep pendekatan restitusi.
  • CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri.

2.3. Keyakinan Kelas

Tujuan Pembelajaran Khusus:

  • CGP dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas.
  • CGP dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas. 
  • CGP akan dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di sekolah mereka masing-masing.

2.4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

Tujuan Pembelajaran Khusus:   

  • CGP dapat menjelaskan kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid maupun guru 
  • CGP dapat menganalisis dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebajikan 
  • CGP dapat mengidentifikasi peran dan sekolah guru dalam upayanya menciptakan lingkungan belajar dan pemenuhan kebutuhan anak yang beragam.

2.5. Restitusi – Lima Posisi Kontrol

Tujuan Pembelajaran Khusus:

  • CGP dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya.
  • CGP dapat menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka.
  • CGP dapat menganalisis secara kritis,  reflektif, dan terbuka atas penemuan diri yang didapatkan dari mempelajari 5 posisi kontrol.

2.6. Restitusi – Segitiga Restitusi

Tujuan Pembelajaran Khusus:   

  • CGP menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah.
  • CGP dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.
  • CGP dapat menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di lingkungannya. 

Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal

Teori Kontrol (Dr. William Glasser)

Selanjutnya psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.

  • Ilusi guru mengontrol murid.  
    Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau  murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya  guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid  sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru  menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol  menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.
  • Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.  
    Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha  untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah  suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu,  kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk  menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.
  • Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat  menguatkan karakter.
    Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada  identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka.  Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru  untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan  negatif.
  • Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. 
    Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab  untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang  dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah  pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari  bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang,  dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? (Stephen R. Covey)

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991)  mengatakan bahwa,

“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau  perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita  perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia,  bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema  pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.

Makna Disiplin

Dalam rangka menciptakan lingkungan positif, salah satu strategi yang perlu kita tinjau kembali adalah penerapan disiplin di sekolah kita. Apakah telah efektif, apakah masih perlu ditinjau kembali? Apa sesungguhnya arti dari disiplin itu sendiri? Apa kaitannya dengan nilai-nilai kebajikan? Mari kita bahas makna disiplin dan nilai-nilai kebajikan universal dengan mengaitkan beberapa pembelajaran awal di modul 1.2 tentang perubahan paradigma teori stimulus respon ke teori kontrol serta teori 3 motivasi perilaku manusia.

Sebelumnya, mari kita tanyakan ke diri kita sendiri, bagaimana kita berperilaku? Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain?  Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau. Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman atau pujian dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau untuk mendapatkan uang? Apa lagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu?

Makna Kata Disiplin

Bapak dan Ibu calon guru penggerak,

Sekarang mari kita membahas tentang konsep disiplin positif yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita cita-citakan di sekolah-sekolah kita. Kebanyakan guru, sangat tertarik dengan topik pembahasan tentang disiplin. Mereka berpendapat bahwa kalau saja anak-anak bisa disiplin, pasti mereka akan bisa belajar. Para guru juga berpendapat bahwa mendisiplinkan anak-anak adalah bagian yang paling menantang dari pekerjaan mereka.  Bagaimana dengan Bapak/Ibu CGP? Apakah Anda memiliki pendapat yang sama?

Marilah kita baca artikel di bawah ini:

Makna Kata Disiplin

Ketika mendengar kata “disiplin”, apa yang terbayang di benak Anda? Apa yang terlintas di pikiran Anda? Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.  Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.  Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa  “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,  Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)

Disitu Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar adalah:  mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri).

Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Dalam hal ini Ki Hajar menyatakan;  “…pertanggungjawaban atau verantwoordelijkheld itulah selalu menjadi sisihannya hak atau kewajiban dari seseorang yang pegang kekuasaan atau pimpinan dalam umumnya. Adapun artinya tidak lain ialah orang tadi harus mempertanggungjawabkan dirinya serta tertibnya laku diri dari segala hak dan kewajibannya. 
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,  Cetakan Kelima, 2013, Halaman 469).

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. 

Referensi: 

Restitution: Restructuring School Discipline, Diane Chelsom Gossen, 2001, New View Publications, North Canada.
Ki Hajar Dewantara; Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,2013, UST-Press bekerjasama dengan Majelis Luhur Tamansiswa.

Bapak dan Ibu calon guru penggerak, 

Indah sekali bukan pemikiran-pemikiran tentang konsep disiplin di atas. Mari kita bayangkan alangkah indahnya ketika tercipta masyarakat yang bisa saling belajar, yang saling merasa terikat dan terhubungkan satu sama lain; karena masyarakat seperti itu akan mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya, senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya.  Itulah tujuan dari disiplin diri.

Nilai-Nilai Kebajikan dari Enam Institusi/Organisasi

Silakan cermati bacaan mengenai nilai-nilai kebajikan berikut.

Profil Pelajar Pancasila

  • Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.
  • Mandiri
  • Bernalar Kritis
  • Berkebinekaan Global
  • Bergotong royong
  • Kreatif

IBO Primary Years Program (PYP)

Sikap Murid:

  • Toleransi
  • Rasa Hormat
  • Integritas
  • Mandiri
  • Menghargai
  • Antusias
  • Empati
  • Keingintahuan
  • Kreativitas
  • Kerja sama
  • Percaya Diri

Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF)

  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
  • Kemandirian dan Tanggung jawab
  • Kejujuran (Amanah), Diplomatis
  • Hormat dan Santun
  • Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
  • Kepemimpinan dan Keadilan
  • Baik dan Rendah Hati
  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Gu…

Keterampilan Hidup

  • Dapat dipercaya
  • Lurus Hati
  • Pendengar yang Aktif
  • Tidak Merendahkan Orang Lain
  • Memberikan yang Terbaik dari Diri

Petunjuk Hidup

  • Peduli
  • Penalaran
  • Bekerja sama
  • Keberanian
  • Keingintahuan
  • Usaha
  • Keluwesan/Fleksibilitas
  • Berorganisasi
  • Kesabaran
  • Keteguhan hati
  • Kehormatan
  • Memiliki Rasa Humor
  • Berinisiatif
  • Integritas
  • Pemecahan Masalah
  • Sumber pengetahuan
  • Tanggung jawab
  • Persahabatan

The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence,…

  • Empati
  • Suara Hati
  • Kontrol Diri
  • Rasa Hormat
  • Kebaikan
  • Toleransi
  • Keadilan

The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)

Tugas 2.1 (1)

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti Program Guru Penggerak ini karena ingin mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, apa dampaknya untuk diri Anda? Apa yang Anda dapatkan, mengapa hal itu penting untuk Anda?

Bagi Saya menerapkan nilai-nilai kebajikan universal sebagai seorang guru memiliki dampak yang luas dan positif, baik bagi Saya sendiri maupun bagi siswa dan lingkungan sekolah secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa dampak dan manfaat yang dapat Saya rasakan:

  1. Kepuasan dan Kebahagiaan Pribadi:
    • Menerapkan nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, integritas, kasih sayang, dan rasa hormat dapat meningkatkan kepuasan kerja dan kebahagiaan pribadi. Saya merasa lebih bermakna dan puas dengan pekerjaan Saya karena Saya tahu bahwa Saya tidak hanya mengajar mata pelajaran tetapi juga membantu membentuk karakter siswa.
  2. Hubungan yang Lebih Baik dengan Siswa:
    • Saya merasa Siswa lebih menghormati dan mempercayai Saya jika memperlakukan mereka dengan kebaikan dan keadilan. Hal ini dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dan lebih mendalam antara Saya dan siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa.
  3. Lingkungan Kerja yang Positif:
    • Saya merasa berkontribusi pada terciptanya lingkungan kerja yang positif dan harmonis. Ini dapat mengurangi stres dan konflik di tempat kerja, sehingga membuat pengalaman mengajar lebih menyenangkan dan produktif.

4.  Pendidikan Holistik:

    • Pendidikan tidak hanya tentang mentransfer pengetahuan akademik tetapi juga tentang membentuk karakter dan moral siswa. Dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan, Saya dapat memainkan peran penting dalam membentuk individu yang seimbang secara intelektual, emosional, dan etika.

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Sebagai seorang pendidik, saat Anda perlu hadir di suatu pelatihan, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda?

  • Apakah Anda hadir karena tidak ingin ditegur oleh pihak panitia atau pengawas Anda, dan mendapatkan surat teguran (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman), atau 
  • Anda ingin dilihat dan dipuji oleh lingkungan Anda, atau mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau 
  • Anda ingin menjadi pemelajar sepanjang hayat, menjadi orang yang berusaha dan bertanggung jawab serta menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda, guru-guru Anda, serta lingkungan Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai pemimpin pembelajaran akan jadi panutan oleh lingkungan Anda (menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri). 

Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda, atau adakah suatu proses perubahan motivasi antara dua motivasi?

Ketika Saya perlu menghadiri suatu pelatihan yang berdampak positif dan memberikan manfaat besar buat Saya, maka tentu Saya antusias mengikuti setiap tahapan dan berusaha menyerap segala ilmu pengetahuan yang akan Saya dapatkan dan tanpa ragu menanyakan apa yang ingin Saya lebih pahami. Serta menggunakan kesempatan ini untuk berinteraksi dengan sesama peserta dan instruktur. Membangun jaringan profesional yang dapat berguna di masa depan.

Setelah pelatihan, Saya meluangkan waktu merefleksikan apa yang telah dipelajari dan bagaimana Saya dapat mengaplikasikannya dalam pekerjaan Saya. Evaluasi diri tentang perkembangan dan peningkatan yang telah dicapai.

  1. Aplikasi Praktis:
    • Menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dalam situasi nyata di tempat kerja. Membuat rencana aksi untuk mengimplementasikan ide-ide baru.
  2. Berbagi Pengetahuan:
    • membagikan pengetahuan dan keterampilan yang Saya peroleh dengan rekan sejawat dan berdiskusi dengan atasan. Ini tidak hanya memperkuat pemahaman Saya tetapi juga membantu orang lain mendapatkan manfaat dari pelatihan tersebut.

Tugas 2.1 (3)

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Bila di sekolah Anda tidak ada aturan yang memberikan surat teguran bagi karyawan yang sering datang terlambat, atau tidak ada atasan yang memberikan Anda penghargaan menjadi karyawan terbaik, karena sering tepat waktu, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.

Saya akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid saya. Ada beberapa alasan mengapa saya akan melakukan ini:

Alasan Saya Tetap Datang Tepat Waktu

  1. Tanggung Jawab Profesional:
    • Sebagai seorang guru, saya memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan pendidikan terbaik kepada murid-murid saya. Datang tepat waktu adalah bagian dari komitmen saya untuk memastikan bahwa mereka menerima pelajaran secara penuh dan tidak ada waktu yang terbuang.
  2. Teladan yang Baik:
    • Guru adalah teladan bagi siswa. Dengan datang tepat waktu, saya memberikan contoh yang baik tentang disiplin dan tanggung jawab. Ini penting untuk membentuk karakter siswa dan mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan yang mereka butuhkan dalam kehidupan.
  3. Manajemen Kelas yang Efektif:
    • Datang tepat waktu memungkinkan saya untuk memulai kelas sesuai jadwal dan mengelola waktu dengan lebih efektif. Ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang teratur dan kondusif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pembelajaran.
  4. Menghargai Waktu Murid:
    • Waktu siswa adalah berharga, dan saya ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal. Datang terlambat akan mengurangi waktu belajar mereka dan bisa mengganggu konsentrasi serta alur pembelajaran.
  5. Integritas dan Profesionalisme:
    • Meskipun tidak ada penghargaan atau teguran, saya percaya bahwa integritas dan profesionalisme adalah bagian penting dari pekerjaan saya. Mematuhi jadwal menunjukkan bahwa saya serius dan berkomitmen terhadap tugas saya sebagai pendidik.
  6. Kepuasan Pribadi:
    • Datang tepat waktu memberikan saya rasa pencapaian dan kepuasan pribadi. Saya merasa lebih teratur dan siap untuk memulai hari dengan cara yang positif, yang juga meningkatkan semangat dan motivasi saya dalam mengajar.
  7. Hubungan dengan Kolega:
    • Menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab juga membangun reputasi yang baik di antara rekan kerja. Ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis dan kolaboratif.

Pentingnya Sikap Ini

  1. Menjaga Standar Profesional:
    • Sikap disiplin dan tepat waktu membantu menjaga standar profesional di sekolah. Ini penting untuk menciptakan budaya kerja yang positif dan produktif.
  2. Dampak Jangka Panjang:
    • Nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab yang saya tunjukkan tidak hanya berdampak pada siswa saat ini tetapi juga membentuk sikap dan kebiasaan mereka di masa depan.
  3. Menghindari Kebiasaan Buruk:
    • Mengabaikan pentingnya ketepatan waktu dapat menyebabkan kebiasaan buruk yang sulit diubah. Dengan konsisten datang tepat waktu, saya menjaga kebiasaan baik yang mendukung kesuksesan profesional.

Meskipun tidak ada teguran atau penghargaan formal, komitmen saya terhadap pendidikan dan profesionalisme tetap menjadi motivasi utama untuk datang tepat waktu. Nilai-nilai pribadi, dedikasi terhadap pekerjaan, dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi siswa adalah pendorong utama saya.

Tugas 2.1 (4)

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi yang disebutkan pada pertanyaan sebelumnya, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan.

Motivasi yang Paling Banyak Mendasari Perilaku Murid-murid:

Motivasi Ekstrinsik

Saat ini, banyak murid-murid di sekolah cenderung didorong oleh motivasi ekstrinsik. Beberapa faktor yang mendukung hal ini termasuk:

  1. Penghargaan dan Pujian:
    • Banyak siswa termotivasi oleh penghargaan seperti nilai tinggi, sertifikat, atau pujian dari guru dan orang tua. Pengakuan eksternal ini seringkali menjadi pendorong utama bagi mereka untuk berusaha lebih keras dan mencapai hasil yang baik.
  2. Tekanan Akademik:
    • Tekanan untuk memenuhi standar akademik dan mendapatkan peringkat yang baik dapat memotivasi siswa untuk fokus pada hasil yang terukur, seperti nilai atau ranking, daripada menikmati proses belajar itu sendiri.
  3. Kebutuhan untuk Memenuhi Harapan Orang Tua:
    • Siswa sering kali termotivasi oleh harapan orang tua dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi mereka. Imbalan atau pujian dari orang tua juga dapat memotivasi siswa untuk berperilaku baik atau mencapai hasil yang diinginkan.

