PENDAHULUAN
Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya.Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.
~ Ki Hajar Dewantara
Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak!
Selamat datang dalam Modul “Nilai-nilai dan peran guru penggerak”. Modul ini akan mengeksplorasi mengapa dan bagaimana nilai-nilai dan peran seorang Guru Penggerak mampu menumbuhkan sekolah dan ekosistem pendidikan agar berpihak pada murid. Mengapa demikian? Dunia kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak. Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi dan tanpa filter.
Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain yang lebih agresif melakukan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita dituntut untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan pendidikan kita. Dalam kaitannya dengan Standar Nasional Pendidikan, modul ini berusaha menempatkan Profil Pelajar Pancasila sebagai acuan utama standar kompetensi lulusan, karenanya harus dijadikan pedoman dan dihidupi oleh para pendidik, khususnya Guru Penggerak di Indonesia.
Kita semua mengalami fenomena pandemi COVID-19 sejak permulaan tahun 2020. Secara fisik sekolah dan kelas diadakan dari jauh, namun sebetulnya jika dipikirkan ternyata kelas-kelas ini justru mendekat dan masuk ke rumah-rumah murid kita di masa pandemi ini. Pandemi membukakan mata kita bahwa guru punya peran yang besar dalam proses belajar murid-muridnya, sekaligus mengungkapkan bahwa orangtua pun punya peran yang tak terelakkan dalam pendidikan anak-anaknya di rumah. Hal itu membuat kita kembali percaya bahwa gotong-royong dalam pendidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi.
Dari pengalaman tersebut, kita disadarkan kembali bahwa pendidikan adalah suatu hal yang sifatnya individual sekaligus komunal yang tak terpisahkan. Murid di kelas-kelas kita adalah bagian dari sebuah komunitas di rumah, di masyarakat, dan di lingkungan. Mempertimbangkan kesalingterhubungan dan kerumitan tersebut, maka sebagai pendidik mau tidak mau kita harus menilik kembali apakah nilai-nilai diri kita telah selaras dengan tuntutan zaman dan alam yang seperti itu.
Dengan maksud itulah maka dalam modul ini Bapak/Ibu diajak masuk ke dalam dan menelusuri diri sendiri sebagai manusia sekaligus pendidik, kemudian mengakui bahwa Anda sekalian adalah pribadi-pribadi istimewa yang unik. Modul ini mengajak Bapak/Ibu menyadari bahwa nilai-nilai yang perlu diyakini seorang pendidik itu dipengaruhi oleh interaksi antara cara kerja pikiran serta emosi sebagai aspek intrinsik dengan aspek ekstrinsik dalam suatu lingkungan pembelajaran. Bapak/Ibu pun akan mengeksplorasi dan berkolaborasi untuk merencanakan perubahan nyata pada lingkungan masing-masing. Diharapkan, setelah mengalami dan berproses sepanjang materi ini, Bapak/Ibu sekalian dapat menemukan jati dirinya sebagai Guru Penggerak.
Selamat belajar!
Aditya Dharma, S.Si, M.B.A.
Eksplorasi Konsep – 6JP
- Belajar mandiri: CGP mengakses konsep materi yang terbagi dalam 3 bagian: Belajar mandiri: CGP mengakses konsep materi yang terbagi dalam 3 bagian:
A. Bagaimana manusia tergerak: Kerja Otak (Triune-brain, Berpikir Cepat-Lambat), Kebutuhan genetis (5 Kebutuhan Dasar Manusia), Tahap Tumbuh Kembang Anak (Psikososial)
B. Bagaimana manusia bergerak: Memahami Teori Pilihan, Motivasi Intrinsik Menuju Profil Pelajar Pancasila, Nilai Guru Penggerak dan Model refleksi,
C. Bagaimana menggerakkan manusia: Berpikir strategis dan menguatkan lingkaran pengaruh, Diagram identitas gunung es, Peran Guru Penggerak dan 4 kategori kompetensi pemimpin di lingkungan sekolah, - Forum Diskusi Tertulis: cerita tentang SATU nilai GP yang telah membantu melayani murid dan daftar kegiatan sebagai contoh penerapan peran GP yang dipahami saat ini.
Ruang Kolaborasi – 6JP
- CGP dalam kelompok membuat karya poster/peta pikiran/powerpoint/video tentang rancangan SATU kegiatan sebagai upaya mengkolaborasikan kekuatan nilai yang telah dimiliki tiap rekan dalam kelompok (3 JP).
- CGP dalam kelompok mempresentasikan karya poster/peta pikiran/powerpoint/video tentang rancangan SATU kegiatan sebagai upaya mengkolaborasikan kekuatan nilai yang telah dimiliki tiap rekan dalam kelompok (2 JP).
- CGP membuat refleksi mengapresiasi peran SATU rekan sekelompok (1 JP).
Demonstrasi Kontekstual – 3JP
CGP membuat gambaran diri sebagai Guru Penggerak di masa depan dalam bentuk tulisan naratif/poster/peta pikiran/powerpoint/video/audio sederhana.
Elaborasi Pemahaman – 2JP
- CGP membuat pertanyaan bermakna untuk menguatkan pemahamannya atas Modul 1.2
- CGP berdialog virtual dengan Instruktur
Koneksi Antar Materi – 2JP
CGP membuat kaitan antara materi Modul 1.2. Nilai & Peran Guru Penggerak serta Modul 1.1. Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara menggunakan model refleksi 4P dalam bentuk tulisan-naratif/poster/peta-pikiran/powerpoint/video/audio sederhana.
Aksi Nyata – 0 JP
CGP menjalankan pengembangan DIRI yang sederhana, konkret dan rutin serta dapat dilakukan sendiri dari sekarang (berangkat dari “Penerapan ke depan” pada Refleksi 4P yang telah dibuat di tahap Koneksi Antarmateri).
MULAI DARI DIRI
Selamat datang Bapak/Ibu CGP di Pembelajaran pertama dalam Modul 1.2 ini!
Pada kesempatan ini, pembelajaran akan dimulai dengan membuat diagram trapesium usia dan menjawab beberapa pertanyaan mengenai diri Bapak/Ibu. Agar mendapatkan manfaat yang maksimal dari kegiatan ini, hal yang perlu diperhatikan ketika menjawab pertanyaan nanti adalah kejujuran Bapak/Ibu dalam memberikan jawaban. Tidak ada jawaban benar ataupun salah. Apa yang menjadi pertanyaan hanyalah upaya untuk membantu menggali pengalaman serta nilai diri Bapak/Ibu sendiri. Silakan jawab semua jangan sampai terlewat. Ambil waktu khusus agar dapat mengerjakannya dengan tenang. Selamat Mengerjakan!
Trapesium usia
Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi Ifa Hanifah Misbach, M.A., Psikolog (Ketua Tim Pengembang Jabar Masagi) dan Alm. Prof. Dr. H. Sutardjo A. Wiramihardja, Psikolog (Guru Besar Emeritus Fakultas Psikologi Unpad) beberapa tahun yang lalu.

[sumber: Modul pendidikan karakter Jabar Masagi]
Di sini Bapak/Ibu akan membuat Diagram Trapesium Usia-nya sendiri dengan mengikuti instruksi berikut:
- Buatlah garis miring naik ke atas (sisi kiri), tuliskan usia saat Bapak/Ibu menyelesaikan masa sekolah pada ujung garis tersebut.
- Lanjutkan dengan membuat garis mendatar (tengah), yang menunjukkan usia kerja. Pada salah satu titik di garis tersebut, tuliskan angka yang menunjukkan usia saat ini.
- Buatlah garis miring menurun (sisi kanan) untuk menandakan masa pensiun.