Mengapa Motivasi Ekstrinsik Dominan

  1. Lingkungan Pendidikan Formal:
    • Sistem pendidikan formal seringkali berfokus pada evaluasi hasil dan pencapaian akademik, yang mendorong siswa untuk mengejar hasil tersebut untuk mendapatkan imbalan atau pengakuan.
  2. Fokus pada Penilaian dan Ujian:
    • Dengan adanya penilaian dan ujian yang sering digunakan untuk mengukur kemajuan siswa, banyak dari mereka menjadi lebih termotivasi oleh hasil yang dapat dilihat dan diukur.
  3. Kepentingan Jangka Panjang:
    • Imbalan dan pengakuan eksternal seperti beasiswa, peluang melanjutkan pendidikan, atau peluang karir dapat mendorong siswa untuk berusaha lebih keras demi mencapai tujuan jangka panjang mereka.

Mengatasi Motivasi Ekstrinsik dengan Motivasi Intrinsik

Untuk menciptakan lingkungan yang lebih seimbang dan mendukung pengembangan motivasi intrinsik, penting untuk:

  1. Menekankan Pembelajaran dan Pengembangan Diri:
    • Memotivasi siswa untuk menghargai proses belajar dan menemukan kepuasan pribadi dalam pencapaian pengetahuan dan keterampilan baru.
  2. Memberikan Kesempatan untuk Pilihan dan Kreativitas:
    • Mendorong siswa untuk mengejar minat dan passion mereka, serta memberikan mereka kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang mereka nikmati dan temukan berarti.
  3. Menghargai Usaha dan Proses:
    • Menghargai usaha dan kemajuan siswa, bukan hanya hasil akhir, untuk membantu mereka memahami nilai dari belajar dan berkembang.

Dengan mengintegrasikan motivasi intrinsik dan sosial dalam proses pendidikan, Saya dapat membantu siswa menemukan makna dan kepuasan dalam belajar, serta mengurangi ketergantungan pada motivasi ekstrinsik semata.

Tugas 2.1 (5)

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid Anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?

Menanamkan disiplin positif pada murid-murid melibatkan pendekatan yang menekankan pengembangan karakter dan perilaku yang baik melalui metode yang mendukung dan membimbing, bukan hanya menghukum. Berikut adalah beberapa strategi yang  Saya terapkan untuk menanamkan disiplin positif, serta hasil yang dicapai:

Strategi untuk Menanamkan Disiplin Positif

  1. Menetapkan Aturan dan Ekspektasi yang Jelas:
    • Penjelasan: Membuat aturan yang jelas dan mudah dipahami oleh siswa. Mendiskusikan ekspektasi Saya secara terbuka dan pastikan siswa tahu apa yang diharapkan dari mereka.
    • Hasil: Siswa lebih memahami batasan dan norma yang berlaku, yang dapat mengurangi kebingungan dan meningkatkan kepatuhan.
  2. Memberikan Penghargaan:
    • Penjelasan: Memberikan penghargaan kepada siswa yang menunjukkan perilaku positif dan usaha yang baik.
    • Hasil: Siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk mempertahankan perilaku positif, meningkatkan keterlibatan dan prestasi akademik mereka.
  3. Menggunakan Teknik Pemecahan Masalah dan Diskusi:
    • Penjelasan: Mengajak siswa untuk terlibat dalam diskusi tentang perilaku mereka dan mendampingi mereka menemukan solusinya dengan teknik pemecahan masalah untuk mengatasi konflik atau pelanggaran aturan.
    • Hasil: Siswa merasa lebih terlibat dan memiliki kontrol atas situasi mereka, serta belajar keterampilan pemecahan masalah dan komunikasi yang efektif.
  4. Menunjukkan Teladan yang Baik:
    • Penjelasan: menunjukkan perilaku positif dan disiplin dalam tindakan sehari-hari Saya sebagai guru. Menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam hal tanggung jawab dan etika kerja.
    • Hasil: Siswa cenderung meniru perilaku positif yang mereka lihat, yang dapat menciptakan budaya disiplin yang lebih baik di kelas.
  5. Membangun Hubungan Positif dengan Siswa:
    • Penjelasan: Membangun hubungan yang baik dengan siswa melalui komunikasi yang terbuka, empati, dan dukungan. Mengenali kebutuhan dan kekuatan individu siswa.
    • Hasil: Siswa merasa lebih dihargai dan didukung, yang dapat meningkatkan motivasi mereka untuk berperilaku positif dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.
  6. Mengatur Lingkungan Kelas yang Positif dan Terstruktur:
    • Penjelasan: Menciptakan lingkungan kelas yang terstruktur dan positif dengan aturan yang jelas, rutinitas yang konsisten, dan area belajar yang menyenangkan.
    • Hasil: Lingkungan yang terstruktur membantu siswa merasa aman dan nyaman, yang dapat mengurangi perilaku disruptif dan meningkatkan konsentrasi serta partisipasi.

Hasil pada Perilaku Murid-murid

  • Perilaku Lebih Baik: Dengan menerapkan disiplin positif, siswa cenderung menunjukkan perilaku yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ekspektasi. Mereka lebih memahami tanggung jawab mereka dan berusaha mengikuti aturan.
  • Keterlibatan yang Meningkat: Siswa yang merasa dihargai dan didukung lebih termotivasi untuk terlibat dalam aktivitas kelas dan belajar dengan lebih serius.
  • Hubungan yang Lebih Baik: Hubungan positif antara guru dan siswa dapat mengurangi konflik dan menciptakan suasana yang lebih harmonis di kelas.
  • Pengembangan Karakter: Siswa belajar nilai-nilai penting seperti tanggung jawab, empati, dan kerjasama, yang dapat bermanfaat dalam kehidupan mereka sehari-hari dan masa depan.

Tugas 2.1 (6)

Selanjutnya, silakan jawab pertanyaan berikut. 

Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid Anda di kelas/sekolah Anda? Mengapa?

Nilai-nilai kebajikan yang Saya rasa penting untuk ditanamkan pada murid-murid di kelas/sekolah Saya saat ini mencakup berbagai aspek karakter dan etika yang dapat mendukung perkembangan holistik mereka. Berikut adalah beberapa nilai-nilai kebajikan yang penting beserta alasan mengapa nilai-nilai tersebut relevan:

1. Kejujuran

  • Alasan: Kejujuran membentuk dasar dari hubungan yang sehat dan terpercaya. Di dunia yang semakin kompleks, memiliki integritas dalam komunikasi dan tindakan sangat penting. Kejujuran membantu siswa mengembangkan rasa tanggung jawab dan transparansi dalam interaksi mereka.

2. Empati

  • Alasan: Empati memungkinkan siswa untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, yang penting untuk membangun hubungan yang positif dan menghargai perbedaan. Empati juga mendukung kerjasama dan mengurangi konflik di antara siswa.

3. Kedisiplinan

  • Alasan: Kedisiplinan membantu siswa mengelola waktu dan usaha mereka dengan baik, serta mengikuti aturan dan tanggung jawab. Ini penting untuk mencapai tujuan akademik dan pribadi serta untuk mempersiapkan mereka untuk tuntutan masa depan.

4. Tanggung Jawab

  • Alasan: Tanggung jawab mengajarkan siswa untuk mengambil kepemilikan atas tindakan dan keputusan mereka. Ini membantu mereka menjadi individu yang dapat diandalkan dan siap menghadapi tantangan dengan sikap yang proaktif.

5. Rasa Hormat

  • Alasan: Menghormati orang lain, termasuk teman, guru, dan anggota keluarga, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai. Rasa hormat juga penting untuk mempromosikan inklusi dan toleransi di dalam kelas.

6. Kemandirian

  • Alasan: Kemandirian membantu siswa menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan mampu menopang kehidupannya sendiri. Ini juga mendorong mereka untuk menjadi manuisia merdeka yang berkehendak dan memiliki inisiatif yang berkontribusi positif dalam masyarakat.

7. Kolaborasi

  • Alasan: Kolaborasi mendorong siswa untuk bekerja bersama dalam tim, berbagi ide, dan menyelesaikan tugas secara efektif. Keterampilan ini penting untuk kehidupan sosial dan profesional mereka di masa depan.

8. Kreativitas

  • Alasan: Kreativitas mendorong siswa untuk berpikir di luar batasan dan menemukan solusi inovatif. Ini penting untuk pengembangan kemampuan berpikir kritis dan adaptasi terhadap perubahan.

9. Kehormatan

  • Alasan: Mengajarkan siswa untuk menghormati diri sendiri dan orang lain membantu mereka membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Kehormatan juga mengarahkan siswa untuk menjalani kehidupan dengan prinsip dan nilai yang kuat.

10. Beriman

  • Alasan: Pengamalan dan ketaatan terhadap Tuhan yang maha Esa mengajarkan siswa untuk menjalani kehidupan dengan prinsip dan nilai yang kuat.

Mengapa Nilai-nilai Ini Penting?

  • Mempersiapkan Masa Depan: Nilai-nilai kebajikan ini mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang produktif dan etis di masyarakat dan dunia kerja.
  • Membangun Lingkungan Positif: Menanamkan nilai-nilai ini membantu menciptakan lingkungan sekolah yang positif, mendukung, dan inklusif.
  • Pengembangan Karakter: Nilai-nilai ini mendukung pengembangan karakter siswa, membantu mereka menjadi individu yang bertanggung jawab, empatik, dan kreatif.

Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan ini, kita dapat membantu siswa menjadi pribadi yang baik, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan yang ada di depan mereka, baik di sekolah maupun dalam kehidupan mereka yang lebih luas.

Standar Pendidikan Nasional:

Dalam rangka menciptakan lingkungan yang positif maka setiap warga sekolah dan pemangku kepentingan perlu saling  mendukung, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang telah disepakati bersama. Untuk dapat menerapkan tujuan mulia tersebut, maka seorang pemimpin pembelajaran perlu berjiwa kepemimpinan sehingga dapat mengembangkan sekolah dengan baik agar terwujud suatu budaya sekolah yang positif sesuai dengan standar kompetensi pengelolaan yang telah ditetapkan. Tujuan mulia dari penerapan disiplin positif adalah agar terbentuk murid-murid yang berkarakter, berdisiplin, santun, jujur, peduli, bertanggung jawab, dan merupakan pemelajar sepanjang hayat sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang diharapkan.  

Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3 Motivasi Perilaku Manusia

Bapak Ibu calon guru penggerak,

Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau untuk mendapatkan uang? Apalagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu? Untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai motivasi manusia, mari kita baca artikel ini:

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
    Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal. 
  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
    Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal. 
  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. 
    Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Pernahkan Anda berada dalam sebuah situasi dimana anda sengaja melakukan sesuatu yang menyakitkan bagi anda, bahkan bertabrakan dengan penghargaan dari orang lain? Mengapa anda tetap memilih melakukannya padahal anda tahu akibatnya akan menyakitkan, anda mungkin akan dikecam secara sosial, bahkan ada kerugian secara finansial? Apa prinsip-prinsip yang anda perjuangkan dan anda lindungi? Saat itu, anda sedang menjadi orang yang seperti apa?

Untuk pertanyaan tersebut dengan apa yang Saya ingat Saya belum pernah mengalami situasi demikian. Namun Saya bisa menuliskan prinsip-prinsip yang harus Saya perjuangkan dan lindungi. Berikut adalah beberapa prinsip yang akan Saya perjuangkan dan bagaimana sikap Saya dalam situasi tersebut:

Prinsip-Prinsip yang Diperjuangkan dan Dilindungi

  1. Integritas:
    • Penjelasan: Saya akan menjaga konsistensi antara kata-kata dan tindakan Saya, serta memegang teguh nilai-nilai dan prinsip pribadi meskipun ada risiko atau konsekuensi negatif. Jika Saya memilih untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak menguntungkan secara pribadi tetapi benar secara moral, Saya menunjukkan komitmen terhadap integritas.
  2. Kejujuran:
    • Penjelasan: Saya akan mengatakan yang sebenarnya dan bertindak dengan transparansi. Jika Saya melakukan sesuatu yang mungkin menyakitkan atau tidak populer untuk menjaga kejujuran, Saya menunjukkan dedikasi terhadap prinsip ini, meskipun itu berarti mengorbankan penghargaan atau pengakuan.
  3. Keadilan:
    • Penjelasan: Keadilan melibatkan perlakuan yang adil dan setara terhadap semua orang. Jika Saya memilih untuk bertindak demi memastikan keadilan, meskipun itu berpotensi mengorbankan keuntungan pribadi atau penghargaan, namun Saya menunjukkan komitmen terhadap prinsip ini.
  4. Kepedulian Terhadap Kebenaran:
    • Penjelasan: Memprioritaskan kebenaran dan keadilan, bahkan ketika itu sulit, menunjukkan komitmen Saya terhadap prinsip kebenaran. Saya mungkin melakukan sesuatu yang sulit karena percaya bahwa mengungkapkan atau mempertahankan kebenaran lebih penting daripada kenyamanan pribadi atau pujian.
  5. Rasa Tanggung Jawab:
    • Penjelasan: Mengambil tanggung jawab atas tindakan Saya dan hasilnya, meskipun itu berarti menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan, mencerminkan rasa tanggung jawab. Prinsip ini menekankan pentingnya bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan Saya.

Sikap Anda dalam Situasi Tersebut

  1. Berani dan Teguh:
    • Saya menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan prinsip meskipun menghadapi kesulitan pribadi atau penolakan dari orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa Saya memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Saya.
  2. Kepemimpinan yang Berprinsip:
    • Dalam menghadapi situasi yang sulit, Saya akan bertindak sebagai pemimpin yang berprinsip, menunjukkan bahwa Saya memimpin dengan contoh dan tidak terpengaruh oleh pengaruh eksternal atau tekanan untuk mengorbankan prinsip.
  3. Kepedulian dan Empati:
    • Meskipun keputusan Saya mungkin menyakitkan, itu mungkin diambil dengan pertimbangan yang mendalam terhadap dampak pada orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa Saya peduli dengan kesejahteraan dan keadilan untuk semua pihak yang terlibat.
  4. Dedikasi dan Komitmen:
    • Saya akan menunjukkan dedikasi terhadap prinsip dan komitmen untuk melakukan apa yang benar, bahkan ketika itu berarti mengorbankan keuntungan pribadi atau pengakuan. Ini mencerminkan tekad dan ketulusan dalam perjuangan Saya.
  5. Kesediaan untuk Menghadapi Konsekuensi:
    • Saya siap menghadapi konsekuensi dari tindakan Saya, termasuk kehilangan penghargaan atau menghadapi kritik, karena Saya lebih memprioritaskan prinsip dan nilai-nilai Saya daripada keuntungan pribadi.

Dalam situasi seperti ini, Saya menjadi orang yang memprioritaskan prinsip dan nilai-nilai etika di atas keuntungan pribadi atau penghargaan eksternal. Saya ingin menunjukkan kekuatan karakter dan integritas yang kuat, serta kemampuan untuk membuat keputusan yang sulit dengan prinsip yang mendalam.

Tugas 2.2 (1)

Bapak Ibu calon guru penggerak,

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita sebagai guru untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada murid-murid kita?

Sekarang, mari pikirkan tentang diri Anda sendiri. Anda sekarang mengikuti Program. Guru Penggerak, mengapa Anda mengikuti program ini? Apakah bila Anda tidak mengikuti program ini, akan ada hal yang menyakitkan yang akan terjadi pada Anda? Apakah ada hadiah atau penghargaan setelah Anda mengikuti program ini? Atau apakah Anda mengikuti program ini karena Anda ingin menjadi seorang guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini, misalnya menjadi seorang guru pemelajar? Apa dampak ketiga motivasi tersebut pada diri Anda sebagai calon guru penggerak? Yang mana motivasi yang paling akan berdampak jangka panjang dan membuat Anda terus bersemangat secara internal?

Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti program ini karena ingin mendapat penghargaan. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda akan berubah menjadi sebuah pemahaman untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, dampaknya pada diri Anda?

Motivasi Saya untuk menjadi seorang guru penggerak karena ingin mewujudkan nilai-nilai yang Saya yakini, seperti menjadi guru pembelajar, memiliki dampak yang signifikan pada perjalanan Saya sebagai calon guru penggerak. Berikut beberapa dampaknya:

  1. Komitmen dan Dedikasi yang Tinggi: Saya lebih bersemangat dan berdedikasi dalam menjalani program, karena motivasi Saya berasal dari keyakinan pribadi yang kuat.
  2. Fokus pada Pengembangan Diri: Sebagai guru pembelajar, Saya ingin selalu mencari cara untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, sehingga Saya terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi murid-murid Saya.
  3. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Positif: Saya ingin menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk belajar dan berkembang, karena Saya sendiri memiliki semangat yang sama untuk belajar.
  4. Peningkatan Efektivitas Pengajaran: Dengan terus belajar dan memperbaiki metode pengajaran, Saya akan menjadi lebih efektif dalam menyampaikan materi dan membimbing siswa.
  5. Resiliensi dalam Menghadapi Tantangan: Motivasi internal yang kuat akan membantu Saya tetap teguh dan adaptif dalam menghadapi tantangan yang mungkin muncul selama program.

Dengan motivasi yang kuat dan nilai-nilai yang jelas, Saya tidak hanya akan berhasil dalam program guru penggerak, tetapi juga akan membawa dampak positif yang berkelanjutan pada siswa dan komunitas sekolah Saya.

Tugas 2.2 (2)

Selanjutnya,

Sebagai seorang guru, saat Anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda datang tepat waktu karena tidak ingin ditegur oleh atasan Anda  dan kemudian mendapat surat peringatan (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman) atau Anda ingin mendapatkan pujian dari atasan Anda dan mendapat penghargaan sebagai karyawan atau guru berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi orang yang menghargai waktu, menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai guru akan dicontoh oleh murid-murid Anda (menghargai nilai-nilai diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda? Atau bahkan kombinasi dari dua motivasi, atau bahkan ketiga-tiganya?

Sebagai seorang guru, beberapa motivasi yang mendasari tindakan Saya hadir mengajar di kelas tepat waktu adalah:

  1. Tanggung Jawab Profesional: Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab profesional untuk memenuhi jadwal dan memastikan bahwa waktu belajar siswa tidak terbuang sia-sia. Hadir tepat waktu menunjukkan komitmen saya terhadap pekerjaan dan tanggung jawab saya sebagai pendidik.
  2. Menghormati Siswa: Hadir tepat waktu adalah bentuk penghormatan terhadap waktu dan usaha siswa. Ini menunjukkan bahwa saya menghargai kehadiran mereka dan siap untuk memulai pelajaran tepat waktu.
  3. Disiplin dan Keteladanan: Sebagai seorang pendidik, saya ingin memberikan contoh yang baik kepada siswa. Ketepatan waktu mencerminkan disiplin dan tanggung jawab, yang merupakan nilai-nilai penting yang ingin saya tanamkan kepada mereka.
  4. Efektivitas Pembelajaran: Dengan hadir tepat waktu, saya dapat memanfaatkan waktu pelajaran secara maksimal. Ini memungkinkan saya untuk menyampaikan materi dengan lebih baik dan memberikan perhatian yang cukup kepada setiap siswa.
  5. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Positif: Ketepatan waktu membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang terstruktur dan terorganisir. Ini membantu siswa merasa aman dan tahu apa yang diharapkan dari mereka.
  6. Motivasi Intrinsik: Saya memiliki motivasi intrinsik untuk menjadi pendidik yang baik dan efektif. Ketepatan waktu adalah bagian dari komitmen saya untuk memberikan yang terbaik bagi siswa dan memastikan mereka mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas.
  7. Kepatuhan terhadap Kebijakan Sekolah: Sekolah memiliki kebijakan dan aturan tentang ketepatan waktu. Mematuhi kebijakan ini menunjukkan bahwa saya menghormati aturan dan bekerja sama untuk menciptakan budaya sekolah yang positif.

Motivasi-motivasi ini secara keseluruhan mendorong saya untuk hadir tepat waktu di kelas dan menjalankan peran saya sebagai guru dengan baik.

Tugas 2.2 (3)

Selanjutnya,

Bila di sekolah Anda tidak ada peraturan yang mengharuskan guru datang tepat waktu dan tidak ada surat teguran bagi guru yang datang terlambat, dan tidak ada atasan yang memuji Anda, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda?  Jelaskan alasan Anda.

Saya akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid saya. Ada beberapa alasan mengapa saya akan melakukan ini:

  1. Tanggung Jawab Profesional:
    • Sebagai seorang guru, saya memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan pendidikan terbaik kepada murid-murid saya. Datang tepat waktu adalah bagian dari komitmen saya untuk memastikan bahwa mereka menerima pelajaran secara penuh dan tidak ada waktu yang terbuang.
  2. Teladan yang Baik:
    • Guru adalah teladan bagi siswa. Dengan datang tepat waktu, saya memberikan contoh yang baik tentang disiplin dan tanggung jawab. Ini penting untuk membentuk karakter siswa dan mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan yang mereka butuhkan dalam kehidupan.
  3. Manajemen Kelas yang Efektif:
    • Datang tepat waktu memungkinkan saya untuk memulai kelas sesuai jadwal dan mengelola waktu dengan lebih efektif. Ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang teratur dan kondusif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pembelajaran.
  4. Menghargai Waktu Murid:
    • Waktu siswa adalah berharga, dan saya ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal. Datang terlambat akan mengurangi waktu belajar mereka dan bisa mengganggu konsentrasi serta alur pembelajaran.
  5. Integritas dan Profesionalisme:
    • Meskipun tidak ada penghargaan atau teguran, saya percaya bahwa integritas dan profesionalisme adalah bagian penting dari pekerjaan saya. Mematuhi jadwal menunjukkan bahwa saya serius dan berkomitmen terhadap tugas saya sebagai pendidik.
  6. Kepuasan Pribadi:
    • Datang tepat waktu memberikan saya rasa pencapaian dan kepuasan pribadi. Saya merasa lebih teratur dan siap untuk memulai hari dengan cara yang positif, yang juga meningkatkan semangat dan motivasi saya dalam mengajar.
  7. Hubungan dengan Kolega:
    • Menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab juga membangun reputasi yang baik di antara rekan kerja. Ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis dan kolaboratif.

Pentingnya Sikap Ini

  1. Menjaga Standar Profesional:
    • Sikap disiplin dan tepat waktu membantu menjaga standar profesional di sekolah. Ini penting untuk menciptakan budaya kerja yang positif dan produktif.
  2. Dampak Jangka Panjang:
    • Nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab yang saya tunjukkan tidak hanya berdampak pada siswa saat ini tetapi juga membentuk sikap dan kebiasaan mereka di masa depan.
  3. Menghindari Kebiasaan Buruk:
    • Mengabaikan pentingnya ketepatan waktu dapat menyebabkan kebiasaan buruk yang sulit diubah. Dengan konsisten datang tepat waktu, saya menjaga kebiasaan baik yang mendukung kesuksesan profesional.

Meskipun tidak ada teguran atau penghargaan formal, komitmen saya terhadap pendidikan dan profesionalisme tetap menjadi motivasi utama untuk datang tepat waktu. Nilai-nilai pribadi, dedikasi terhadap pekerjaan, dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi siswa adalah pendorong utama saya.

Tugas 2.2 (4)

Selanjutnya,

Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi tadi, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan!

Analisis Motivasi yang Paling Banyak Mendasari Perilaku Murid Saat Ini

Berdasarkan pengamatan umum Saya terhadap lingkungan sekolah saat ini, motivasi reward (hadiah) tampaknya paling banyak mendasari perilaku murid-murid di sekolah dibandingkan 2 jenis motivasi lainnya. Berikut alasannya:

  1. Sistem Penilaian dan Penghargaan:
    • Penerapan Sistem penilaian yang memberikan penghargaan kepada murid berdasarkan prestasi akademik, seperti nilai rapor, piagam penghargaan, dan medali.
    • Kompetisi antar murid, seperti lomba akademik atau olahraga, juga mendorong motivasi reward.
  2. Budaya Penghargaan Eksternal:
    • Penghargaan eksternal seperti pujian dari guru, pengakuan dari teman, dan hadiah materi menjadi pendorong utama bagi murid.
    • Murid sering kali termotivasi untuk berprestasi agar mendapatkan pengakuan dari orang tua dan guru.
  3. Pendekatan Pengajaran:
    • Banyak guru menggunakan sistem reward untuk mendorong perilaku positif dan keterlibatan murid dalam kelas.
    • Program-program seperti “star of the week,” “student of the month,” “Kelas terbersih,” atau penghargaan untuk partisipasi aktif sering digunakan untuk memotivasi murid.

Tantangan dan Implikasi

  • Kelemahan Motivasi Reward:
    • Ketergantungan pada penghargaan eksternal bisa membuat murid kurang termotivasi jika hadiah tersebut tidak lagi tersedia.
    • Murid mungkin tidak mengembangkan motivasi internal yang kuat dan menjadi kurang mampu bertindak berdasarkan nilai-nilai internal mereka sendiri.
  • Pentingnya Pengembangan Motivasi Internal:
    • Meskipun motivasi reward efektif dalam jangka pendek, penting bagi pendidik untuk juga mendorong pengembangan motivasi internal.
    • Mengajarkan nilai-nilai penting, memberikan pemahaman tentang manfaat pendidikan, dan memfasilitasi refleksi pribadi dapat membantu murid mengembangkan motivasi internal yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Dengan demikian, meskipun motivasi reward saat ini paling banyak mendasari perilaku murid di sekolah Saya, upaya terus-menerus untuk mengembangkan motivasi internal akan sangat bermanfaat untuk pertumbuhan pribadi dan akademik murid dalam jangka panjang.

Tugas 2.2 (5)

Selanjutnya,

Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?

Sebagai seorang guru, berikut adalah beberapa strategi yang saya terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid saya beserta hasilnya:

  1. Menetapkan Aturan yang Jelas dan Konsisten:
    • Strategi: Bersama-sama dengan murid, menetapkan aturan kelas yang jelas dan memahami konsekuensi dari pelanggaran. Melibatkan murid dalam proses ini untuk memastikan mereka merasa memiliki tanggung jawab.
    • Hasil: Murid lebih memahami harapan dan konsekuensi, merasa lebih bertanggung jawab, dan lebih cenderung mengikuti aturan karena mereka terlibat dalam pembuatannya.
  2. Memberikan Pujian dan Pengakuan:
    • Strategi: Memberikan pujian dan penghargaan untuk perilaku positif, seperti kepatuhan terhadap aturan, kerjasama, dan usaha keras.
    • Hasil: Murid termotivasi untuk terus menunjukkan perilaku positif karena merasa dihargai dan diakui, menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan dan produktif.
  3. Menggunakan Pendekatan Restoratif:
    • Strategi: Ketika terjadi pelanggaran aturan, menggunakan pendekatan restoratif seperti diskusi kelompok untuk memahami penyebab perilaku tersebut dan mencari solusi bersama.
    • Hasil: Murid belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka, memahami dampak perilaku mereka pada orang lain, dan belajar cara menyelesaikan konflik secara damai.
  4. Memberikan Pilihan dan Tanggung Jawab:
    • Strategi: Memberikan murid pilihan dalam kegiatan belajar dan tanggung jawab tertentu, seperti tugas kelas atau proyek kelompok.
    • Hasil: Murid merasa lebih terlibat dan termotivasi karena memiliki kendali atas sebagian proses belajar mereka, yang meningkatkan rasa tanggung jawab dan kedisiplinan.
  5. Modeling Perilaku Positif:
    • Strategi: Menjadi contoh perilaku positif, seperti ketepatan waktu, sikap hormat, dan kerja keras. Menunjukkan bagaimana berperilaku dengan disiplin dalam setiap aspek kegiatan sehari-hari.
    • Hasil: Murid meniru perilaku positif yang mereka lihat dari guru, yang membantu menciptakan budaya kelas yang mendukung disiplin positif.
  6. Menggunakan Teknik Positif untuk Mengarahkan Perilaku:
    • Strategi: Menggunakan isyarat non-verbal, seperti senyuman atau anggukan, untuk mengarahkan perilaku murid. Memberikan instruksi yang jelas dan positif, seperti “Mari kita selesaikan tugas ini dengan baik” daripada “Jangan malas”.
    • Hasil: Murid merespons lebih baik terhadap arahan yang positif dan non-konfrontatif, yang membantu menjaga suasana kelas yang kondusif untuk belajar.

Melalui penerapan strategi disiplin positif ini, saya melihat perubahan yang signifikan dalam perilaku murid-murid. Mereka tidak hanya menjadi lebih disiplin tetapi juga lebih termotivasi, bertanggung jawab, dan berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung.

Tugas 2.2 (6)

Selanjutnya,

Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda berusaha tanamkan pada murid-murid Anda di kelas dan sekolah Anda?