- Ingatlah dua peristiwa penting pada masa sekolah; satu peristiwa bernuansa positif dan satu lagi yang negatif yang terkait relasi Bapak/Ibu dengan guru pada rentang usia PAUD sampai sekolah menengah (4-17 tahun).
- Pada bagian garis miring naik ke atas (sisi kiri), tulis angka yang menunjukkan pada usia berapa kedua peristiwa tersebut terjadi (misalnya: umur 7 dan 12 tahun).
- Hitunglah selisih dari usia Bapak/Ibu sekarang dan usia pada saat kedua peristiwa tersebut terjadi.
Tugas 1. Refleksi

Jika Bapak/Ibu sudah membuat diagram trapesium usia ini, jawablah pertanyaan berikut:
- Apa peristiwa positif dan negatif yang saya tuliskan di sana?
- Selain saya, siapa lagi yang terlibat di dalam masing-masing peristiwa tersebut?
- Dampak emosi apa saja yang saya rasakan hingga sekarang? (silakan gunakan roda emosi Plutchik di Gambar 2 untuk mengidentifikasi persisnya perasaan Bapak/Ibu di masa itu)
- Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat memengaruhi diri saya di masa sekarang?
- Pelajaran hidup apa yang saya peroleh dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi, terkait peran saya sebagai guru terhadap peserta didik saya?
- Bagaimana saya menuliskan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Guru, dalam 1 atau 2 kalimat menggunakan kata-kata: “guru”, “murid”, “belajar”, “makna”, “peran”?
Tugas 2. Nilai dan peran guru penggerak menurut saya
- Apa nilai-nilai dalam diri saya yang membantu saya menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
- Apa peran yang selama ini saya mainkan dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
Silakan tuangkan hasil kegiatan mulai dari diri Anda dengan klik tombol ‘Reply’ di bawah.
1. Peristiwa Positif dan Peristiwa negatif.

- Peristiwa Positif: (Selisih Usia: 37-10 = 27 Tahun). Pada Usia 10 Tahun ketika Saya duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, Saya mengingat saat bermain gobak sodor, egrang, kelereng, boi-boian, benteng, ning-nang, pada jam istirahat. Bagi Saya waktu itu sekolah adalah tempat bermain yang seru dan mengasyikan.
- Peristiwa negatif: (Selisih Usia: 37-17 = 20 Tahun).Peristiwa negatif yang Saya ingat adalah pada usia 17 Tahun ketika kelas 11 SMA, tepatnya pada kegiatan ekstrakurikuler Paskibra oleh wali kelas disuruh memilih antara kegiatan Ekstrakurikuler dan Intrakurikuler saat Saya turun satu peringkat dan keluar dari 3 besar. Wali kelas beranggapan hal tersebut disebabkan fokus Saya terbagi. Pada akhirnya Saya keluar ekstrakurikuler Paskibra yang saat itu tengah bersiap berangkat Lomba ke Lombok. Saya mengantar teman-teman Saya berangkat dengan perasaan yang sangat sedih.
- Teman-teman SD Saya adalah yang paling terlibat dalam peristiwa positif yang selalu Saya ingat, dan Saya sangat merindukan momen-momen itu. Beberapa pihak yang Saya ingat saat peristiwa negatif tersebut adalah Wali Kelas Saya, Wakasek kesiswaan dan Pembina Paskibra, serta teman-teman ekstrakurikuler yang mendukung Saya.
- Peristiwa positif: Senang. Peristiwa negatif. Sedih, namun pada akhirnya menerima sebab Saya tahu kemudian nilai akademis Saya kembali menanjak dan membuat Saya fokus mempersiapkan tes SPMB sehingga bisa masuk salah satu PTN.
- Semua yang telah Saya lalui terasa seperti masih tersimpan dalam memori dan mempengaruhi diri Saya sekarang. Peristiwa-peristiwa pada Usia sekolah memiliki dampak yang mendalam dan bertahan lama pada diri Saya sebab beberapa hal:
- Masa Pembentukan Identitas: Masa sekolah adalah periode di mana saya sedang dalam proses pembentukan identitas dan kepribadian. Pengalaman yang dialami selama periode ini telah membentuk cara Saya melihat diri sendiri dan lingkungan.
- Kenangan Emosional: Kenangan yang disertai dengan emosi yang kuat cenderung lebih mudah diingat. Pengalaman di masa sekolah, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, sering kali memiliki beban emosional yang signifikan, sehingga kenangan tersebut dapat tetap hidup dalam ingatan.
- Pengalaman Pertama: Banyak pengalaman pertama bagi saya, seperti persahabatan pertama, cinta pertama, kegagalan pertama, dan kesuksesan pertama, terjadi di masa sekolah. Pengalaman pertama ini meninggalkan jejak yang mendalam karena merupakan sesuatu yang baru dan berkesan.
- Pengaruh Lingkungan Sosial: Masa sekolah adalah periode di mana Saya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk teman sebaya, guru, dan sistem pendidikan. Pengaruh dari lingkungan ini telah membentuk pandangan, nilai, dan perilaku yang bertahan lama.
- Pola Pikir dan Kebiasaan: Pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk selama masa sekolah Saya berlanjut hingga dewasa. Misalnya, cara belajar, cara mengatasi tekanan, dan cara berinteraksi dengan orang lain.
- Trauma atau Pengalaman Positif: Pengalaman traumatis atau pengalaman positif yang signifikan selama masa sekolah telah meninggalkan dampak jangka panjang. Trauma dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional, sementara pengalaman positif dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.
- Pentingnya Pengakuan dan Penerimaan: Pada masa sekolah, Saya mencari pengakuan dan penerimaan dari teman sebaya dan orang dewasa di sekitar. Pengalaman diterima atau ditolak telah mempengaruhi rasa percaya diri dan hubungan interpersonal Saya di masa sekarang.
Pengalaman di masa sekolah membentuk fondasi bagi banyak aspek kehidupan Saya, dan pengaruhnya dapat terus Saya rasakan sepanjang hidup.
5. Berikut beberapa pelajaran hidup yang dapat diambil dari kegiatan tersebut:
Trapesium Usia
- Penghargaan Terhadap Pengalaman Hidup:
- Pelajaran: Mengenali pengalaman dan pencapaian di setiap tahap usia membantu saya sebagai guru menghargai perjalanan hidup Saya sendiri.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat lebih empati terhadap siswa dengan memahami bahwa setiap siswa berada pada tahap perkembangan yang berbeda dan memiliki pengalaman hidup yang unik.
- Kesadaran Diri:
- Pelajaran: Refleksi terhadap perjalanan hidup sendiri membantu meningkatkan kesadaran diri dan pemahaman tentang bagaimana pengalaman masa lalu membentuk siapa kita saat ini.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat menggunakan kesadaran ini untuk mengembangkan pendekatan pengajaran yang lebih pribadi dan relevan dengan pengalaman siswa.
- Pembelajaran Berkelanjutan:
- Pelajaran: Mengidentifikasi pelajaran dan pengetahuan yang diperoleh di setiap tahap usia menunjukkan pentingnya pembelajaran berkelanjutan.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat menanamkan nilai pembelajaran sepanjang hayat kepada siswa, menekankan bahwa belajar tidak berhenti di ruang kelas.
Roda Emosi
- Pengelolaan Emosi:
- Pelajaran: Mengenali dan memahami spektrum emosi membantu Saya dalam mengelola emosi Saya sendiri.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya mampu mengelola emosi dengan baik dan menjadi teladan bagi siswa dalam mengelola emosi mereka sendiri, menciptakan lingkungan kelas yang lebih tenang dan suportif.
- Empati dan Keterhubungan Emosional:
- Pelajaran: Memahami emosi diri sendiri dan orang lain meningkatkan empati dan kemampuan untuk terhubung secara emosional.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat lebih peka terhadap perasaan siswa, menciptakan hubungan yang lebih kuat dan mendukung antara guru dan siswa.