Sebagai seorang guru, saya berusaha menanamkan nilai-nilai kebajikan berikut pada murid-murid di kelas dan sekolah:

  1. Kejujuran:
    • Penjelasan: Mendorong murid untuk selalu berkata jujur dan bertindak dengan integritas, baik dalam hal akademik maupun interaksi sehari-hari.
    • Contoh Penerapan: Menganjurkan murid untuk jujur saat mengerjakan ujian dan tugas, serta mengakui kesalahan mereka.
  2. Tanggung Jawab:
    • Penjelasan: Mengajarkan murid untuk bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan mereka.
    • Contoh Penerapan: Menetapkan tugas dan peran dalam proyek kelompok, serta meminta murid untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu.
  3. Rasa Hormat:
    • Penjelasan: Mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, termasuk teman sekelas, guru, dan staf sekolah.
    • Contoh Penerapan: Memperlihatkan sikap hormat dalam komunikasi, mendengarkan saat orang lain berbicara, dan menghargai perbedaan pendapat.
  4. Kedisiplinan:
    • Penjelasan: Membantu murid memahami pentingnya kedisiplinan dalam mencapai tujuan mereka.
    • Contoh Penerapan: Menerapkan rutinitas harian, menetapkan dan mengikuti aturan kelas, serta menghargai waktu.
  5. Kepedulian:
    • Penjelasan: Mendorong murid untuk peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.
    • Contoh Penerapan: Mengorganisir kegiatan sosial atau proyek lingkungan, serta mendorong tindakan saling membantu di antara murid.
  6. Kerjasama:
    • Penjelasan: Mengajarkan pentingnya bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
    • Contoh Penerapan: Menerapkan tugas-tugas kelompok, aktivitas kolaboratif, dan diskusi kelas.
  7. Ketahanan dan Ketekunan:
    • Penjelasan: Mengajarkan murid untuk tetap gigih dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
    • Contoh Penerapan: Memberikan dukungan dan dorongan saat murid menghadapi kesulitan, serta merayakan keberhasilan setelah usaha keras.
  8. Empati:
    • Penjelasan: Mendorong murid untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain.
    • Contoh Penerapan: Melibatkan murid dalam diskusi tentang pengalaman dan perasaan, serta mendorong tindakan yang menunjukkan kepedulian dan pengertian.
  9. Keberanian:
    • Penjelasan: Mendorong murid untuk berani mengemukakan pendapat, bertindak sesuai dengan nilai-nilai mereka, dan menghadapi tantangan.
    • Contoh Penerapan: Menciptakan lingkungan yang aman untuk berbicara, mendorong inisiatif, dan memberikan dukungan saat murid menghadapi situasi sulit.

Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan ini, murid diharapkan akan berkembang menjadi individu yang tidak hanya berprestasi secara akademik tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan moral yang baik. Mereka akan lebih mampu berkontribusi positif dalam masyarakat, memiliki hubungan interpersonal yang sehat, dan siap menghadapi tantangan hidup dengan sikap yang baik dan konstruktif.

Pertanyaan Reflektif

Bacalah kasus Ibu Anas di bawah ini dan cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan:

Iva kurang menguasai pelajaran Matematika, sehingga pada saat pelajaran tersebut berlangsung, dia lebih banyak berdiam diri atau menggambar di buku pelajarannya. Pada saat guru Matematikanya, Pak Seno, menanyakan pertanyaan Iva menjadi gugup, dan tak sengaja menjatuhkan tasnya dari kursi, serta tiba-tiba menjadi gagap pada saat berupaya menjawab. Seluruh kelas pun tertawa melihat perilaku Iva yang bicara tergagap dan terkejut tersebut. Pak Seno pada saat itu membiarkan teman-teman Iva menertawakan Iva yang tergagap dan malu luar biasa, dan malahan minta Iva untuk maju ke depan dan berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Seno. Kelas makin gaduh, dan anak-anak pun tertawa melihat Iva di depan kelas memegang ujung hidungnya.

Jawablah kedua pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.

  1. Apakah Anda setuju dengan tindakan pak Seno terhadap Iva? Mengapa?
  2. Menurut Anda, tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah sebuah hukuman atau konsekuensi? Mengapa?

Apakah Anda setuju dengan tindakan Pak Seno terhadap Iva? Mengapa?

Saya tidak setuju dengan tindakan Pak Seno terhadap Iva. Tindakan tersebut tidak hanya tidak efektif dalam membantu Iva menguasai pelajaran Matematika, tetapi juga dapat menyebabkan trauma dan penurunan rasa percaya diri Iva. Menertawakan seorang murid di depan kelas dan mempermalukan mereka hanya akan memperburuk situasi dan membuat murid merasa takut dan tidak nyaman. Alih-alih membantu, tindakan Pak Seno justru dapat membuat Iva semakin tidak suka dan cemas terhadap pelajaran Matematika, serta merasa malu dan rendah diri di depan teman-temannya.

Menurut Anda, tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah sebuah hukuman atau konsekuensi? Mengapa?

Tindakan Pak Seno terhadap Iva lebih dapat dikategorikan sebagai hukuman daripada konsekuensi. Berikut alasannya:

  1. Hukuman:
    • Hukuman adalah tindakan yang diberikan untuk menghentikan atau mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, sering kali melalui metode yang negatif dan merendahkan.
    • Pak Seno mempermalukan Iva dengan meminta Iva berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya, yang merupakan tindakan yang merendahkan dan tidak ada kaitannya dengan perbaikan perilaku atau peningkatan pemahaman akademis.
  2. Konsekuensi:
    • Konsekuensi seharusnya berkaitan langsung dengan perilaku dan membantu murid memahami dampak dari tindakan mereka, serta mendorong perbaikan di masa depan.
    • Dalam kasus ini, tindakan mempermalukan Iva tidak memberikan pelajaran yang konstruktif atau membantu Iva memahami pelajaran Matematika lebih baik. Tidak ada kaitan langsung antara kesalahan akademis dengan tindakan mempermalukan yang diterima Iva.

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini akan diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi.  

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). 

Sebelum kita membahas lebih mendalam tentang penerapan Restitusi, kita perlu bertanya dahulu, adakah perbedaan antara hukuman dan konsekuensi? Bila sama, di mana persamaannya? Bila berbeda, bagaimana perbedaannya? Di bawah ini Anda akan diberikan suatu gambaran perbedaan antara Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi itu sendiri. 

Bila kita melihat bagan di bawah ini, kata disiplin tanpa tambahan kata ‘positif’ di belakangnya, sesungguhnya sudah merupakan identitas sukses dan hukuman merupakan identitas gagal. Disiplin yang sudah bermakna positif terbagi dua bagian yaitu Disiplin dalam bentuk Konsekuensi, dan Disiplin dalam bentuk Restitusi, yang selanjutnya akan dijelaskan dengan lebih rinci di pembelajaran 2.2 dan 2.6.

Berdasarkan bagan diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.

Sementara disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid.

Pertanyaan Reflektif 2

Bacalah kasus Ibu Anas di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan:

Ibu Anas guru kelas 2 SD, mendapatkan masalah. Murid-muridnya tidak bisa tertib berdiri antri di depan pintu kelas, dan selalu berebutan masuk ke dalam kelas setelah jam istirahat usai. Ini tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran dimana kelas tidak dapat mulai tepat waktu karena Ibu Anas sibuk menenangkan murid-muridnya untuk waktu cukup lama. Akhirnya Bu Anas berpikir cepat, dan mengandalkan stiker bintang. Setiap murid-muridnya akan masuk kelas usai jam istirahat, Bu Anas akan mengiming-imingi murid-muridnya dengan stiker bintang. “Siapa yang dapat berdiri lurus dan berbaris rapi antri di depan pintu, dapat bintang dari Bu Anas!” Sebagian besar murid-muridnya menyambut tantangan tersebut, dan langsung berdiri rapi di depan pintu agar mendapatkan stiker bintang. Hal ini terus dilakukan Bu Anas selama beberapa minggu, karena cukup berhasil membuat murid-muridnya berdiri rapi antri di depan pintu. Sampai pada suatu saat Bu Anas sakit, dan terpaksa digantikan Pak Heru. Pak Heru tidak mengetahui tentang stiker bintang, dan benar saja, pada saat mau masuk ke kelas usai jam istirahat murid-murid kelas 2 kembali berebutan masuk kelas. Apa yang terjadi, mengapa?

Jawablah ketiga pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.

  1. Berdasarkan teori motivasi yang telah Anda pelajari pada pembelajaran sebelumnya, kira-kira apa motivasi murid-murid kelas 2 untuk bersedia berdiri antri sebelum masuk kelas? 
  2. Adakah cara lain agar murid-murid kelas 2 bersedia antri di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang? Jelaskan.

1. Motivasi murid-murid kelas 2 untuk bersedia berdiri antri sebelum masuk kelas adalah motivasi ekstrinsik. Mereka termotivasi oleh hadiah eksternal, yaitu stiker bintang yang diberikan oleh Bu Anas. Stiker bintang tersebut berfungsi sebagai bentuk reward yang mendorong mereka untuk mengikuti aturan berdiri antri dengan rapi. Motivasi ini bersifat sementara karena bergantung pada adanya hadiah eksternal.

2. Adakah cara lain agar murid-murid kelas 2 bersedia antri di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang? Jelaskan.

Ya, ada beberapa cara lain untuk membuat murid-murid kelas 2 bersedia antri di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang, yaitu dengan mengembangkan motivasi intrinsik dan strategi disiplin positif. Berikut beberapa pendekatannya:

  1. Menjelaskan Alasan di Balik Aturan:
    • Penjelasan: Guru dapat menjelaskan kepada murid-murid mengapa penting untuk berdiri antri dengan rapi sebelum masuk kelas, seperti keamanan, kenyamanan, dan efisiensi waktu.
    • Hasil: Murid-murid akan memahami nilai di balik perilaku tersebut dan lebih mungkin melakukannya dengan kesadaran diri.
  2. Menggunakan Cerita atau Role-Playing:
    • Penjelasan: Guru dapat menggunakan cerita atau permainan peran untuk menggambarkan pentingnya antri dan bagaimana hal itu membantu semua orang.
    • Hasil: Melalui cerita atau permainan, murid-murid akan lebih terlibat dan memahami pentingnya antri dengan cara yang menyenangkan.
  3. Membentuk Kebiasaan Positif:
    • Penjelasan: Guru bisa melatih murid-murid untuk antri dengan cara yang konsisten setiap hari tanpa hadiah fisik, tetapi dengan pujian verbal dan pengakuan.
    • Hasil: Seiring waktu, antri akan menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa perlu hadiah eksternal.
  4. Memberikan Tanggung Jawab:
    • Penjelasan: Memberikan tanggung jawab kepada murid tertentu untuk memimpin barisan atau menjadi “penjaga antrian” yang membantu mengatur teman-temannya.
    • Hasil: Murid merasa memiliki peran penting dan bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban antri.

Dihukum oleh Penghargaan


Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan pekerjaan yang berkualitas,kita sedang berasumsi mereka tidak dapat melakukannya,  atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya.”
(Alfie Kohn)


Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.

Kohn selanjutnya  juga mengemukakan beberapa pernyataan dari hasil pengamatannya selama ini tentang tindakan memberikan penghargaan yang nilainya sama dengan menghukum seseorang.

Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang

  • Penghargaan efektif jika kita menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek.
  • Jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, maka orang tersebut akan bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari dalam.
  • Jika kita mendapatkan penghargaan untuk melakukan sesuatu yang baik, maka selain kita senantiasa berharap mendapatkan penghargaan tersebut lagi, kita pun menjadi tidak menyadari tindakan baik yang kita lakukan.

Penghargaan Tidak Efektif

  • Suatu penghargaan adalah suatu benda atau peristiwa yang diinginkan, yang dibuat dengan persyaratan: Hanya jika Anda melakukan hal ini, maka Anda akan mendapatkan penghargaan yang diinginkan.
  • Jika saya mengharapkan suatu penghargaan dan tidak mendapatkannya, maka saya akan kecewa dan berkecil hati, serta kemungkinan lain kali saya tidak akan berusaha sekeras sebelumnya.
  • Jika kita memberikan seseorang suatu penghargaan untuk melakukan sesuatu, maka kita harus terus menerus memberikan penghargaan itu jika kita ingin orang tersebut meneruskan perilaku yang kita inginkan.
  • Orang yang berusaha berhenti merokok, atau orang yang berusaha diet menguruskan badan bila diberikan penghargaan hampir pasti tidak berhasil.

Penghargaan Merusak Hubungan

  • Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang yang diberikan penghargaan tersebut.
  • Jika seorang guru sering memberikan penghargaan kepada murid-muridnya, besar kemungkinan murid-muridnya termotivasi hanya untuk menyenangkan gurunya. Mereka tidak akan bersikap jujur kepada guru tersebut.
  • Penghargaan menciptakan persaingan di dalam kelas, dan persaingan menciptakan kecemasan.
  • Mereka yang percaya bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan akan berhenti mencoba.

Penghargaan Mengurangi Ketepatan

Riset I: Dalam sebuah percobaan, sekelompok anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun diminta untuk melihat gambar-gambar wajah yang ditampilkan di layar, dan mereka harus memberitahukan jika wajah-wajah tersebut sama atau berbeda. Gambar-gambar tersebut hampir sama. Beberapa dari mereka diberi penghargaan (dalam bentuk uang) pada saat mereka memberikan jawaban benar, sementara sebagian yang lain tidak.

Hasil: Anak laki-laki yang dibayar membuat lebih banyak kesalahan.


Riset II: Anak-anak diminta mengingat kata-kata tertentu, kemudian mereka diminta mengambil kartu yang berisi kata-kata yang diingat tersebut setiap kali muncul. Beberapa anak diberikan permen setiap mereka memberikan jawaban yang benar, dan sebagian yang lain hanya diberitahu saja bila jawaban mereka benar.

Hasil: Anak-anak yang mendapatkan permen jawabannya banyak yang tidak tepat dibandingkan anak-anak yang hanya diberitahu jawabannya benar.

Penghargaan Menurunkan Kualitas

Pengamatan dilakukan pada sekelompok mahasiswa/i yang sedang kerja praktik di sebuah surat kabar universitas; saat itu mereka sedang belajar menuliskan sebuah artikel tentang sebuah judul berita utama. Seiring waktu mahasiswa/i tersebut semakin mampu bekerja dengan cepat. Kemudian, ada beberapa mahasiswa/i yang dibayar untuk setiap judul berita utama yang mereka mampu hasilkan, dan setelah beberapa lama mahasiswa/i yang dibayar ini hasil kinerjanya berhenti berkembang. Mereka yang tidak menerima bayaran terus berupaya mengasah diri menjadi lebih baik.

Penghargaan Mematikan Kreativitas

  • Murid-murid diminta berpikir mengenai hadiah atau penghargaan yang bisa mereka dapatkan bila berhasil menulis sebuah puisi. Kreatifitas kelompok murid-murid ini menjadi berkurang, dibandingkan dengan yang tidak diberitahukan tentang hadiah yang bisa mereka terima.
  • Penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan seni atau sebuah penulisan cerita menjadi kurang kreatif bila dijanjikan sebuah hadiah/penghargaan.
  • Dalam tugas-tugas memecahkan masalah, para murid memakan waktu lebih lama dan memberikan jalan keluar kurang kreatif, saat mereka dijanjikan suatu penghargaan.

Penghargaan Menghukum

  • Penghargaan ‘menghukum’ mereka yang tidak mendapatkan penghargaan. Misalnya dalam sistem ‘ranking’. Mereka yang mendapatkan ranking kedua akan merasa paling ‘dihukum’.
  • Memberikan penghargaan dan hukuman adalah hal yang sama, karena keduanya mencoba mengendalikan perilaku seseorang.
  • Karena orang pada dasarnya tidak suka dikendalikan, dalam jangka waktu lama, penghargaan akan terlihat sebagai hukuman.
  • Jika suatu penghargaan diharapkan, namun Anda tidak mendapatkannya, Anda akan merasa dihukum.

Motivasi dari Dalam Diri (Intrinsik)

  • Saat seorang anak belajar untuk pertama kali, menggabungkan huruf-huruf dan kata-kata,  serta menyadari bahwa ia dapat membaca, timbul pijar di matanya dan sebuah senyuman di wajahnya. Anak tersebut begitu gembira bahwa ia telah mempelajari dan menguasai suatu keterampilan baru. Kesadaran akan kemampuannya bahwa ‘dia’ sudah dapat membaca, sesungguhnya sudah merupakan sebuah penghargaan.
  • Jika kita memberikan penghargaan kepada seorang anak pada saat dia sedang merasa bangga dengan pencapaiannya sendiri, maka kita akan mengambil kegembiraan yang saat itu sedang dirasakan secara alamiah.

Disadur dari materi pelatihan ‘Dihukum oleh Penghargaan’, Yayasan Pendidikan Luhur-Foundation for Excellence in Education, 2006.

Tugas 2.2 (7)

Bacalah kedelapan pembahasan tentang ‘Dihukum oleh Penghargaan’ yang dirangkum dalam kotak pada halaman sebelumnya. Rangkuman itu berisi pernyataan-pernyataan atau hasil penelitian yang dikumpulkan oleh pakar pendidikan Alfie Kohn. 

Pilihlah dua kotak yang berisi pernyataan atau hasil penelitian yang paling menarik atau menantang untuk Anda. Tuliskan tanggapan Anda terhadap pernyataan/hasil penelitian yang Anda pilih tersebut, kemudian berilah minimal 2 tanggapan atas jawaban/tanggapan rekan Anda.

Tanggapan terhadap Pandangan Alfie Kohn

  • Kotak 1: Penghargaan efektif jika kita menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek.
  1. Efektivitas Jangka Pendek
    • Setuju: Penghargaan memang terbukti efektif dalam jangka pendek untuk mengarahkan perilaku. Contoh, ketika Bu Anas memberikan stiker bintang untuk murid yang antri dengan rapi, murid-murid langsung menunjukkan perilaku yang diinginkan.
    • Contoh: Penghargaan seperti bintang emas atau permen bisa segera memotivasi anak untuk menyelesaikan tugas atau mengikuti aturan tertentu.
  2. Kelemahan Jangka Panjang
    • Setuju: Namun, seperti yang Kohn tekankan, penghargaan tidak membantu membangun motivasi intrinsik. Anak-anak mungkin akan bergantung pada hadiah eksternal untuk termotivasi, dan jika penghargaan dihentikan, perilaku positif juga bisa hilang.
    • Contoh: Ketika Bu Anas tidak ada dan Pak Heru tidak mengetahui tentang sistem stiker bintang, murid-murid kembali berebutan masuk kelas, menunjukkan bahwa mereka tidak menginternalisasi pentingnya antri.
  3. Mengurangi Minat Intrinsik
    • Setuju: Penghargaan dapat mengurangi minat intrinsik pada aktivitas itu sendiri. Murid mungkin antri hanya untuk mendapatkan stiker, bukan karena mereka memahami pentingnya antri.
    • Contoh: Jika murid hanya membaca buku untuk mendapatkan hadiah, mereka mungkin tidak akan membaca dengan suka cita atau memahami manfaat membaca itu sendiri.
  4. Ketergantungan pada Penghargaan
    • Setuju: Ketergantungan pada penghargaan dapat membuat anak-anak selalu mencari hadiah untuk setiap tindakan positif, mengurangi inisiatif mereka untuk bertindak dengan baik tanpa imbalan.
    • Contoh: Anak-anak mungkin mulai bertanya “Apa hadiahnya?” sebelum mereka setuju untuk melakukan sesuatu yang diminta oleh guru atau orang tua.
  • Kotak 8: Jika kita memberikan penghargaan kepada seorang anak pada saat dia sedang merasa bangga dengan pencapaiannya sendiri, maka kita akan mengambil kegembiraan yang saat itu sedang dirasakan secara alamiah.

Alfie Kohn berargumen bahwa memberikan penghargaan kepada seorang anak ketika mereka sedang merasa bangga dengan pencapaian mereka sendiri dapat mengurangi kegembiraan yang dirasakan secara alami. Berikut adalah beberapa tanggapan terkait pandangan ini:

  1. Pengaruh Negatif pada Motivasi Intrinsik:
    • Setuju: Saya setuju dengan Kohn bahwa penghargaan eksternal dapat mengurangi motivasi intrinsik. Ketika anak merasa bangga dengan pencapaian mereka sendiri, perasaan itu berasal dari dalam diri mereka dan merupakan bentuk motivasi intrinsik. Jika kita memberikan penghargaan eksternal saat itu, anak mungkin mulai melihat penghargaan sebagai alasan utama untuk berusaha, bukan karena mereka menikmati atau bangga dengan pencapaian itu sendiri.
    • Penjelasan: Penelitian telah menunjukkan bahwa penghargaan eksternal dapat menggeser fokus dari kegembiraan intrinsik ke keinginan untuk mendapatkan hadiah. Ini bisa membuat anak lebih bergantung pada penghargaan eksternal di masa depan dan kurang termotivasi oleh kepuasan pribadi dari pencapaian mereka.
  2. Penghargaan Dapat Memiliki Tempatnya Sendiri:
    • Berlawanan: Namun, pandangan Saya bahwa penghargaan eksternal, jika digunakan dengan bijak, tetap memiliki tempatnya sendiri dalam pendidikan. Misalnya, penghargaan dapat membantu memotivasi anak-anak yang mungkin belum menemukan motivasi intrinsik mereka atau memberikan dorongan tambahan saat dibutuhkan.
    • Penjelasan: Penghargaan bisa digunakan sebagai alat untuk mengarahkan anak-anak ke perilaku atau prestasi tertentu, dengan harapan bahwa mereka akan mengembangkan minat dan motivasi intrinsik seiring waktu.
  3. Keseimbangan dan Konteks Penting:
    • Kompromi: Pendekatan yang seimbang mungkin adalah yang paling efektif. Menggunakan penghargaan eksternal secara selektif dan bijaksana, serta memastikan bahwa penghargaan tersebut tidak mengurangi atau menggantikan perasaan bangga dan kepuasan intrinsik.
    • Penjelasan: Guru dan orang tua bisa fokus pada memberikan penghargaan dalam konteks yang tidak mengganggu motivasi intrinsik. Misalnya, memberikan penghargaan untuk usaha keras daripada hasil akhir, atau memberikan pengakuan yang tidak terlalu menonjolkan hadiah fisik.
  4. Menghargai Usaha dan Proses:
    • Setuju: Saya juga setuju dengan ide untuk lebih menekankan penghargaan pada usaha dan proses daripada hasil akhir. Ini membantu anak memahami bahwa usaha mereka adalah hal yang paling berharga, bukan sekadar hasil atau penghargaan yang mereka dapatkan.
    • Penjelasan: Dengan cara ini, anak-anak belajar untuk menghargai usaha yang mereka lakukan dan bangga dengan proses belajar mereka sendiri, yang pada akhirnya dapat memperkuat motivasi intrinsik mereka.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pandangan Alfie Kohn tentang dampak negatif penghargaan eksternal pada motivasi intrinsik memiliki dasar yang kuat dalam penelitian psikologi pendidikan. Namun, penting juga untuk mempertimbangkan konteks dan bagaimana penghargaan digunakan. Penggunaan penghargaan secara bijaksana, dengan fokus pada usaha dan proses, serta menjaga keseimbangan dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk merasakan kepuasan intrinsik, bisa menjadi pendekatan yang efektif dalam mendukung perkembangan mereka.

Restitusi: Sebuah Pendekatan untuk Menciptakan Disiplin Positif

Bapak Ibu calon guru penggerak, apa yang akan Anda lakukan bila, 

  1. Dalam sebuah acara pesta ulang tahun, teman Anda memecahkan gelas. Apakah Anda akan membiarkan dia membayar harga gelas yang dipecahkannya?
  2. Anda sudah janji bertemu dengan teman Anda, namun ternyata dia juga memiliki janji penting bertemu orang lain di tempat lain, dan Anda terpaksa naik taksi untuk menemui teman Anda di tempat itu, apakah Anda akan meminta teman Anda membayar biaya taksi Anda menuju ke tempat tersebut?
  3. Pegawai Anda membuat kesalahan yang menyebabkan kerugian finansial pada perusahaan, pegawai tersebut menawarkan untuk bekerja lembur tanpa bayaran, apakah Anda sebagai pemilik perusahaan akan menerimanya?

Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak, 

Bila ada seseorang berbuat salah pada Anda, ketika mereka menawarkan sebuah tindakan untuk memperbaiki kesalahan mereka,  kemungkinan besar, jawaban Anda adalah akan menolak semua tawaran itu, dan akan bilang, tidak usah, tidak apa-apa. Lupakan saja. 

Kebiasaan kita selama ini, bila ada orang yang berlaku salah pada kita adalah langsung memaafkan, atau bahkan kita melakukan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman atau merasa bersalah. Kita cenderung untuk berfokus pada kesalahan daripada mencari cara bagi orang yang berbuat kesalahan untuk memperbaiki diri. Kita lebih fokus pada pada cara mereka membayar akibat dari kesalahan mereka daripada mengembalikan harga diri mereka. Membuat kondisi menjadi impas, menjadi lebih penting daripada membuat situasi menjadi benar. 

Bapak Ibu guru penggerak,

Sebagai seorang guru, ketika murid Anda melakukan kesalahan, tindakan mana yang akan Anda lakukan?

  • Menunjukkan kesalahannya dan memintanya melihat kesalahannya baik-baik
  • Mengatakan, “Kamu seharusnya tahu bagaimana kamu seharusnya bertindak”.
  • Mengingatkan murid Anda akan kesalahannya yang sama di waktu sebelumnya.
  • Bertanya padanya, “Kenapa kamu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan?”.
  • Mengkritik  dan mendiamkannya

Kalau Anda melakukan tindakan-tindakan di atas, mungkin Anda akan membuat murid Anda merasa menjadi anak yang gagal. Pertanyaannya sekarang, bagaimana sebaiknya respon kita bila ada murid kita melakukan kesalahan? Mari kita baca artikel ini. 

1.4.f.3. Keyakinan Kelas

Mengapa keyakinan kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja?

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut: 

  1. Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan helm pada saat mengendarai kendaraan roda dua/motor?
    (Kemungkinan jawaban Anda adalah untuk ‘keselamatan’).
  2. Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan masker dan mencuci tangan setiap saat?
    (Kemungkinan jawaban Anda adalah ‘untuk kesehatan dan/atau keselamatan’).  

Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya pada pembelajaran 2.1 tentang Nilai-nilai Kebajikan bahwa menekankan pada keyakinan seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan memahami arti sesungguhnya tentang peraturan-peraturan yang diberikan, apa nilai-nilai kebajikan dibalik peraturan tersebut, apa tujuan utamanya, dan menjadi tidak tertarik, atau takut sehingga hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan-peraturan yang mengatur mereka tanpa memahami tujuan mulianya.

Pada pembelajaran Disiplin dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, kita telah mempelajari tentang nilai-nilai kebajikan yang dapat menjadi landasan kita dalam membuat suatu keyakinan sekolah atau menentukan visi dan misi atau tujuan dari sebuah institusi/sekolah. Seperti telah dikemukakan di modul 1.2, dalam penentuan visi sebuah institusi/sekolah kita terlebih dahulu perlu menentukan nilai-nilai kebajikan apa yang terpenting bagi institusi tersebut agar dapat mencapai tujuan mulia yang dicita-citakan. Penentuan nilai-nilai kebajikan pada sebuah institusi telah diberikan contoh-contohnya pada pembelajaran 2.1.

Selanjutnya kita akan meninjau kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa dilakukan agar dapat menentukan keyakinan suatu sekolah atau pun keyakinan kelas pada halaman berikutnya.