- Pentingnya Kesejahteraan Emosional:
- Pelajaran: Roda emosi menunjukkan bahwa semua emosi adalah bagian dari pengalaman manusia yang normal dan penting untuk kesejahteraan.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat mengajarkan kepada siswa pentingnya kesejahteraan emosional, membantu mereka mengembangkan keterampilan untuk mengenali dan mengelola emosi dengan sehat.
- Refleksi dan Perbaikan Diri:
- Pelajaran: Refleksi emosional mendorong perbaikan diri dan pemahaman lebih dalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan emosional.
- Dampak terhadap Pengajaran: Saya dapat terlibat dalam refleksi emosional secara teratur dan memperbaiki metode pengajaran serta interaksi dengan siswa, berusaha untuk selalu meningkatkan pendekatan Saya dengan siswa.
Dengan memahami dan menerapkan pelajaran dari trapesium usia dan roda emosi, sebagai guru Saya dapat lebih baik dalam mengelola kelas, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan emosional yang penting untuk kehidupan mereka.
- Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa peran saya adalah membimbing murid untuk menemukan makna dalam proses belajar, sehingga mereka dapat mengembangkan potensi diri mereka sepenuhnya.
Jawaban Tugas 2:
1. Nilai-nilai dalam diri Saya yang membantu menggerakkan murid, rekan Guru, dan komunitas sekolah meliputi:
- Komitmen pada Pembelajaran: Menunjukkan dedikasi terhadap pembelajaran berkelanjutan dan berbagi pengetahuan secara antusias menginspirasi murid dan rekan Guru untuk terus belajar dan berkembang.
- Empati dan Kepedulian: Memahami dan merasakan apa yang dialami oleh murid dan rekan kerja menciptakan lingkungan yang suportif dan inklusif, memperkuat hubungan dan kerjasama dalam komunitas sekolah.
- Integritas dan Kejujuran: Menjadi teladan dalam bertindak dengan jujur dan berintegritas membangun kepercayaan dan rasa hormat dari murid, rekan Saya, dan anggota komunitas sekolah.
- Kolaborasi dan Kerjasama: Mendorong kerja tim dan kolaborasi, baik di dalam kelas maupun dengan rekan kerja, membantu menciptakan lingkungan di mana semua orang merasa dihargai dan didukung.
- Kreativitas dan Inovasi: Menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif menginspirasi murid untuk berpikir kritis dan mengembangkan solusi baru terhadap tantangan.
- Ketekunan dan Ketangguhan: Menunjukkan ketekunan dalam menghadapi tantangan dan ketangguhan dalam situasi sulit memberikan contoh positif bagi murid dan rekan kerja tentang pentingnya terus berusaha dan tidak mudah menyerah.
- Kemampuan Mendengarkan: Mendengarkan dengan aktif dan memberikan perhatian penuh kepada murid, rekan Saya, dan anggota komunitas menunjukkan rasa hormat dan memastikan bahwa setiap suara didengar dan dihargai.
- Ketulusan dan Keterbukaan: Menjalin komunikasi yang tulus dan terbuka mendorong transparansi dan membangun hubungan yang lebih kuat dan autentik dengan semua pihak di komunitas sekolah.
- Keberanian untuk Berubah: Menunjukkan keberanian untuk mengadopsi perubahan dan memperbaiki praktik pengajaran sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan murid, menginspirasi orang lain untuk beradaptasi dan berkembang.
Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam praktek sehari-hari, Saya dapat menjadi kekuatan penggerak yang positif bagi murid, rekan Guru, dan seluruh komunitas sekolah.
2. Saya memainkan berbagai peran penting dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah. Berikut beberapa peran Saya tersebut:
- Sebagai Pendamping dan Pembimbing Murid
- Memotivasi dan Menginspirasi: Saya mendorong murid untuk mencapai potensi mereka dengan memberikan dukungan, inspirasi, dan motivasi.
- Mendidik dan Mengajar: Saya menyampaikan pengetahuan dan keterampilan, membantu murid memahami materi pelajaran dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
- Menanamkan Nilai dan Etika: Saya mengajarkan nilai-nilai moral dan etika, membantu murid mengembangkan karakter yang baik dan sikap yang positif.
- Sebagai Rekan Kerja dan Pemimpin di Kalangan Guru
- Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman: Saya berbagi metode pengajaran, strategi, dan pengalaman dengan rekan kerja, membantu mereka meningkatkan kualitas pengajaran.
- Membangun Tim dan Kerjasama: Saya bekerja sama dengan rekan kerja untuk menciptakan lingkungan belajar yang kooperatif dan mendukung.
- Sebagai Penggerak dalam Komunitas Sekolah
- Mengorganisir dan Mengikuti Kegiatan Komunitas: Saya berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan komunitas, menunjukkan kepedulian dan komitmen terhadap perkembangan siswa dan lingkungan.
- Kepala tim IT sekolah: Saya berperan sebagai kepala tim IT yang menginspirasi dan memobilisasi komunitas untuk mendukung program dan inisiatif Pendidikan dalam integrasi teknologi.
- Sebagai Pendorong Perubahan dan Inovasi
- Mengimplementasikan Metode Pengajaran Baru: Saya mencari dan menerapkan metode pengajaran inovatif untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
- Memimpin Proyek dan Inisiatif: Saya memimpin proyek portal website resmi sekolah dan aplikasi tes berbasis android bernama “My Tengsaw” yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan lingkungan belajar.
- Mendukung Kesejahteraan Emosional dan Mental: Saya memperhatikan kesejahteraan emosional dan mental murid dan rekan kerja, menciptakan lingkungan yang mendukung dan empatik.
Dengan memainkan peran-peran ini, Saya tidak hanya menggerakkan murid, tetapi juga mendorong rekan kerja dan komunitas sekolah untuk bekerja sama mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik.
EKSPLORASI KONSEP

A. BAGAIMANA MANUSIA TERGERAK
Pertanyaan pemandu: Apa saja hal yang bekerja secara alami pada diri seorang manusia dan mempengaruhi bagaimana manusia dalam berperilaku?
A.1. Cara kerja otak: Sistem berpikir cepat dan lambat
Pada bagian ini, Bapak/Ibu akan belajar bagaimana otak mempengaruhi bagaimana manusia tergerak melalui sebuah video pendek berjudul “Eskalator dan Kerja Otak”. Video ini berupaya menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam dua sistem berpikir yang berbeda, yaitu berpikir cepat dan berpikir lambat melalui perumpamaan eskalator yang berjalan turun. Video ini juga membahas bagaimana otak “3-in-1 (Triune)” manusia bekerja.
Perumpamaan Otak 3-in-1 (Triune) Manusia Menggunakan Tangan
Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian mempengaruhi dirinya untuk bergerak. Emosi adalah bagian utama dari lingkungan yang sifatnya psikis dan intrinsik yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru. Dalam rangkaian modul Pendidikan Guru Penggerak aspek emosi akan dibahas tersendiri dengan lebih detail dalam modul Pembelajaran Sosial Emosional.
A.2. Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia: Kebutuhan Genetis
Disukai atau tidak, manusia adalah makhluk biologis yang memiliki sifat dasar menjaga keberlanjutan spesiesnya secara genetis. Kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kebutuhan untuk diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan/penguasaan (power) adalah kebutuhan yang tidak cuma dimiliki oleh manusia, makhluk lain seperti Burung, Mamalia, dan Primata juga memiliki kebutuhan yang sama. Kita pasti pernah melihat anak-anak singa atau singa remaja bermain layaknya berkelahi sungguhan, atau anak-anak monyet yang usil saling mengganggu dan berakhir dengan kejar-kejaran dari pohon ke pohon. Itu adalah satu contoh kebutuhan bersenang-senang (fun). Kelima kebutuhan di atas bermuara pada kebutuhan tiap jenis makhluk untuk melanjutkan generasi, termasuk juga manusia.