Menurut Saya, dalam menentukan keyakinan suatu sekolah atau keyakinan kelas hendaknya melibatkan serangkaian kegiatan yang dapat membantu siswa dan guru mencapai pemahaman bersama tentang nilai-nilai, tujuan, dan harapan bersama. Berikut adalah beberapa kegiatan yang dapat dilakukan:

  • Survei dan Diskusi dengan Stakeholder:
    • Melakukan survei kepada siswa, guru, staf, dan orang tua untuk mengumpulkan pandangan mereka tentang nilai-nilai yang penting.
    • Mengadakan diskusi atau forum terbuka untuk mendiskusikan hasil survei dan mendapatkan umpan balik lebih lanjut.
  • Retret atau Kegiatan Team Building:
    • menyelenggarakan retret untuk guru dan staf dengan fokus pada pengembangan visi bersama dan membangun budaya sekolah yang positif.
    • Mengadakan kegiatan team building yang melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk memperkuat ikatan dan kerjasama.
  • Papan Visi dan Misi:
    • Buat papan visi dan misi yang ditempatkan di tempat strategis di sekolah.
    • Sertakan karya siswa yang mencerminkan nilai-nilai sekolah.
  • Proyek Kolaboratif:
    • Jalankan proyek kolaboratif antara siswa, guru, dan orang tua yang mendukung nilai-nilai inti sekolah.
    • Contohnya, proyek lingkungan, proyek sosial, atau kegiatan amal.
  • Kontrak Kelas:
    • Mulailah tahun ajaran dengan diskusi kelompok tentang nilai-nilai yang penting bagi siswa dalam kelas.
    • Fasilitasi diskusi tentang apa yang diinginkan siswa dari pengalaman belajar mereka dan bagaimana mereka ingin berinteraksi satu sama lain. Pastikan semua siswa memberikan masukan dan menandatangani kontrak tersebut.
  • Aktivitas Refleksi:
    • Menyelenggarakan aktivitas refleksi rutin di mana siswa bisa berbagi pengalaman mereka dan bagaimana nilai-nilai kelas telah diterapkan.
    • Menggunakan jurnal atau buku catatan refleksi untuk mencatat perkembangan.
  • Proyek Kelas:
    • Mengdakan proyek kelas yang berfokus pada nilai-nilai tertentu, seperti proyek kebersihan, proyek anti-bullying, atau proyek gotong royong yang melibatkan siswa dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek ini.
  • Papan Inspirasi:
    • Membuat papan inspirasi di kelas yang mencerminkan nilai-nilai kelas dan mengisinya dengan kutipan, gambar, atau karya siswa yang mencerminkan keyakinan kelas.

Dengan melibatkan seluruh komunitas sekolah dan siswa dalam proses ini, keyakinan dan nilai-nilai yang dibentuk akan lebih mendalam dan dipegang teguh oleh semua pihak.

ilai-nilai kebajikan yang ingin dijadikan perhatian utama di Kelas Saya adalah:

1. Kebersihan dan Keteraturan: Murid bersama-sama menjaga kebersihan diri dan ruang kelas mereka.

2. Belas Kasih: Murid saling mengasihi dan tolong menolong sebagai kunci persahabatan mereka

3. Bertanggung Jawab: Murid bertanggung jawab atas barang pribadi dan fasilitas kelas untuk merapikan dan menyimpan kembali sesuai dengan tempatnya masing-masing.

4. Rajin dan Komitmen: Murid bersama-sama menghargai dan disiplin waktu.

5. Menghargai dan Percaya diri: Murid mengangkat tangan jika berpendapat, menghargai atas pendapat rekannya, dan percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya.

Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas

  • Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
  • Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
  • Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
  • Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
  • Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. 
  • Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
  • Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Lihatlah daftar peraturan di bawah ini kemudian tuliskan keyakinan kelas atau nilai kebajikan yang dituju dari peraturan tersebut. Adapun nilai-nilai kebajikan yang diterima secara universal lepas dari latar belakang budaya, bahasa, suku bangsa, maupun agama berupa hal-hal seperti keadilan, kehormatan, peduli, integritas, kejujuran, pelayanan, keamanan, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan, kesehatan, dan masih banyak lagi nilai-nilai kebajikan universal. Peraturan-peraturan yang tercantum di sisi kiri tidak terbatas pada peraturan yang ditemui di kelas atau sekolah, namun peraturan yang biasa kita temui di sekeliling kita.

Prosedur Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas

  1. Mempersilakan warga sekolah atau murid-murid di sekolah/kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati di sekolah/kelas.
  2. Mencatat semua masukan-masukan para murid/warga sekolah di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran poster), di mana semua anggota kelas/warga sekolah bisa melihat hasil curah pendapat.
  3. Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif. 
    Contoh:
    Kalimat negatif: Jangan berlari di kelas atau koridor.
    Kalimat positif: Berjalanlah di kelas atau koridor.
  4. Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Anda mungkin akan mendapati bahwa pernyataan yang tertulis di sana masih banyak yang berupa peraturan-peraturan. Selanjutnya, ajak warga sekolah/murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang dituju dari peraturan tersebut.  Contoh: Berjalan di kelas, Dengarkan Guru, Datanglah Tepat Waktu berada di bawah 1 ‘payung’ yaitu keyakinan untuk ‘Saling Menghormati’ atau nilai kebajikan ‘Hormat’. Keyakinan inilah yang dimasukkan dalam daftar untuk disepakati.  Kegiatan ini juga merupakan pendalaman pemahaman bentuk peraturan ke keyakinan sekolah/kelas.
  5. Tinjau ulang Keyakinan Sekolah/Kelas secara bersama-sama. Seharusnya setelah beberapa peraturan telah disatukan menjadi beberapa keyakinan maka jumlah butir pernyataan keyakinan akan berkurang. Sebaiknya keyakinan sekolah/kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar antara 3-7 prinsip/keyakinan. Bilamana terlalu banyak, maka warga kelas akan sulit mengingatnya dan akibatnya sulit untuk dijalankan.
  6. Setelah keyakinan sekolah/kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan sekolah/kelas tersebut, termasuk guru dan semua warga/murid. 
  7. Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas.

Agar semua warga kelas dapat memahami setiap pernyataan yang telah tercantum dalam keyakinan kelas, maka selama seminggu di awal tahun ajaran baru dapat didedikasikan untuk pendalaman setiap keyakinan dengan berbagai kegiatan.

Kegiatan-kegiatan Pendalaman Keyakinan Kelas

1. Kegiatan Tampak Seperti/Tidak Tampak Seperti

Anggota kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok diberikan kertas. Salah satu anggota kelompok membuat huruf T kapital yang besar (Tabel T). Guru memberikan salah satu ‘keyakinan kelas’ kepada setiap kelompok. Dua kelompok bisa mendapatkan keyakinan yang sama bila ada 10 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok diminta untuk bercurah pendapat tentang keyakinan tersebut, tampak seperti apa, tampak tidak seperti apa. Kemudian hasil curah pendapat  setiap kelompok dipresentasikan pada kelompok besar, dan kertasnya ditempel di sekeliling dinding kelas untuk dapat dilihat setiap warga kelas agar menguatkan pemahaman.

Contoh

Tampak Seperti/Tidak Tampak Seperti (Tabel T) dari Keyakinan Kelas 7:

Bagan Tampak Seperti (Tabel Y) dari Keyakinan Kelas 7.

Kegiatan-kegiatan Pendalaman Keyakinan Kelas

2.  Kegiatan Tugas Saya-Tugas Kamu (Tugas Guru-Tugas Murid)

Salah satu kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk memperdalam keyakinan kelas, adalah mempelajari tanggung jawab setiap warga kelas. Keyakinan bertanggung jawab serta hak seseorang adalah sesuatu yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang menumbuhkan murid yang merdeka:

“…beratlah kemerdekaan itu! bukan hanya tidak terperintah saja, akan tetapi harus juga dapat menegakkan dirinya dan mengatur perikehidupannya dengan tertib. dalam hal ini termasuklah juga mengatur tertibnya perhubungan dengan kemerdekaan orang lain (Ki Hadjar Dewantara, buku kuning, hal.4.)

Pada pekan pendalaman Keyakinan Kelas, maka murid-murid dapat diajak berdiskusi tentang tanggung jawab dan hak masing-masing warga kelas, yaitu apa Tugas Guru dan Bukan Tugas Guru serta Apa Tugas Murid atau Bukan Tugas Murid. Berikut adalah langkah yang dapat dilakukan dalam mendiskusikan hal tersebut:

  1. Guru akan membuat bagan berisi 4 kotak.
  2. Masing-masing kotak diisi judul: Guru-Tugasnya…, Murid-Tugasnya…, Guru-Tugasnya Bukan.., Murid-Tugasnya Bukan…
  3. Guru bercurah pendapat dengan dua cara:
    • Mengajak murid berpendapat secara individu, atau
    • Membagi murid dalam 4 atau 8 kelompok, dan setiap kelompok diberikan tugas bercurah pendapat tentang masing-masing tugas/bukan tugas guru maupun murid.
  4. Hasil dari curah pendapat Tugas Saya-Tugas Kamu ditempel di dinding kelas agar dapat dilihat seluruh warga kelas.
    Contoh (hasil curah pendapat guru dan murid-muridnya)
    Tugas Saya (Guru)-Tugas Kamu (Murid) (Kelas 4-8)

1.4.f.3. Keyakinan Kelas

2. Kegiatan Tugas Saya-Tugas Kamu (Tugas Guru-Tugas Murid)

Coba Anda lakukan kegiatan Tugas Saya-Tugas Kamu dengan murid-murid di sekolah Anda, atau bisa juga dilakukan dengan anak-anak Anda di rumah (menjadi: Tugas Orang Tua-Tugas Anak). Bercurah pendapat tentang tugas masing-masing warga kelas atau rumah untuk membangun lingkungan positif yang aman dan nyaman, yang selanjutnya menjadi suatu budaya positif.

1.4.f.4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

5 Kebutuhan Dasar Manusia menurut Dr. William Glasser dalam “Choice Theory”

Pertanyaan Pemantik:

Ibu Ambar, guru wali kelas kelas 2A di SD Pelita Hati, sedang bingung menghadapi ulah salah satu murid di kelasnya, Doni.  Beberapa anak di kelas 2A telah datang padanya dan mengeluhkan Doni yang seringkali meminta bekal makan siang mereka dengan paksa. Jika Anda menghadapi situasi seperti Ibu Ambar, apa yang akan anda lakukan? Menurut anda, kira-kira apa alasan Doni melakukan hal itu?

Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak, 

Merujuk pada situasi yang sedang dihadapi Ibu Ambar di atas, dalam konteks penegakan disiplin positif, Ibu Ambar sebaiknya mencari tahu alasan Doni melakukan tindakan tersebut agar mengetahui kebutuhan mana yang sedang berusaha dipenuhi oleh Doni. 

Pada modul 1.2, nilai dan peran guru penggerak, telah dibahas mengenai 5 kebutuhan dasar manusia. Di modul 1.4 ini, kita akan menghubungkan konsep tersebut dengan disiplin positif yang berdasarkan pada teori kontrol dimana dinyatakan bahwa ada suatu tujuan dibalik sebuah perilaku manusia. Kita juga percaya bahwa murid memiliki ‘tujuan’ dibalik perilaku mereka, salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. 

Mari kita menonton video tentang konsep 5 Kebutuhan Dasar Manusia menurut Dr. William Glasser dalam “Choice Theory”.  

Situasi yang dihadapi Ibu Ambar tentu sangat mengkhawatirkan. Sebagai seorang pendidik, kita perlu mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa Ibu Ambar lakukan:

Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan:

  1. Komunikasi dengan Doni Secara Pribadi:
    • Bicara secara empat mata: Ajak Doni berbicara secara pribadi di tempat yang tenang dan nyaman. Dengarkan cerita Doni tanpa menghakimi. Tunjukkan empati dan pengertian terhadap situasi yang mungkin sedang dialaminya.
    • Tanyakan alasannya: Dengan lembut, tanyakan mengapa Doni meminta bekal teman-temannya. Apakah dia lapar? Apakah ada masalah di rumah?
    • Jelaskan dampak perbuatannya: Jelaskan kepada Doni bahwa tindakannya menyakiti teman-temannya dan melanggar aturan. Bantu dia memahami perasaan teman-temannya yang merasa tidak nyaman.
  2. Libatkan Orang Tua Doni:
    • Ajak orang tua Doni untuk berdiskusi: Undang orang tua Doni untuk berbicara bersama. Jelaskan situasi yang terjadi di sekolah dan sampaikan kekhawatiran Anda.
    • Cari tahu kondisi di rumah: Tanyakan apakah ada masalah di rumah yang mungkin menjadi penyebab perilaku Doni.
    • Bekerja sama mencari solusi: Cari solusi bersama orang tua Doni untuk mengatasi masalah ini.
  3. Berkoordinasi dengan Guru dan Staf Sekolah:
    • Laporkan kejadian: Laporkan kejadian ini kepada guru-guru dan staf sekolah lainnya.
    • Buat rencana tindakan: Buat rencana tindakan bersama untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan memberikan pengawasan ekstra pada Doni atau melibatkan konselor sekolah.
  4. Beri Pembinaan:
    • Ajarkan keterampilan sosial: Ajar Doni cara meminta sesuatu dengan baik dan sopan.
    • Berikan pujian: Berikan pujian ketika Doni menunjukkan perilaku positif.
    • Libatkan Doni dalam kegiatan positif: Ajak Doni untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif di sekolah, seperti klub atau ekstrakurikuler, untuk mengalihkan perhatiannya.

Kemungkinan Alasan Doni Berperilaku Demikian:

  • Kelaparan: Mungkin Doni tidak mendapatkan makanan yang cukup di rumah.
  • Perundungan: Doni mungkin menjadi korban perundungan dan mencari perhatian dengan cara yang negatif.
  • Masalah keluarga: Ada kemungkinan masalah keluarga yang sedang dialami Doni, seperti perceraian orang tua atau masalah ekonomi.
  • Kurangnya perhatian: Doni mungkin merasa kurang diperhatikan di rumah atau di sekolah sehingga mencari perhatian dengan cara yang salah.
  • Masalah belajar: Doni mungkin mengalami kesulitan belajar dan merasa frustasi.

Penting untuk diingat: Setiap anak adalah unik dan memiliki alasan yang berbeda di balik perilakunya. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat untuk setiap anak juga akan berbeda. Dengan kesabaran, empati, dan kerja sama, masalah ini pasti bisa diatasi.

5 Kebutuhan Dasar Manusia

Setelah Anda menonton video, mari kita perdalam pemahaman Anda terhadap konsep 5 Kebutuhan Manusia dengan membaca artikel di bawah ini.

Bapak Ibu Calon Guru Penggerak,

Semua orang senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara. Bila mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka bisa melanggar peraturan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. 

Seorang murid yang tidak begitu berhasil secara akademik mungkin kebutuhannya akan penguasaan tidak terpenuhi di sekolah. Oleh karena itu, mungkin dia akan mencoba untuk memenuhi kebutuhannya akan penguasaan, dengan mencoba mengatur orang lain di lapangan bermain, atau bahkan menyakiti mereka secara fisik.  Sebagai guru, kita  dapat melibatkannya dalam kegiatan yang memberi peluang murid tersebut membuat pencapaian yang berarti. 

Seorang yang tidak merasa diterima oleh teman-temannya, kebutuhannya akan kasih sayang dan rasa diterima tidak terpenuhi, oleh karena itu dia mungkin akan memiliki satu teman dan memisahkan diri yang lain. Sebagai guru, kita bisa  membangun hubungan yang bisa membangun kepercayaan dan keintiman dengan anak ini.                                