Mungkin kita pernah menjumpai seseorang dengan perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku. Besar kemungkinan, hal itu mereka lakukan karena mereka tak mampu memenuhi atau mereka tidak mendapatkan kebutuhan dasar mereka. Setiap perilaku kita adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, sebuah usaha untuk memenuhi satu atau lebih kebutuhan dasar kita. Berikut ini, kita ulas satu demi satu kebutuhan tersebut dalam kaitannya dengan konteks pendidikan dan sekolah.
A.3. Tahap tumbuh kembang anak – Wiraga-wirama Ki Hadjar Dewantara
Setiap insan manusia memiliki cara pandangnya sendiri terhadap dunia sesuai dengan usia dan tahap tumbuh-kembangnya. Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa proses belajar harus selaras dengan kodrat anak. Beliau paham bahwa dalam tiap periode usia anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar.
Tahap perkembangan psikososial Erik Erikson
Erik Erikson adalah psikolog yang meyakini bahwa kepribadian seseorang itu tumbuh dalam rangkaian tahapan (8 tahapan). Tiap tahapan menggambarkan dampak dari pengalaman sosial pada mereka. Hingga kini, teori psikososial ini masih menjadi pegangan dalam teori perkembangan. Untuk keperluan program Guru Penggerak ini, akan dibahas 6 tahapan saja, pada periode usia 0-40 tahun.
Setelah menyimak video dan bacaan mengenai bagaimana manusia tergerak, silakan jawab pertanyaan berikut:
- Bagaimana Bapak/Ibu memahami cara kerja otak, 5 kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh-kembang anak berserta pengaruhnya pada pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup manusia? Mengapa demikian?
- Menurut Bapak/Ibu nilai-nilai apa yang perlu dikuatkan sebagai guru penggerak? Mengapa demikian?
1. Memahami cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, dan tahap tumbuh kembang anak sangat penting karena hal ini mempengaruhi pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup manusia. Berikut adalah penjelasan masing-masing:
- Cara Kerja Otak
Otak adalah pusat pengendali tubuh yang mengatur semua fungsi tubuh, dari gerakan fisik hingga emosi dan pemikiran. Memahami cara kerja otak melibatkan beberapa aspek, antara lain:
- Neuroplastisitas: Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran. Ini penting karena menunjukkan bahwa otak bisa terus berkembang dan memperbaiki diri.
- Fungsi Lobus Otak: Otak terbagi menjadi beberapa lobus yang masing-masing memiliki fungsi spesifik. Misalnya, lobus frontal bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan kontrol diri, sementara lobus parietal terkait dengan persepsi sensorik.
- Sistem Limbik: Bagian otak yang mengatur emosi dan memori. Memahami sistem limbik penting untuk mengenali bagaimana emosi mempengaruhi perilaku dan pembentukan kebiasaan.
- Neurotransmitter: Zat kimia yang membawa sinyal di antara sel-sel otak. Misalnya, dopamin berperan dalam motivasi dan penghargaan, sedangkan serotonin terkait dengan suasana hati dan kesejahteraan.
- Kebutuhan Dasar Manusia
Teori kebutuhan dasar manusia, seperti yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhannya, mencakup lima tingkat kebutuhan:
- Kebutuhan Fisiologis: Makanan, air, tempat tinggal, tidur. Ini adalah kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup.
- Kebutuhan Keamanan: Rasa aman dan stabilitas, termasuk keamanan fisik dan ekonomi.
- Kebutuhan Sosial: Cinta, persahabatan, dan hubungan sosial. Manusia membutuhkan interaksi sosial untuk kesejahteraan emosional.
- Kebutuhan Penghargaan: Pengakuan, prestasi, dan rasa hormat dari orang lain. Ini berkaitan dengan harga diri dan rasa percaya diri.
- Kebutuhan Aktualisasi Diri: Pencapaian potensi penuh dan pengembangan diri. Ini adalah tingkat tertinggi dalam hierarki Maslow, di mana seseorang berusaha untuk menjadi yang terbaik sesuai kemampuannya.
- Tahap Tumbuh-Kembang Anak
Tahap tumbuh-kembang anak mengacu pada perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak dari lahir hingga dewasa. Tahap ini meliputi:
- Tahap Bayi (0-2 tahun): Perkembangan sensorimotorik, pembentukan ikatan emosional dengan pengasuh, dan perkembangan bahasa awal.
- Tahap Balita (2-6 tahun): Perkembangan bahasa yang lebih kompleks, kemandirian, dan sosialisasi awal. Anak mulai memahami norma-norma sosial.
- Tahap Anak-Anak (6-12 tahun): Kemampuan berpikir logis dan konkret berkembang. Anak mulai belajar keterampilan akademik dan sosial yang lebih kompleks.
- Tahap Remaja (12-18 tahun): Perkembangan identitas diri, kemampuan berpikir abstrak, dan pemahaman moral yang lebih dalam. Remaja mulai mengeksplorasi nilai-nilai dan kepercayaan pribadi.
Pengaruh pada Pembentukan Kebiasaan dan Nilai-Nilai Hidup
- Pembelajaran dan Pengalaman: Cara kerja otak, terutama melalui neuroplastisitas, memungkinkan manusia untuk belajar dan mengadopsi kebiasaan baru berdasarkan pengalaman.
- Pemenuhan Kebutuhan: Kebutuhan dasar yang terpenuhi dengan baik memungkinkan seseorang untuk berkembang dan mengadopsi nilai-nilai yang lebih tinggi seperti aktualisasi diri.
- Lingkungan dan Pengasuhan: Tahap tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh. Interaksi yang positif dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial membantu membentuk kebiasaan dan nilai-nilai hidup yang positif.
Mengapa Penting?
Memahami hal-hal ini penting karena:
- Pengembangan Pribadi: Membantu individu memahami diri sendiri dan orang lain, serta cara terbaik untuk berkembang dan beradaptasi.
- Pendidikan dan Pengasuhan: Guru dan orang tua dapat menggunakan pengetahuan ini untuk mendukung perkembangan anak secara holistik.
- Kesejahteraan Mental: Memahami cara kerja otak dan kebutuhan dasar membantu dalam menjaga kesehatan mental dan emosional.
- Pembentukan Karakter: Tahap perkembangan dan pemenuhan kebutuhan membentuk dasar bagi karakter dan nilai-nilai yang dipegang individu sepanjang hidup.
Dengan pemahaman ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan optimal, baik dalam konteks pendidikan, pengasuhan, maupun pengembangan diri.
2. Nilai-nilai apa yang perlu dikuatkan sebagai guru penggerak? Mengapa demikian?
Sebagai guru penggerak, ada beberapa nilai-nilai penting yang perlu dikuatkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang efektif dan inspiratif. Berikut adalah nilai-nilai tersebut beserta alasan mengapa masing-masing nilai penting:
- Integritas
- Mengapa Penting: Integritas mencakup kejujuran, keadilan, dan konsistensi dalam tindakan dan keputusan. Seorang guru dengan integritas tinggi menjadi teladan yang baik bagi siswa, membangun kepercayaan dan rasa hormat.
- Contoh Penerapan: Menepati janji, bersikap adil dalam penilaian, dan mengakui kesalahan.
- Komitmen terhadap Pembelajaran Berkelanjutan
- Mengapa Penting: Dunia pendidikan terus berkembang, dan seorang guru penggerak harus selalu beradaptasi dengan metode, teknologi, dan pengetahuan terbaru. Komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan memastikan bahwa guru dapat memberikan pendidikan yang relevan dan bermutu tinggi.
- Contoh Penerapan: Mengikuti pelatihan profesional, membaca literatur pendidikan terbaru, dan mengadopsi teknologi baru dalam pengajaran.
- Empati
- Mengapa Penting: Empati memungkinkan guru untuk memahami dan merespon kebutuhan, perasaan, dan situasi siswa dengan lebih baik. Hal ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan inklusif.
- Contoh Penerapan: Mendengarkan dengan baik, menunjukkan perhatian pada masalah siswa, dan memberikan dukungan emosional saat diperlukan.
- Kreativitas dan Inovasi
- Mengapa Penting: Guru penggerak harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan bermakna. Kreativitas dan inovasi membantu dalam mengembangkan metode pengajaran yang menarik dan relevan dengan kebutuhan siswa.
- Contoh Penerapan: Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, dan mengembangkan proyek-proyek kreatif.
- Kolaborasi
- Mengapa Penting: Pendidikan yang efektif membutuhkan kerja sama antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Kolaborasi memperkuat komunitas sekolah dan menciptakan jaringan dukungan yang luas bagi siswa.
- Contoh Penerapan: Berkolaborasi dengan rekan kerja, melibatkan orang tua dalam proses pendidikan, dan bekerja sama dengan komunitas lokal.
- Kepemimpinan yang Inspiratif
- Mengapa Penting: Guru penggerak harus mampu memotivasi dan menginspirasi siswa serta rekan-rekan sejawat untuk mencapai potensi penuh mereka. Kepemimpinan yang inspiratif menciptakan semangat dan antusiasme dalam lingkungan belajar.
- Contoh Penerapan: Menunjukkan sikap positif, memberikan contoh yang baik, dan mendorong siswa untuk mengejar impian mereka.
- Adaptabilitas
- Mengapa Penting: Dunia pendidikan sering kali menghadapi perubahan dan tantangan baru. Adaptabilitas memungkinkan guru untuk tetap fleksibel dan menemukan solusi kreatif dalam situasi yang berubah.
- Contoh Penerapan: Menyesuaikan rencana pengajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, mengatasi tantangan tak terduga, dan membuka diri terhadap pendekatan baru.
- Keberanian
- Mengapa Penting: Guru penggerak perlu memiliki keberanian untuk mengambil risiko, mencoba hal-hal baru, dan berdiri teguh pada prinsip-prinsip pendidikan yang diyakini. Keberanian ini penting untuk mendorong perubahan positif dalam sistem pendidikan.
- Contoh Penerapan: Mengimplementasikan metode pengajaran inovatif, menyuarakan pendapat dalam rapat sekolah, dan menghadapi tantangan dengan sikap positif.
- Tanggung Jawab
- Mengapa Penting: Guru penggerak memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan siswa. Memiliki rasa tanggung jawab memastikan bahwa guru selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap aspek pengajaran dan pengelolaan kelas.
- Contoh Penerapan: Memantau kemajuan siswa secara berkelanjutan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menjaga profesionalisme.
- Keterbukaan terhadap Masukan
- Mengapa Penting: Keterbukaan terhadap masukan membantu guru untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas pengajaran. Mendengarkan kritik dan saran dari siswa, rekan kerja, dan orang tua dapat memberikan perspektif baru yang berharga.
- Contoh Penerapan: Mengadakan sesi umpan balik rutin, meminta saran dari kolega, dan mengevaluasi diri secara berkala.
Kesimpulan
Menguatkan nilai-nilai ini membantu guru penggerak untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, adaptif, dan inspiratif. Dengan mengembangkan dan mempraktikkan nilai-nilai ini, guru penggerak dapat mendukung pertumbuhan akademik dan personal siswa secara lebih efektif, serta mendorong perubahan positif dalam sistem pendidikan.
B.1. Manusia Merdeka: Berdaya dalam Memilih (Teori Pilihan)
Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan pada kita tentang konsep manusia merdeka, yaitu: mereka tidak terperintah, mereka dapat menegakkan dirinya, tertib mengatur perikehidupannya, sekaligus tertib mengatur perhubungan mereka dengan kemerdekaan orang lain. Dengan begitu, pendidikan seyogyanya adalah upaya sadar untuk menumbuhkan manusia-manusia yang merdeka. Dalam pernyataannya yang lain, Ki Hadjar Dewantara (Dasar-dasar Pendidikan, 1936), menyampaikan bahwa: “Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat.”
B.2. Manusia Merdeka: Termotivasi dari Dalam (Motivasi Intrinsik)
UU RI No. 20/2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1, No.1, menyatakan: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Pernyataan tersebut merupakan penguatan bahwa pendidik harus menuntun segala kekuatan kodrat anak dari dalam. Ryan dan Deci (2000) melalui teori determinasi diri (self-determination theory), mengisyaratkan bahwa pendidik perlu fokus dalam menyediakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan anak menguatkan dan menumbuh-kembangkan motivasi intrinsik mereka. Dalam penerapannya, suasana belajar dan proses pembelajaran yang disediakan harus dapat membuat anak senantiasa: merasa kompeten (mampu, dapat, cakap), merasa saling-terhubung (kebutuhan sosial yang diusahakan oleh individu untuk membangun hubungan dengan sesamanya), dan merasa otonom (mandiri, merdeka).
Jadi, jika kita mengharapkan anak memiliki determinasi atau ketetapan hati, dalam menentukan jalan kodrat mereka, maka anak harus mampu menghayati perasaan akan kompetensi, otonomi, dan relasi mereka dan mengambil makna positifnya. Kata “merasa” menjadi kata yang penting untuk diperhatikan karena menunjukkan bahwa suasana dan proses pembelajaran harus mampu menguatkan anak di tingkat “perasaan” sehingga bersifat pribadi dan mendalam bagi masing-masing anak. Dengan demikian, para pendidik harus mulai dan terus menguatkan dirinya untuk menumbuh-kembangkan motivasi intrinsik.
B.3. Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila
Dunia pendidikan Indonesia kini telah memiliki acuan Profil Pelajar Pancasila (Bacaan 3) sebagai gambaran, proyeksi, dan harapan yang bangsa kita upayakan agar mewujud pada murid Indonesia di masa depannya kelak. Jadi masuk akal rasanya jika Profil Pelajar Pancasila tersebut pun dihidupi oleh para pendidik sebagai model mental mereka. Profil Pelajar Pancasila mengandung enam dimensi yang kesemuanya berakar pada falsafah Pancasila: (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; (2) Mandiri; (3) Bergotong-royong; (4) Berkebinekaan global; (5) Bernalar kritis; (6) Kreatif. Bersamaan dengan itu, diharapkan Bapak/Ibu juga mulai mengenali dan memaknai nilai-nilai Guru Penggerak. Nilai-nilai ini diharapkan dapat menguat pada diri Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak untuk menjalankan peran terutama dalam persoalan strategis, melampaui persoalan teknis atau operasional.
B.4. Nilai-nilai Guru Penggerak
Rokeach (dalam Abdul H., 2015), menyatakan bahwa nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil posisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menyimak materi mengenai bagaimana manusia merdeka bergerak, silakan jawab pertanyaan berikut:
- Manakah dari nilai-nilai Guru Penggerak yang dikuatkan setelah Bapak/Ibu memahami teori pilihan dan motivasi intrinsik?