Konsep 5 kebutuhan dasar manusia tidak hanya berlaku bagi anak-anak atau murid-murid, namun juga bagi manusia dewasa, dalam setting sekolah adalah para tenaga pendidik dan kependidikan. Lihatlah para guru di sekolah Anda. Dapatkan Anda memprediksi kira-kira guru mana yang memiliki kebutuhan dasar yang tinggi akan penguasaan, kebebasan, kesenangan, atau kasih sayang dan rasa diterima? Kebutuhan dasar mana yang sedang berusaha dipenuhi oleh guru  ketika mereka melakukan sebuah tindakan tertentu?  Kalau begitu,  apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin sekolah berdasarkan konsep 5 kebutuhan dasar ini dalam rangka mewujudkan lingkungan dan budaya sekolah yang positif? 

Glasser menyatakan bahwa kapasitas untuk berubah ada di dalam diri kita. Jika kita dapat mengidentifikasi kebutuhan apa yang mendorong perilaku kita, maka perubahan perilaku positif dapat dimulai dengan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan cara yang positif. 

Bapak Ibu Calon Guru Penggerak,

Semua orang senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara. Bila mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka akan mencoba mendapatkannya dengan cara yang negatif. 

Seorang murid yang tidak begitu berhasil secara akademik mungkin kebutuhannya akan kekuasaan tidak terpenuhi di sekolah. Oleh karena itu, mungkin dia akan mencoba untuk memenuhi kebutuhan kekuasaannya, dengan mencoba mengatur orang lain di lapangan bermain, atau bahkan menyakiti mereka secara fisik.  Sebagai guru, kita dapat melibatkannya dalam kegiatan yang memberi peluang murid tersebut membuat pencapaian yang berarti. 

Seorang yang tidak merasa diterima oleh teman-temannya, kebutuhannya akan cinta dan kasih sayang tidak terpenuhi, oleh karena itu dia mungkin akan memiliki satu teman dan memisahkan diri yang lain. Sebagai guru, kita bisa membangun hubungan yang bisa membangun kepercayaan dan keintiman dengan anak ini.

Bagaimana Bapak Ibu, apakah sekarang sudah paham perbedaan dari kelima kebutuhan dasar? 


Coba pikirkan bagaimana selama ini Anda memenuhi kebutuhan dasar Anda.

Isilah setiap bagian lingkaran dengan nama orang, benda atau apapun yang dapat memenuhi setiap kebutuhan dasar itu, dari cinta, penguasaan, kesenangan, atau kebebasan.

Dunia Berkualitas

Dunia Berkualitas Anda adalah tempat khusus dalam pikiran Anda, tempat Anda menyimpan gambaran representasi dari semua yang Anda inginkan: bisa berisi orang-orang, hal-hal dan apa saja yang terbaik dalam hidup Anda dan membuat Anda merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan dasar Anda. Dr. William Glasser menyebutnya seperti semacam album foto sehingga isinya tidak akan terlalu banyak, hanya akan terdiri dari beberapa hal saja yang sangat signifikan dan benar-benar terbaik dalam hidup Anda yang membuat hidup Anda menjadi lebih bermakna. Kebutuhan dasar bersifat lebih umum dan universal, sedangkan dunia berkualitas lebih unik dan personal.

Orang, tempat, benda, nilai-nilai, dan kepercayaan yang penting bagi Anda akan termasuk di sana. Untuk masuk ke dunia berkualitas, syaratnya adalah bahwa sesuatu itu harus terasa sangat baik bagi Anda dan memenuhi setidaknya satu atau lebih kebutuhan dasar Anda. Dalam menentukan segala sesuatu yang masuk dalam dunia berkualitas, tidak perlu kita terlalu mempertimbangkan standar masyarakat tentang apa saja yang penting dan yang tidak. Gambaran dunia berkualitas adalah unik dan spesifik untuk setiap orang. Jika Anda bisa hidup di dunia berkualitas Anda, hidup akan sempurna buat Anda, tapi sayangnya, Anda tidak bisa tinggal di sana.

Murid kita juga mempunyai gambaran dunia berkualitas mereka. Tentunya sebagai guru kita ingin mereka memasukkan hal-hal yang bermakna dan nilai-nilai kebajikan yang hakiki ke dalam dunia berkualitas mereka. Bila guru dapat membangun interaksi yang memberdayakan dan memerdekakan murid, maka murid akan meletakkan dirinya sendiri sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas karena mereka menghargai nilai-nilai kebajikan. 

Tugas 2.4

Dalam lingkaran di bawah ini, buatlah gambar atau kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang Anda miliki dalam Dunia Berkualitas Anda saat ini. 

Untuk membantu Anda, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

Siapakah orang-orang yang paling penting dalam hidup Anda?  Nilai-nilai kebajikan apa yang terpenting dalam hidup Anda?  Kalau Anda menjadi orang yang ideal, karakter atau sifat apa yang Anda paling inginkan ada pada diri Anda?  Apa pencapaian Anda yang Anda sangat banggakan?  Apa pekerjaan ideal bagi Anda? Ceritakan bagian perjalanan hidup Anda, dimana Anda merasa itulah titik puncak hidup Anda?  Apa yang paling bermakna dalam hidup Anda?     

Setelah belajar mengenai dunia berkualitas, mari kita pikirkan, bagaimana kira-kira murid-murid kita dan guru-guru di sekolah kita selama ini meletakkan sekolah dan pengalaman mereka di sekolah sehubungan dengan dunia berkualitas? Apakah di dalamnya atau di luar dunia berkualitas?

Bila anda berada dalam posisi sebagai pemimpin di sekolah Anda, bagaimana Anda akan menggunakan informasi tentang kegiatan dunia berkualitas yang dilakukan oleh murid-murid dan guru-guru di sekolah Anda dalam proses pembentukan budaya positif? 

  • Siapakah orang-orang yang paling penting dalam hidup Anda?  Keluarga dan teman-teman saya
  • Nilai-nilai kebajikan apa yang terpenting dalam hidup Anda?  Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mandiri, dan kebaikan
  • Kalau Anda menjadi orang yang ideal, karakter atau sifat apa yang Anda paling inginkan ada pada diri Anda? Orang dengan karakter empati yang tinggi
  • Apa pencapaian Anda yang Anda sangat banggakan? Menjadi guru dan seorang ibu.
  • Apa pekerjaan ideal bagi Anda? Pendidik
  • Ceritakan bagian perjalanan hidup Anda, dimana Anda merasa itulah titik puncak hidup Anda?  Saat ini saya merasa ini adalah puncak hidup saya, memiliki keluarga dan pekerjaan yang saling mendukung apa yang menjadi cita-cita saya.
  • Apa yang paling bermakna dalam hidup Anda? Menjadi seorang guru dan menjadi seorang ibu.

Bila saya berada dalam posisi sebagai pemimpin di sekolah saya, saya akan menggunakan informasi tentang kegiatan dunia berkualitas yang dilakukan oleh murid-murid dan guru-guru di sekolah saya dalam proses pembentukan budaya positif dengan menjadikan nilai-nilai kebajikan yang ada di dalam dunia berkualitas murid dan guru sebagai keyakinan di sekolah yang dalam penerapannya dapat menjadi kebiasaan-kebiasaan positif yang membangun budaya positif.

1.4.f.5. Restitusi – Lima Posisi Kontrol

Pertanyaan Pemantik

Bacalah kasus-kasus di bawah ini, dan cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia: 

  • Tisa dan Hana dipanggil masuk ke ruangan Ibu Dewi, kepala sekolah SMA Makmur. Ibu Dewi baru saja mendapatkan pengaduan dari ibunda Tisa, bahwa Hana menggunakan kata-kata kasar, dan merendah-rendahkan Tisa di sosial media.
  • Anto jarang sekali hadir di pembelajaran jarak jauh, dan pada saat hadir pun, Anto seringkali menggunakan kata-kata kasar di kolom chat mengejek teman-temannya. Hal ini sudah sangat mengganggu dan beberapa orang tua murid yang mengikuti pembelajaran daring mengeluhkan tentang perilaku Anto di pembelajaran jarak jauh.

Bila Anda adalah seorang kepala sekolah, penerapan disiplin apakah yang akan Anda lakukan untuk kasus Hana dan kasus Anto? Mengapa?
Bahas dengan rekan CGP Anda, dan bandingkan jawaban Anda, apakah berbeda, atau sama? Bila berbeda, utarakan masing-masing pandangan Anda.

Sebagai seorang kepala sekolah, penting untuk menangani kasus-kasus seperti ini dengan pendekatan yang seimbang antara disiplin dan dukungan, serta berfokus pada pemulihan hubungan dan pembelajaran sosial-emosional. Berikut adalah langkah-langkah penerapan disiplin untuk kasus Hana dan Anto:

Kasus Hana:

  1. Investigasi Awal:
    • Temui Tisa dan Hana secara terpisah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang apa yang terjadi.
    • Kumpulkan bukti dari media sosial yang menunjukkan kata-kata kasar yang digunakan oleh Hana.
  2. Konferensi Restoratif:
    • Adakan pertemuan antara Hana, Tisa, dan Ibu Dewi dengan pendekatan konferensi restoratif.
    • Fasilitasi percakapan di mana Hana bisa memahami dampak dari perbuatannya terhadap Tisa, dan Tisa bisa mengungkapkan perasaannya.
  3. Konsekuensi dan Pemulihan:
    • Berikan konsekuensi yang mendidik, misalnya tugas menulis esai tentang dampak bullying atau mengikuti workshop tentang perilaku positif di media sosial.
    • Ajak Hana untuk meminta maaf secara langsung kepada Tisa dan mungkin melibatkan mereka dalam proyek bersama untuk membangun kembali hubungan positif.
  4. Pendampingan dan Dukungan:
    • Berikan konseling kepada Hana untuk memahami penyebab perilakunya dan membantunya mengembangkan keterampilan sosial-emosional yang lebih baik.
    • Pantau perkembangan hubungan antara Tisa dan Hana untuk memastikan tidak ada konflik lanjutan.

Kasus Anto:

  1. Investigasi Awal:
    • Temui Anto secara pribadi untuk mendiskusikan absensinya dan perilaku negatifnya di pembelajaran jarak jauh.
    • Kumpulkan bukti dari log chat yang menunjukkan kata-kata kasar yang digunakan oleh Anto.
  2. Konferensi Restoratif:
    • Adakan pertemuan antara Anto, Ibu Dewi, dan guru yang mengajar pembelajaran jarak jauh.
    • Fasilitasi percakapan di mana Anto bisa memahami dampak dari perbuatannya terhadap teman-temannya dan suasana kelas.
  3. Konsekuensi dan Pemulihan:
    • Berikan konsekuensi yang mendidik, misalnya tugas menulis esai tentang dampak perilaku negatif di ruang belajar virtual atau mengikuti workshop tentang etika berkomunikasi online.
    • Ajak Anto untuk meminta maaf secara terbuka kepada teman-temannya dan mungkin melibatkan dia dalam proyek kelas untuk memperbaiki hubungan.
  4. Pendampingan dan Dukungan:
    • Berikan konseling kepada Anto untuk memahami penyebab perilakunya dan membantunya mengembangkan keterampilan sosial-emosional yang lebih baik.
    • Diskusikan dengan orang tua Anto tentang cara mendukung kehadirannya di pembelajaran jarak jauh dan mengurangi perilaku negatif.

Mengapa Pendekatan Ini?

  1. Pemulihan Hubungan:
    • Menggunakan pendekatan restoratif membantu memperbaiki hubungan yang rusak dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.
  2. Pembelajaran Sosial-Emosional:
    • Konsekuensi yang mendidik dan konseling membantu siswa memahami dampak dari perilaku mereka dan mengembangkan keterampilan sosial-emosional yang lebih baik.
  3. Komunitas Sekolah yang Positif:
    • Pendekatan ini membantu membangun budaya sekolah yang mendukung, di mana siswa merasa aman dan didukung untuk tumbuh dan belajar dari kesalahan mereka.

Dengan pendekatan ini, diharapkan Hana dan Anto dapat belajar dari kesalahan mereka dan berkembang menjadi individu yang lebih baik, sementara hubungan antar siswa dan suasana sekolah secara keseluruhan menjadi lebih positif.

5 Posisi Kontrol

Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak, 

Berikut ini akan disampaikan suatu program disiplin positif yang berpusat pada murid, yang dikembangkan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi, yang disebut dengan 5 Posisi Kontrol.

Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. 

Mari kita tinjau lebih dalam kelima posisi kontrol ini. Dibagian bawahnya adalah contoh peragaan yang dikutip dari Yayasan Pendidikan Luhur (2007) di mana ada seorang murid yang melanggar suatu peraturan sekolah. Selanjutnya ada dialog antara seorang guru dengan murid tersebut, serta bagaimana guru tersebut menjalankan disiplin dengan menggunakan kelima posisi kontrol untuk kasus yang sama: Adi yang terlambat hadir di sekolah .

Penghukum

Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:

“Patuhi aturan saya, atau awas!”

“Kamu selalu saja salah!”

“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”

Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia.


Penghukum (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik):

“Terlambat lagi, pasti terlambat lagi, selalu datang terlambat, kapan bisa datang tepat waktu?”

Tanyakan kepada diri Anda:

Bagaimana perasaan murid bila guru berbicara seperti itu pada saat muridnya datang terlambat? 

Hasil:

Kemungkinan murid marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi sesudah kembali duduk, murid tersebut akan mencoret-coret bukunya atau meja tulisnya. Lebih buruk lagi, sepulang sekolah, murid melihat motor atau mobil bapak/ibu guru dan akan menggores kendaraan tersebut dengan paku.

Pembuat Merasa Bersalah

Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:

“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”

“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”

“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?”

Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.


Pembuat Merasa Bersalah (Nada suara memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu):

“Adi, kamu ini bagaimana ya? Kamu sudah berjanji dengan ibu tidak akan terlambat lagi. Kamu kenapa ya senang sekali mengecewakan Ibu. Ibu benar-benar kecewa sekali.”

Bagaimana perasaan murid bila ditegur seperti cara ini?

Hasil:

Murid akan merasa bersalah. Bersalah telah mengecewakan ibu atau bapak gurunya. Murid akan merasa menjadi orang yang gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadangkala sikap seperti ini lebih berbahaya dari sikap penghukum, karena emosi akan tertanam rapat di dalam, murid menahan perasaan. Tidak seperti murid dalam dengan guru penghukum, di mana murid bisa menumpahkan amarahnya walaupun dengan cara negatif. Murid tertekan seperti inilah yang tiba-tiba bisa meletus amarahnya, dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Teman

Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:

“Ayo bantulah, demi bapak ya?”