- Tindakan spesifik apa yang dapat dilakukan untuk menguatkan diri Bapak/Ibu sendiri untuk memberdayakan murid dalam memilih jalan kodratnya sekaligus menguatkan tumbuhnya motivasi intrinsik mereka dalam mengejawantahkan Profil Pelajar Pancasila?
setelah memahami teori pilihan dan motivasi intrinsik, beberapa nilai Guru Penggerak yang dapat dikuatkan adalah:
- Otonomi
- Mengapa Penting: Otonomi memungkinkan siswa untuk merasa memiliki kontrol atas pembelajaran mereka sendiri, yang dapat meningkatkan motivasi intrinsik.
- Contoh Penerapan: Memberikan siswa pilihan dalam menentukan topik proyek, metode belajar, atau jenis tugas yang ingin mereka kerjakan. Mengizinkan siswa untuk menetapkan tujuan belajar mereka sendiri dan merancang rencana untuk mencapainya.
- Kompetensi
- Mengapa Penting: Memastikan bahwa siswa merasa mampu dan kompeten dalam apa yang mereka pelajari dapat meningkatkan motivasi intrinsik. Ketika siswa merasa bahwa mereka bisa menguasai sesuatu, mereka cenderung lebih termotivasi untuk terus belajar.
- Contoh Penerapan: Menyediakan tantangan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, memberikan umpan balik konstruktif, dan merayakan pencapaian kecil maupun besar. Membantu siswa menetapkan tujuan yang realistis dan memberikan dukungan untuk mencapainya.
- Keterkaitan
- Mengapa Penting: Menumbuhkan rasa keterkaitan dengan guru dan teman-teman sekelas dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Rasa keterkaitan ini menciptakan lingkungan yang mendukung di mana siswa merasa dihargai dan didukung.
- Contoh Penerapan: Membangun hubungan yang positif dengan siswa, menciptakan kegiatan kelompok yang mendorong kolaborasi, dan menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan siswa. Mengadakan kegiatan yang memungkinkan siswa berbagi pengalaman dan pendapat mereka.
- Relevansi
- Mengapa Penting: Memastikan bahwa materi pelajaran dan aktivitas di kelas relevan dengan kehidupan siswa dapat meningkatkan motivasi intrinsik. Siswa lebih termotivasi untuk belajar ketika mereka melihat hubungan langsung antara apa yang mereka pelajari dan kehidupan nyata mereka.
- Contoh Penerapan: Mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata, minat, dan aspirasi siswa. Menggunakan contoh-contoh yang relevan dan menarik dalam pengajaran.
- Refleksi
- Mengapa Penting: Mendorong siswa untuk merefleksikan pengalaman belajar mereka dapat membantu mereka memahami proses belajar mereka sendiri dan mengenali motivasi intrinsik mereka.
- Contoh Penerapan: Menyediakan waktu untuk refleksi pribadi dan diskusi kelompok tentang apa yang telah dipelajari, bagaimana perasaan mereka tentang pembelajaran tersebut, dan bagaimana mereka dapat menerapkan pengetahuan ini di masa depan.
- Growth Mindset (Pola Pikir Berkembang)
- Mengapa Penting: Mendorong siswa untuk memiliki pola pikir berkembang, di mana mereka percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan kerja keras, dapat meningkatkan motivasi intrinsik mereka.
- Contoh Penerapan: Mengajarkan siswa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, memuji usaha dan kemajuan, bukan hanya hasil akhir, dan memberikan tantangan yang mendorong siswa untuk keluar dari zona nyaman mereka.
Kesimpulan
Dengan memperkuat nilai-nilai ini, guru penggerak dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung motivasi intrinsik siswa. Ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk sukses di masa depan.
C. BAGAIMANA MENGGERAKKAN MANUSIA: MENUNTUN KEKUATAN KODRAT MANUSIA
Pertanyaan pemandu: Bagaimana struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai-nilai dalam diri seseorang?
C.1. Berpikir strategis dan menguatkan lingkaran pengaruh
Sebagai guru penggerak, Bapak/Ibu tentu memahami bahwa perubahan yang sifatnya transformatif demi menjangkau kepentingan lebih banyak murid tidak akan mampu dilakukan sendirian, perlu menggerakkan lebih banyak guru, lebih banyak pihak. Agar mampu menggerakkan orang lain agar berdampak pada murid, Bapak/Ibu perlu memahami konsep lingkaran pengaruh. Secara sederhana, lingkaran pengaruh adalah gambaran sejauh mana pengaruh Bapak/Ibu efektif dalam membawakan perubahan, atau dalam menggerakkan orang lain.
Dalam lingkaran pengaruh, Bapak/Ibu dapat diumpamakan sebagai supir, dimana Bapak/Ibu yang memegang kendali arah kendaraan, serta mengatur kecepatannya. Jadi dalam lingkaran pengaruh, Bapak/Ibu punya “kuasa” dan kepercayaan diri untuk menjalankan inisiatif perubahan pada dimensi: diri, orang lain, institusi, dan lingkungan-masyarakat. Dalam masing-masing dimensi, Bapak/Ibu perlu menguatkan relasi (saling percaya, saling menghormati, saling bebas berekspresi), agar terbukalah komunikasi (dialog, terhubung hati dengan hati), lalu memungkinkan kolaborasi, hingga menghadirkan kontribusi (Lingkaran Ungu pada Gambar 11). Perubahan yang Bapak/Ibu bawakan pasti terjadi di dalam lingkaran pengaruh. Dari waktu ke waktu, seiring dengan makin kuat dan mampu-nya Bapak/Ibu maka lingkaran pengaruh Bapak/Ibu pun makin meluas.
Lingkaran kuning pada Gambar 11, berusaha menggambarkan pada Bapak/Ibu dua lingkaran lain, yaitu lingkaran kepedulian dan lingkaran perhatian. Lingkaran kepedulian itu bagaikan kita di kursi penumpang, tidak punya kuasa langsung atau kuasa cukup untuk menjalankan dan mempengaruhi perubahan. Dalam perumpamaan supir, penumpang dan kendaraan tadi, lingkaran perhatian itu berada di luar kendaraan. Bapak/Ibu masih punya perhatian, tapi sebatas itu saja, perhatian. Contoh misalnya kita gemar memperhatikan berita politik, sepakbola, dan lainnya, namun tidak punya kuasa apa-apa untuk mempengaruhinya langsung. Untuk itu, Bapak/Ibu tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi dan pikiran untuk stress ketika tidak mampu melakukan perubahan di lingkaran kepedulian atau lingkaran perhatian. Nikmati proses menguatkan dan memperluas pengaruh Bapak/Ibu sedikit demi sedikit, orang demi orang. Mulailah dengan menguatkan lingkaran pengaruh dari dimensi diri sendiri.
Gambar 12. Dimensi pada lingkaran pengaruh
Dengan demikian, Bapak/Ibu dapat menempatkan diri untuk berpikir sebagai pemimpin di tataran individu, maupun mengadopsi pemikiran strategis di tataran ekosistem pendidikan, sesuai lingkaran pengaruh Bapak/Ibu, dalam hal ini yang sudah pasti adalah murid di kelas dan rekan lain di sekolah, sehingga mampu memfasilitasi gotong-royong dalam mencari jawaban sebagai penyelaras konteks (context setter), bukan sekedar sebagai penyedia jawaban.
C.2. Diagram identitas gunung es
Suka atau tidak, di luar kelebihan dan kelemahannya, baik atau tidak karakternya, guru sudah terlanjur dipandang sebagai orang yang dapat diteladani di tengah masyarakat kita. Guru sesungguhnya memiliki kesempatan untuk menjadi teladan bagi muridnya. Kini, pilihannya adalah memanfaatkan kesempatan itu dengan kesadaran penuh atau membiarkannya lewat begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Menjadi teladan harus diupayakan secara sadar.
Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru ini membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.
Pada bagian ini, Bapak/Ibu akan menonton sebuah video pendek berjudul “Diagram Identitas Gunung Es” yang berusaha menggambarkan bagaimana karakter seseorang ditumbuhkan. Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebajikan di dalam diri murid-muridnya. Guru berkesempatan untuk mengembangkan lingkungan yang dapat mempengaruhi identitas murid agar berproses menumbuhkan nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, guru harus terus mengembangkan diri menjadi teladan nilai-nilai kebajikan dan memanfaatkan ekosistem lingkungan sadar-bawah sadar, fisik-psikis, maupun ekstrinsik-intrinsik untuk menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dengan konsisten melalui gotong-royong bersama segenap anggota komunitas di sekolahnya.
C.3. Peran Guru Penggerak
Di masa mendatang, Guru Penggerak diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Kepemimpinan seorang Guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Bapak/Ibu diajak untuk membaca dan memahami 4 kategori kompetensi sebagai kompetensi-kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin di lingkungan sekolah, yaitu: mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, serta memimpin pengembangan sekolah.
Setelah menyimak materi mengenai bagaimana menggerakkan manusia, silakan jawab pertanyaan berikut:
- Apa kaitan antara diagram identitas gunung es dengan penumbuhan Profil Pelajar Pancasila pada murid dan transformasi pendidikan?
- Apa konsekuensi logis dari diagram identitas gunung es pada peran saya sebagai Guru Penggerak dalam transformasi pendidikan?
1. Kaitan antara diagram identitas gunung es dengan penumbuhan Profil Pelajar Pancasila pada murid dan transformasi pendidikan
Diagram identitas gunung es (iceberg identity model) dan penumbuhan Profil Pelajar Pancasila memiliki hubungan erat dalam konteks pendidikan dan transformasi pendidikan di Indonesia. Berikut adalah penjelasan tentang kaitan antara kedua konsep tersebut:
Diagram Identitas Gunung Es
Diagram identitas gunung es menggambarkan bahwa identitas seseorang, seperti gunung es, memiliki dua bagian: bagian yang terlihat (di atas permukaan air) dan bagian yang tidak terlihat (di bawah permukaan air). Bagian yang terlihat mencakup aspek-aspek yang mudah diamati seperti perilaku, penampilan, dan bahasa. Bagian yang tidak terlihat mencakup nilai-nilai, keyakinan, norma, sikap, dan asumsi yang mendasari perilaku dan identitas individu.
Profil Pelajar Pancasila
Profil Pelajar Pancasila adalah serangkaian karakteristik yang diharapkan dimiliki oleh setiap pelajar di Indonesia sebagai hasil dari proses pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Profil ini mencakup enam dimensi utama:
- Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia
- Berkebinekaan global
- Gotong-royong
- Mandiri
- Bernalar kritis
- Kreatif
Kaitan dengan Diagram Identitas Gunung Es
- Pemahaman Mendalam tentang Identitas Murid:
- Diagram Identitas Gunung Es: Mengajarkan bahwa untuk memahami murid secara menyeluruh, guru harus memperhatikan bukan hanya perilaku dan penampilan yang terlihat, tetapi juga nilai-nilai, keyakinan, dan sikap yang mendasari mereka.
- Profil Pelajar Pancasila: Mendorong guru untuk memahami dan mengembangkan aspek-aspek mendalam dari identitas murid yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila, seperti keimanan, ketakwaan, dan gotong-royong.
- Pendekatan Holistik dalam Pendidikan:
- Diagram Identitas Gunung Es: Menekankan pentingnya pendekatan holistik yang mencakup aspek emosional, sosial, dan kognitif dalam proses pendidikan.
- Profil Pelajar Pancasila: Membantu mengarahkan pendekatan holistik ini dengan menyediakan kerangka kerja yang mencakup pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan kemampuan berpikir kritis serta kreatif.
- Transformasi Pendidikan:
- Diagram Identitas Gunung Es: Menyadarkan pendidik bahwa perubahan pendidikan tidak hanya mencakup perubahan dalam metode pengajaran atau kurikulum, tetapi juga dalam cara pandang dan pendekatan terhadap identitas dan nilai-nilai murid.
- Profil Pelajar Pancasila: Mendorong transformasi pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam semua aspek pendidikan, memastikan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademis tetapi juga berkarakter mulia.
- Membangun Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Beragam:
- Diagram Identitas Gunung Es: Membantu guru untuk memahami dan menghargai keragaman identitas murid yang lebih dalam dari sekadar penampilan luar.
- Profil Pelajar Pancasila: Mendorong penerapan nilai-nilai kebinekaan dan gotong-royong, yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan menghargai keragaman.
2. Konsekuensi logis dari diagram identitas gunung es pada peran saya sebagai Guru Penggerak dalam transformasi pendidikan.
Diagram identitas gunung es memberikan wawasan yang mendalam tentang kompleksitas identitas individu, yang memiliki implikasi signifikan terhadap peran seorang Guru Penggerak dalam transformasi pendidikan. Berikut adalah beberapa konsekuensi logis dari penerapan konsep ini dalam peran Anda sebagai Guru Penggerak:
1. Pemahaman Mendalam tentang Siswa
- Konsekuensi: Anda perlu lebih dari sekadar mengamati perilaku dan prestasi akademis siswa. Penting untuk memahami nilai-nilai, keyakinan, sikap, dan motivasi yang mendasari perilaku mereka.
- Tindakan: Melakukan pendekatan yang personal, mengadakan sesi bimbingan, dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan siswa untuk menggali aspek-aspek yang tidak terlihat dari identitas mereka.
2. Pendekatan Holistik dalam Pengajaran
- Konsekuensi: Pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga emosional dan sosial siswa.
- Tindakan: Mengintegrasikan kegiatan yang mendukung perkembangan sosial-emosional, seperti diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan kegiatan refleksi diri.
3. Peningkatan Kesadaran Budaya dan Keterbukaan
- Konsekuensi: Mengakui dan menghargai keragaman latar belakang budaya, agama, dan sosial siswa.
- Tindakan: Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, mengintegrasikan materi yang mencerminkan keragaman, dan mempromosikan toleransi serta saling menghormati.
4. Penyesuaian Metode Pengajaran
- Konsekuensi: Metode pengajaran harus fleksibel dan adaptif sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar individu siswa.
- Tindakan: Menggunakan berbagai strategi pengajaran yang beragam, seperti pembelajaran berbasis proyek, pendekatan diferensiasi, dan teknologi pendidikan untuk menjangkau semua siswa.
5. Pemberdayaan Siswa melalui Kepemimpinan dan Partisipasi
- Konsekuensi: Siswa harus diberdayakan untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar mereka, mengembangkan rasa tanggung jawab dan kepemimpinan.
- Tindakan: Memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, mengatur proyek kelas, dan memimpin kegiatan tertentu.
6. Pembentukan Lingkungan Belajar yang Positif
- Konsekuensi: Lingkungan belajar harus mendukung dan mendorong rasa aman serta kesejahteraan emosional siswa.
- Tindakan: Menciptakan suasana kelas yang positif, bebas dari intimidasi dan diskriminasi, serta menyediakan dukungan emosional bagi siswa yang membutuhkan.
7. Pengembangan Karakter dan Nilai-nilai
- Konsekuensi: Pendidikan harus mencakup pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai yang positif, sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila.
- Tindakan: Mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum dan kegiatan sekolah, seperti gotong royong, berakhlak mulia, dan berkeadilan sosial.
8. Evaluasi yang Komprehensif
- Konsekuensi: Penilaian terhadap siswa tidak hanya berfokus pada hasil akademik tetapi juga perkembangan personal dan sosial mereka.
- Tindakan: Menggunakan penilaian formatif dan sumatif yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta memberikan umpan balik yang konstruktif.
9. Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas
- Konsekuensi: Kerja sama dengan orang tua dan komunitas menjadi penting untuk memahami dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
- Tindakan: Melibatkan orang tua dalam proses pendidikan, mengadakan pertemuan rutin, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal.
10. Pembelajaran Berbasis Nilai
- Konsekuensi: Pendidikan harus mencakup pembelajaran yang mengajarkan nilai-nilai dan etika, bukan hanya pengetahuan akademis.
- Tindakan: Mengintegrasikan pendidikan karakter dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah, serta menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Kesimpulan
Memahami dan mengintegrasikan diagram identitas gunung es dalam konteks pendidikan membantu guru untuk lebih memahami identitas mendalam murid dan menumbuhkan nilai-nilai yang sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila. Hal ini mendukung transformasi pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter dan kemampuan holistik murid, yang tidak hanya terlihat dari luar tetapi juga tertanam dalam nilai-nilai dan keyakinan mereka. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang kompeten secara akademis tetapi juga berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan global dengan landasan nilai-nilai Pancasila.
Dengan menerapkan konsep diagram identitas gunung es dalam peran Anda sebagai Guru Penggerak, Anda dapat menciptakan transformasi pendidikan yang lebih holistik dan berpusat pada siswa. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran tetapi juga membantu membentuk generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga kuat dalam karakter dan nilai-nilai.
Setelah mempelajari paparan materi dalam tahap eksplorasi konsep ini, diharapkan Bapak/Ibu secara individu dapat menguatkan pemahaman dan mempersiapkan diri untuk berkolaborasi dalam kelompok dengan menjawab pertanyaan:
- Apa yang dapat saya ceritakan mengenai salah SATU dari nilai-nilai GP (berpihak pada murid, inovatif, kolaboratif, reflektif, dan mandiri) yang telah membantu saya dalam melayani murid saya dengan lebih baik?. Tuliskan dalam bentuk narasi singkat untuk berbagi dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.
- Apa saja 10 kegiatan di sekolah yang saya anggap masuk sebagai contoh penerapan dari peran GP yang saya pahami saat ini (pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi, penggerak komunitas praktisi, mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi coach bagi rekan guru)?. Buatlah daftarnya untuk digunakan saat berbagi ide dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.
1. Yang dapat saya ceritakan mengenai salah SATU dari nilai-nilai GP (berpihak pada murid, inovatif, kolaboratif, reflektif, dan mandiri) yang telah membantu saya dalam melayani murid saya dengan lebih baik:
Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha untuk menjadi inovatif dalam pendekatan pengajaran saya. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika saya memperkenalkan metode pembelajaran berbasis proyek kepada murid-murid saya.
Saya menyadari bahwa banyak murid saya merasa bosan dan tidak terlibat dengan metode pengajaran tradisional. Mereka seringkali hanya duduk dan mendengarkan, tanpa banyak kesempatan untuk berpartisipasi aktif. Saya ingin mengubah hal ini dan membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi mereka.
Dengan nilai inovatif sebagai panduan, saya memutuskan untuk mengubah pendekatan saya. Saya merancang sebuah proyek yang menggabungkan berbagai mata pelajaran seperti sains, matematika, dan bahasa. Murid-murid diminta untuk bekerja dalam kelompok kecil untuk merancang solusi inovatif terhadap masalah lingkungan di komunitas mereka.
Proyek ini memerlukan mereka untuk melakukan penelitian, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam tim. Mereka juga harus mempresentasikan temuan dan solusi mereka di depan kelas dan komunitas sekolah. Selama proses ini, saya melihat perubahan yang luar biasa pada murid-murid saya. Mereka menjadi lebih antusias dan termotivasi untuk belajar. Mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan bekerja sama yang lebih baik.
Pendekatan inovatif ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik bagi murid, tetapi juga memberikan mereka kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan yang mereka pelajari di kelas dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Mereka merasa lebih terlibat dan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang materi pelajaran.
Sebagai hasilnya, saya melihat peningkatan signifikan dalam hasil belajar murid dan keterlibatan mereka di kelas. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa dengan menjadi inovatif, saya dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada murid-murid saya dan membantu mereka mencapai potensi penuh mereka.
2. Berikut adalah 10 kegiatan di sekolah menurut Saya yang dapat menjadi contoh penerapan dari peran GP (pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi, penggerak komunitas praktisi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menjadi coach bagi rekan guru):
- (pemimpin pembelajaran) Membuat kesepakatan kelas: Guru memfasilitasi para peserta didik untuk menyusun kesepakatan kelas untuk dipatuhi bersama.
- (pemimpin pembelajaran) Kelas Interaktif dengan Metode Pembelajaran Aktif : Guru mengimplementasikan pembelajaran berbasis proyek atau problem-based learning yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah nyata. Hal ini mempromosikan pembelajaran yang bermakna dan kolaboratif.
- (pemimpin pembelajaran) Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran: Menggunakan teknologi dan alat digital untuk memperkaya proses pembelajaran, seperti platform pembelajaran online, aplikasi edukasi, dan alat kolaborasi digital. Ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif.
- (pendorong kolaborasi) Projek penguatan profil pelajar Pancasila: Mengembangkan proyek yang melibatkan beberapa mata pelajaran, di mana guru-guru dari berbagai disiplin ilmu bekerja sama untuk menciptakan pengalaman belajar yang terpadu.
- (pendorong kolaborasi) Membimbing peserta didik untuk berkolaborasi dalam kelompok dan melakukan diskusi ketika pembelajaran: Mengadakan diskusi di kelas untuk mendorong siswa berpikir kritis, berargumen secara logis, dan menghargai pandangan yang berbeda. Guru berperan sebagai fasilitator untuk menjaga diskusi tetap konstruktif.
- (penggerak komunitas praktisi) Komunitas Belajar Guru: Guru berbagi bimbingan dan dukungan dalam kelompok diskusi reguler Komunitas Belajar di mana guru dapat berbagi praktik terbaik, tantangan, dan solusi dalam pengajaran serta merencanakan strategi pembelajaran yang lebih efektif. Ini membantu menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan saling mendukung.
- (penggerak komunitas praktisi) Pembelajaran Berbasis Komunitas: Melibatkan komunitas lokal dalam proses pembelajaran dengan mengadakan kegiatan seperti kunjungan lapangan ke perusahaan lokal, proyek layanan masyarakat, atau kerjasama dengan organisasi setempat. Ini membantu siswa memahami konteks lokal dan pentingnya kontribusi terhadap masyarakat.
- (mewujudkan kepemimpinan murid) Proyek Kepemimpinan Siswa: Mendorong siswa untuk mengambil peran kepemimpinan dalam proyek-proyek sekolah, seperti mengorganisir acara sekolah, memimpin kelompok belajar, atau menjadi mentor bagi siswa lainnya. Contoh: LDKS, Pemilihan ketua kelas, dan pembentukan kepanitiaan acara sekolah.
- (mewujudkan kepemimpinan murid) Program Pengembangan Karakter Kepemimpinan: Mengadakan program-program pengembangan karakter kepemimpinan murid yang fokus pada nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, dan rasa hormat. Program ini bisa berupa kegiatan harian, minggu karakter, atau proyek khusus yang melibatkan seluruh komunitas sekolah.
- (coach bagi rekan guru) Berbagi praktik baik dalam Kegiatan Komunitas Belajar Guru: Berbagi praktik terbaik, tantangan, dan solusi dalam pengajaran serta merencanakan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam kelompok diskusi reguler Komunitas Belajar
Kegiatan-kegiatan ini mencerminkan peran Guru Penggerak dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, kolaboratif, dan berpusat pada siswa, serta mendorong siswa untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, kolaboratif, dan berpusat pada murid.