“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”

“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.

Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha. Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.


Teman (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda, bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka)

“Adi, ayolah, bagaimana sih kamu. Kemarin kamu sudah janji ke bapak bukan, kenapa terlambat lagi? (sambil tertawa ringan). Ya, sudah tidak apa-apa, duduk dulu sana. Nanti Pak Guru bantu. Kamu ini.” (sambil senyum-senyum).

Bagaimana perasaan murid dengan sikap guru seperti ini?

Hasil:

Murid akan merasa senang dan akrab dengan guru. Ini termasuk dampak yang positif, hanya saja di sisi negatif murid menjadi tergantung pada guru tersebut. Bila ada masalah, dia merasa bisa mengandalkan guru tersebut untuk membantunya. Akibat lain dari posisi teman, Adi hanya akan berbuat sesuatu bila yang menyuruh adalah guru tersebut, dan belum tentu berlaku yang sama dengan guru atau orang lain.

Pemantau

Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau:

“Peraturannya apa?”

“Apa yang telah kamu lakukan?”

“Sanksi atau konsekuensinya apa?”

Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.


Pemantau (nada suara datar, bahasa tubuh yang formal):

Guru: “Adi, tahukah kamu jam berapa kita memulai?”

Adi:    “Tahu Pak!”

Guru: “Kamu terlambat 15 menit, apakah kamu sudah mengerti konsekuensi yang harus dilakukan bila terlambat?”

Adi:    “Paham Pak, saya harus tinggal kelas pada jam istirahat nanti dan mengerjakan tugas ketertinggalan saya.”

Guru: “Ya, benar, nanti pada saat jam istirahat kamu harus tinggal di kelas untuk menyelesaikan tugas yang tertinggal tadi. Saya tunggu”

Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini?

Hasil:

Murid memahami konsekuensi yang harus dijalankan karena telah melanggar salah satu peraturan sekolah. Guru tidak menunjukkan suatu emosi yang berlebihan, menjadi marah atau membuat merasa berbuat salah.  Murid tetap dibuat tidak nyaman yaitu dengan harus tinggal kelas pada waktu jam istirahat dan mengerjakan tugas. Guru tetap harus memantau murid pada saat mengerjakan tugas di jam istirahat karena murid tidak bisa ditinggal seorang diri.

Manajer

Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.  Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas)

“Apakah kamu meyakininya?”

“Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?”

“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”

Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.

Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.


Manajer (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak kaku, mendekat ke murid):

Guru: “Adi, apakah kamu mengetahui jam berapa sekolah dimulai?”

Adi:    “Tahu Pak, jam 7:00!”

Guru: “Ya, jadi kamu terlambat, kira-kira bagaimana kamu akan memperbaiki masalah ini?”

Adi:  “Saya bisa menanyakan teman saya Pak, untuk mengejar tugas yang tertinggal.”

Guru:  “Baik, itu bisa dilakukan. Apakah besok akan ada masalah untuk kamu agar bisa hadir tepat waktu ke sekolah?”

Adi:     “Tidak Pak, saya bisa hadir tepat waktu.”

Guru:  “Baik. Saya hargai usahamu untuk memperbaiki diri”

Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini?

Pada posisi Manajer maka suara guru sebaiknya tulus. Tidak perlu marah, tidak perlu meninggikan suara, apalagi menunjuk-nunjuk jari ke murid, berkacak pinggang, atau bersikap seolah-olah menyesal, tampak sedih sekali akan perbuatan murid ataupun bersenda gurau menempatkan diri sebagai teman murid.

Fokus ada pada murid, bukan untuk membahagiakan guru atau orang tua. Murid sudah mengetahui adanya suatu masalah, dan sesuatu perlu terjadi. Bila guru mengambil posisi Pemantau, guru akan melihat apa konsekuensinya apa peraturannya? Namun pada posisi Manajer, guru akan mengembalikan tanggung jawab pada murid untuk mencari jalan keluar permasalahannya, tentu dengan bimbingan guru.

5 Posisi Kontrol Restitusi – Diane Gossen

Selanjutnya, silakan Anda melihat video tentang kasus murid yang terlambat dengan kelima posisi kontrol Restitusi – Diane Gossen. Diharapkan setelah Anda melihat video tersebut Anda memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Restitusi – 5 Posisi Kontrol, seperti tertera di tabel di bawah ini:

Restitusi – Lima Posisi Kontrol

Lihatlah kedua garis posisi kontrol di bawah ini. Garis yang pertama adalah posisi kontrol Anda di rumah, mungkin sebagai seorang ibu/ayah/kakak/paman/bibi, dan garis kedua adalah posisi kontrol Anda di tempat kerja sebagai guru/kepala sekolah.

Bagaimana posisi kontrol Anda selama ini menjalankan disiplin positif di kedua tempat tersebut. Isi dan refleksikan posisi Anda selama ini di kedua garis tersebut.

Setelah mengisi di mana posisi kontrol Anda selama di rumah maupun di sekolah, tanyakan diri, “Apakah saya berbeda menghadapi anak/keponakan dengan menghadapi murid-murid saya?” Mengapa berbeda?

Setelah pelatihan ini, cobalah mengisi garis posisi kontrol ini, dan bandingkan dengan posisi Anda setelah mengikuti pelatihan. Adakah perbedaan? Mengapa? Bagaimana untuk sampai di posisi Manajer, apa yang perlu terjadi?

1.4.f.6. Restitusi – Segitiga Restitusi

Setelah melihat video tersebut silakan Anda melihat bagan berikut tentang 3 sisi dari Segitiga Restitusi. Proses tiga tahapan tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip utama dari Teori Kontrol, yaitu: 

Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi segitiga restitusi. Langkah-langkah tersebut tidak harus dilakukan satu persatu secara kaku. Banyak guru yang sudah menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya mereka masing-masing bahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.

Segitiga Restitusi

Sisi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity)

Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:

  • Berbuat salah itu tidak apa-apa.
  • Tidak ada manusia yang sempurna
  • Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
  • Kita bisa menyelesaikan ini.
  • Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
  • Kamu berhak merasa begitu.
  • Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?

Kalau kita mengatakan kalimat-kalimat diatas, akan sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin, buat anak untuk tetap membangkang. Para guru yang bertugas mengawasi anak-anak saat mereka bermain di halaman sekolah, menyatakan bahwa bila mereka mengatakan kalimat tersebut yang mungkin hanya butuh 30 detik, bisa mengubah situasi yang sulit menjadi kooperatif.

Ketika seseorang merasa sedih dan emosional, mereka tidak bisa mengakses bagian otak yang berfungsi untuk berpikir rasional, seperti yang Bapak Ibu CGP telah pelajari di modul 1.2 tentang konsep otak 3-in-1 (Triune). Saat itulah ketika kita harus menstabilkan identitas anak. Sebelum terjadi hal-hal lain yang bisa memperburuk keadaan, kita sebaiknya membantu anak untuk tenang dan kembali ke suasana hati dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa dilakukan.

Tentu akan sulit melakukan restitusi bila, anak yang berbuat salah terus berfokus pada kesalahannya. Ada 3 alasan untuk ini, pertama rasa bersalah menguras energi. Rasa bersalah membutuhkan energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk mencari penyelesaian masalah.  Kedua, ketika kita merasa bersalah, kita mengalami identitas kegagalan. Dalam kondisi ini, orang akan cenderung untuk menyalahkan orang lain atau mempertahankan diri, daripada mencari solusi. Ketiga, perasaan bersalah membuat kita terperangkap pada masa lalu dimana kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita hanya bisa mengontrol apa yang akan terjadi di masa kini dan masa datang.

Sisi 2. Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbeh…

Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk,  pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.

  • “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
  • “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
  • “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
  • “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”

Biasanya guru menyuruh anak untuk menghentikan sikap yang tidak baik, tapi teori kontrol menyatakan bahwa resep itu tidak manjur. Mungkin tindakan guru dengan memvalidasi sikap yang tidak baik seperti bertentangan dengan aturan yang ada, namun sebetulnya tujuannya untuk menunjukkan bahwa guru memahami alasan di balik tindakan murid.

Restitusi tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar aturan adalah sikap yang baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami alasannya, dan paham bahwa setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di waktu tertentu. Sebuah pelanggaran aturan seringkali memenuhi kebutuhan anak akan penguasaan/power walaupun seringkali bertabrakan dengan kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima/love and belonging. Kalau kita tolak anak yang sedang berbuat salah, dia akan tetap menjadi bagian dari masalah,  namun bila kita memahami alasannya melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami.

Para guru yang telah menerapkan strategi ini mengatakan bahwa anak-anak yang tadinya tidak terjangkau,  menjadi lebih terbuka pada mereka. Strategi ini menguntungkan bagi murid dan guru karena guru akan berada dalam posisi siswa, dan karena itu akan memiliki perspektif yang berbeda.

Sisi 3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)

Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

  • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
  • Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
  • Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
  • Kamu mau jadi orang yang seperti apa?

Penting untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan?

Apakah kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya?

Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.

Tugas 2.6 (1)

Bacalah skrip di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya:

Mario dan Adi merupakan murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua anak lain bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka, Bapak Joko, di ruang kelas.

Setelah tiga tahap itu dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan.

Tugas Anda 

1. Dari 5 posisi kontrol, posisi mana yang dipraktikkan oleh guru? Jelaskan!

Yang dilakukan oleh Pak Joko adalah sebagai posisi kontrol Manajer (melakukan pendekatan melalui restitusi) yang menerapkan segitiga restitusi untuk Mario dan Adi.

1. Pak Joko melaksanakan kegiatan menstabilkan identitas dengan memberi pernyataan 

Baiklah. Bapak disini bukan untuk mencari siapa yang salah, Bapak disini untuk mencari penyelesaian sama-sama, berpikir sama-sama tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini. Kalian pasti melakukan itu ada alasannya ya. Pasti seru ya main lempar-lemparan makanan begitu

Pada tahap ini Pak Joko telah berhasil mengubah identitas gagal pada Mario dan Adi menuju identitas sukes

2. Setelah berhasil mengubah identitas gagal Mario dan Adi menuju identitas sukses, Pak Joko melakukan tahapan validasi tindakan yang salah pada Mario dan Adi dengan memberi pernyataan:

Ya Bapak bisa lihat kalian merasa senang melakukannya, tetapi yang kalian lakukan merugikan orang lain, sehingga sekarang kalian dalam masalah.

Pada tahap ini Pak Joko mendorong Mario dan Adi melakukan validasi kesalahanya dengan menggunakan cara berpikir proaktif untuk mendorong keterbukaan murid dan mendapatkan perspektif yang berbeda

3. Setelah berhasil mengubah identitas gagal menjadi identitas sukses dan melaksanakan validasi tindakan yang salah pada Mario dan Adi, Pak Joko melakukan tahapan menanyakan keyakinan kelas dengan pertanyaan:

“Sekarang mari kita bicara tentang keyakinan kelas dan keyakinan sekolah kita. Apa yang kita percaya? Yang mana yang kalian belum tunjukkan?”

“Kalian berdua ingat dengan baik keyakinan kelas kita. Kita kembali pada ketika kalian main lempar-lemparan makanan dan 
mengenai Ibu Dina, apakah ketika kalian melakukan itu kalian menghormati orang lain dan lingkungan?”

“Tapi kalian mendapatkan rasa senang. Menurut Bapak, ada cara untuk mendapatkan rasa senang, tanpa merugikan orang lain. Bagaimana menurut kalian? “

“Nah sekarang mari kita selalu mengindahkan keyakinan kelas kita. besok kita ke kantin, dan kalian bisa berperilaku lebih baik lagi”

Pada tahap ini, Pak Joko sedang membangun motivasi instrinsik (yang berasal dari dalam diri Mario dan Adi) melalui tahapan menanyakan keyakinan diri dan keyakinan kelas yang disepakatinya.

Tugas 2.6 (2)

Bacalah skrip di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya:

Mario dan Adi merupakan murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua anak lain bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka, Bapak Joko, di ruang kelas.

Setelah tiga tahap itu dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan.

Tugas Anda 

  1. Kebutuhan apa yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi? 

Kebutuhan yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi adalah Kebutuhan Dasar Kesenangan. Hal tersebut ditampilkan pada dialog bahwa Mario dan Adi bermain-main melempar makanan dan ketika guru mengkonfirmasi bahwa mereka terlihat merasa senang, lalu respon Mario dan Adi menjawab “Iya”.

Tugas 2.6 (3)

Bacalah skrip di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya:

Mario dan Adi merupakan murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua anak lain bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka, Bapak Joko, di ruang kelas.

Setelah tiga tahap itu dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan.

Tugas Anda 

  1. Apa yang dikatakan guru dalam tahap Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan, dan Mencari Keyakinan?

Menstabilkan Identitas: “Kalian pasti melakukan itu ada alasannya ya. Pasti seru ya main lempar-lemparan makanan begitu.”

Memvalidasi Tindakan: “Ya Bapak bisa lihat kalian merasa senang melakukannya, tetapi yang kalian
lakukan merugikan orang lain, sehingga sekarang kalian dalam masalah.”

Mencari Keyakinan: “Sekarang mari kita bicara tentang keyakinan kelas dan keyakinan sekolah kita.
Apa yang kita percaya? Yang mana yang kalian belum tunjukkan? “

Tugas 2.6 (4)

Bacalah skrip di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya:

Mario dan Adi merupakan murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua anak lain bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka, Bapak Joko, di ruang kelas.

Setelah tiga tahap itu dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan.

Tugas Anda 

  1. Kira-kira sesuai prinsip restitusi, apa yang akan dilakukan Mario dan Adi untuk memperbaiki kesalahan mereka pada Ibu Dina?

Standar Nasional Pendidikan
Dalam penerapan program disiplin positif, hendaknya guru memiliki standar kepribadian, profesional, dan sosial yang baik, dimana guru mampu berefleksi pada posisi kontrolnya saat ini; bagaimana perjalanan dirinya sebagai seorang ‘Among’ (posisi manajer) yang menuntun murid-murid menjadi insan yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab. Prinsip berbuat salah adalah bagian dari proses pembelajaran dan mendorong perbaikan melalui keyakinan kelas dengan nilai menghormati diri sendiri dan orang lain serta memenuhi kebutuhan dasar kesenangan dengan tidak merugikan orang lain.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *